7. Liputan (2)

Rencana pertemuan sudah siap. Menurut skenario yang telah direncanakannya, wawancara itu akan ia lakukan pada jam 4 sore, hari Kamis—tepat satu hari setelah Jerry memerintahkannya—dan akan dilangsungkan di kedai Steak~Stack, sebuah kedai kecil yang berada tak jauh dari rumahnya.

Julie berharap semoga ia bisa cepat menyelesaikan pembicaraan yang menguras kebahagiaan itu dan segera berlari pulang ke rumahnya—menonton DVD—untuk memulihkan kembali semangat hidupnya yang bakal direnggut oleh Sang Anak Laki-Laki dari Neraka tersebut.

Pertanyaannya adalah, bagaimana cara Julie meyakinkan Richard untuk datang ke tempat itu? Apakah ia akan menemuinya dan langsung memohon?

Tak perlu ilmu ramal setingkat Nostradamus untuk bisa menebak jalan seperti apa yang cenderung diambilnya. Cukup amati saja bagaimana kecenderungannya terhadap hal-hal yang tidak disukainya selama ini. Pendaftaran siswa baru Nimberlack, misalnya—sebuah gambaran kemalasan yang cukup representatif. Ia tetap berguling-guling seperti babi di atas tempat tidurnya, sementara ibunya menyuruhnya pergi mendaftar hingga mulutnya berbusa. Pada kenyataannya, kalau saja waktu itu tidak dipaksa Lily—dengan cara yang ekstrim—pada akhir masa registrasi sekolah, Julie tidak akan pernah menjadi siswa kelas satu di Nimberland High School.

Paling tidak, bukan tahun ini.

Khusus untuk kali ini, Julie harus meredam rasa malasnya dan mengerjakan tugas wawancara ini—setidaknya mencoba mengerjakannya—minimal sekali. Kalau saja Julie tidak berhutang budi pada Jerry yang telah membantunya mencari replika naskah Traktat Fontainebleau untuk keperluan tugas Sejarah Dunia tiga minggu yang lalu, ia pasti tidak akan pernah mau menerima tugas yang sangat menyebalkan ini.

Sekarang ia harus membuat janji bertemu untuk wawancara dan untungnya, sudah ada teknologi modern yang memungkinkan Julie untuk meminta kesediaan Richard tanpa perlu bertatap muka secara langsung, dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

Julie berterimakasih yang sebesar-besarnya pada penemu e-mail.

Siapapun orang itu.

Julie mengirim e-mail ke Richard pada hari Rabu tengah malam, jam 1.10 pagi. Lebih tepatnya, secara astronomis sebenarnya saat itu sudah hari Kamis—hari yang sama dengan hari wawancara tersebut. Ia benar-benar berharap semoga Richard tidak sempat membaca e-mail yang sengaja dikirimnya secara mendadak itu, sehingga ia bisa punya kesempatan untuk membatalkan tugas wawancara yang menyebalkan ini dengan alasan bahwa Richard tidak bisa dihubungi. Dan ia berharap semoga Jerry akan menerima alasan itu dengan hati yang terbuka dan riang gembira.

Beginilah isi e-mail yang ia tulis.

Halo Richard,

Aku Julie Light, reporter koran sekolah. Aku ingin mewawancaraimu seputar kemenanganmu dalam turnamen catur antar sekolah. Apakah kau ada waktu nanti?

Aku harap kau bisa, sebab aku tidak punya waktu lagi selain hari Kamis ini.

Julie.

Keesokan harinya, Julie bangun lebih awal untuk mengecek e-mail. Berkat Richard, hal paling ajaib yang pernah ia lakukan seumur hidupnya akhirnya terjadi juga pagi itu. Selama 15 tahun hidupnya, baru kali ini ia berinisiatif bangun pagi-pagi sekali. Jam setengah 5 pagi. Tanpa dibangunkan oleh siapapun.

“Mom,” gumam Julie sambil mematikan bunyi alarm yang gaduh dari jam weker perkampungan ayamnya. Ia mengusap kedua matanya.

“Aku sudah bangun.”

Julie menangkap kesunyian yang tidak wajar di sekelilingnya. Biasanya setiap kali ia bangun tidur, suara Lily akan terdengar heboh di lantai bawah—mengomelinya karena tidak bangun-bangun juga—atau kadang-kadang malah menggema tepat di gendang telinganya. Namun, pagi itu suasana di rumahnya justru sunyi senyap. Hening, tanpa sedikitpun ada tanda-tanda kehidupan di bawah sana.

Ternyata ibunya belum bangun.

Julie menguap lebar, berusaha keras menahan kantuknya. Menurut rencana mutakhir yang telah dirancangnya tadi malam, ia akan segera pergi ke sekolah sepagi mungkin—sebelum Richard sempat membaca dan membalas e-mail yang sudah ia kirim. Julie merasa kalau ia harus sudah berada di sekolah saat Richard mengirim balasannya, dan ia akan menghindar dari Richard sepanjang jam sekolah—seperti biasanya—sehingga ia bisa berdalih kalau Richard terlalu lama membalas e-mailnya dan ia sudah tidak punya waktu lagi untuk membuat appointment yang baru. Setidaknya karena ia sudah pernah mencoba, dan karena Richard susah dihubungi, ia bisa membatalkan tugas itu untuk selama-lamanya.

Yang penting, ia akhirnya bisa mengelak dari tuntutan Jerry yang tidak masuk akal itu.

Atau setidaknya itulah yang ada di khayalannya. Ketika Julie mengecek kembali inbox-nya pagi itu, ada satu e-mail baru yang masuk. Jam 1.20 pagi.

Dear Julie.

Tentu saja bisa. Waktuku benar-benar luang seharian ini. Jam berapa dan di mana tepatnya, kira-kira?

Richard.

Perut Julie mendadak mual.

Anak laki-laki itu membalas tepat sepuluh menit setelah ia mengirimkan e-mail dadakan itu. Padahal Julie tadinya memprediksi kalau Richard sudah tidur jam segitu dan tak akan membalas e-mailnya setidaknya sampai ia bangun tidur di pagi hari. Pada kenyataannya, Richard belum tidur, dan hal itu mengingatkannya pada satu hal yang sangat mendasar yang telah dilewatkan oleh sel abu-abu otaknya.

Richard memang terlihat seperti pangeran, tapi dia bukan anak TK. Wajar saja kalau seandainya ia ingin tidur di atas jam dua belas malam—dengan alasan apapun.

Julie menggerutui ketololannya sendiri.

Satu-satunya solusi yang mampu ia hasilkan sekarang hanyalah menuliskan e-mail balasan yang konyol, dengan harapan yang sangat besar kalau Richard tak akan membalasnya dalam waktu lima menit.

Kedai Steak~Stack, jam 4 sore. Jangan pakai seragam sekolah, ya.

Maaf, bisakah kau membalasnya sekarang? Aku sedang buru-buru. Sebentar lagi aku harus berangkat ke sekolah.

Aku hanya bisa menunggu jawabanmu sampai lima menit lagi.

Julie.

Julie mendongak, melihat jam weker perkampungan ayamnya yang menunjukkan pukul 5.05 pagi.

Memangnya mau apa dia di sekolah sepagi itu?

Julie merasa tak punya cukup waktu untuk berpikir cerdas. Bahkan otaknya—yang kapasitasnya sangat terbatas itu—sedang jumpalitan sekarang. Tapi setidaknya, harapannya cukup besar bahwa Richard tak akan segera membalas e-mailnya kali ini. Richard mungkin saja tidur larut semalam, tapi dia tidak mungkin bangun sepagi ini.

“Ayolah, siapa sih yang bangun jam 5 pagi di hari dingin begini?” pikirnya.

Tidak sampai satu menit, inbox-nya sudah terisi lagi oleh satu pesan yang baru masuk.

Oke. Tidak masalah. Aku akan menemuimu jam 4 di Steak~Stack.

Richard.

Perkiraan Julie meleset lagi. Ternyata Richard sudah bangun. Dan sialnya, ia membalas e-mail itu secepat kilat. Julie menggaruk-garuk kepalanya, memikirkan dengan sungguh-sungguh betapa ganjilnya kejadian ini. Ganjil dan menyebalkan.

“SIAL,” umpat Julie. ”Memangnya dia tidak tidur-tidur, ya!?”

Sementara ia berjuang keras untuk bisa bangun sepagi itu—bahkan ia masih perlu menggeliat-geliat di atas kasur selama beberapa belas menit untuk benar-benar membuka matanya, Richard malah tidak tidur sama sekali.

Seperti hantu.

Julie malah sempat curiga kalau Richard sebenarnya adalah seorang Drakula. Atau setidaknya, keturunan Drakula. Atau, jelmaan Drakula. Hal ini bisa menjelaskan mengapa Richard dapat membalas e-mailnya dengan cepat, mengapa Richard berkulit terlalu putih, dan mengapa Julie selalu merinding tiap kali berdekatan dengan anak laki-laki itu.

Dan ia jadi semakin yakin kalau anak laki-laki ini benar-benar datang dari neraka.

Ia sama sekali lupa mempertimbangkan bahwa setiap e-mail yang masuk bisa saja dilengkapi dengan alert-tone. Sebuah penjelasan yang masuk akal, bahwa wajar-wajar saja kalau Richard terbangun ketika mendengar alert tone di komputernya dan bisa segera membalas e-mail yang masuk di inbox-nya saat itu juga. Yang artinya adalah—kau tidak perlu terjaga semalaman hanya untuk membalas sebuah e-mail.

Apalagi menjadi Drakula.

“JULIE,” teriak Lily dari lantai bawah. “KAU SUDAH BANGUN, YA?”

Julie menguap sambil mengeluarkan air mata. Ia benar-benar mengantuk sekarang dan ingin sekali melanjutkan tidurnya yang nyaman, tapi berhubung ia sudah terlanjur mengatakan pada Richard kalau ia akan pergi ke sekolah pagi-pagi sekali, ia tidak bisa mengambil resiko ketiduran dan malah terlambat datang ke sekolah.

Bisa gawat kalau sampai Richard mengetahuinya.

Julie menguap sekali lagi. Ia terlalu lelah dan mengantuk untuk memikirkan rencana cadangan. Kenyataan bahwa Richard membalas e-mail itu dengan begitu cepat dan positif, membuat semua skenario Wawancara-Ini-Pasti-Bisa-Dibatalkan yang telah disusunnya menjadi sia-sia. Dan sialnya, ia tak akan bisa menceritakannya pada siapa-siapa.

Apalagi The Lady Bitches.

Mereka pasti akan menjadi gila kalau mengetahui berita ini.

Dan satu-satunya alasan mengapa ia masih tidak memberitahukan sedikitpun tentang tugas yang diberikan Jerry itu pada gadis-gadis itu adalah karena ia masih menyimpan harapan bahwa sore itu Richard tidak akan datang. Ia sangat berharap semoga Tuhan mau berbaik hati mengabulkan permintaannya yang satu ini, demi kesejahteraan dan kemaslahatan seluruh umat manusia.

Dan semuanya akan kembali seperti semula. Dan tugas itu akan menghilang untuk selama-lamanya.

Mudah-mudahan saja.

7. Liputan

Minggu ini, klub koran sekolah baru saja mendapatkan bahan berita yang besar dan menggemparkan. Nimberland High School telah memenangkan sebuah kompetisi catur antar sekolah, padahal sepanjang sejarah sekolah itu—meskipun Nimber seringkali menggaungkan nama di kompetisi akademis dan non akademis—sekolah itu sama sekali tidak pernah menjuarai kompetisi catur mana pun.

Tidak sekali pun.

Tidak sebagai juara pertama.

Menyikapi berita ini, Jerry—yang baru-baru ini telah menggantikan posisi Mitch sebagai ketua klub—sekarang memberikan tugas meliput profil sang pemenang itu pada Julie. Dan Julie—demi kelancaran kariernya di dunia jurnalistik sekolah—sesungguhnya pasti akan menerima tugas itu dengan riang gembira dan gegap gempita, kalau saja ia tiba-tiba amnesia dan tidak tahu siapa sebenarnya anak laki-laki yang harus diliputnya.

Richard Soulwind.

“Jerry,” ujar Julie panik. “KENAPA MESTI AKU!?”

Julie merasa seakan-akan langit akan runtuh persis di hadapannya. Dan sepertinya, mimpi terburuknya dalam kariernya di dunia jurnalisme baru saja dimulai. Ia tak pernah membayangkan kalau keputusannya untuk ikut klub koran sekolah pada akhirnya malah membawanya pada anak laki-laki itu lagi.

Anak laki-laki yang paling tidak ingin ditemuinya, sampai kapan pun.

“Natalie, Jacquline, Diane, Cindy, Rossie,” lanjut Julie. “Lana, Timmy, Claire, Fiffy, Stephanie, apa perlu kusebutkan semua anggota klub kita satu per satu? Ayolah. Pokoknya jangan aku.”

Jerry menggeleng.

“Kau tahu sendiri gadis-gadis itu, Julie. Mereka gila,” kata Jerry. “Aku tidak tahu siapa lagi reporter yang bisa diandalkan. Cuma kau yang masih waras. Mereka terlalu tergila-gila pada Richard. Mereka bisa merusak artikelku!”

Pada kenyataannya, Jerry memang benar. Para anggota klub lainnya yang biasa menjadi reporter—yang kebanyakan adalah anak-anak perempuan—mereka semua tergila-gila pada Richard. Kelakuan gadis-gadis itu pun mulai menggila sejak Richard menjadi semakin populer dengan kecerdasannya. Kegilaan itu memang tidak separah histeria Richard-holic yang selalu dikumandangkan The Lady Bitches setiap jam makan siang, tetapi sudah cukup memuakkan untuk membuat Julie sampai ingin berenang ke Kutub Utara. Tak ada satupun yang bisa menjamin apakah mereka bisa bersikap normal saat mewawancarai Richard dan apakah mereka akan berhasil mendapatkan profilnya dengan baik dan benar.

Kemungkinan yang paling besar terjadi adalah mereka justru akan menghabiskan seluruh waktu wawancara untuk mengagumi dan menempel-nempel dengan anak laki-laki itu.

“Tony? Andrew? Evan? Michael?” Julie masih mencari cara untuk menghindar dari tugas itu. “Mereka kan bisa. Yang penting jangan aku. Pleasee.”

Jerry menghela napasnya.

“Tony dan Andrew sakit. Evan ke China. Dan Michael kan sudah meliput acara kompetisi itu denganku kemarin,” ujar Jerry. “Kau tidak punya pilihan lain, Julie.”

Julie memicingkan matanya, memandang Jerry dengan sangsi. “Kyle? Arthur? Eddie? Mitch?”

“Mereka kan murid kelas dua belas, Julie,” kata Jerry. “Mereka sudah tidak ikut kegiatan klub lagi. Bukannya kau sudah tahu hal itu?”

Julie pura-pura tidak mendengar. Biar bagaimanapun, ia tetap bersikukuh menyebutkan nama-nama anggota kelas dua belas yang lain. “Nate? Abbie? Wayne?”

“Kau ini benar-benar keras kepala, ya!” timpal Jerry. “Bagaimanapun caranya, pokoknya artikel ini harus selesai dengan sempurna akhir minggu ini. Aku tak mau gadis-gadis gila itu menghancurkan artikelku. Dan aku juga tak mau kau—dengan segala alasanmu yang tidak masuk akal itu—merusak semua yang sudah kupersiapkan untuk koran sekolah edisi minggu depan.”

Julie merengut.

“Lagipula, kenapa pula kau menolak meliput Richard?” tanya Jerry. “Aku sempat mengira kalau kau adalah satu-satunya yang masih normal. Semua anak perempuan berebutan ingin mewawancarai anak laki-laki itu, tapi hanya kau yang menolaknya. Kalau kupikir-pikir lagi, kau ini sebenarnya tidak normal juga. ”

“Aku? Tentu saja aku normal,” tukas Julie. “Aku hanya tak sama dengan gadis-gadis itu. Dan aku tak mau disama-samakan dengan mereka.”

Julie menjadi penasaran, apakah julukan The Unbeatable sudah cukup terkenal di telinga Jerry. Setidaknya itu akan memberinya sedikit bantuan argumentasi untuk membela diri. Biar bagaimana pun, Julie tidak ingin Jerry berpikir yang tidak-tidak tentangnya, terutama karena ia—tentu saja—tidak merasakan perasaan yang sama dengan dirasakan gadis-gadis itu. Tanpa alasan yang jelas, ia memendam perasaan tidak suka yang amat sangat pada anak laki-laki itu. Dan Julie tidak ingin hal itu diketahui oleh siapapun.

Perasaan aneh yang tidak nyaman itu, siapa yang bisa mengerti? Pikir Julie.

“Dengar,” kata Julie. “Aku tak menyukai dia—Richard. Aku merasa dia itu orang yang agak angkuh—kau tahu? Yaa, karena ia merasa dirinya tampan, pintar, hebat, dan sebagainya. Aku tak suka orang sombong semacam itu. Ia pikir seluruh gadis tergila-gila padanya. Tapi tentu saja, itu bukan aku.”

Jerry menepuk pundak Julie sambil tersenyum senang.

“Sempurna! Kau netral, bahkan kau positif membelakangi dia. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana lezatnya tulisan kita nanti,” kata Jerry. “Kalau begitu, kau saja yang mewawancarai dia, ya.”

Bukan reaksi seperti ini yang Julie harapkan. Ia benar-benar sudah salah bicara. Ia berusaha untuk memperbaiki kata-katanya.

“TAPI—”

“Aku tidak menerima kata tidak,” potong Jerry. “Pokoknya akhir minggu ini, laporan itu harus sudah ada di mejaku.”

“JERRY,” kata Julie.

“Yang harus kau tanyakan adalah profil hidupnya—tanggal lahir, hobi, dan semacamnya,” lanjut Jerry. “Dan kemudian yang tak kalah pentingnya adalah kau tanyakan bagaimana awal mula ia menekuni catur dan bagaimana ia memenangkan kompetisi catur itu—mulai dari usahanya, dukungan keluarga dan kerabatnya, dan perasaannya.”

Jerry sama sekali tidak mempedulikan ekspresi kebakaran jenggot dari wajah gadis yang ada di hadapannya itu.

“Yaa, kau tahulah itu, Julie. Kau kan sudah pernah meliput profil kepala sekolah kemarin. Nah, kalau berhasil, kau akan kuangkat sebagai editor. Oke?”

Julie menelan ludah. Tawaran itu terdengar begitu menggiurkan, terutama bagi seorang junior kelas sepuluh seperti dirinya. Namun, baginya kebahagiaan jiwanya saat ini masih jauh lebih penting. “Jerry, aku tidak ma—”

“Daagh.”

Jerry berlalu meninggalkan Julie yang masih melongo kebingungan. Sedari awal ia memang sudah memastikan bahwa Julie-lah yang akan meliput Richard, tidak peduli apakah orang yang bersangkutan bersedia menerimanya atau tidak.

Tak ada cara lagi untuk mengelak. Julie menarik napas panjang, menyiapkan jiwanya untuk ujian mental yang berikutnya.

Yang ia tahu, ia benar-benar sebal pada Jerry hari ini.

6. Kelas Prancis (3)

“Coba sekali lagi kau ulang pernyataanmu,” ujar Cathy. “DIA APA?”

Salah besar kalau Julie mengira semuanya telah berakhir di kelas itu tadi. Entah bagaimana caranya, kejadian siang itu bisa menjadi topik utama gosip jam makan siang di kafetaria Nimberland. Tidak hanya The Lady Bitches, sepertinya semua orang sudah tahu—atau akan segera tahu—apa yang telah terjadi di ruang 305 siang itu. Seperti sesendok sirup strawberry yang langsung dikerubungi oleh semut-semut hitam yang kelaparan di atas lantai, berita itu langsung menyebar dengan cepat dalam satu kedipan mata.

Dan tentu saja, Julie sama sekali lupa akan reaksi dramatis sang Drama Queen.

“LUCY?”

Cathy mengernyitkan keningnya.

Lucy menelan ludah. Ini pertama kalinya ia menjadi narasumber langsung gosip yang diedarkan di kalangan gadis-gadis LadyBitches—yang akhir-akhir ini semakin menggila dengan gosip-gosip apapun, termasuk gosip-gosip murahan seperti tentang kisah cinta antara Julie dan Mr.Bouncer—entah mengapa masih ada saja yang mempercayainya.

Lucy merasa agak grogi.

“Julie masuk ke kelasku tadi pagi,” kata Lucy perlahan-lahan. Ia berusaha menyiapkan kata-kata terbaiknya. “M.Wandolf menyuruhnya melakukan percakapan dengan Richard dalam bahasa Prancis.”

“Julie dengan SIAPA??” tanya Cathy dengan nada yang mengerikan.

“Dengan Richard.”

“APA!?”

Cathy terkejut setengah mati, seakan-akan kedua biji mata itu benar-benar hendak meloncat keluar. “Ke?? KENAPAAAA!!???”

Julie mendengus santai.

“Itu gara-gara Jessie yang memaksaku pergi ke sana, tahu?” gerutu Julie. “Sudah kubilang, aku tidak mau, tapi nenek-nenek pemarah itu masih saja memaksa. Kalau kau mau marah, marahi saja Si Buntalan Kentut itu.”

Jessie cemberut.

“Lho, kok gara-gara aku, sih?” protes Jessie. “Salahmu sendiri kenapa datang terlambat. Aku cuma tidak mau kehilangan nilaiku, tahu?”

Julie memainkan jari-jari tangannya dengan lincah untuk menirukan gerakan mulut Jessie yang sedang bercuap-cuap seperti burung. Ia paling suka menggoda Jessie dengan cara ini. Biasanya Jessie akan berusaha menjitak kepala Julie—yang akhirnya memang benar-benar terjadi—tapi untungnya Julie berhasil menghindari serangan tersebut.

“Julie! Awas kau!”

Kayla tertawa cekikikan. Ia sebetulnya sama sekali mengabaikan soal tugas Prancis itu, apalagi soal pertengkaran mereka berdua, karena menurutnya ada hal lain yang lebih menarik.  Hal yang pastinya menarik bagi semua gadis yang ada di Nimberland.

“Pasti asyik banget, ya, bisa ngobrol bareng Richard!”

Julie mencoba merekonstruksi gagasan itu di pikirannya. Pada kenyataannya—dengan logika manapun yang tersisa di ruang otaknya yang sempit itu—ia tidak menemukan satupun adegan dari tragedi kemanusiaan tersebut yang bisa disebut ‘asyik’.

“Sinting,” kata Julie.

Jessie pura-pura tidak mendengar pernyataan itu.

“Betul, Kay!” lanjut Jessie. “Memang keparat si Julie itu. Seandainya saja aku tahu di sana ada Richard, aku pasti bakal mengumpulkan tugasku sendiri.”

“Dan kalau aku yang disuruh ngobrol bareng Richard,” celetuk Cassandra. “Aku pasti akan langsung minta jadi pacarnya.”

Gadis-gadis itu tertawa.

“Yang benar saja,” ujar Julie skeptis. Pernyataan itu benar-benar terdengar menggelikan untuknya. “Kemarin saja kau hampir pipis di celana gara-gara main satu tim dengan dia.”

Julie ingat persis bagaimana antusiasnya Cassandra kemarin saat menceritakan pengalamannya bergabung di tim basket yang sama dengan Richard di kelas Olahraga. Cassandra bersikeras menyatakan kalau Richard tampak begitu mempesona dengan sleeveless shirt-nya—meskipun tanpa otot—dengan kulit putihnya yang begitu cemerlang dan beberapa detail ketampanan lainnya yang tidak menarik perhatian Julie. Inti dari cerita itu sebenarnya adalah bahwa Cassandra saat itu terlalu terpukau dengan ketampanan anak laki-laki itu sampai-sampai ia lupa pergi ke toilet dan hampir pipis di celana.

Buat Julie, yang paling penting justru di bagian pipis di celananya.

Itu baru berita.

“Kenapa sih selalu saja Julie yang bisa bermesra-mesraan dengan Richard? Benar-benar mengesalkan,” keluh Jessie.

“Dan sangat hoki,” sambung Kayla.

“Cih, siapa juga yang mau mesra-mesraan dengan Lampu Petromaks itu,” cibir Julie. “Ini semua gara-gara Jessie, ya! Kalian semua kan sudah tahu kalau aku sama sekali tidak tertarik dengannya. Lagipula, pria pujaanku itu sudah pasti,”

“—Mr.Bouncer.”

Gadis-gadis itu tertawa lagi. Akhir-akhir ini, gosip spekulatif tentang hubungan Julie dan Mr.Bouncer itu memang selalu dimanfaatkan oleh Julie untuk menghindari gosip-gosip spekulatif lainnya. Sementara itu, Julie sangat berharap semoga pembicaraan ini cepat berakhir.

“Wah, sayang sekali aku tidak sekelas dengan kau, Jess. Kalau aku sekelas dengan kau di kelas Prancis, aku pasti bakal sengaja sering-sering datang telat mengumpulkan tugas,” ujar Cassandra.

“Belum tentu seberuntung itu, Cass,” jelas Lucy. “Waktu itu kebetulan saja Richard sedang berada di depan kelas dan M.Wandolf sedang melakukan pengambilan nilai praktek bahasa Prancis—puisi—lebih tepatnya. Dan tepat setelah itulah Julie datang.”

Jessie menggigit bibirnya. Tak bisa dipungkiri, kenyataan itu masih terasa menyakitkan bagi dirinya sebagai orang yang telah memungkinkan peristiwa itu untuk terjadi. Jessie tak henti-hentinya menyesali, kalau saja ia mengantarkan tugas itu sendiri—atau setidaknya berdua dengan Julie—segalanya pasti akan sangat berbeda.

Hidupnya pasti akan jadi jauh lebih bahagia.

“Huu,” cela Jessie.

Julie terkikih.

Moo—” ledek Julie. “Mau tukaran peran denganku, Jess? Mau, mau? Besok aku datang terlambat lagi, deh!”

Jessie terlihat semakin emosi.

“Sapi!”

Julie masih ingin menggoda Jessie lagi, tapi sekarang perhatian mereka semua sedang terpaku pada satu titik bercahaya yang datang dari arah pintu kafetaria. Meski tidak bisa melihatnya—karena cahaya itu ada di arah belakang tempat duduknya—tapi Julie sudah bisa menebak siapa yang baru saja datang.

Richard Soulwind.

The Lady Bitches langsung menjadi gadis-gadis kalem dalam seketika.

Dalam waktu yang bersamaan, Julie melihat seekor lalat lewat di atas meja mereka, namun tampaknya hanya Julie yang benar-benar memperhatikannya. Dan Julie—tentu saja—lebih memilih untuk mengagumi lalat yang indah itu, ketimbang mengagumi apa pun yang ada di belakang sana. Sesuai dengan yang Julie perhitungkan, dalam hitungan detik gadis-gadis itu pun mendapatkan kesadaran mereka kembali—tepat di saat lalat itu pergi. Dan seperti biasa, segera setelah orang itu duduk—delapan meter jauhnya dari meja mereka—mereka pun melanjutkan obrolan mereka kembali.

“Lalu, apa saja yang terjadi saat itu, Lucy?” tanya Kayla.

Lucy tertawa membayangkannya.

“M.Wandolf meminta Richard untuk menggantikan dirinya menanggapi Julie, tapi harus dalam percakapan bahasa Prancis. Kalian bisa bayangkan kan, bagaimana penasarannya aku?” kata Lucy. “Sudah lama sekali aku ingin mendengar bahasa Prancis Julie yang terkenal itu.”

Semua mengangguk. Di antara mereka berlima, memang hanya Jessie dan Kayla saja yang pernah menyaksikan bahasa Prancis Julie secara langsung.

“Keren,” kata Cassandra.

Tidak ada keren-kerennya, pikir Julie. Ia tak pernah bisa mengerti kenapa semua orang tergila-gila pada bahasa Prancisnya yang amburadul itu. Julie mulai merasa kalau mungkin ada baiknya mulai semester depan ia mengambil kelas Jepang. Atau kelas Mandarin. Atau mungkin merealisasikan gagasannya yang terdahulu, mendaftar di kelas Papua Nugini dan berinisiatif menjadi penduduk asli di negara tersebut.

Kalau saja ada kelas Papua Nugini.

“Dan tak lama kemudian, Richard pun bertanya pada Julie, kurang lebih seperti ‘Apa yang bisa kubantu?’—yaa tentu saja dalam bahasa Prancis juga. Dan lalu—”

Lucy mengatur helaan napasnya.

“Lalu—“

Lucy sibuk menahan tertawa, dan hal itu membuat Kayla menjadi semakin penasaran. “Lalu apa? Julie tidak bisa menjawabnya, ya?”

Lucy berusaha mengontrol pernapasannya. Jantungnya berdegup kencang dan napasnya menjadi terasa amat pendek. Ia benar-benar gugup karena menyadari betapa sulitnya menjadi pusat perhatian, tapi tak bisa ia pungkiri, sensasi ini rasanya pun menyenangkan.

“Tidak, tidak. Dia menjawabnya, seperti orang kumur-kumur,” kata Lucy. “Tadinya kupikir dia alien.”

Kelima gadis itu tertawa.

“Lucu,” kata Julie datar.

The Lady Bitches yang lain tidak peduli dengan sindiran itu. Mereka masih terus saja tertawa dan melanjutkan obrolan mereka.

“Aku bisa membayangkannya, Lucy,” ujar Kayla. “Setahun lebih aku sekelas dengan dia. Aku tahu persis kalau bahasa Prancisnya seperti kapal pecah.”

Jessie mengangguk dengan tidak sabar.

“Apalagi aku,” timpal Jessie. “Meskipun sudah berpuluh-puluh kali aku mendengar bagaimana dia berbahasa Prancis, aku tak pernah bosan-bosannya menertawai dia kalau dia mulai berbahasa Prancis lagi. Di kelasku, dia jadi sasaran empuk M.Wandolf dan anak-anak.”

Julie mendengus.

“Aku tahu, Jess. Bahasa Prancisnya Julie memang parah,” kata Lucy. “Tapi, aku sungguh-sungguh tidak menyangka kalau memang separah itu. Kalian tahu apa yang dia bilang?”

Mereka menggeleng.

MORACIO HORANTO, KAPENTE HONTE,” kata Lucy. “GRACIA HOLA MONALISA.

Gadis-gadis itu tertawa berguling-guling di kursi mereka.

“Tak ada yang lucu, tahu?” kata Julie. Walaupun tidak banyak gunanya, setidaknya ia masih ingin menyelamatkan image-nya dari kebodohan yang makin parah lagi. “Memangnya kalian mengharapkan aku mengucapkan apa?”

Julie mencari kosa kata yang cukup terdengar Prancis di telinganya.

Michael Angelo? Jennifer Lopez?”

Gadis-gadis itu tertawa terpingkal-pingkal.

“Kau ini tidak bisa membedakan bahasa Prancis dengan bahasa Spanyol, ya? Gracia kan bahasa Spanyol,” kata Kayla. “Apa pula itu MONALISA.”

Jessie memukul kepala Julie. “Dasar kau ini, Bodoh!”

Julie meringis kesakitan sambil membalas pukulan Jessie dengan melempar irisan lemon yang menempel di gelas jus ke wajahnya. Jessie mengelak.

“Tidak kena. Wek!”

Jessie balas melempar irisan mentimun dari piringnya. Irisan mentimun itu tepat mengenai muka Julie.

Julie kaget sekali.

“JESS!”

Julie sudah tidak peduli dengan lendir sayuran yang menempel di mukanya. Ia segera memungut irisan mentimun itu, lalu berusaha memasukkannya ke dalam mulut Jessie. Jessie meronta-ronta, berusaha melawan.

“Hei, hei. Kalian ini, benar-benar,” lerai Kayla. “Sudah sebesar ini, masih saja bertengkar. Sudah, sudah! Kalo mau berkelahi, di luar saja sana. JANGAN DI SINI!”

Kayla menegakkan alis matanya.

“Mengganggu saja. Ayo, lanjutkan lagi ceritanya, Lucy.”

Berkat asuhan keibuan—yang tadinya lemah lembut—disertai omelan menyeramkan yang ekstrim dari Kayla, Julie dan Jessy pun kembali duduk tenang—seperti bayi. Lucy kembali melanjutkan ceritanya.

“Kalian harus lihat sendiri, betapa lucunya dia tadi. Badannya terus bergoyang-goyang seperti leher boneka anjing yang biasa kita pasang di dashbor mobil. Kalian mengerti kan maksudku?”

Cassandra dan Cathy—yang belum pernah melihat aksi Julie di kelas Prancis—hanya tersenyum-senyum saja membayangkan seperti apa tingkah Julie yang konyol itu. Sementara itu, Jessie dan Kayla sudah tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perut mereka.

“Seperti ini, kan?”

Jessie bergoyang-goyang memutar-mutar badannya ke kiri dan ke kanan seperti sedang menari salsa. Julie menarik rambutnya.

“Aduh!”

Jika yang diperagakan Jessie memang selucu itu, Julie sendiri juga tidak pernah mengerti mengapa tubuhnya bisa bertingkah yang aneh-aneh setiap kali ia merasa gugup. Semuanya terjadi begitu saja. Meskipun demikian, ia merasa perlu berdalih untuk menyelamatkan image-nya dari prasangka yang lebih buruk lagi.

Well. Itu kan trik supaya aku bisa tetap rileks,” ujar Julie. “Kalian tidak tahu kan betapa tegangnya aku tadi. Rasanya seperti jantungku mau copot.”

Lucy menggeleng.

“Kurasa tidak juga. Malah kelihatannya kau sangat menikmatinya,” sanggah Lucy. “Anak ini tak henti-hentinya menyeringai dan cengengesan di kelasku, padahal kami semua jelas-jelas sedang menertawainya. Aku sampai-sampai kehabisan napas karena tak bisa berhenti tertawa.”

Lucy mulai bisa mengendalikan tarikan napasnya.

“Menurutku, kau jadi pelawak saja, Julie. Aku yakin, kau pasti akan laris manis. Tanpa lelucon pun, gelagatmu itu sangat menggelikan.”

Julie menelan ludahnya. Ia sudah tahu apa yang Lucy pikirkan. Profesi itu memang sudah ada di benaknya sejak tadi. “Jadi badut, maksudmu?”

“Badut? Kalau kupikir, malah sebaiknya kau tetap jadi sapi saja, Julie,” ledek Jessie. “Sapi atau badut, kurasa dua-duanya sama bagusnya buatmu.”

Julie siap-siap mengambil side dish lagi yang bisa langsung dilemparkan ke muka Jessie.

“Uwaa! Tolong! Ada sapi mengamuk,” ujar Jessie.

Ia segera menyembunyikan wajahnya di balik punggung Cathy. Cathy memperlihatkan ekspresi wajah tidak senang.

“Pengecut,” cela Julie. “Bisanya cuma berlindung di balik ketiak ibumu. Sini hadapi aku kalau berani.”

Cassandra tertawa.

“Kapan-kapan kau harus menunjukkan padaku secara langsung bagaimana cara kau mengucapkan bahasa Prancis, Julie,” kata Cassandra. “Aku benar-benar penasaran.”

Julie mendengus.

“Ah, kau takkan mau mendengarkannya, Cass,” ujar Julie. “Aku sendiri juga malas mendengarkan ceracauan itu keluar dari mulutku.”

Jessie dan Kayla cekikikan.

“Tapi, kurasa sekarang kau sudah ada kemajuan, Julie,” Kayla menimpali. “Seingatku dulu kau benar-benar putus asa setiap kali disuruh berbicara bahasa Prancis—seperti orang mau bunuh diri saja. Sekarang, kulihat kau sudah mulai mendapatkan kepercayaan diri.”

Julie menyengir.

Yeah, pada saatnya kau akan terbiasa juga dengan tertawaan orang-orang yang mencela ketololanmu, Kay.”

Ia mengambil tisu dan mengelap tangannya yang kotor dan basah oleh cairan dari bahan makanan yang akan dilemparkannya ke Jessie tadi.

Well, makin lama mungkin aku makin menikmati kenyataan kalo aku ini memang bodoh, Kay. Lagipula, semua ceracauan aneh menyebalkan itu keluar begitu saja dari mulutku tanpa sempat kompromi dulu dengan otakku. Bukan mauku, tahu.”

Jessie mengambil tisu juga untuk mengelap tangannya. “Yeah, benar. Kau memang bodoh. Absolut.”

Julie mengacungkan kepalan tangannya.

“Setidaknya kau beruntung karena M.Wandolf sangat baik, Julie,” ujar Kayla. “Kalau kusimpulkan dari cerita-ceritamu tentang kelas Prancis itu, sepertinya ini sudah yang kesekian kalinya M.Wandolf memaafkan kecerobohan-kecerobohanmu. Kurasa dia menyukaimu, Julie. Seperti yang selalu kubilang, feromonmu bekerja dengan sempurna.”

Kali ini gosip itu terdengar begitu absurd. Julie tergelak. Gosip tentang hubungan asmaranya dengan Mr.Bouncer saja sudah cukup konyol, dan Julie tidak tertarik untuk menambah rumit hidupnya dengan satu gosip yang tidak masuk akal lagi. Ia pun segera mengklarifikasi pernyataan tersebut.

“Lucu sekali, Kay. Jadi kau mau bilang apa? M.Wandolf naksir padaku? Konyol,” kata Julie. “Aku ini cuma beruntung, kok. Lagipula, M.Wandolf memang orangnya baik sekali.”

Julie teringat lagi dengan guru Prancisnya yang dulu.

“Kalau itu Ms.Hellen, aku pasti sudah babak belur sejak pertama kali masuk sekolah. Tapi untungnya M.Wandolf—dia sangat toleran,” sambung Julie. “Mereka berdua seperti surga dan neraka.”

“SURGA dan neraka?”

Gadis-gadis itu secara serentak menaikkan sebelah alis mereka. Entah mengapa, pernyataan Julie terdengar seperti bertolak-belakang dengan apa yang selalu mereka dengar darinya setiap hari.

Julie menyadari kesalahannya.

“Um, oke, oke. Dua-duanya SAMA-SAMA neraka,” ralat Julie. “Tapi, M.Wandolf neraka yang lebih dingin. Sudah dilengkapi AC,”

Mereka tertawa.

“Kalau aku sih tidak peduli, ya,” kata Jessie. “Mau itu karena feromon, mau karena M.Wandolf naksir Julie, atau karena neraka M.Wandolf  dipasangi AC—yang penting tugasku harus sudah dikumpulkan. Aku tidak peduli bagaimanapun caranya.”

Jessie menegaskan kembali intonasi suaranya.

“DAN,” sambung Jessie. “Tidak akan ada ceritanya lagi tugas-tugas kelompok kita ada di tanganmu! Lama-lama aku bisa gila gara-gara keterlambatanmu, Julie!”

Julie mendesah panjang. Ia sudah menduga pernyataan ini pasti akan keluar dari mulut Jessie.

Cepat atau lambat.

“Iya, iya. Aku juga tak mau terlambat lagi, kok!” ujar Julie. “Amit-amit, jangan sampai—jangan sampai kejadian tadi pagi terulang lagi. Cukup sudah penderitaanku, tahu?”

Pernyataan itu tentu saja mengundang kontroversi dari banyak pihak. Gadis-gadis yang mendengar pembicaraan mereka—pembicaraan yang benar-benar jelas terdengar—menatap dengan sangat iri akan keberuntungan Julie.

“Penderitaan, apanya? Kau itu diajak ngobrol sama Richard—Cowok Terganteng Di Dunia,” protes Lucy. “Aku yakin semua gadis di sekolah ini pasti rela mengantri berjam-jam, berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, untuk bisa mendapat kesempatan yang sama denganmu.”

Julie sangat heran di bagian mananya tragedi kemanusiaan ini yang bisa dianggap sebagai anugerah.

“Dan kalian tahu? Tadi itu Richard manis sekali. Kalau kalian dengar bagaimana cara dia membacakan puisinya tadi, sumpah aku jamin kalian pasti akan lupa bagaimana caranya bernapas,” kata Lucy sambil tersipu-sipu. “Puisinya bagus sekali. Suaranya juga merdu.”

Untuk pernyataan yang terakhir, Julie sejujurnya merasa setuju dan tidak berniat untuk membantahnya. Harus diakuinya, di luar dugaan, suara anak laki-laki ini ternyata memang enak didengar. Entah kenapa, kali ini ia bisa menyimak percakapan bahasa Prancis—bahkan terlibat di dalamnya—tanpa mengalami sakit kepala.

Kayla memperhatikan Cathy yang sedari tadi diam saja.

“Kau kenapa, Cath? Dari tadi diam saja,” kata Kayla. “Kau sakit, ya?”

“Tidak,” jawabnya singkat.

Julie baru menyadari hal ini saat Kayla menanyakannya. Biasanya gadis ini paling ramai kalau sedang bergosip di kafetaria, tapi entah kenapa hari ini Cathy tampak tidak bersemangat untuk menimpali obrolan mereka. Tidak satu patah kata pun yang keluar dari mulutnya—perubahan ini terlalu aneh, mengingat biasanya Cathy-lah anggota The Lady Bitches yang paling ekspresif dalam menanggapi setiap gosip di Nimberland.

Apalagi, ini tentang Richard.

“Kenapa, Cath? Kau ingin cerita sesuatu, ya? Apa kau bertengkar dengan Jake?” tanya Julie.

“Tidak,” jawab Cathy.

“Apa Emma Huygen mengganggumu?” tanya Jessie.

“Tidak,” jawab Cathy ketus. “Dia terlalu sibuk dengan urusan beasiswa ke luar negerinya.” Ia tersenyum sinis. “Mulut besar saja, perempuan itu.”

Meskipun sudah terlihat setidaknya sedikit perubahan ekspresi, tapi jawaban Cathy masih tidak memuaskan sama sekali.

“Jadi?”

Cathy menghela napas. Ia menatap serius ke Jessie, seakan-akan Jessie adalah buronan polisi yang siap dihukum selama dua belas tahun penjara. Tingkahnya yang tidak lazim ini pun membuat semuanya menjadi bingung.

“Jess.”

“Apa?” tanya Jessie. Jessie yang merasa tidak berbuat dosa apa-apa, praktis menjadi salah tingkah, takut akan diapa-apakan oleh Cathy. “Kenapa kau ini?”

“JESS.”

Tekanan pada suara Cathy bertambah tinggi. Jessie pun merasa semakin bingung. “Apa??”

Tidak satupun dari mereka yang mengerti apa yang diinginkan olehnya. Mereka pun tidak merasa Jessie punya kesalahan yang begitu fatal yang membuat Cathy sampai sebegitu marahnya. Satu-satunya yang bisa menjelaskan hanyalah Cathy sendiri.

Cathy memulai aksinya yang dramatis. Seisi kafetaria seakan-akan terdengar hening, serta-merta menambahkan sensasi efek dramatis yang melodramatis.

“KENAPA, JESS?? Kenapa!? Kenapa Julie?? Kenapa kau bukannya memilih aku?? KENAPA????”

Cathy mengerang putus asa.

“Seharusnya aku yang ngobrol dengan Richard! Tapi kau malah melupakanku. Kau pilih kasih. Kau malah pilih Julie. Kau jahat. Kau jahaat..”

Jessie terbahak-bahak.

Ekspresi wajah Cathy yang terluka dan isakannya yang dramatis itu terdengar begitu menggelikan. Tadinya dia pikir Cathy akan menuduhnya telah memprakarsai tragedi 11 September 2001. Atau lebih hal yang parah lagi, Teror Kehancuran Umat Manusia di dunia. Pada kenyataannya, Cathy cuma ngambek gara-gara kejadian hari ini.

“Kupikir apa. Mengagetkan saja,” ujarnya. “Aku ini tidak pilih kasih, oke? Jangankan memberi tahumu, kalau saja aku tahu nantinya Julie bakal disuruh ngobrol sama Richard, pasti aku sendiri yang akan mengumpulkan tugas itu. Lagipula—”

Jessie melipat kedua tangannya.

“—kau kan tidak sekelas Prancis denganku, Cath. Bagaimana kau ini? Bodoh.”

Gadis-gadis itu hanya cekikikan saja. Kelakuan Cathy yang sangat kekanak-kanakan itu sudah jadi makanan sehari-hari bagi mereka. Meskipun Cathy menyadari sikapnya memang terlalu berlebih-lebihan, tapi wajahnya tetap saja cemberut.

“Awas saja kalau nanti aku dekat-dekat dengan Richard, ya! Aku tidak akan mengajakmu!” ancam Cathy.

“Coba saja buktikan,” goda Julie. “Tuh, orangnya ada di sana.”

Cathy mendongak, karena kepala Julie menghalangi pandangannya dari Richard.

“Tidak.”

“Nah, nah,” kata Julie. Ia sudah tahu kalau pada dasarnya Cathy memang tidak pernah berani menyatakan perasaannya pada Richard. Anak itu cuma besar mulutnya saja. Meskipun ia sama tidak berdayanya ketika menghadapi Richard, setidaknya ia merasa masih jauh lebih baik daripada Cathy.

“Tuh, kan. Bilang saja kau takut. Di depan kami saja kau berani berkoar-koar kalau kau suka Richard. Kalau begini terus, mana mungkin kau jadian dengannya.”

Cathy terlihat sangat panik.

“Ssst!” Cathy mengacungkan jari telunjuk di depan bibirnya. “Di sana ada Jake, tahu! Gila apa kau?”

Julie membalik badannya. Ia mencoba untuk tidak menggubris sinar putih yang ada di sebelah kiri depannya, tapi tak jauh dari sinar putih itu memang ada sesosok laki-laki tampan lainnya yang sedang menghadap ke arahnya.

Jake Williams—bertubuh tinggi tegap idaman gadis-gadis, berambut coklat, dan rahang keras yang lebar dan perkasa seperti Arnold Schuasneger. Aktivitasnya di tim futbal sekolah dan menjadi kapten tim yang kuat dan terkenal tampan membuatnya menjadi bintang idola yang paling diincar-incar para gadis—tak hanyadi Nimber, bahkan di sekolah-sekolah lain juga.

Tapi popularitas Jake yang tak terkalahkan itu akhirnya menjadi sedikit surut sejak kedatangan Richard. Banyak senior perempuan yang akhirnya beralih ke Richard—karena Richard memang jelas-jelas lebih tampan, dan—tidak seperti Jake—Richard tidak punya Emma Huygens yang siap menghadang siapapun yang mendekatinya. Menurut Julie sendiri, meskipun Richard tidak terlihat seatletis dan semacho Jake, Richard masih beberapa poin lebih unggul dibandingkan Jake. Akhir-akhir ini ia menjadi tahu bahwa ternyata Richard murid yang cerdas. Bahkan dalam waktu dekat ini, kabarnya Richard akan mengikuti kejuaraan catur mewakili sekolah.

Tidak hanya lebih tampan—Richard juga lebih pintar.

“Ya, itu dia pangeranmu,” ujar Julie. “Kalau dia dengar apa yang kita bicarakan sekarang ini, pasti dia akan ngamuk-ngamuk seperti orang gila.”

“Makanya, kalian jangan bilang-bilang!” tegas Cathy. “Aku suka Jake, tapi aku juga suka Richard. Jadi sebaiknya kita biarkan saja keadaan ini seperti ini terus. Di satu sisi aku bisa bermesra-mesraan dengan Jake-ku yang keren, tapi di sisi lain aku masih bisa mengagumi Richard-ku yang tampan.”

“Dan kau marah-marah padaku gara-gara aku tidak memilihmu mengumpulkan tugas itu dan ngobrol dengan Richard? Oh, Cath—kau adil sekali,” protes Jessie.

Gadis-gadis lainnya sependapat dengan Jessie.

“Hm? Kau bilang apa? Aku tidak dengar,” Cathy berpura-pura sibuk membereskan meja. “Oh, iya. Besok aku akan jalan dengan Jake. Kalian tahu ke mana? Ke Taman Bunga Bakersfield! Yang baru dibuka itu, lho! AHH, BETAPA ROMANTISNYA!!”

Gadis-gadis itu memandang Cathy dengan sinis.

“Eits, kalian tidak boleh ikut! Ingat, seharian besok aku tidak bisa diganggu. Oke?”

“Kau ini!”

Jessie—yang paling tidak sabar—menerkam Cathy, disusul oleh keempat rekannya yang lain yang sudah geram tidak tahan lagi ingin mengacak-acak rambut anak itu. Cathy menggeliat-geliat dan meronta-ronta, tapi dirinya tak kuasa melepaskan diri dari serbuan lima harimau yang lapar itu. Ia cuma bisa menjerit-jerit, membuat semua orang di sana memandangi mereka dengan heran, ragu-ragu antara akan menolong atau tidak.

“Aduh! TOLONG! Rambutku!! AAAAAAARRRGGHHH!!!!”

Bel sekolah yang berdering menghentikan aksi mereka. Yang tersisa hanyalah Cathy dan rambutnya yang bergulung-gulung kusut seperti benang wol, karenateman-temannya yang saling bersekongkol itu telah kabur berlari kembali ke kelas mereka.

“Brengsek kalian!” umpatnya.

Ia berjalan keluar kafetaria itu, dihampiri oleh Jake Williams. Jake merangkul kekasihnya itu dan memberikan sebuah kecupan di pipi kanannya.

“Kenapa teman-temanmu, Sayang?” tanyanya.

“Mereka kena rabies,” ujar Cathy. “Jangan dekat-dekat mereka, ya, Sayang. Nanti kau bisa tertular.”

Jake merapikan rambut kekasihnya itu sambil tersenyum. Di benaknya, mendapatkan gadis secantik dan seliar Cathy adalah suatu pencapaian tersendiri. Dari seluruh gadis yang pernah dikencaninya, Cathy adalah yang tercantik—bahkan yang tercantik di antara semua gadis yang pernah ia kenal. Namun ia tidak begitu tertarik dengan teman-temannya. Menurutnya, akan lebih baik kalau hubungannya dengan Cathy dijalankan hanya oleh mereka berdua saja—menghadapi satu Cathy saja sudah sangat merepotkan, apalagi kalau harus menghadapi mereka berenam.

Bisa-bisa ia jadi gila.

Sementara itu, Cathy masih terlarut dalam imajinasinya bersama dengan Richard. Besok memang akan jadi hari yang bahagia untuknya bersama dengan Jake, tapi ia masih tak rela kalau harus melepaskan Richard dari angan-angannya. Ia tahu kalau tindakan-tindakannya itu berbahaya dilakukan karena saat ini ia sudah punya Jake. Sampai saat ini, hanya masalah keberuntungan sajalah yang membuat Jake masih belum tahu apa yang sebenarnya ada di pikiran Cathy.

Tentang siapa sebenarnya orang yang paling ia sukai.

Tapi bukan Cathy namanya kalau ia terlalu memusingkan hal itu. Sama seperti Julie, Cathy adalah tipe gadis yang hidup untuk hari ini. Ia tidak mementingkan hari esok, karena hari esok bisa jadi hari yang seperti apa saja. Hari esok bisa menjadi manis atau pahit, tapi itu bukan untuk dipikirkan sekarang. Bagi mereka berdua, menjadi sedih atau bahagia, adalah sebuah pilihan.

Dan tak perlu diragukan lagi, pilihan yang mereka pilih—tentu saja pilihan kedua.

6. Kelas Prancis (2)

Normalnya, hanya butuh waktu lima menit untuk sampai ke ruang kelas 305. Tapi untuk Julie Light, gadis itu baru bisa tiba di sana setelah memakan waktu hingga lebih dari dua puluh menit.

Franchophobia ini benar-benar membuatnya kesulitan berjalan. Kakinya terasa berat sekali, rasanya seolah-olah seperti tumbuh akar di kesepuluh jari kakinya, yang memaksanya untuk mencengkram erat tegel-tegel lantai di koridor sekolah, dan mengisap sari-sari makanan di tegel-tegel itu. Julie bahkan hampir percaya kalau kakinya akan berkecambah.

Ia menggenggam map hijau di tangan kanannya dan membuka pintu kelas itu dengan tangan kirinya, sambil mengintip-intip isi di dalamnya secara perlahan-lahan.

“Permisi.”

Tak satupun dari mereka yang menyadari kehadirannya. Perhatian semua orang sedang tertuju pada seorang anak laki-laki yang berdiri di depan kelas, yang baru saja menyihir mereka dengan keindahan syair dalam lantunan bahasa Prancis yang ia bacakan. Julie bisa melihat bahwa mereka kini tenggelam dalam aura kekaguman dan nuansa keterpukauan yang begitu nyata. Karena penasaran, Julie pun mulai memperhatikan sosok anak laki-laki yang tengah menjadi pusat perhatian itu.

Richard Soulwind.

“Haduh,” Julie menelan ludahnya.

Dia lagi!

Julie menarik napasnya dalam-dalam. Ia menghembuskannya perlahan-lahan, lalu menarik napas sekali lagi. Keberadaan Richard di kelas Prancis, adalah hal terakhir yang diinginkannya di dunia ini. Sebisa mungkin Julie berusaha mengendalikan jantungnya agar tidak meledak. Ia berpura-pura tidak melihat anak laki-laki itu—tidak sedetik pun—meskipun keberadaan Richard saat itu benar-benar mengacaukan konsentrasinya.

Matanya menyapu ke seluruh ruangan.

“Siang, Monsieur,” kata Julie. Ia menemukan pria gemuk setengah botak yang dicari-carinya itu sedang duduk di kursi pojok kanan paling belakang.

Julie bisa merasakan lututnya gemetar hebat, terutama saat orang-orang di kelas itu menatap wajahnya sekarang. Rasanya ia ingin sekali segera kabur dari tempat itu, melarikan diri ke Papua Nugini, dan mendaftarkan diri menjadi penduduk asli di sana. Tapi, bayangan wajah Jessie yang begitu menyeramkan seketika langsung membuat nyalinya menciut.

“Maaf, M.Wandolf. Ak—”

Lidah Julie terasa kelu. Perlahan-lahan ia mencoba mengumpulkan keberaniannya sekali lagi. “Ak-Ak-Aku, sebenarnya ingin..”

“Richard Soulwind,” sela M.Wandolf. “Puisimu sangat brilian, Nak. Terutama yang versi bahasa Inggrisnya—karena terus terang untuk beberapa hal kecil grammar Prancis-mu masih ada yang perlu diperbaiki. Tapi itu tidak masalah sama sekali.”

“Kurasa kau sangat berbakat di bidang sastra, M.Soulwind.”

M.Wandolf kini bermain dengan ballpoint merah tuanya. Ia sama sekali tidak menghiraukan Julie. Diacuhkan seperti itu, Julie praktis bisa merasakan tubuhnya menciut dan mengecil menjadi tuyul. Tubuhnya terus mengecil sampai akhirnya ia mendengar sebuah suara merdu yang ada di depannya, suara itu terlalu merdu sehingga—mau tak mau—ia tak dapat lagi menghindari menatap wajah orang itu.

Merci, Monsieur,” kata Richard sambil tersenyum.

Julie tak dapat melukiskan bagaimana tampannya Richard dalam senyum bibir tipisnya yang berlekuk itu. Semakin ia tersenyum, maka lekukan itu terlihat semakin manis dan menyegarkan—ditambah lagi dengan rona merah pada pipinya yang terlihat putih bersinar seperti porselen bercahaya. Julie sampai lupa kalau seharusnya dia sudah berukuran mikroskopis sekarang.

“Sekarang aku akan memberikan kehormatan untukmu untuk menunjukkan keahlianmu dalam berkomunikasi dalam bahasa Prancis—di samping keahlian sastramu yang luar biasa itu,” kata M.Wandolf.

“Tolong wakilkan aku untuk meladeni Mlle.Light, M.Soulwind. Sekalian, tanyakan apa yang menjadi keperluannya datang ke kelas ini. Voulez-vous?[1]

Julie terkejut mendengarnya. “APA?”

Beberapa orang terkikih mendengar teriakannya itu. Julie sendiri sama sekali tidak menyadari kalau teriakannya telah menggema dengan jelas di dalam kelas. Ia masih mengira kalau ia sedang berteriak dalam hati.

Si, Monsieur,” Richard mengangguk sambil tersenyum kembali.

Julie merasa perutnya bergejolak hebat. Perasaan itu sedemikian hebat sehingga seakan-akan ada tornado mahadashyat yang menghantam tubuhnya dan membuyarkan seluruh isi perutnya. Ia tidak bisa menghentikan detak jantungnya yang terlalu cepat, seakan-akan jantungnya akan copot sekarang. Ia juga tidak bisa membayangkan betapa merah mukanya saat itu.

Richard menatap mata Julie. Julie menahan napasnya. Tatapan mata biru itu seakan menyengat jantungnya, tepat di tengah.

Julie. Puis-je vous aider?[2]” Richard menyapa Julie sambil tersenyum ramah. Suaranya terdengar sangat lembut dan merdu, bagaikan suara piano.

Julie berusaha untuk mengendalikan dirinya dan menjadi setenang mungkin, meskipun ia yakin tubuhnya sedari tadi sudah melakukan gerakan yang aneh-aneh—di luar kemauannya, yang semakin nyata memperlihatkan kegugupannya. Meskipun tidak begitu mengerti, tapi Julie mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ini harus segera diselesaikan. Ia setidaknya bisa menebak kalau Richard sekarang pasti sedang menanyakan apa keperluannya datang ke kelas ini—seperti yang diinstruksikan M.Wandolf tadi. Ia sudah menyiapkan kata-kata terbaiknya.

U.. U zank rezambe mey howa[3],” ucap Julie dengan logat asal-asalan.

Seisi kelas tertawa. Julie menyadari kalau logatnya mungkin terdengar lucu, tapi ia yakin apa yang diucapkannya itu benar. Lagipula, kalau pun salah, Julie tidak peduli. Toh semua orang di Nimber juga sudah tahu reputasinya di kelas Prancis.

Julie melihat Richard tersenyum padanya. Senyumnya tampak begitu anggun, melekuk indah dari wajahnya yang setampan malaikat. Wajahnya terlihat jauh lebih tampan dari yang terakhir kali diingat Julie. Dalam tatapan mata birunya itu, wajahnya terlihat begitu mempesona.

Richard tersenyum padanya, dan bertanya dengan nada yang sangat sopan.

Voulez-vous dire, vous voulez récupérer vos devoirs?[4]

Julie praktis kehilangan kewarasannya. Telinganya berdenging dan matanya berkunang-kunang.

HUELEH APA??

Julie tidak mengerti ceracau apa lagi yang sedang diucapkan oleh Richard. Ia terlalu depresi untuk menjawab dengan benar, biar bagaimana pun ia pasti akan tetap ditertawakan juga karena lafal pengucapannya yang menyedihkan. Akhirnya, Julie memutuskan untuk mengucapkan kalimat asal-asalan.

Akuente parlente, mente harapente.

Seisi kelas tertawa terbahak-bahak. Tawa mereka terdengar jauh lebih keras daripada yang pertama tadi, sehingga kau perlu menutup kupingmu untuk tidak menjadi tuli.

Akuente parlente?” tanya Richard tidak mengerti. Wajahnya menunjukkan kebingungan yang terlihat sangat menggemaskan.

Julie menyengir seperti kuda. Tadi ia memang sengaja asal berceloteh, mengucapkan kata-kata yang tidak ada artinya—yang penting sudah terdengar seperti bahasa Prancis di telinganya. Sudah terlanjur basah, pikirnya.

Moracio horanto kapente honte,” Ia mengucapkan satu kalimat asal-asalan lagi. “Gracia hola Monalisa.”

Kelas menjadi riuh sekali.

Entah berapa anak yang sudah meneteskan air mata saking senangnya. Lucy juga terlihat sangat terhibur—Julie baru saja melihatnya—ia duduk di barisan tengah, dua baris dari dinding sebelah kanan. Julie baru teringat, ini pertunjukan perdananya di depan Lucy. Dan gadis itu terlihat sangat menikmati pertunjukan itu.

Julie tidak mengerti apakah ia memang sebegitu lucunya, sampai-sampai orang-orang ini sebegitu girangnya mendengar hal yang baginya terdengar biasa-biasa saja ini. Julie mulai berpikir kalau mungkin pada dasarnya ia memang berbakat—sebagai badut sirkus. Ia akan mempertimbangkan untuk menerima pekerjaan di sana, jika suatu saat nanti memang sudah tidak ada lapangan pekerjaan lagi yang bisa mentoleransi kebodohan intelektualnya.

Richard menahan tawanya. Laki-laki itu menatap Julie dengan mata birunya, dan sekali lagi membuat Julie terkena serangan jantung.

“Sebenarnya aku hanya sedang meluruskan ucapanmu, Julie. Kau bilang, kau ingin mengumpulkan tugasmu, kan?”

Julie mengangguk.

“Cara mengucapkannya semestinya, je veux rassembler mes devoirs.[5]

Suara Richard terdengar begitu berirama, seperti alunan musik klasik yang dimainkan pada sebuah grand piano. Julie baru tahu kalau suara Richard memang seperti itu—dentingan suara piano. Antara satu silabel dengan silabel lain yang diucapkannya terdengar memiliki nada-nada yang memiliki perbedaan yang jelas, mengalun teratur namun tetap terdengar merdu. Julie penasaran, apakah orangtuanya memberi makan anak itu piano di rumah—dalam arti yang sebenarnya.

“Oh,” kata Julie. “Yeah.”

Hanya itu yang mampu Julie ucapkan. Setidaknya, hanya itu yang ingin ia ucapkan sekarang. Perbedaan kemampuannya dengan Richard jauh sekali, seperti bumi dan langit, sehingga ia merasa apapun yang dikatakannya nanti hanya akan membuatnya kelihatan semakin tolol.

Dan entah apalagi yang merasuki otak anak-anak di kelas itu, sampai-sampai perkataannya yang terakhir itu pun masih ditertawakan juga.

“Kupikir aku yang sinting, ternyata mereka lebih sinting dariku,” gumam Julie dalam hati.

Julie menghela napasnya.

M.Wandolf benar-benar sudah mengerjainya hari ini. Seandainya saja ia bisa balas mengerjai M.Wandolf seperti ia balas mengerjai ibunya beberapa waktu yang lalu—ia memasukkan seekor cicak ke dalam daster ibunya. Waktu itu Lily menjerit-jerit minta tolong sampai-sampai semua tetangga datang ke rumah mereka membawa sekop, pemukul baseball, dan senapan. Julie tidak henti-hentinya tertawa sepanjang hari itu, meskipun pada malam harinya ia dihukum tidak boleh makan malam.

Tapi tentu saja itu tidak mungkin terjadi. Meskipun rasanya ia sangat ingin sekali berbuat iseng—seekor ulat bulu yang menggeliat di kamus Bahasa Prancis bisa sangat menggoda—tapi ia sungguh-sungguh tidak ingin membuat masalah lagi sepanjang waktunya bersekolah di Nimber. Hukuman membersihkan toilet setiap hari di Springbutter dulu benar-benar menimbulkan kenangan yang buruk dan menyebalkan di benaknya. Dan untungnya, di Nimber sejauh ini belum ada tanda-tanda menuju ke arah sana.

Yah. Mudah-mudahan saja, pikirnya.

Meskipun tidak bisa berbuat banyak, yang bisa Julie lakukan sekarang hanyalah berharap dengan pasrah, semoga permainan konyol ini segera berakhir. Lalu ia pulang, segera melarikan diri dari kelas itu dan tidak akan menampakkan diri lagi.

Selamanya.

“M. Wandolf. Elle veut rassembler ses devoirs à vous, maintenant[6],” Richard berbicara pada M.Wandolf. “Souhaitez-vous s’il vous plaît juste prendre ses devoirs et de la laisser aller? Elle a l’air si satisfait maintenant.[7]

Ceracau itu sama sekali tidak jelas, tapi entah kenapa terdengar indah—kalau Richard yang mengucapkannya.

Bien[8].”

M.Wandolf menatap Julie. Ia mendesah panjang.

“Karena kau tidak bisa berbahasa Prancis, Mlle.Light, aku akan mengucapkannya dalam bahasa Inggris saja. Sejujurnya, aku tidak tahu kenapa aku harus menerima laporanmu itu sekarang. Jam pelajaranku di kelasmu sudah lewat, dan sekarang keberadaanmu di sini mengganggu murid-muridku.”

Julie tercengang. Ia sama sekali tidak menyangka M.Wandolf akan berbicara seperti itu. Berada di sini saja sudah merupakan mimpi buruk buatnya, apalagi kalau ia kembali dengan tangan hampa ke Jessie nanti. Ia bisa-bisa dihajar sampai babak belur.

Julie berusaha untuk memutar otaknya. Mencari-cari celah kesempatan adalah kemampuan yang sangat diperlukannya saat ini. Julie memang tidak sepandai Kayla dalam memenangkan hati orang, tapi ia telah cukup lama bergaul dengan anak itu untuk bisa memahami sedikit trik berdalih dengan cerdik.

“Jam pelajaranmu di kelasku memang telah lewat, Monsieur, aku tidak bisa menyangkalnya. Tapi kalau soal apakah murid-murid di kelas ini merasa terganggu—umm, kurasa tidak juga. Kurasa mereka sangat senang karena ada aku di sini,” kata Julie.

“Oh, ya? Yang benar?” tanya M.Wandolf dengan nada yang menantang. Julie mengangguk penuh semangat.

M.Wandolf menopangkan dagu di atas tangan kanannya. “Buktikan.”

Entah mengapa suara jarum arloji di tangan kiri Richard terdengar begitu jelas di telinganya, meskipun kemungkinan besar itu hanya halusinasinya saja. Julie sangat berharap kelas itu segera berakhir, tapi tentu saja itu tidak mungkin karena kelas itu baru saja dimulai.

“Baiklah,” kata Julie. Julie menghadap ke kelas dan berakting sebaik-baiknya. Tak lupa ia membubuhkan nada memelas yang menyentuh hati dalam intonasi suaranya. “Teman-temanku sekalian. Apakah aku dirasa mengganggu bagi kalian?”

“TIDAAAAK,” jawab mereka beriringan. Semuanya menampilkan senyum riang menyiratkan kalau mereka menerima dengan senang hati kehadiran Julie di kelas mereka.

“Apakah aku menyenangkan?”

“IYAAAAAA,” jawab mereka lagi.

“Apakah kelas Prancis hari ini jadi semakin menyenangkan?”

“ IYAAAAAA,” jawab mereka sekali lagi.

Semakin lama Julie merasa semakin mirip badut sirkus, tapi ia sebenarnya sudah pasrah pada suratan takdir sejak detik pertama ia berada di kelas itu. Ia bisa melihat Lucy di sebelah sana sedang tersenyum-senyum sambil menutup mulutnya dengan jari-jari lentiknya.

“Tuh, kan, Monsieur. Anda dengar sendiri mereka bilang apa,” ucap Julie. “Bahkan aku yakin mereka sebenarnya merasa sangat terhibur dengan keberadaanku di sini.”

Julie teringat pada senyum malaikatnya yang dulu pernah berhasil meluluhkan hati M.Wandolf pada hari pertamanya masuk sekolah. Tanpa ragu-ragu ia langsung mempraktekkannya ke guru gemuk berkepala setengah botak itu sekali lagi, dan berharap trik yang sama masih berfungsi dengan baik.

“Um,” gumam M.Wandolf.

Sesaat kelas menjadi hening, menunggu pernyataan M.Wandolf berikutnya mengenai keputusannya terhadap Julie. Tapi M.Wandolf terus saja mengulur-ulur waktu, berpikir terlalu lama, seolah-olah begitu berat baginya untuk menerima tugas Julie begitu saja.

“Umm. Sebenarnya terlalu sulit bagiku untuk mempertimbangkan, Mademoiselle,” katanya. “Aku sudah pernah bilang padamu kan, kalau aku tidak suka keterlambatan. Aku tidak ingin bersikap kejam, tapi di sisi lain aku juga tidak mau menanggung resiko atas keputusanku memaafkan keteledoranmu.”

Sampai di sini, Julie masih tidak bisa menerka apa yang akan dilakukan M.Wandolf. Apakah ia akan menerima tugasnya, atau tidak? Mengapa laki-laki itu tidak segera memaafkannya saja, menerima tugasnya, lalu membiarkannya pergi, jadi dia bisa kembali mengajar dengan tenang di kelas ini?

Julie mendongkol dalam hati.

“Jadi,” lanjut M.Wandolf, “Biar kuserahkan keputusan ini di tangan Mr.Soulwind. Apapun yang diputuskannya, apakah tugasmu akan diterima atau tidak, benar-benar akan jadi hak mutlak untuknya. Kau tidak boleh protes lagi padaku nanti, Mademoiselle. Oleh karena itu, entah bagaimanapun caranya, bersikap manislah pada Mr.Soulwind agar ia mau berbaik hati memberikanmu pengampunan.”

Julie tercengang.

Kekesalan Julie sudah sampai di ubun-ubun. Guru Prancis itu memang paling senang mengerjainya. Tidak hanya jadi semakin lama berada di kelas Prancis itu, sekarang Julie malah jadi harus mengobrol lagi dengan Richard. Ingin sekali rasanya ia terbang ke luar angkasa.

Hukuman ini tidak ada habis-habisnya.

“Bagaimana, Mlle.Julie?” tanya M.Wandolf sambil tersenyum nakal. “Apakah kau keberatan? Kalaupun keberatan juga tidak apa-apa. Tidak masalah.”

Walaupun sebenarnya Julie merasa SANGAT KEBERATAN, tapi ia tahu ia tidak punya pilihan lain. Daripada harus menghadapi masamnya muka Jessie nanti, biarlah ini diselesaikan sampai di sini. Sekarang atau tidak sama sekali.

“Tidak, tidak. Aku sama sekali tidak keberatan,” bohongnya.

Sekali lagi Julie mengukuhkan tekadnya. Menghadapi Richard bukanlah hal yang sulit, ia terus mengulang-ulang kalimat itu di pikirannya. Ia meyakinkan dirinya kalau Richard bukanlah makhluk yang luar biasa. Laki-laki itu hanyalah manusia biasa, yang sok tampan dan sok dipuja-puja banyak orang. Ia tentu saja takkan takluk hanya karena wajah Richard yang tampan. Semua ini dilakukannya semata-mata hanya demi tugas Prancis.

Tidak lebih.

Julie menarik napas. Siang ini terasa begitu panjang untuknya. Sekarang sebaiknya ia menuntaskan dulu semuanya.

“Richard,” ujarnya sambil memutar kepalanya ke arah Richard. “Aku tahu kau teman yang baik. Walaupun aku belum begitu mengenalmu, meskipun bahasa Prancisku hancur-hancuran—bahkan sebenarnya tadi aku cuma asal sebut saja—tapi kau begitu baik dan ramah padaku. Maukah kau—menolongku satu kali lagi?”

Julie akan habis-habisan. Senyum malaikatnya pun segera diluncurkan.

“Terimalah tugasku. Kumohon.”

Richard ikut tersenyum. Bibirnya melekuk dengan indah, memamerkan gigi atasnya yang berderet rapi. Senyumnya terlihat manis sekali.

“Dengan senang hati,” ujarnya sambil membungkuk hormat.

Julie bersorak. Ia bersyukur karena ternyata Richard berhati emas. Perak. Berlian. Permata. Intan.

Semuanya.

Semua orang di kelas itu bertepuk tangan—entah untuk apa. Julie merasa orang-orang di ruangan itu adalah orang-orang yang aneh dan sinting yang haus dengan hiburan konyol. Bahkan untuk hal sekonyol ini pun. Tapi Julie tak peduli. Yang penting baginya adalah sekarang ia bisa segera bebas dari hukuman, segera mengumpulkan tugas, lalu segera kabur dari tempat itu.

“Bagaimana, M.Wandolf? Aku sudah bisa bebas kan sekarang?” tanyanya.

M.Wandolf mengangguk-angguk. Julie segera berlari ke tempat M.Wandolf berada dan menyerahkan tugasnya. Begitu tidak sabarnya ia ingin segera cepat keluar dari kelas itu.

M.Wandolf menerima tugas itu dengan wajah sumringah.

“Ms.Light, kau beruntung karena hari ini mood-ku sedang baik. Dan kau benar—keberadaanmu di sini benar-benar menghibur kelasku. Dan lagi, kau punya teman-teman yang sangat baik pula. Kau pastinya akan merasa sangat berterimakasih sekali pada mereka, bukan?”

Julie sama sekali tidak lupa. Ia tentu saja akan berterima kasih pada mereka semua—yang sebagian besar masih belum begitu dikenalnya. Biar bagaimana pun, mereka telah berbaik hati mengizinkannya mengganggu jam pelajaran mereka yang berharga itu.

“Terima kasih teman-teman semuanya! Gracia! Merci! Merci!

Terdengar gelak tawa di antara para murid.

“Terima kasih juga pada M.Wandolf—terima kasih yang sebesar-besarnya—karena beliau telah berbaik hati mengizinkanku mengganggu kelasnya siang ini. Dan mengerjaiku juga.”

M.Wandolf tergelak.

“Dan, tak lupa, aku berterima kasih sekali pada Richard yang telah menyelamatkan hidupku hari ini dari temanku sekelompokku. Kalau akhirnya kau bilang ‘tidak’ tadi, Jessie pasti akan membunuhku pada jam makan siang nanti.”

Richard membungkuk sekali lagi, dan tersenyum dengan amat manis.

“Aku senang sekali bisa menolongmu, Julie.”

Julie rasa Richard tahu benar bagaimana cara memperlihatkan ketampanannya, sebab dengan sikap yang sangat sopan dan manis itu, ia benar-benar terlihat seperti seorang pangeran. Julie semakin sebal dengan pesona yang dipancarkan laki-laki itu.

Seburuk apapun efek yang diakibatkan oleh keberadaan dan perilaku Richard, Julie berusaha untuk terlihat normal. Ia berpura-pura tidak merasakan kejanggalan apapun bersama dengan Richard, oleh karena itu ia benar-benar bersikap santai dan cuek, seperti biasanya. Karena Richard tersenyum, maka akan terlihat aneh kalau Julie tidak membalas senyumannya. Lagipula, kejadian ini tidak akan berlangsung lama. Sebentar lagi, semuanya akan kembali seperti semula. Tak akan ada Richard lagi. Tak akan ada kelas Prancis sial itu lagi.

Dan tak akan ada tugas terlambat lagi.

Julie melangkah keluar kelas itu. Sebelum membuka pintu, ia menoleh sekali lagi untuk melihat wajah semua orang. “Terima kasih, guys,” ujarnya sambil cengengesan.

Ia pun bergegas melarikan diri, meninggalkan ruangan itu dan menghampiri Jessie di kelasnya dengan tergesa-gesa.

***


[1] Bersediakah kamu?

[2] Julie. Ada yang bisa kubantu?

[3] Aku ingin mengumpulkan tugasku (Je veux rassembler mes devoirs)

[4]Maksudmu, kamu ingin mengumpulkan tugasmu?

[5] Aku ingin mengumpulkan tugasku

[6]M.Wandolf. Dia ingin mengumpulkan tugasnya padamu sekarang.

[7]Bolehkah jika Anda menerima saja tugasnya dan biarkan dia pergi? Dia terlihat sangat tidak nyaman sekarang.

[8] Oke

6. Kelas Prancis

“Di mana si sapi itu??”

Jessie menggerutu sambil melihat-lihat jam. Dia sangat yakin bukan jarum jamnya yang bergerak terlalu cepat, karena sedari tadi M.Wandolf—sang guru Prancis—terus memandanginya, menunggu dengan raut muka yang bosan dan tidak sabar.

“Bagaimana, Mlle.Walter? Apakah aku masih harus menunggu lagi?”

Jessie benar-benar kesal pada Julie. Ingin sekali rasanya ia menjambak rambut anak itu, mencincang-cincang dagingnya, lalu memanggangnya di pemanggang roti. Segera setelah anak itu menampakkan batang hidungnya.

“Lima menit lagi kelas akan segera berakhir, Mademoiselle. Kuharap Mlle.Light bisa datang sebelum itu, sebab kalau tidak kalian tidak akan punya kesempatan lagi untuk mengumpulkan tugas itu padaku,” jelas M.Wandolf. “Setelah ini aku akan ada satu kelas lagi—dan setelah itu, aku akan keluar karena ada urusan. Kuharap kalian berdua bisa mengumpulkannya sekarang juga.”

Jessie mengangguk lemah. Ini benar-benar sudah keterlaluan, pikirnya. Apa Julie tidak bisa bangun pada jam normal, di mana semua orang-orang normal bangun dengan normal untuk melakukan rutinitas yang normal, yaitu berangkat ke sekolah tepat waktu dan tidak datang terlambat? Paling tidak jangan terlambat hari ini. Jangan terlambat saat seluruh laporan tugas ada padanya.

Jessie mengomel dalam hati.

Jessie tak henti-hentinya mengerutuki keputusannya telah memilih Julie sebagai partnernya dalam tugas Prancis kali ini. Ia lebih menyesal lagi bahwa ia mempercayakan laporan tugas itu berada di tangan Julie. Tadinya, ia bermaksud menolong Julie karena ia tahu anak itu benar-benar payah dalam bahasa Prancis. Tapi, bukannya membantu dirinya sendiri, Julie Light—sang Ratu Terlambat—malah mengacaukan semuanya dengan tidak datang tepat waktu di hari deadline tugas itu harus dikumpulkan.

Dia bahkan belum datang sama sekali.

Jessie mengumpat sekali lagi.

Bel berdering, mengubah raut wajah dua orang manusia dalam waktu yang hampir bersamaan. Yang satu mendesah panjang, yang satunya lagi menahan napasnya secara mendadak dan memperlihatkan raut wajah luar biasa panik.

“Jam pelajaran kita sudah habis. Aku rasa aku sudah tidak bisa menunggu lagi, Mlle.Walter,” ujar M.Wandolf. “Baiklah, anak-anak. Sampai jumpa lagi minggu depan. Oh, ya. Seperti yang kukatakan tadi, hari Senin kita tidak ada kelas, karena aku akan ada di Owksward untuk mengikuti seminar. Jangan lupa kerjakan tugas yang kuberikan hari ini.”

M.Wandolf merapikan buku-bukunya di atas meja, meletakkan kamus tebal bahasa Prancis pada posisi yang paling bawah, berurutan ke atas buku-buku lain yang lebih kecil, hingga buku catatannya sendirilah yang akhirnya menempati kedudukan paling atas. Laki-laki gemuk setengah botak itu beranjak dari kursinya dan mendekap buku-buku itu sambil berjalan keluar kelas.

Monsieur, tunggu sebentar!” Jessie berteriak, saking paniknya. “Kurasa Julie sakit hari ini, sehingga ia tidak bisa datang. Apa boleh aku meminta kompensasi, atau semacamnya?”

Jessie berusaha membujuk guru gemuk itu dengan nada memelas. “Besok? Aku janji besok kami akan mengumpulkannya. Tepat waktu. Bahkan sebelum itu. Bagaimana, Monsieur?”

M.Wandolf menghela napas. Matanya memancarkan aura kebapakan yang menyenangkan, senyumnya nampak tulus yang tanpa ragu-ragu diperlihatkannya pada Jessie. Meskipun begitu, ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa ia benar-benar tidak bisa menjanjikan apa-apa.

“Sayang sekali, Mademoiselle. Bukannya aku tak mau menolongmu—aku mengerti situasimu saat ini—tapi mulai besok aku sudah tidak berada di Eastcult. Jadi aku sudah tidak bisa menerima tugas itu lagi,” terang M.Wandolf. “Kecuali kalau nanti Mlle.Light bisa datang sebelum aku pulang mengajar hari ini.”

Jessie sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia tidak bisa menahan M.Wandolf lebih lama tapi ia pun juga tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Setelah memberikan ucapan terima kasih dengan hormat kepada M.Wandolf, ia kembali ke kelas dengan lemah lunglai dan wajah yang tidak bersemangat.

Berjalan satu langkah saja terasa begitu berat untuknya, apalagi menghabiskan seharian itu dalam kedongkolan karena kekonyolan dan keteledoran Julie.

Jessie baru saja akan menekan tombol speed-dial pada ponselnya ketika ia mendengar derap langkah kaki yang bergema di koridor kelas. Mendengar pola langkah kakinya, dan mendengar suara berisik yang khas dari sepatu yang dipakai orang itu, Jessie tahu siapa yang datang.

“Jessie!” teriak orang itu sesampainya di pintu kelas.

Tubuh gadis itu bercucuran keringat dan napasnya terengah-engah. Tampak di tangan kanannya tergenggam sebuah dokumen laporan tugas yang terbungkus plastik transparan, berwarna hijau, dan dijilid dengan rapi.

“ANAK SAPI!” geram Jessie.

Dahinya mengkerut dan wajahnya menjadi merah. Tangannya kirinya sudah mengepal keras dan tangan kanannya meraba-raba sesuatu. Ia sangat berharap ia tidak serta merta melempar papan tulis ke kepala anak itu sekarang. Paling-paling yang bisa dilemparnya hanyalah sebuah penghapus pensil.

“Kemana saja kau!”

Jessie menatap tajam pada Julie, sementara Julie—ditatap seperti itu—hanya nyengir malu-malu menyadari kalau dirinya memang tersangka yang sudah didakwa bersalah oleh hakim dan juri.

“Aku—ehm, eh—aku terlambat bangun. Maaaff!!”

Julie segera menghampiri Jessie dan melipat kedua tangannya di depan dada.

“Gila, Jess!” ujar Julie penuh semangat. “Aku baru bangun jam setengah sepuluh. Mom sebenarnya sudah membangunkanku sejak jam tujuh, tapi aku langsung tidur lagi sewaktu dia pergi. Aku tak tahu kenapa aku bisa semengantuk ini. Kurasa karena tadi malam aku menonton serial TV Inggris. Empat film sekaligus! Kau tahu kan, yang kemarin kupinjam di Zuppa’s Shop. Sinting, film-film mereka bagus-bagus banget, aku sampai—”

“Sudah selesai ceritanya?” potong Jessie.

Julie terdiam sejenak. Ia menyadari kalau ini bukan saat yang tepat untuk bercerita. Ia melihat Jessie menghela napas berkali-kali, memperlihatkan diafragmanya yang naik turun dengan ekstrim, menunjukkan kalau ia sedang mencoba untuk menahan diri agar kepalanya tidak meledak.

“Aku ini sedang marah, tahu! Bukannya mau mendengarkan ceritamu,” protes Jessie.

“Oh, maaf ya, Jess,” kata Julie.

Jessie masih tidak mengubah raut wajahnya.

“Baiklah,” Julie mulai merasa sangat bersalah. Tampaknya kecerobohannya hari ini benar-benar membuat Jessie marah padanya. “Kali ini aku yang salah, Jess. Aku memang bodoh. Tapi jangan marah padaku, ya. Please? Lain kali aku tidak akan terlambat lagi, deh. Janji.”

Masih merasa belum cukup puas, Julie menambahkan satu pernyataan lagi, “Kau boleh jambak rambutku sepuasmu, asal kau tidak marah lagi. Dan—”

Jessie menatap lekat ke arah Julie sambil menunjuk-nunjuk dokumen laporan tugas dengan map hijau yang sedang dipegangnya.

“Oh, ini?” ujar Julie. “Apa masih bisa dikumpulkan, ya? Kurasa jam pelajaran Prancis kita sudah habis. Benar kan?”

Julie memperhatikan pergelangan tangannya dan kemudian baru teringat kalau hari ini ia tidak membawa jam tangan. Akhirnya ia mendongak dan mengintip ke dalam ruangan kelas untuk meyakinkan diri kalau ia memang sudah melewatkan waktu jam pelajaran itu secara penuh.

“Masih,” jawab Jessie datar. “Kau, ke ruangan 305 di lantai 3. Beliau sedang mengajar di kelas itu sekarang.”

Julie tidak percaya apa yang didengarnya.

“Apa?” Julie terperanjat. “Kau tidak menyuruhku pergi ke sana sekarang, kan?”

Jessie melotot.

“Tentu saja! Kau dan laporan tugas kita. KE RUANG 305. SEKARANG.”

Jessie tampak serius dengan ucapannya.

“Sini tasmu.”

Jessie menarik tas biru berbahan kombinasi jeans dan beludru itu—pilihan Cassandra—dan meletakkannya di atas meja. Julie sebenarnya tidak menginginkan hal ini, tapi ia cuma bisa menyerah pasrah dan berjalan keluar kelas dengan langkah yang terseok-seok.

Julie menoleh ke belakang, menatap Jessie sekali lagi, berharap belas kasihan.

“Benar nih, sekarang?”

“Iya,” jawab Jessie datar.

“Tapi, aku—” kilah Julie, “Aku—Aku bisa mati, Jess.”

Julie menatap Jessie dengan mata berkaca-kaca. Wajahnya terlihat menyedihkan, jelek dan kumal seperti sapi tua yang baru akan disembelih. Lebih buruk lagi, ia sekarang mulai merasa lututnya akan mencair.

“Kalau kau tidak ke kelas Prancis sekarang, aku yang akan membunuhmu,” ancam Jessie.

Julie tidak menyangka problematikanya berkembang menjadi serumit ini. Tadinya ia pikir, keterlambatannya hari ini hanya akan beresiko tidak boleh masuk sekolah—jika Mr.Bouncer tidak mengizinkannya masuk, setidaknya ia masih terbebas dari kelas Prancis. Tapi sekarang, pilihannya antara hidup dan mati.

“Jess…”

“Apa lagi?”

Julie menampakkan raut muka sedih, ingin menangis—meskipun ia tidak benar-benar ingin menangis. Dia hanya ingin Jessie bisa lebih sedikit berbaik hati padanya. “Paling tidak, kau temani aku ke sana. Please? Aku bisa mati kutu nih…”

Jessie melipat tangannya di depan dada. “Tidak.”

“Jess…”

“Tidak,” tegas Jessie. “Ini supaya kau jera datang terlambat, Julie. Dan,ini juga supaya kau bisa cepat dewasa. Ayoo cepaaaat,” ujar Jessie sambil mendorong tubuh Julie keluar kelas.

Setelah mereka sampai di luar kelas, mukanya yang tadinya seram langsung berubah menjadi ceria. “SEMANGAT. SEMANGAT. SEMANGAT. OK!?”

Jessie mengedipkan sebelah mata. Dengan ceria ia kembali ke dalam kelas dan merapikan buku-buku yang masih berserakan di atas mejanya—buku-buku yang tadi diusainya karena jengkel saat menunggu Julie.

Julie tertunduk lesu, meratapi nasibnya yang malang. Sesungguhnya ia menyadari kalau memang kesalahannyalah yang telah menyebabkan dirinya datang terlambat, dan tugas itu belum dikumpulkan juga. Tapi, menyuruhnya masuk ke kelas Prancis—bahkan kelas orang lain—adalah hukuman yang teramat sangat mengenaskan untuknya.

“Sial.”

Julie membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya sebentar lagi.

***

5. Pertemuan (2)

Tepat setelah jam makan siang adalah kelas Musik, salah satu kelas favorit Julie—setelah kelas Inggris. Kelas itu sangat menyenangkan, dan Mr.Kennedy—guru Musik mereka—adalah guru terbaik sepanjang sejarah sekolah Nimberland.

Sayangnya, justru di kelas ini Julie tidak sekelas dengan gadis The Lady Bitches manapun. Cathy dan Lucy di kelas Inggris, Kayla dan Cassandra di kelas Sejarah Dunia, sedangkan Jessie di kelas Biologi. Ini adalah satu-satunya kelas di mana Julie tidak sekelas dengan teman-teman satu gengnya, tidak satupun dari mereka. Oleh karena itu, kericuhan ala The Lady Bitches pun tidak pernah terdengar di kelas favorit ini.

Bisa jadi, justru itulah penyebab mengapa kelas ini jadi kelas favorit Julie.

Damai dan sejahtera.

Meskipun begitu, di kelas ini Julie sekelas dengan Nicholas White—anak laki-laki kelas sepuluh yang sedang disukai oleh Jessie sekarang. Mereka berdua sering sekali menjadi partner dalam tugas-tugas kelompok. Kebetulan, Nick cukup jago dalam hal bermain musik, dan Julie, paling sukses dalam urusan menghibur—terutama berkat reputasinya yang terkenal di kelas Prancis.

Julie tidak pernah mengerti, tapi setiap kali mereka tampil di depan kelas, orang-orang selalu saja tertawa. Bahkan, ini bukan di kelas Prancis. Entah apa yang aneh dari penampilannya, yang jelas berkat perpaduan yang kompak antara Julie Si Aneh dan Nick Si Jago Musik, kelompok mereka selalu tampil dengan hasil yang memuaskan.

Dan tentu saja, seperti yang mereka bicarakan tadi siang, Nick adalah laki-laki yang tertampan yang banyak disukai oleh gadis-gadis Nimberland—nomor tiga tertampan di seantero kelas sepuluh; nomor sebelas tertampan di seantero Nimber. Rambut hitamnya yang lurus dibelah tengah serta bulu mata hitamnya yang lentik dan menarik, sangat terkenal di kalangan para gadis. Darah Spanyol mengalir deras dalam tubuhnya—berasal dari ibunya, pun membuat anak laki-laki ini semakin terlihat seperti Zorro, si ahli pedang yang tampan. Namun, sebenarnya masih ada beberapa hal lagi yang menarik—atau justru tidak—dari anak laki-laki ini.

“Nick,” bisik Julie.

Nick sibuk menata kertas-kertas partiturnya.

“Nick,” Julie berbisik sekali lagi.

Anak laki-laki itu tetap tidak mendengar Julie. Ia tampak serius dengan kertas-kertas partiturnya, memperhatikan kertas-kertas partitur itu dengan seksama, dan berusaha menyusun kertas-kertas itu sesuai dengan urutan simfoni yang telah diajarkan oleh Mr.Kennedy pada pertemuan sebelumnya.

“Niick,” Julie bersuara lebih keras. Kali ini ia sudah tidak tahan lagi. Bulu hidung Nick, benar-benar membuat perutnya geli. “Bulu hidungmu.”

“Bulu hidungmu.”

Bulu hidung itu berwarna hitam legam. Bentuknya agak keriting—ikal di bawah, sangat panjang, dan selalu saja menjulur keluar. Kadang menjulur di hidung sebelah kanan, kadang menjulur di hidung sebelah kiri. Bulu hidung itu terlihat berkibar saat Nick menarik dan menghembuskan napasnya.

Dan kata Jessie, bulu hidung itu sangat seksi.

“Kenapa, Julie?”

Nick menoleh. Ia akhirnya menyadari ada seseorang yang memanggil namanya, namun sayangnya tidak benar-benar mendengar apa yang tadi diucapkan oleh Julie. Terpaksa Julie mengucapkan hal menggelikan itu lagi.

“Bulu hidungmu.”

Mata Julie tidak bisa lepas dari bulu hidung Nick.

“Apa?”

“BULU HIDUNGMU.”

“Oh?” tukas Nick. “Kepanjangan lagi, ya?”

Nick mengorek lubang hidungnya dengan santai. Ia akhirnya menemukan selembar bulu hidung yang sangat panjang di lubang hidung kanannya, dan menyadari kalau bulu hidung itulah yang telah merusak mood Julie hari ini. Ia berusaha mencabutnya dengan ujung jarinya, lalu meringis kesakitan ketika telah berhasil mencabut bulu hidung itu. Kelakuannya terlihat menjijikan.

“Sinting,” celetuk Julie.

“Tapi kau suka, kaan?” goda Nick.

Julie mencibir. Wajah Nick yang tampan memang membuatnya pantas menduduki posisi kesebelas Cowok Terganteng Nimber—Jessie sangat beruntung bisa mendapatkan hati anak laki-laki itu. Tapi, sesungguhnya, kelakuannya jahil dan bulu hidung Nick yang selalu menari-nari setiap kali ia bernapas itu benar-benar merusak nilai keseluruhan rapornya di mata Julie. Seratus delapan puluh derajat.

Terutama bulu hidungnya.

Yeaaah, tunggu saja sampai kiamat,” kilah Julie. “Aku heran, kenapa Jessie bisa-bisanya mau jalan dengan orang sinting sepertimu, Nick.”

Nick tertawa sambil mengupil. “Yah, begitulah. Aku ‘kan pria pujaan wanita.”

Julie memonyongkan bibirnya.

“Oh, aku tahu. Kau pasti pakai vodoo. Ya, kan? Akh, Nick. Buang upilmu sana. Menjijikkan.”

Nick menyeringai. “Yeah, tapi sayangnya vodoo-ku tidak mempan padamu, Julie. Seandainya saja waktu itu kau tak menolak cintaku, pasti cinta kita akan bersatu. Sayang sekali, sekarang semuanya sudah terlambat, Julie. Kau tidak bisa memintaku kembali. Jiwaku ini sudah kupersembahkan hanya teruntuk Jessie-ku seorang.”

“Wah! Melihat mukamu saja sudah bikin aku mau bunuh diri,” cetus Julie. “Bulu hidungmu itu lho. Minta dikepang.”

Julie menatap Nick dengan serius. Ia mengerutkan kening dan menaikkan sebelah alisnya, sambil berusaha berekspresi jijik dengan mengerahkan seluruh otot wajahnya. Tadinya ia berniat meniru ekspresi Cathy yang dramatis—tapi bukannya terlihat kesal, wajah Julie justru malah terlihat seperti badut sirkus yang sedang kena stroke. Nick tertawa terbahak-bahak.

“Eits, jangan salah!” kata Nick. “Justru berkat bulu hidung ini, aku jadi pria yang sangat tampan, sampai-sampai kau jatuh cinta padaku, ya, kan, Julie? Kenapa tuh mukamu?”

Julie menjawab datar. “Jatuh cinta dari Hongkong.”

Nick mengedipkan sebelah matanya.

Mr. Kennedy masuk ke kelas dan memulai pelajaran musiknya. Kelas Musik hari ini menggunakan ruang kelas biasa, dengan kursi, meja, dan papan tulis—tanpa piano, karena ruang aula yang biasanya mereka gunakan sekarang sedang dipakai untuk latihan persiapan lomba oleh tim paduan suara sekolah.

“Julie,” panggil Nick.

Julie melenguh seperti sapi.

“Sore ini Jessie datang ke klub renang, kan?”

The Lady Bitches sudah membicarakan hal ini di kafetaria siang tadi. Sejak berminggu-minggu yang lalu, mereka sudah sepakat ingin nonton pemutaran premiere film ‘Lie to Me’ di bioskop, yang ternyata jatuh tepat pada hari ini. Dan tentu saja, Jessie—mau tidak mau—harus membolos dari kegiatan klub renang hari ini.

“Nggak,” Julie menggeleng.

“Lho, kenapa?”

“Hari ini Jessie akan dilamar calon suaminya.”

“HAHH?!!”

Seperti dugaan, Nick terkejut setengah mati. Kedua matanya melotot dan mulutnya menganga lebar. Wajahnya terlihat histeris dan sangat menyedihkan, pucat seperti ayam kampung yang hampir mati tergilas truk. Padahal tadinya Julie hanya ingin menggodanya saja.

“Bercanda, Nick,” Julie tertawa geli. “Hari ini kami ada jadwal menonton di bioskop. Dan sayangnya—tidak bisa tidak. Tidak boleh dibatalkan. Mutlak.”

“Nonton film?” Nick terlihat sangat lega, meskipun masih agak sedikit kecewa. Setidaknya, ia tetap bersyukur karena masih punya harapan akan hubungannya dengan Jessie. “Nontonnya denganku saja. Ajak Cathy sekalian.”

Seperti anak laki-laki lainnya, Nick juga termasuk anggota fans club penggemar Cathy Si Begitu Memukau—The Mesmerizer—julukan yang membuat Julie selalu ingin muntah.

“Eh, jangan lupa. Kau tak boleh ikut,” sambung Nick. “Jessie dan Cathy saja. Kalau kau sih tidak usah diajak. Tolong, ya?”

“Heh,” Julie mendengus. Tawaran itu sama sekali tidak terdengar menguntungkan. “Well, begini saja. Kau antar aku ke sana. Tunggu di luar. Setelah kami selesai nonton, antarkan Jessie, Cathy, Kayla, Lucy, Cassandra, dan aku pulang ke rumah. Nah, supaya kau senang, biar nanti aku minta Jessie ceritakan sinopsis ceritanya padamu.”

Nick tetap tidak kehilangan akal.

“Bagaimana kalau Jessie tetap ikut klub renang hari ini, Cathy ikut klub renang juga, aku ikut klub renang, kau yang menonton filmnya, dan besok kau tinggal ceritakan sinopsisnya ke Jessie, Cathy, dan aku? Nah. Adil, kan?”

Nick mengedipkan sebelah matanya lagi. Julie cuma meringis.

“Sinting,” ujar Julie. Ucapan Nick terdengar konyol, tapi biar bagaimanapun ia tetap mempertimbangkan usulan itu. “Well. Kalau Jessie, sih mungkin masih bisa, tapi Cathy? Bisa-bisa aku dibunuhnya besok. Acara menonton ini ‘kan idenya,” kata Julie sambil bergidik ngeri.

Ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Cathy kalau usulan ini benar-benar ia lakukan. “Lagipula, sekarang kan Cathy sudah punya pacar. Memangnya kau belum tahu?”

Julie memperhatikan Nick dengan seksama.

“PACAR?” Nick terperangah. Terlihat jelas di raut wajahnya bahwa ia sama sekali belum pernah mendengar berita terbaru itu. “Cathy sudah jadian dengan Richard!?”

Julie tergelak.

Memang sudah menjadi rahasia umum di sekolah itu, bahwa Cathy—The Mesmerizer—sangat tergila-gila dengan Richard. Tidak hanya The Lady Bitches, seluruh penduduk Nimber—siswa kelas sepuluh, kelas sebelas, dan kelas dua belas—tahu benar kalau sepanjang hari, sepanjang waktu, satu hal yang selalu menyedot seluruh perhatiannya di sekolah, membuatnya kehilangan kewarasannya, dan membuatnya terlihat seperti gadis depresi yang memiliki keterbelakangan mental, adalah seorang anak laki-laki yang bernama Richard Soulwind. Sang Pangeran Tampan Bercahaya yang selalu dipujanya itu.

Dan sama seperti Nick, Julie tadinya juga menyangka kalau Cathy akan berakhir jadian dengan Richard. Tapi pada kenyataannya, perilaku gadis dramatis itu memang tidak pernah bisa diprediksi.

“Bukan, Nick. Pacar Cathy sekarang—Jake Williams, murid kelas dua belas,” jelas Julie. “Bintang sekolah dan ketua tim di klub basket Nimber. Kau pasti kenal kan?”

Nick bersungut-sungut. Mendengar nama yang melegenda itu membuat nyalinya menciut dan hormon pertumbuhan bulu hidungnya langsung bereaksi. Samar-samar Julie bisa melihat bulu hidungnya yang panjang menjulur keluar lagi, kali ini di hidung sebelah kiri. Terlihat seperti sulur kacang panjang yang keriting dan menjuntai-juntai.

“Erhh, Nick! Bulu hidungmu itu, lho, tumbuh lagi,” protes Julie, menatap jijik. “Aku serius, kau ini dikasih makan apa sih di rumah? Bulu hidungmu panjang-panjang begitu. ”

Nick pura-pura tidak mendengar.

“Sini kukepang.”

Nick biasanya selalu menghindar saat Julie hendak mengepang bulu hidungnya, tapi entah mengapa kali ini Nick malah diam saja. Julie justru bergidik ngeri sendiri saat menyentuh hidung Nick yang penuh komedo dan bulu hidung itu, dan sialnya lagi, aksinya itu tadi ketahuan oleh Mr.Kennedy yang kebetulan sedang memperhatikan tingkah laku mereka berdua.

“Nona Light,” ujar guru musik itu. “Sesuatu bukanlah sesuatu.”

Julie melongo. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan guru laki-laki itu. Mr.Kennedy memang suka sekali menyebutkan kalimat-kalimat yang aneh sepanjang jam pelajarannya, dan jika kalian tidak menyimak pelajarannya dengan baik, kalian pasti akan terjebak dalam jebakan Batman di menit-menit berikutnya.

“Apa yang ada di pikiranmu sekarang?” tanya Mr. Kennedy dengan cepat.

Bulu hidung Nick bukanlah kacang panjang,” jawab Julie spontan.

Seisi kelas tertawa.

Julie menyadari ketololannya. Lagi-lagi, otaknya tidak bekerja dengan benar dan wajar. Keterbatasan syaraf otaknya yang memalukan itu kini kembali memakan korban.

Muka Nick langsung berubah menjadi sangat merah.

“Bulu hidung Nick?” Mr. Kennedy terkikih. “Judul lagu yang bagus, Julie. Idemu brilian.”

Sejujurnya Julie benar-benar tidak tahu ke mana arah pembicaraan ini. Sementara itu, Nick hanya tersenyum masam.

“Sekarang, dengan metode aransemen chord yang telah kuajarkan tadi, setiap kelompok akan membuat sebuah lagu dengan judul ‘Bulu Hidung Nick Bukanlah Kacang Panjang,’ sebanyak dua bait saja. Setengah jam lagi kita akan berkumpul kembali dan bersama-sama mendengarkan hasilnya. Silakan memulai.”

Julie dan Nick saling berpandangan.

Bulu Hidung Nick Bukanlah Kacang Panjang,” ujar Nick, “—itu judul lagu terkonyol yang pernah kudengar seumur hidupku.”

Julie tersenyum miris. Baginya, judul itu memang judul yang sangat aneh, bahkan sama anehnya dengan bentuk bulu hidung Nick itu sendiri. “Setidaknya dalam sejarah Nimber, namamu pernah didedikasikan untuk sebuah lagu, Nick. Tidak perlu berterimakasih padaku.”

Nick tertawa.

“Sebagai gantinya, aku akan buatkan lagu yang terkeren sepanjang sejarah Kelas Musik Nimberland,” tukas Nick. “Dan yang penting bersiap-siap saja, kita pasti akan ditertawakan lagi di kelas. Kali ini, pasti benar-benar riuh. Fiuh, untung saja ada kau.”

Julie tidak tahu apakah pernyataan ini pujian atau celaan, tapi ia tidak benar-benar peduli. Buatnya, tampil dengan keren di Kelas Musik adalah hiburan yang menyenangkan di tengah penatnya pelajaran-pelajaran sekolah yang memusingkan dalam seminggu itu. Apalagi besok ada kelas Prancis.

Tapi seperti biasa, Julie tidak pernah mau ambil pusing. Yang penting baginya adalah menikmati indahnya hari ini.

Soal besok?

Well.

Besok saja dipikirkan, pikir Julie santai.

5. Pertemuan

Siang itu, kelima gadis The Lady Bitches menghabiskan jam makan siang mereka dengan santai. Mumpung anggota keenam belum datang—Cathy Pierre, entah apa yang dilakukan gadis itu—Julie memanfaatkan kesempatan sebesar-besarnya menikmati siang itu dengan perasaan puas dan merdeka. Tak ada Cathy, berarti tak ada topik tentang Richard—karena biasanya Cathy-lah yang selalu memulai topik pembicaraan nonstop tentang anak laki-laki itu—topik yang luar biasa membosankan bagi Julie. Dengan demikian, hari ini adalah hari yang sangat menyenangkan.

Dan yang lebih menggembirakan lagi adalah, menu makanan hari ini—dimsum. Julie sangat menyukai makanan itu seperti halnya ia menyukai fettucini carbonara, makanan favoritnya. Julie bersorak senang, mensyukuri betapa bahagia hidupnya siang itu. Semuanya terasa sempurna.

Sekarang mereka berlima sedang asyik membicarakan tentang Steve Addison dan Nicholas White—anak laki-laki yang sedang disukai oleh Kayla dan Jessie. Kayla berkenalan dengan Steve di klub paduan suara—kebetulan Steve adalah salah satu senior kelas sebelas yang menjadi pelatih paduan suara untuk junior kelas sepuluh. Akhir-akhir ini mereka menjadi semakin dekat—terlihat dari intensitas pertemuan mereka yang semakin sering—tampaknya Steve juga menyukainya. Sementara itu, Jessie saat ini sedang dekat juga dengan Nick, teman satu klubnya di klub renang. Kemarin, anak laki-laki itu menawarinya tumpangan kendaraan sepulang sekolah, dan hal itu membuat Jessie geer setengah mati. Kedua gadis itu sedang dalam keadaan berbunga-bunga sekarang.

Tidak perlu diragukan lagi, sejak awal perjumpaan mereka, kedua anak laki-laki ini telah berhasil memikat hati Kayla dan Jessie. Dua-duanya sama-sama keren dan—menurut gosip—termasuk cowok-cowok incaran gadis-gadis kelas sepuluh saat ini. Mereka berdua juga termasuk ke dalam daftar ‘Cowok-Cowok Terganteng di Nimber’ yang dibuat oleh gadis-gadis The Lady Bitches dalam beberapa minggu terakhir ini. Steve berada di urutan ketujuh, sedangkan Nick berada di urutan kesebelas. Pemegang urutan pertamanya adalah Richard Soulwind—tentu saja. Sementara itu, Jake Williams—sang senior idola—menempati urutan kedua.

Tidak seperti halnya peringkat kedua yang bisa ditentukan dengan mudah—semuanya setuju soal Jake Williams—penentuan peringkat pertama diperoleh dari hasil perhitungan suara yang berbeda, 5:1. Tidak perlu ditanya lagi, siapa orang yang paling ngotot menentang pemenang urutan nomor satu. Hingga saat ini, Julie Light tetap bersikeras menganggap kalau masih ada cowok lain yang jauh lebih ganteng daripada Si Lampu Petromaks itu.

Mr.Bouncer.

Menurut Julie, Mr.Bouncer—satpam penjaga sekolah mereka—adalah pria tertampan di dunia yang paling pantas mendapatkan gelar ‘Cowok Terganteng di Nimber’. Mr.Bouncer tidak hanya baik hati—karena sering menyelamatkannya saat hampir terlambat masuk sekolah—kandidat pilihannya itu juga adalah seorang laki-laki dewasa yang bertubuh tinggi besar dan gagah, berotot tebal dan mantap seperti kuda, memiliki bibir mungil yang lucu, serta kumis mungil keriting yang sangat imut. Berbeda jauh dari Richard, Si Cowok Ganteng Standar, yang badannya kerempeng dan loyo, seperti balita kurang gizi.

Dan tentu saja, tidak ada yang setuju dengan pendapat Julie yang satu ini.

“Tebak! Aku punya berita apa??!”

Tiba-tiba Cathy datang dari belakang dan langsung menggebrak meja dengan keras, mengagetkan semua orang. Dimsum yang berada di sumpit Julie sampai terjatuh saking kagetnya.

“Cath! Kau menjatuhkan makananku!” teriak Julie. Ia meratapi dimsum berharganya yang terjatuh ke lantai.

“Aku jadian dengan Jake, lho,” sambung Cathy tanpa menggubris ucapan Julie.

“Kau.. Ap-pa??”

Berita ini langsung membuat perutnya kejang.

“Aku jadian dengan Jake. Jake Williams. Senior kita yang super tampan itu, lho..”

“Haa?”

Jake Williams adalah senior kelas sebelas yang pernah mereka bahas seminggu yang lalu. Laki-laki itu bahkan baru mendekatinya dalam beberapa hari ini. Atau lebih tepatnya, baru dua hari. Tidak ada tanda-tanda sedikit pun kalau Cathy akan berpacaran dengannya—apalagi histeria Richard-holic yang selama ini dikumandangkan Cathy, membuat hal ini menjadi semakin mustahil.

Berita ini benar-benar mengejutkan.

“Yang benar, Cath?” tanya Jessie.

Cathy menyeruput jus lemon milik Jessie lalu melanjutkan ceritanya.

“Tentu saja,” ujarnya sambil tersipu-sipu.

Sepintas Julie merasa ada untungnya dimsumnya tadi tidak jadi masuk ke mulutnya, sebab kalaupun jadi, pasti makanan itu langsung keluar lagi—dalam bentuk muntahan.

Tidak hanya Julie, teman-temannya yang lain pun masih tidak percaya dengan berita ini.

“Kok bisa?” tanya Kayla penasaran.

“Kemarin malam, dia mengajakku kencan. Kami pergi ke Raffletu Caffe. Tempatnya romantis sekali. Aku merasa bagaikan di adegan-adegan cinta film-film Hollywood. Dia memesankan sebuah candle light dinner untukku. Jake tersayangku itu—dia sangat.. sangat..”

Mata Cathy berbinar-binar.

“Romantis.”

Terdengar bunyi ‘huu’ secara bersamaan.

“Kalian pasti iri! Kalian belum pernah candle light dinner, kan? Iya, kan?””

“Aku pernah, kok,” kata Cassandra. “Dulu pernah sekali waktu aku kencan dengan Ronald, di Birmingham. Waktu itu kami ber..”

“Jangan komentar!” desis Cathy. Ekspresinya dingin dan ketus. “Belum dibuka sesi komentar.”

Kayla, Jessie, dan Julie cekikikan. Sementara itu, Lucy tersenyum-senyum sambil memandang lantai.

Kemarin, Julie-lah yang sempat dihardik Cathy. Itu gara-gara Julie merusak image ‘Selebriti Nomor Satu di Nimber’-nya saat Cathy bercerita tentang dirinya yang diwawancarai oleh koran sekolah mereka. Julie menjelaskan, mereka mewawancarai Cathy karena saat itu kebetulan klub koran sekolah mereka sedang butuh ‘Berita Apa Pun’ untuk menambal pojok iklan yang kosong. Berita Apa Pun. Mendengar perkataan Julie itu, Cathy akhirnya ngamuk-ngamuk, seperti sapi gila.

Julie bersyukur, untung saja kali ini ia tidak memberi komentar apa-apa.

“Kalian tahu, tidak? Malam itu, dia bertanya padaku, apakah aku sudah mempunyai pacar? Tentu saja aku bilang yang sebenarnya,” Cathy tersenyum-senyum malu. “Aku bilang padanya, saat ini aku masih mencari cinta sejatiku. Cinta dan gelora asmara yang belum pernah kutemukan.”

Cathy terkikih mendengar ucapannya sendiri. The Lady Bitches yang lain pun tertawa geli.

“Pulang dari tempat itu, dia mengantarku dengan mobil birunya yang keren. Di tengah perjalanan, dia memutar lagu ‘Oh, My Love’ dan kemudian ia menembakku. Kalian tidak bisa bayangkan, kan?? SO SWEEET!

“Dan kau langsung menerimanya?” tanya Kayla.

“Tentu saja!” Cathy merespon dengan cepat. “Dia kan ganteng banget.”

Cathy tertawa-tawa sendiri.

Akal sehat Julie benar-benar sedang bercampur aduk sekarang. Ia berusaha mencerna berita ini dengan kewarasannya yang masih tersisa. Selama ini, ia selalu meyakini kalau Cathy pada akhirnya akan jadian dengan Richard, sang pangeran pujaannya itu. Tapi sekarang, Cathy malah jadian dengan Jake Williams—sang senior idola. Julie masih tak bisa habis pikir, bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi.

Dan satu hal lagi.

“Lalu Emma Huygen bagaimana?”

Tawa Cathy berhenti. Mukanya berubah menjadi tidak senang, tapi dalam sekejap berubah lagi menjadi sebentuk kepercayaan diri.

“Si jelek itu?” Cathy mendengus. “Huh, siapa takut.”

Sikap gadis itu berbeda seratus delapan puluh derajat dibandingkan dengan reaksinya beberapa hari yang lalu, sewaktu ia dilabrak Emma Huygen.

Waktu itu, ia menangis terisak-isak seperti bayi.

“Ah! Paling-paling kau menangis lagi,” timpal Jessie. Jessie merengek dan meraung-raung, seperti anak kecil yang minta digendong ibunya.

“Ssshhh…,” Cathy menutup mulut Jessie dengan paksa, membuatnya jadi kesulitan bernapas. “Awas kalau kau bilang-bilang ke orang lain. Sudah kubilang, waktu itu aku cuma kelilipan.”

Julie tertawa keras. Sekarang, ia menirukan adegan menangis tadi, menggantikan Jessie.

“JULIE!” seru Cathy. Ia berusaha menjambak rambut Julie. “Awas kau, ya!”

Bagi Julie, sebenarnya dengan siapapun Cathy berpacaran bukanlah suatu masalah. Mau dengan Jake Williams atau siapapun, sepanjang semuanya itu akan berujung pada satu akibat yang sudah lama dinanti-nantikannya, ia siap menerimanya dengan senang hati.

Hidupnya bisa kembali normal.

Akhir-akhir ini memang sudah kembali normal. Benar-benar seperti yang diinginkannya. Aman, tentram, tanpa gangguan.

Santai dan damai. Sekarang, jumlah pria-pria yang mendekatinya pun sudah berkurang drastis. Para anak laki-laki itu sepertinya sudah tahu kalau Julie bukan tipe gadis yang mudah ditaklukkan, sehingga lambat laun mereka mengurangi usaha mereka untuk mendekati Julie. Dan akhirnya, benar-benar bersikap seperti teman biasa.

Soal Richard—sudah bukan masalah. Ia sudah mulai terbiasa menghindari anak laki-laki itu. Berkat pengalaman sehari-hari, tubuhnya akhirnya telah terlatih secara baik untuk membentuk gerakan refleks yang begitu cekatan sehingga setiap kali matanya mendeteksi tanda-tanda keberadaan laki-laki itu, secara otomatis tubuhnya akan berbalik dan mencari arah yang berlawanan, tanpa lagi menimbulkan reaksi-reaksi yang mengkhawatirkan.

Julie pun telah mulai hapal titik-titik posisi duduk yang tak akan ada Richardnya. Kafetaria bukan lagi sebuah ancaman.

Gosip-gosip spekulatif akan hubungannya dengan Richard pun samar-samar mulai menghilang. Meskipun sedari awal Julie memang tidak pernah memperhitungkan gosip ini, tapi bisa terbebas dari olok-olok tak bermutu yang membuat telinganya gatal itu sedikit banyak jadi kabar baik juga buatnya.

Paling-paling yang hal-hal masih akan mengganggunya hanyalah obrolan remeh gadis-gadis, dan kelas Prancis—yang satu ini sih tidak akan ada habisnya. Tapi setidaknya, satu masalah akan selesai.

“Jadi, artinya sekarang kita sudah tidak perlu ngomongin soal Richard lagi, dong? Kau kan sudah punya pacar. Fiuh, syukurlah. Akhirnya telingaku ini bisa beristirahat juga,” kata Julie.

Dengan munculnya kabar baik ini—Julie yakin, masalah besar yang cukup mengusiknya itu, akhirnya bisa ikut menghilang.

Ternyata pendapat Julie ini tidak sepenuhnya benar.

“Lho?! Mana bisa begitu?” protes Kayla.

“Kami berempat kan masih ada,” Jessie ikut menambahkan. “Meskipun Cathy sudah jadian dengan Jake, kami berempat kan belum jadian dengan siapa-siapa. Biar bagaimanapun, Julie, kami ini pengagum setia Prince of Sunshine.”

“Ya! Betul sekali!”

“Selamanya.”

Julie terhenyak. Ia benar-benar kehabisan akal melihat tingkah gadis-gadis ini. Ia semakin yakin kalau sepertinya dirinyalah satu-satunya anggota yang paling waras di antara kelompok mereka. Gadis-gadis ini, semuanya sinting.

“Kay, Kau kan sedang dekat dengan Steve! Jess, katanya kau naksir Nick. Bagaimana kalian ini?” protes Julie.

Julie ingat betapa ramainya mereka saat membicarakan kedekatan mereka dengan cowok-cowok ganteng Nimber itu tadi.

“Lagipula kurasa, tak ada perlunya sama sekali kita membicarakan dia setiap hari. Setiap hari! Kalian tidak bosan, apa?”

Julie berusaha meyakinkan mereka dengan mengerahkan seluruh kemampuan terbaiknya. Tak lupa, ia menggunakan jurus ‘Tatap Mata Lawan Bicara’ ala Dale Carnegie, untuk meningkatkan efek dari persuasinya itu. Jurus ini terbukti sangat ampuh, khususnya sewaktu dulu ia meminta dibelikan laptop baru pada ayahnya.

Kayla merenungkan ucapan Julie. Untuk kali ini, ia merasa sependapat dengan gadis itu. Akhir-akhir ini ia sedang dekat dengan Steve dan menurutnya Steve itu cowok yang baik dan menarik. Memang tidak setampan Richard, tapi Steve lumayan juga, dan yang terpenting—laki-laki itu sangat menyenangkan.

“Iya. Benar juga kata Julie. Buat apa kita terus-menerus membahasnya sepanjang hari.”

Satu korban telah jatuh. Julie bersorak. Kini ia melihat ada secercah harapan.

“Kalau aku sih, fleksibel ya. Nggak tahu deh kalau yang lain. Tapi sejujurnya, memang lebih asyik sih kalau kita ngomongin dia terus. Dia kan ganteng banget—LEBIH GANTENG dari Jake,” goda Jessie.

Cassandra ikut memberikan pendapat.

“Kalau aku sih, daripada membicarakan soal Richard, aku lebih ingin jadi pacarnya saja.”

Lucy mengangguk setuju.

Tampaknya alurnya kembali kurang menguntungkan, tapi Julie optimis kalau masih ada peluang untuk mengembalikan alur situasi ini ke jalan yang benar. Ia bersiap-siap untuk mengeluarkan persuasi yang berikutnya.

“Enak saja!” bantah Cathy. “Yang akan jadi pacarnya Richard itu aku!”

Semua menoleh ke arah Cathy, tidak percaya apa yang baru saja mereka dengar.

“Cath! Kau kan sudah pacaran dengan Jake,” protes Kayla.

“Iya, jangan rakus, dong!”

“Yang benar saja, Cath! Kami bahkan belum punya pacar sama sekali.”

Gadis-gadis itu bergemuruh.

Cathy menghela napas sambil menggelengkan kepalanya.

“Oke, oke. Kalian tenang saja,” sahut Cathy. “Kalau begitu, nanti setelah Richard jadian denganku, Jake akan aku putuskan. Bagaimana? Adil, kan?”

Tidak ada satupun yang setuju dengan pendapat Cathy ini.

“Curang!”

“Cath! Kau tidak boleh curang begitu!”

“Iya. Harusnya kau ini jadi pacar yang setia, dong. Bukannya malah menelantarkan cowokmu setelah mendapatkan yang baru.”

“Kau tidak kasihan apa pada Jake? Mark saja sekarang sudah tak bersemangat lagi sejak putus denganmu.”

“Terserah.. Terserah.. Terserah..,” Cathy bersiul-siul sambil menutup telinganya.

Julie berdecak. Kelakuan gadis ini benar-benar seperti anak kecil yang manja. Tidak bisa diberitahu sama sekali. Kalau menasehatinya lebih lama, bisa-bisa nanti Cathy malah ngambek dan mogok bicara lagi selama berhari-hari, seperti sebelum-sebelumnya. Oleh karena itu, Julie memutuskan untuk membiarkannya menuruti keinginannya. Lagipula, ia tidak mau ikut campur dengan urusan pribadi Cathy.

“Ya, sudah. Terserah kau sajalah, Cath,” ujar Julie.

Julie tiba-tiba teringat dengan dimsumnya yang terjatuh di lantai tadi. Menu makan siang hari ini terlalu berharga untuk dilewatkan, apalagi menu dimsum hanya muncul satu kali sebulan di kafetaria sekolah mereka. Untuk mengganti dimsumnya yang terjatuh tadi, Julie merasa perlu untuk mengambil dimsum sekali lagi. Ia beranjak bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju antrian.

“Aku mau mengambil dimsum, nih. Mau ikut, tidak? Kau belum makan, kan?”

Cathy menggeleng.

“Nggak, ah. Aku lagi diet, supaya aku semakin cantik,” jawabnya. “Demi Jake tampanku tersayang.”

Terus terang, ungkapan yang terakhir disebutkan itu masih terlalu janggal di telinga Julie. Biasanya, Cathy selalu menyebutkan nama Richard di setiap kalimat-kalimat romantisnya, dan sekarang sudah berganti nama—Jake. Rasanya masih terdengar aneh saja.

Mungkin ia masih perlu membiasakan diri.

Julie tiba-tiba merasakan firasat aneh yang mengkhawatirkan. Ia sudah sampai di pertengahan antrian ketika ia baru menyadari siapa yang berada dua baris di depannya.

Laki-laki itu sama sekali bukan orang yang diharapkannya berada di dekatnya.

“Sial, sial, sial,” umpat Julie dalam hati.

Ia sama sekali tidak melihat orang itu tadi.

Tubuh orang itu terhalang oleh tubuh temannya yang sangat gendut dan tinggi besar yang ada di belakangnya. Tadinya Julie masih bisa bersyukur bahwa setidaknya ada penghalang di antara mereka berdua. Tapi sekarang, temannya yang gendut itu malah berusaha memotong antrian, memaksanya bertukar posisi.

Orang itu kini malah tepat berada di hadapannya.

“Sial,” gerutu Julie.

Kakinya sudah bersiap-siap untuk bergerak, tapi kemudian ia menyadari bahwa sekarang sudah sangat terlambat. Kalau ia kembali sekarang, tentu teman-temannya akan bertanya-tanya mengapa ia tidak jadi mengambil dimsumnya. Lalu mereka akan melihat anak laki-laki itu. Lalu mereka akan mencurigai gerak-gerik Julie yang aneh—soalnya dimsum adalah makanan favorit Julie. Dan akhirnya, mereka akan mengetahui kalau selama ini Julie selalu menghindari Richard. Kapan pun, di mana pun.

Kalau sampai mereka tahu, hidupnya bisa terancam bahaya. Mereka tidak mungkin mengerti alasan mengapa ia menghindari anak laki-laki itu. Alasan ia tidak menyukai anak laki-laki itu. Alasan ia tidak suka berada di dekat anak laki-laki itu. Apalagi, selama ini ia selalu mencelanya di depan mereka dengan pernyataan skeptis. Ini terlalu berbahaya.

Satu-satunya yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah berusaha bertahan di tempat itu, sampai akhirnya ia berhasil keluar dari antrian.

Julie bergerak maju. Sekarang ia sudah sampai di etalase, tapi dimsum sialnya itu masih ada di bagian meja paling ujung. Menunggu dan bergeser-geser ke samping sangat menyiksa buatnya, karena yang ada di sampingnya sekarang adalah ‘Orang Yang Paling Ingin Dihindarinya di Dunia Ini’ dan sejalan dengan arah pergerakan antrian, ia malah harus terus-menerus menghadap ke samping kirinya tepat di mana wajah Richard berada.

Mau tak mau, ia jadi harus memandang wajah itu.

Wajahnya membentuk siluet indah yang melekuk dengan sempurna. Hidungnya tajam dan lurus, seperti hidung seorang bangsawan. Tulang pipinya sedikit tinggi, namun ramping dan indah, menegaskan pesona dari pancaran mata birunya.

Bagian yang paling disukai Julie adalah bibir dan dagu Richard. Bibir itu tipis namun membentuk lekukan khas yang sangat renyah. Bersamaan dengan bentuk dagunya yang sedikit mencuat—yang entah bagaimana caranya malah jadi terlihat sangat menawan—seutas senyum tipis yang bertengger di bibirnya akan benar-benar akan menyihir siapa saja yang melihatnya.

Termasuk Julie.

Napas Julie menderu. Baru kali ini ia melihat Richard sedekat itu, dan baru kali ini juga ia bisa memperhatikan wajah Richard selama itu. Teman-temannya memang benar. Richard sangat tampan.

Sangat tampan.

Julie berusaha untuk mengontrol napasnya sendiri, menarik napas panjang lalu mengeluarkannya perlahan-lahan. Jantungnya berdetak tidak normal. Terlalu cepat, seperti akan meledak.

“Tuhan! Cepat keluarkan aku dari sini,” Julie memohon dalam hati.

Julie menjaga jarak sejauh mungkin—sejauh yang ia bisa—dari Richard. Biarpun itu artinya ia harus berdempet-dempetan dengan gadis Asia yang ada di sebelah kanannya, ia tak peduli.

“Hei! Kau menginjak kakiku,” ujar orang itu sambil mendorong Julie ke kiri.

Tubuh Julie menabrak Richard. Spontan Richard menangkap tangannya. Tangan itu terasa sedingin es di kutub utara. Julie menggigil kedinginan. Dengan segera ia menarik tangannya kembali dari tangan Richard.

“Maaf—maafkan aku,” ujarnya pada gadis itu. Julie tidak menggubris Richard, berpura-pura seolah-olah tadi ia tidak menabrak siapa-siapa. Ia lebih memilih sibuk meminta maaf pada si gadis Asia, mencari-cari alasan memunggungi Richard.

Gadis itu tersenyum dengan ramah, memaklumi kekhilafan Julie. “Tidak apa-apa. Lain kali, hati-hati, ya.”

Julie sebenarnya berharap gadis Asia itu marah padanya. Ia tinggal balik marah-marah pada gadis itu, lalu ia bisa keluar dari antrian tanpa perlu kelihatan mencurigakan. Sayang sekali, bukannya marah, gadis itu malah langsung memaafkannya.

“Kenapa kau tak marah?”

Julie tak menyadari kalimat ini keluar dari mulutnya. Ia pikir ia masih bergumam dalam hati.

“Kenapa aku harus marah? Tidak apa-apa, kok.” Gadis itu tersenyum lagi.

Julie menyadari ketololannya. Dengan segera ia memperbaiki situasi itu, dengan bersikap seolah-olah ia memang sedang bertanya. “Tapi aku kan menginjak kakimu.”

Gadis itu tersenyum lagi. “Tidak apa-apa. Aku tadi cuma kaget saja, kok. Aku juga minta maaf karena tadi sudah mendorongmu. Kau tidak apa-apa, kan?”

Julie menyengir seperti kuda. “Tidak apa-apa.”

“Baguslah kalau begitu. Mungkin sebaiknya aku harus meminta maaf pada anak laki-laki yang kau tabrak. Kalau tidak salah dia..”

“Um.. Sudah. Tidak apa-apa. Aku rasa dia baik-baik saja,” potong Julie. Ia malas sekali kalau pembicaraan ini akhirnya jadi pembicaraan tiga arah. “Oh, ya. Kenalkan. Aku Julie—Julie Light. Siswa kelas sepuluh. Kamu?”

“Aku Jessica—Jessica Wang. Kelas sebelas. Aku murid baru di sini, pindahan dari Filipina.”

Wow, pelajar internasional, batin Julie.

“Hai, Jessica. Senang berkenalan denganmu,” ujar Julie. “Oh, ya. Ngomong-ngomong, nama depanmu sama dengan nama temanku. Itu dia—orangnya duduk di sana.”

Julie menunjukkan tempat di mana Jessie duduk.

“Sampaikan salamku untuknya, ya,” kata Jessica sambil tersenyum. Gadis itu benar-benar terlihat sangat ramah dan hangat.

Orang-orang Asia memang sangat ramah, pikir Julie.

Kayla juga keturunan Asia, dan Kayla selalu jadi favoritnya. Mereka semua punya daya tarik yang eksotis, dan pancaran aura kehangatan yang tidak bisa dijelaskan. Hal ini membuatnya semakin berambisi ingin menjadi gadis blesteran keturunan Asia. Julie berharap dengan sungguh-sungguh, semoga saja ada salah satu nenek moyangnya di silsilah mana pun, yang punya darah keturunan Asia.

Selagi mereka mengobrol, ternyata mereka sudah sampai di ujung etalase. Richard sudah tidak ada di sampingnya lagi. Julie segera mengambil dimsumnya dan berpamitan dengan Jessica.

Julie berjalan kembali ke mejanya sambil mengawasi lokasi target yang harus dihindarinya. Ia memang tidak perlu melihat sekeliling. Dalam satu sapuan saja, matanya sudah bisa mendeteksi di mana Richard berada. Ia duduk di dua baris meja dari dinding sebelah kanan. Cukup jauh dari meja mereka.

Julie segera membuang muka.

Saat Julie kembali ke tempat duduknya, ia sudah disambut dengan heboh.

“JULIE!!”

“Kau tadi mengantri di sebelah Richard!!” ujar Cathy histeris. “Kenapa kau tidak mengajakku?? Kau mau enak-enak sendiri ya?? CURAAAANG!!!”

Julie mendengus.

“Enak-enak kepalamu. Gara-gara kau kan dimsumku jatuh.” Julie menanggapi antusiasme Cathy dengan wajah cemberut. “Lagipula, kau tadi kan sudah kuajak.”

Jessie tak kalah bersemangatnya.

“Bagaimana rasanya tadi, Julie? Fantastis, kan?”

Julie menjawab dengan datar. “Biasa saja.”

“Kyaa! Kalau aku jadi kau tadi, aku pasti sudah curi-curi kesempatan,” ujar Cathy.

“Nah, memangnya kau mau melakukan apa, Cath?” tanya Cassandra.

Cathy tertawa dan cuping hidungnya membesar. “Yaaaah, begitulaah. Hahaha. Kau pasti tahu maksudku.”

Julie segera melahap dimsumnya sebelum dimsum itu jatuh lagi. Ia tidak mau mengantri lagi untuk yang ketiga kalinya.

“Kalau kau memang sebegitu inginnya, kenapa tidak kau hampiri saja dia ke mejanya sekarang,” ujar Julie sambil mengunyah dengan mulut penuh. “Jangan cuma teriak-teriak di sini saja, dong. Tunjukkan kalau kau memang suka padanya.”

Julie menantikan reaksi Cathy.

“Gila kau, ah. Jake nanti bisa ngamuk-ngamuk,” tolak Cathy.

Julie terkikih. “Nah, nah. Masih ingat Jake, rupanya. Kupikir kau lupa kalau kau sudah punya pacar.”

Cathy mencibir. “Tentu saja aku ingat. Dia kan pacarku.”

Pandangan Cathy tiba-tiba terpaku pada satu titik yang bergerak di belakang Julie. Richard sudah akan pergi, rupanya.

“Cepat sekali,” gumam Cathy dengan pandangan heran. Terlihat jelas ia menyayangkan pertemuannya dengan Richard yang cuma sebentar.

“Oh, iya. Benar juga. Aku akan ada presentasi Biologi sebentar lagi. Aku harus buru-buru, nih,” ujar Jessie. Kebetulan Jessie sekelas dengan Richard di kelas Biologi.

“Duluan, ya, gals.”

Julie menyeringai puas. Bukan hanya karena telah terbebas dari Richard, tapi ia juga bisa mengambil jatah spaghetti Jessie yang masih tersisa banyak. Spaghetti ekstra dan dimsum, hari ini memang terasa menyenangkan.

Kelima gadis itu pun kembali melanjutkan obrolan mereka.

4. Julukan (2)

“Baik. Sekarang kau ceritakan pada kami apa yang terjadi tadi.”

Julie memulai penyelidikannya.

Segera setelah bel pulang berbunyi, ia, Jessie, dan Kayla mengerubungi Cathy dan mengajaknya duduk di bangku taman. Cassandra dan Lucy sudah pulang lebih dulu—Cassandra sedang ada jadwal kursus kepribadian, sementara Lucy sudah pulang lebih awal karena ada urusan keluarga.

Mereka kini sedang menunggu penjelasan Cathy tentang apa yang dilihat Julie tadi siang.

“Aku dilabrak Emma Huygen,” ujar Cathy dengan nada yang tidak percaya diri—tidak seperti biasanya. Bibirnya mengerucut dan matanya menunduk lesu, menandakan kalau ia benar-benar tidak suka kejadian siang tadi itu.

Emma Huygen.

Itu adalah nama salah satu cewek paling populer dari kelas dua belas. Julie pernah mendengar nama itu—sepintas lalu. Kabarnya, Emma sangat sering diutus sebagai duta sekolah dan menjadi ujung tombak dalam berbagai kompetisi akademis. Gadis itu tak hanya gadis yang cantik, tetapi juga sangat cerdas. Benar-benar tipe gadis yang ideal.

Meskipun begitu, sayangnya Emma juga dikenal sebagai senior yang berkelakuan buruk. Ia terkenal ketus serta semena-mena terhadap junior perempuan. Dua minggu yang lalu, misalnya, Julie mendengar kabar bahwa Tania—siswi kelas sepuluh—sempat hampir ingin berhenti sekolah karena terus-menerus diganggu oleh Emma dan teman-temannya, hanya karena Emma tak suka mobil Tania menghalangi tempat parkirnya. Julie bersyukur karena tidak pernah bertemu dengan gadis itu secara langsung.

“Kau dilabrak?” tanya Jessie.

“Kenapa?”

Tak disangka-sangka, raut wajah Cathy langsung berubah drastis begitu mendengar pertanyaan itu. Ia tersenyum-senyum dan mengambil sisir dari tasnya. Ia lalu menyisir rambut, perlahan-lahan, sambil menikmati helaian-helaian rambutnya yang halus dan bergelombang. Terkadang ia terkekeh-kekeh sendiri, sambil melirik teman-temannya yang kebingungan.

“Oi. Kau sakit, ya?”

Kayla merasa Cathy sudah mulai gila.

“Aah, memang sulit hidup menjadi seorang gadis cantik,” keluh Cathy, menyesalkan kecantikannya yang melegenda itu. Ia berusaha terlihat depresi luar biasa dan menyeka dahinya yang tidak berkeringat.

Cathy Pierre si Ratu Drama sudah kembali.

“Emma khawatir kalau aku akan merebut pacarnya,” lanjut Cathy. “Jake Williams, cowok super ganteng yang kita bicarakan kemarin itu, lho.”

Kayla terperangah.

“Lho, bukannya mereka berdua sudah putus?”

Julie mengangguk mengiyakan, sambil menoleh ke Cathy berusaha untuk meyakinkan lagi. Ia ingat, kemarin mereka sibuk membahas soal Jake habis-habisan—satu hari libur bagi telinganya untuk beristirahat dari histeria Richard-holic yang melelahkan. Setidaknya gadis-gadis itu sudah punya idola baru.

“Dia mengancamku untuk tidak macam-macam dengan Jake. Heh, dia pikir dia itu siapa?”

Cathy mendengus dan mencibir.

Julie termenung sejenak. Ia tidak habis pikir mengapa Cathy sampai perlu berurusan dengan Emma. Cathy memang sering membicarakan senior-senior tampan secara dramatis—seolah-olah lelaki-lelaki tampan itu adalah malaikat-malaikat indah yang sengaja diturunkan Tuhan dari surga untuknya, tapi setahunya Cathy sama sekali tidak pernah mengincar Jake.

Sudah jelas gadis itu tergila-gila pada Richard.

“Aku tidak mengerti,” kata Julie. “Kenapa juga dia mesti khawatir? Kau kan tidak pernah menggoda Jake.”

Julie mengungkapkan rasa penasarannya. Cathy hanya menatapnya dengan bingung.

Julie lebih bingung lagi. “Ha? Kenapa?”

Cathy menggelengkan kepalanya sambil berdecak. Ia memamerkan senyum termanisnya dan berkedip-kedip manja. Ia memainkan gulungan-gulungan rambutnya sekali lagi.

Julie semakin tidak mengerti.

“Kay?”

“Waah! Kau bikin aku malu saja, Julie,” ujar Jessie jengah. “Masa yang begitu saja harus aku kasih tahu, sih?”

Kayla terkikih.

Julie kesal. Rasanya kredibilitasnya sebagai makhluk yang berakal selalu goyang setiap kali Jessie mencemoohnya. “Aku kan bertanya pada Kayla. Bukan kau, Jelek!”

Jessie mencibir dan Julie menggeram. Mereka bersiap-siap untuk bertengkar lagi.

Kayla melerai mereka berdua.

“Heei, kalian ini. Sudah, sudah,” ujar Kayla. Dengan lembut ia memisahkan mereka berdua, seperti seorang ibu baik hati yang sedang mendamaikan kedua putrinya yang sedang berebutan boneka.

“Begini, Julie,” sambungnya. “Cathy memang tidak pernah menggoda Jake. Tapi, kita semua tahu kan, kalau Cathy sangat cantik. Setiap hari anak laki-laki selalu berbondong-bondong mendekatinya. Wajar saja kalau Emma khawatir kalau suatu saat Jake akan menyukainya,” jelas Kayla.

Penjelasan yang cukup sederhana. Julie tidak habis pikir mengapa otaknya yang tumpul tidak bisa sampai ke kesimpulan itu dari tadi.

“Maklumlah, Kay. Julie kan bodoh. Mana mengerti dia soal begitu-begituan,” cela Jessie.

Julie menarik kuncir rambut Jessie.

“Heeei.”

“Oh, ya, Cath” ujar Kayla tanpa menggubris mereka berdua. “Ngomong-ngomong, mengapa Emma bisa sampai sebegitu khawatirnya? Kupikir, Julie ada benarnya juga. Memangnya kau sebegitu terkenalnya di kalangan senior-senior tingkat atas?”

Julie tersenyum menang. “Tuh, kan? Apa kubilang.”

“Ya, sepertinya sih begitu,” gumam Cathy.

Ia menyeringai lebar, teringat pada satu hal yang membuatnya tersanjung. “Dia bilang, mereka mempunyai julukan untukku yang terdengar menjijikkan buatnya.”

The Mesmerizer—Si Begitu Memukau.”

Julie, Jessie, dan Kayla tertawa geli.

“Jangankan Emma, aku saja mau muntah,” ujar Julie.

Jessie menyambut umpan dari Julie, mempraktekkan adegan muntah yang pernah dilihatnya di TV. Kayla tidak bisa berhenti tertawa. Perutnya jadi benar-benar sakit karena menahan geli.

“Ya, ya, ya. Apalah,” ujar Cathy sinis. “Kalian cuma sirik. Kalian bertiga kan tidak secantik aku. Pangeran William saja pasti langsung jatuh cinta begitu ia melihat wajahku yang memukau ini. Cathy Pierre, Si Begitu Memukau.”

Sekarang julukan itu malah terdengar lebih menggelikan lagi.

“Di mana terakhir kali kau bercermin, Cath?” tanya Jessie. “Di kandang sapi?”

Mereka bertiga tertawa lagi. Cathy tak menggubris hinaan itu.

“Oh, ya. Ngomong-ngomoong…,”

Cathy tak langsung melanjutkan kelimatnya. Ia memilih untuk menunda kalimatnya sebentar, dengan jeda waktu sekitar 20 detik, “—yang  mendapat julukan bukan cuma aku, lho.”

“Mau tahu, tidak??”

Cathy berusaha memainkan intonasinya. Sekarang ia bertingkah seperti seorang pembawa acara kuis yang menawarkan jawaban pertanyaan di babak bonus. Setiap kali merasa memiliki berita terbaru, ia selalu sengaja menyampaikannya dengan nada yang membuat penasaran.

Trik lama.

Baik Julie, Kayla, maupun Jessie sudah tidak berselera menanggapi tingkahnya yang satu ini. Kalau diladeni, dia malah tidak akan memberitahumu sama sekali sampai kau merasa jengkel.

“Tidaak,” jawab mereka kompak.

“Ah, payah.”

Seperti dugaan, dengan tidak meladeni kelakuan konyolnya, Cathy justru akan membeberkan berita itu dengan lebih cepat.

“Kalian tahu? Mereka juga punya julukan untuk Richard,” ujar Cathy setengah berbisik. Ia berusaha mengucapkan kata ini dengan berdesah seksi. “Sunshine—sinar mentari.”

Julie tercengang. “Sunshine?”

Julukan itu terdengar bagus—setidaknya lebih bagus daripada julukan konyol ‘Pangeran Tampan dari Khayangan’ atau ‘Malaikat yang Datang dari Surga’. Tapi, biarpun begitu, menurut Julie julukan darinyalah yang paling cocok disandang Richard—‘Anak Laki-laki yang Diutus dari Neraka’.

Sunshine apanya? Dia sih lampu petromaks,” cela Julie sambil tertawa terpingkal-pingkal.

Gadis-gadis itu mempelototi Julie dengan wajah tidak senang. Jika dulu mereka pasti akan memprotes pernyataan Julie, tapi—berdasarkan kesepakatan The LadyBitches tentang anggota geng yang tiba-tiba berperilaku aneh sendiri—akhirnya mereka memutuskan untuk tidak menggubrisnya.

“Cocok sekali. Sebaiknya ditambahkan lagi, jadi The Prince of Sunshine—Pangeran matahari,” ujar Kayla.

“The Prince of Sunshine. Oouuoohh,” ketiga gadis itu melenguh manja. Julie hanya mendengus.

Julie tak mengerti mengapa pembicaraan tentang Emma dan Jake ini tiba-tiba bisa beralih ke Richard. Sepertinya ia harus mulai bersiap-siap mendengarkan jenis pembicaraan yang membosankan itu lagi.

“Mereka juga punya julukan untukmu, Julie.”

“Aku?” Julie tersentak.

The Unbeatable—Yang tak tertaklukkan,” ucap Cathy.

Julie terbelalak. “Wow!”

Julukan itu membuatnya terdengar seperti legenda. Julie Sang Legenda sekolah Nimberland High School, sekolah yang paling terkenal di seantero kota Eastcult.

The Unbeatable.

Betapa kerennya.

Julie tak dapat menyembunyikan rasa senangnya. Lubang hidungnya mekar dan bibirnya tak henti-hentinya menyeringai bangga.

“Apa itu karena belum pernah ada seorang pun yang bisa menaklukkan hati Julie, ya?” tanya Kayla. “Sumpah. Julukan itu keren banget, Julie. Sangat cocok untukmu.”

“Lebih keren dari punyamu, Cath,” ujar Jessie.

Cathy mendengus. Ia tak suka diperbandingkan dengan Julie, apalagi kalau sampai kalah darinya. Kenyataan bahwa julukannya The Mesmerizer hanya ditanggapi dengan cemoohan malah membuatnya semakin kesal.

“Jangan keburu senang dulu, Julie.”

Cathy mencibir.

“Menurutku, julukan itu sama sekali tidak keren. Lebih keren punyaku. Lebih anggun. Lebih seksi. Buktinya saja, julukan ini sampai mengundang rasa khawatir para gadis, karena mereka semua takut aku merebut pacar-pacar mereka,” ucapnya dengan angkuh. Belum cukup puas, ia menambahkan satu pernyataan lagi.

“Dan sebenarnya.. Emma tidak tertarik untuk mengganggumu karena—” Cathy tersenyum jahat.

“—dia pikir kau ini lesbi.”

Gelak tawa mereka meledak dengan sebegitu kencangnya. Baik Cathy, Jessie, maupun Kayla, mereka bertiga berguling-guling seperti orang sinting. Karena Julie sudah pernah mendengar tuduhan ini sebelumnya, ia tidak ambil pusing.

“Uuh, takuutt!” goda Jessie.

“Nggak lucu,” ucap Julie datar.

Cathy berusaha menahan tawanya. Sebenarnya Emma tidak pernah mengatakan hal seperti itu, tapi ia pikir gosip itu juga gosip yang cukup hot di Nimberland saat ini.

“Jujur saja, Julie. Kadang-kadang aku juga pernah berpikir seperti itu, lho,” ucapnya. “Kau ini memang tidak suka pada laki-laki atau bagaimana?”

“Jangan tanya, Cath,” ujar Kayla. “Kau takkan pernah tahu jawabannya.”

Kayla memang benar. Julie sendiri saja pernah tidak tahu apa jawabannya.

“Aku juga tak tahu,” ujarnya. “Aku tak tahu kenapa aku tidak suka pada mereka. Aku tidak tertarik sama sekali. Yah, setidaknya belum.”

“Belum?” tanya Cathy. “Cowok seperti apa sih yang kau suka? Bahkan cowok setampan malaikat seperti Richard saja kau bilang standar. Gila.”

Richard?

Kenapa semuanya harus kembali dikait-kaitkan dengan anak laki-laki itu? Julie mengomel dalam hati.

“Yaah. Apa katamulah.”

“Baguslah kalau begitu. Setidaknya, Richard-ku aman—meskipun sudah pasti dia tidak mungkin juga suka padamu, hehe,” ujar Cathy.

Cathy terlihat lega setelah ia menanyakan pertanyaannya itu. Diam-diam ia sebenarnya merasa cukup khawatir jika suatu saat Julie merebut Richard darinya. Kalau sampai itu terjadi, bisa-bisa ia membalsem dirinya sendiri menjadi mumi.

“Anak-anak banyak yang membicarakan kalian. Mereka berspekulasi kalau Richard akan berhasil menaklukkan hatimu. Ah, kalau aku sih lebih suka kau jadi lesbi saja, daripada kau jadian sama Richard.”

Julie tertawa miris. Dia juga sudah pernah mendengar gosip yang satu ini. Orang-orang di Nimber memang suka kurang kerjaan, sehingga mereka sering membuat gosip-gosip aneh yang cepat sekali beredar. Dan seperti biasa, Julie tak mau ambil pusing. Lagipula, ia rasa Cathy benar. Richard tidak mungkin suka padanya.

“Kembali lagi ke topik,” ujar Kayla. “Jadi, apa yang akan kau lakukan terhadap ancaman Emma?”

“Oh iya, aku sampai lupa,” Cathy menepuk dahinya sendiri. “Well. Emma? Siapa takut?”

Cathy tertawa.

“Bohong,” debat Julie. “Buktinya saja tadi kau menangis.”

Cathy mencoba mengingkari hal itu. “Aku? Menangis? Yang benar saja! Aku tadi kan cuma kelilipan.”

Julie, Kayla, dan Jessie memandangnya dengan gemas.

“Ya, ya, ya. Aku tadi memang menangis. Tapi aku cuma shock, itu saja kok. Aku tidak takut padanya. Dia kan jelek—hey—kenapa kalian menatapku seperti itu?” ujar Cathy.

Cathy merasakan firasat buruk dari tatapan teman-temannya yang semakin menyeramkan itu. Mereka terlihat sedang bersiap-siap akan menerkam dan mengacak-acak rambutnya. Cemas akan rambutnya yang indah, ia akhirnya memutuskan untuk menawarkan jalan keluar yang menyenangkan.

“Ya sudahlah. Lupakan, lupakan. Kita belanja, yuk. Hitung-hitung untuk melepas stress. Sayang sekali Lucy dan Cassandra nggak ada di sini. Tapi, kalian di sini untuk menghiburku, kan?”

Mendengar kata ‘belanja’, mood ketiga gadis ini langsung berubah menjadi baik.

“Ayo,” sambut Jessie. Mukanya berubah menjadi sangat cerah. “Kebetulan aku ingin membeli sweat shirt. Kay, kau harus membantuku memilihkan yang bagus.”

“Oke,” jawab Kayla. “Julie, kau ikut?”

Julie memandang aneh, seolah-olah itu bukan pertanyaan yang harus dijawab. Sejak bergabung dengan The Lady Bitches, aktivitas belanja baginya sudah seperti aktivitas jalan-jalan dan bersenang-senang.

“Tentu saja.”

4. Julukan

Entah bagaimana mulainya, akhir-akhir ini Julie jadi lebih sering didekati oleh senior-senior kelas atas. Tom, Stanley, Mitch, Carl, Dion, Jim, dan beberapa belas senior lain yang Julie bahkan sudah lupa namanya, pernah mengajaknya kencan dan belajar bersama. Ia menolak mereka dengan berbagai cara: mengganti topik—jurus andalannya; memperkenalkan teman sekelasnya yang kebetulan lewat lalu melarikan diri; berpura-pura tolol; berpura-pura tuli; atau berpura-pura sakit perut.

Selain karena ia tidak begitu suka belajar—apalagi kencan, Julie sebenarnya berusaha sebisa mungkin untuk tidak memberikan harapan-harapan kosong pada orang-orang yang menyukainya. Biar bagaimanapun, ia menyadari kalau dirinya bukanlah gadis yang pantas untuk digila-gilai. Gadis-gadis cantik seperti Cathy Pierre dan Nadine Holmes—teman sekelasnya di kelas Biologi—tentu lebih pantas mendapatkan perhatian itu. Lagipula, saat ini Julie juga tidak ingin merusak kehidupan sosialnya di Nimber dengan romansa-romansa cinta yang baginya terasa menggelikan. Ia hanya ingin menjalani masa-masa sekolah yang indah dan menyenangkan.

Seperti yang selalu diucapkan Julie setiap hari,

Hidup ini hanya sekali, maka kita harus menikmatinya saat ini juga dan bersenang-senang.

Filosofi inilah yang telah membuatnya menjadi Julie si Periang, Julie si Santai, Julie si Simpel, dan bahkan Julie Si Tukang Terlambat.

Julie mulai mengenal senior sejak kunjungannya ke klub-klub sekolah Nimber beberapa waktu yang lalu. Perkenalan Julie dengan klub-klub sekolah ini tampaknya tidak hanya membukakan jalan baginya untuk berkenalan dengan senior-senior kelas atas, tapi ini juga memberikan kesempatan baginya untuk mulai menempati posisi sebagai cewek populer di Nimber—sebagaimana ia terkenal di Springbutter Junior High School dulu.

Yup.

Tidak hanya di kalangan murid kelas sepuluh, popularitas Julie kini semakin meningkat hingga ke kalangan senior-senior kelas atas. Baik murid-murid kelas sebelas maupun kelas dua belas, mereka akhirnya mulai mengenali reputasi-reputasi yang pernah ditorehkan Julie di sekolahnya dulu, yang salah satunya menyangkut urusannya dengan WC sekolah dan kepala sekolah.

Dahulu, Julie menjadi sangat terkenal di Springbutter Junior High School karena memiliki dua reputasi.

Pertama, yang paling jelas—tentu saja adalah reputasinya di kelas Prancis. Kebodohannya di kelas Prancis adalah rahasia umum yang telah menyebar di mana-mana. Tidak hanya di sekolah lamanya, bahkan reputasi itu sudah tersebar luas di antara murid-murid kelas sepuluh Nimber, sejak hari pertamanya di sekolah barunya itu. Julie tidak bisa berbuat banyak terhadap rumor ini. Pada kenyataannya, ia masih bisa bersyukur bahwa setidaknya di Nimber ia tidak perlu berurusan dengan WC sekolah lagi.

Atau setidaknya, belum.

Mudah-mudahan tidak akan.

Reputasinya yang kedua adalah reputasinya yang terkenal di dunia percintaan. Tidak hanya karena pesona anehnya misterius—yang entah mengapa bisa memikat anak laki-laki di tengah seluruh keterbatasan fisik dan kemampuan otaknya itu, tidak ada logika masuk akal yang bisa menjelaskannya—tapi di atas itu semua, ketidaktertarikannya pada siapapun benar-benar mengundang tanda tanya siapa pun yang berada di sekelilingnya.

Julie sendiri tidak tahu mengapa sampai saat ini ia tidak bisa tertarik pada anak laki-laki mana pun. Ia bahkan sama sekali tidak bergairah membicarakannya. Padahal, anak laki-laki yang mendekatinya sangat banyak, dan mereka bukanlah orang-orang yang tidak punya daya tarik sama sekali.

Anak-anak kelas sepuluh, misalnya. Mereka memang tidak banyak yang tampan, tapi yang berotak encer bisa berjumlah lusinan. Senior-senior di kelas sebelas dan dua belas sendiri banyak sekali yang tampangnya oke. Apalagi badan mereka lebih tinggi dan besar seperti orang dewasa, maka penampilan mereka pun menjadi terlihat sangat keren. Jake Williams, misalnya—idola sekolah, senior yang paling tampan—memang belum turun tangan  hingga saat ini, tapi sejujurnya Julie tidak peduli sama sekali. Ia lebih memilih untuk menjalani hidupnya dengan santai.

Satu-satunya yang pernah membuat hatinya tergelitik, paling-paling hanya Richard Soulwind. Si Pangeran Tampan Bercahaya. Itu pun lebih karena terpengaruh teman-temannya yang terlalu berlebih-lebihan menggila-gilai anak laki-laki itu.

Julie mengakui, cowok itu memang lumayan—tapi hanya itu saja, tidak lebih. Ia memang tidak bisa mengingkari ketampanan anak laki-laki itu, tapi tentu saja ia tak sudi memuja-muja cowok yang sok kegantengan itu, apalagi berteriak-teriak histeris tiap kali menyebut namanya—seperti yang selalu dilakukan teman-temannya. Biar bagaimanapun, Julie selalu merasa itu hal yang konyol dan terlalu berlebihan.

“Hai, Julie,” sapa Jerry. “Bagaimana kabarmu?”

Jerry adalah salah satu teman dekat Mitch, senior yang kemarin sempat mendekati Julie. Ia wakil ketua klub koran sekolah, sementara Mitch adalah ketuanya. Kemarin Julie berkenalan sebentar dengannya saat ia melakukan kunjungan ke kantor redaksi koran tersebut, di lantai 4, sebelum kemudian segera diambil alih oleh Mitch. Sebagai siswa baru, Julie merasa tertarik untuk bergabung dengan klub koran sekolah, mengingat ia memiliki keahlian yang cukup lumayan di bidang tulis-menulis. Setidaknya masih ada yang bisa dia banggakan di samping semua kebodohannya selama ini.

“Seperti biasa—luar biasa,” Julie tersenyum. Karena ia ingin masuk ke klub koran sekolah, tentunya ia ingin meninggalkan kesan yang menarik pada wakil ketua klub koran sekolah itu.

“Bagus. Aku suka semangatmu,” puji Jerry. “Semangat seperti itulah yang dibutuhkan oleh klub kita. Aku menunggu namamu ada di daftar nama calon anggota.”

“Tentu saja ada,” Julie tertawa kecil. “Tak hanya anggota biasa. Bahkan namaku sudah akan menyandang status ketua—dalam waktu dekat ini. Lihat saja nanti.”

Jerry terkesiap, tak menyangka ada reaksi yang seekstrim itu dari gadis kelas sepuluh yang baru saja dikenalnya.

“Wah!”

Ia tersenyum geli. Sambil melipat kedua lengannya di depan dada, ia mengisyaratkan kalau ia siap menerima tantangan.

“Mau melangkahiku, ya? Coba saja!”

Julie tertawa. Jerry ternyata anak yang menyenangkan. Digoda seperti itu, ia tentu saja bersemangat untuk membalasnya dengan pernyataan yang lebih menantang lagi.

“Kau takut, ya?” gurau Julie. “Ehm, hati-hati, ya. Jangan sampai begitu aku bergabung nanti, kau langsung turun jabatan menjadi penulis kolom masak-memasak.”

Mereka berdua tertawa.

“Ngomong-ngomong kau mau ke mana?” tanya Jerry.

“Oh, ya.”

Julie tiba-tiba teringat dengan rencananya pada jam pergantian kelas itu, sebelum ia berpapasan dengan Jerry di tengah jalan.

“Aku mau ke kelas Lucy, di sebelah toilet perempuan,” jawab Julie. “Mau meminjam buku tugasnya.”

Besok ada pelajaran Aljabar dan Julie belum mengerjakan tugasnya sama sekali. Lucy bilang ada 3 soal yang ternyata cukup sulit dan butuh trik khusus untuk mengerjakannya. Biasanya, Lucy akan membantunya mengerjakan tugas sepulang sekolah, namun pada siang itu ia harus izin pulang duluan karena ada acara keluarga.

Julie bermaksud meminjam buku tugas Lucy saat itu juga, sebelum masuk jam pelajaran berikutnya. Sambil tersenyum pada Jerry, ia berputar dan melihat kelas Lucy yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.

Senyum Julie berubah menjadi beku seketika tatkala ia merasakan aura aneh yang mencekik lehernya. Firasat buruk terus menghantui pikirannya, pertanda kalau laki-laki dari neraka itu—julukan baru Julie untuknya—sedang berada di sekelilingnya. Dalam hitungan sepersekian detik, ia menemukan anak laki-laki itu.

Ia sedang berada di depan kelas, ngobrol dengan M.Wandolf—sang guru Prancis.

Dua malapetaka sekaligus.

“Siaaal!” umpatnya dalam hati.

Kenapa mereka berdua harus berada di sana? Pada arah yang sama pula dengan tempat tujuannya?

Rasanya ia hampir meleleh.

Julie lupa kalau Lucy sedang berada di kelas Prancis hari ini. Dan ia lupa juga kalau Lucy sekelas dengan Richard di kelas Prancis. Kenapa Lucy tidak bilang padanya? Bagi Julie, ini lebih dari sekedar bencana.

“Matiiii aku,” gumam Julie.

“Kau baik-baik saja, Julie?” tanya Jerry. Jerry tampaknya merasakan perubahan suasana hati Julie.

“Ng, aku baik-baik saja,” ujar Julie. “Kupikir sepertinya aku harus kembali ke kelasku sekarang, karena ternyata aku lupa membawa sesuatu.”

“Oh, baiklah,” kata Jerry.

Julie ingin berbalik arah secepat mungkin, tapi ternyata Lucy sudah keburu melihatnya. Mau tak mau Julie harus memutar otak untuk mengarang-ngarang alasan supaya ia tak jadi masuk ke kelas itu.

“Julie!”

Julie pura-pura menoleh, tapi langkahnya tetap saja menjauhi arah Lucy berada.

“Haa. Lucy.”

“Kenapa kau balik lagi? Katanya mau meminjam PR-ku?” tanya Lucy. “Aku baru saja selesai mengerjakannya.”

Julie salah tingkah. Ia ingin melontarkan alasan yang cerdas, tapi otak dan mulutnya tidak bisa diajak kompromi.

“Umm… Ng, kalau nanti saja sepulang sekolah, bagaimana?”

Lucy mendesah.

“Tidak bisa. ‘Kan sudah kubilang, aku ada urusan keluarga. Jadi, aku nanti minta izin untuk pulang di tengah-tengah pelajaran. Lagipula, memangnya kenapa sih?”

Julie menarik Lucy.

“Gila! Kau mau menjebakku, ya?” geramnya. “Kenapa tak bilang kalau kau ada di kelas Prancis??”

Lucy baru mengerti apa maksudnya.

Ia tertawa.

“Ups. Maaf. Aku lupa.”

Julie mendesah. Gara-gara kecerobohan Lucy, jantungnya terasa seperti telah hibernasi selama berjam-jam. Ia perlu menormalkan detak jantungnya kembali.

“Kau ini, benar-benar keterlaluan,” protes Julie. “Masa hal sepenting ini masa bisa lupa? Ini menyangkut hidup dan matiku, tahu?”

Lucy hanya tersenyum-senyum saja menanggapi omelan temannya itu. Ekspresi Julie sungguh-sungguh terlihat lucu. Sebagai permintaan maaf, ia segera mengambil buku tugasnya dan menyerahkannya ke Julie.

“Tunggu di sini, biar kuambilkan.”

Lucy berlari menuju kelasnya. Julie tak mau membuang-membuang waktunya untuk menoleh kembali ke arah musibah yang penuh kutukan itu, oleh karena itu ia lebih memilih untuk memastikan apakah Jerry masih ada di sekitar sana. Ternyata, anak laki-laki itu sudah pergi dari tadi.

“Ini dia,” ujar Lucy.

Thanks, Lucy.”

“Lain kali jangan sampai lupa lagi, ya. Kau bisa membunuhku, tahu? Kalau begini terus, aku bisa mati karena serangan jantung.”

Lucy tertawa.

“Sip, sip.”

Dengan langkah enteng dan cepat Julie berlari ke kelasnya. Menghindar secepat-cepatnya dari sumber malapetaka.

Di tengah jalan ia berpapasan dengan Cathy. Matanya bengkak dan merah, menandakan kalau ia habis menangis, dan ia segera menunduk begitu melihat Julie.

Ketika Julie akan menghampirinya, bel sekolah berbunyi.

Belum, belum saatnya, pikir Julie.

Ia akan menemui Cathy sepulang sekolah nanti dan bertanya padanya apa yang terjadi. Ia hanya perlu bersabar sebentar.

***