15. Ancaman

Rasanya sudah lama sekali sejak mereka melupakan ancaman Emma Huygen dan gengnya dulu, yang terjadi bahkan sebelum Cathy berpacaran dengan Jake Williams. Sejak Emma pindah ke luar negeri, semua gangguan yang pernah mereka khawatirkan dari Emma dan gengnya menghilang begitu saja. Tak seorang pun dari teman-teman Emma yang pernah menghampiri Cathy. Mereka lenyap. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Aneh memang. Tapi bukan itu persoalannya sekarang. Masalahnya, Emma telah kembali. Dan tak seorang pun dari mereka yang tak tahu kira-kira apa yang akan dilakukan oleh Emma berikutnya.

Lucy bertemu dengannya di ruang kepala sekolah kemarin sore. Emma ternyata kembali dari luar negeri ke sekolahnya yang lama (Nimber) untuk mengurus surat-surat rekomendasi untuk pengajuan beasiswanya di universitas. Untuk sementara, Emma juga akan melanjutkan studi lagi di Nimberland selagi menyelesaikan proses pengajuan beasiswa itu di sekolah mereka. Kembalinya Emma ke sekolah mereka membuat The Lady Bitches menjadi bertanya-tanya. Dan Cathy pun tak terlihat terlalu senang mendengar berita ini. Mood-nya benar-benar menurun drastis sepanjang sore kemarin.

Sementara itu, Julie sedang memikirkan hal lain yang mengganggu pikirannya. Entah kenapa, kali ini otaknya penuh dengan sesuatu yang tidak bisa ia definisikan. Bahkan ia tak tahu hal apa yang sedang membuatnya resah. Mungkin serangga atau cicak, atau makhluk hidup terbang lainnya yang mulai berkoloni di otaknya yang telah membuatnya tidak bisa berkonsentrasi sama sekali. Yang jelas, bukan karena Emma.

“Kau pikir Emma akan kembali mengganggu Cathy atau tidak?” tanya Jessie suatu ketika, membuyarkan lamunan Julie saat itu. Mereka memang tidak bisa membicarakannya di kedai Steak~Stack kemarin, karena Cathy bersikeras memaksa mereka melupakan hal itu. Ia tak suka sama sekali jika mereka mulai membahas tentang Emma.

“Entahlah,” kata Julie. “Kau tahu—hal-hal seperti ini membuatku pusing.”

Jessie memutar bola matanya.

“Pusing?” tanya Jessie.

Julie mengangguk. Selama ini, ia selalu memilih hidup yang damai dan terhindar dari masalah-masalah, meskipun entah kenapa ia tak pernah bisa menghindarinya. Seperti sekarang, ia bahkan tidak tahu apa yang membuatnya merasa sangat gelisah.

“Oh. Aku tahu. Tugas Prancis, kan?” kata Jessie. “Kemarin M.Wandolf memuji-mujimu terus-terusan dan akhirnya memberimu tugas tambahan membuat cerpen untuk membuktikan betapa berhasilnya beliau mendidikmu sekarang.”

Julie mengerang. Bukannya menghibur, Jessie malah mengingatkannya akan tugas terkutuk yang membuat hidupnya semakin suram.

“Selamat,” kata Jessie sambil tertawa. “Ini bukti betapa tergila-gilanya M.Wandolf padamu, Julie. Eh, aku penasaran, kenapa kau sekarang jadi jago bahasa Prancis, ya?

Julie memandang dingin. Pernyataan terakhir Jessie juga telah menyindir kemampuan intelektualnya dengan ironis.

“Hah. Kau bercanda.”

Julie tidak mengerti kenapa M.Wandolf bisa memberikannya sebuah tugas yang benar-benar tidak masuk akal. Sebuah CERPEN. DALAM BAHASA PRANCIS. Bahkan meskipun ia sangat aktif menulis di kolom koran sekolah mereka, tapi ia tidak pernah sekalipun berkeinginan untuk menulis cerpen dalam bahasa apapun selain bahasa Planet Jupiter dan Mars.

“Tapi serius, kau tidak pernah kelihatan sedepresi dulu. Kau ingat kan?” kata Jessie. Ia benar-benar takjub dengan perubahan positif anak itu. “Dan kau tidak pernah minta bantuanku lagi mengerjakan PR, Julie. Bagaimana kau bisa melakukannya?”

Julie menyeringai penuh arti. “Rahasia.”

Richard telah mengajarkan Julie satu trik yang sangat menyelamatkan hidupnya dalam tugas apa pun di Kelas Prancis. Julie mungkin tidak akan pernah lagi bisa mengulang kejadian itu, tapi saat-saat di mana Richard sedang mengajarinya bahasa Prancis dan melatihnya mengucapkan pronounciation yang sulit, adalah saat-saat yang menyenangkan untuk diingat kembali.

Julie tersenyum-senyum sendiri.

“Dan sekarang kau malah cengengesan. Baiklah, kalo kau tidak mau mengatakannya, tidak apa. Cukup tahu saja sampai di mana batas persahabatan kita,” kata Jessie dengan remeh. Selagi itu berarti Julie tak lagi mengusiknya dengan ratapan-ratapan menyedihkan tentang Kelas Prancis, ia pun tak berniat untuk tahu lebih banyak. “Baiklah, kembali lagi ke topik. Menurutmu, apa teman-teman Emma memang tidak pernah mengganggu Cathy selama Emma pergi?”

Julie menggeleng.

“Entahlah,” kata Julie. “Cathy tidak pernah cerita.”

“Tepat. Gadis itu tidak pernah cerita apapun pada kita. Dan itu sangat mencurigakan,” kata Jessie. “Gadis itu seperti sebuah kotak misteri. Ia terlihat seperti orang yang berkepribadian sangat terbuka, tapi ia sebenarnya sangat tertutup. Dia selalu menutup-nutupi apapun hal yang berhubungan dengan Emma. Bahkan, kalau saja kau tidak menangkap basah dia menangis waktu itu, Julie—mungkin kita tidak akan pernah tahu kalau geng Emma pernah melabrak Cathy karena ia mendekati Jake.”

Analisis Jessie terdengar masuk akal. Cathy memang hampir tidak pernah menceritakan apapun dalam hidupnya kecuali hal-hal yang menyenangkan, romantis, atau hal-hal tidak penting yang membuatnya kesal dan ngambek. Julie tidak pernah merasa hal itu sebagai hal yang mencurigakan, sampai Jessie menunjukkannya hari ini.

“Jangan-jangan selama ini ia hanya mencoba menyembunyikan hal itu dari kita. Benar kan, Julie?” kata Jessie. “Dan sekarang Emma sudah kembali. Aku tak tahu apa yang akan dilakukan gadis itu terhadapnya nanti, yang mungkin tidak akan diceritakan Cathy pada kita lagi.”

Ia berhenti sebentar, memicingkan mata, seperti meminta perhatian Julie dengan lebih cermat. “Dengar. Kita tidak pernah membahas Emma. Tidak sekali pun. Tidakkah kau pikir itu mencurigakan?”

Julie merenung sebentar.

Selama ini, mereka memang sangat jarang membicarakan Emma Huygen. Bahkan Julie tak akan pernah tahu lebih banyak, jika saja mereka tidak membicarakannya di luar jam makan siang tanpa Cathy. Cathy selalu marah setiap kali mereka mengangkat topik yang berkaitan tentang Emma. Dan setelah Emma pergi, mereka otomatis tidak pernah membicarakannya lagi.

“Ya, kau benar,” kata Julie. “Lalu, apa yang bisa kita lakukan?”

“Tidak ada,” kata Jessie sambil menguap. “Lagipula, kurasa kita sudah tidak perlu terlalu khawatir. Sudah ada Richard sekarang. Aku yakin, Richard pasti akan menjaganya dari wanita itu.”

“Rich—” gumam Julie tiba-tiba. “Richard?”

Ia tersenyum getir.

“Ya, dia kan sudah punya pacar sekarang,” kata Jessie. “Kurasa Richard akan melindunginya dari Emma. Masalahnya, Richard tak tahu apapun tentang Emma. Itulah masalah yang akan kau selesaikan.”

Julie bengong. “Ha?”

“Ya,” kata Jessie. “Jadi ceritanya begini. Aku minta tolong padamu untuk mengatakan hal ini pada Richard.”

“Ha? Apa?” tanya Julie, tak yakin dengan pendengarannya. Rasa depresinya akan tugas Prancis tadi pasti telah melemahkan syaraf-syaraf auditorinya dan membuyarkan transmisi gelombang pesan itu di sel-sel otaknya. “Kau minta tolong APA?”

“Aku minta tolong bilang ke Richard soal Emma,” kata Jessie. “Demi Cathy.”

Julie menahan napas. Sekarang ia tertawa.

“Apa?” kata Julie.

Jessie terlihat kesal. “Tolong bilang ke Richard soal Emma. Bilang ke Richard. Tentang Emma. Aku harus ulang sampai berapa kali, sih?”

Masalahnya bukan Julie tak mendengar apa yang dikatakan Jessie, tapi ia tak percaya apa yang didengarnya.

“Kenapa aku??” protes Julie. “Lakukan saja sendiri. Aneh.”

Jessie mendesah.

“Aku ingin, tapi tak bisa,” keluh Jessie. “Ini Richard. Aku—aku tak bisa berbicara berdua saja dengannya. Dia terlalu tampan. Aku tak bisa konsentrasi.”

Pernyataan itu terdengar menggelikan.

“Oh. Terlalu tampan,” kata Julie skeptis, memutar bola matanya. “Konyol. Kenapa aku? Kau tahu aku paling tidak bisa diandalkan untuk urusan seperti ini. Aku bahkan hampir tak pernah bicara apa pun pada anak laki-laki itu. Seharusnya kau minta tolong Kayla.”

Jessie menggeleng.

“Tidak ada di antara kami yang bisa melakukannya. Hanya kau yang bisa,” kata Jessie. “Meskipun Richard sudah pacaran dengan Cathy, kami tetap penggemar Richard, Julie. Dan itulah yang membuatnya menjadi terasa semakin sulit.”

Julie tertawa melecehkan. Gadis-gadis ini tampaknya tidak berubah sama sekali. Memang sejak Cathy jadian dengan Richard, mereka tidak lagi berteriak histeris ketika bertemu dengan Richard, atau membicarakan Richard di kafetaria sepanjang hari. Mereka justru menjadi lebih kalem dan malu-malu, atau setidaknya bertindak jauh lebih normal daripada yang biasanya mereka lakukan. Tapi tidak berarti ia harus menggantikan mereka untuk berbicara pada Richard sekarang.

“Tidak,” kata Julie sambil melipat tangan. “Aku tidak mau.”

“Ayolah!”

Jessie mengguncang-guncang lengan Julie sambil merengek. Julie mendumel dan teringat kalau kejadian ini mirip seperti dulu saat Jerry memaksanya untuk meliput wawancara kemenangan catur Richard karena tidak ada lagi orang yang bisa melakukannya di klub mereka. Ini benar-benar menjengkelkan.

“Hentikan, Bodoh. Kau seperti Jerry saja,” kata Julie risih. “Suruh orang lain saja melakukan tugas itu. Yang jelas, aku tak mau jadi pengganti kalian—” Ia tiba-tiba teringat satu hal yang penting, yang seharusnya dilakukan Jessie alih-alih membuat permintaan bodoh itu. “Kenapa kau tidak menyuruh Nick? Bodoh. Malah menyuruh aku. Jelas-jelas Nick berteman dengan Richard.”

Jessie melepas tangannya.

“Sudah kulakukan. Tapi aku tidak yakin Nick mengerti maksudku,” kata Jessie. “Nick terus-menerus memberikan saran-saran yang konyol. Aku tak yakin dia mengerti apa yang aku ceritakan.”

Jessie melipat wajahnya, terlihat muram dan suntuk di saat yang sama, dan melebih-lebihkan ekspresinya yang sangat memprihatinkan.

“Dia tidak pernah merasakan betapa sulitnya hidup menjadi seorang The Lady Bitches, kau tahu? Kita memiliki seorang teman dengan kepribadian kompleks seperti Cathy Pierre dan cobaan tampan yang sangat berat seperti Richard Soulwind. Tidak akan ada yang mengerti penderitaan kita kecuali kalau orang itu menjalani hidup kita yang sulit.”

Pernyataan ini terdengar semakin menggelikan.

“Bodoh,” kata Julie. “Pokoknya aku tak mau.”

Julie tak sempat memberikan pertahanan diri lebih banyak lagi karena Jessie keburu menarik tangannya dan menyuruhnya bersembunyi di balik dinding. Julie mengaduh keras saat kepalanya baru saja terbentur dinding, tapi Jessie buru-buru menutup mulutnya dengan rapat. Jessie memberikan kode dengan kedua matanya bahwa ada bahaya yang mengintai di ujung koridor di sebelah mereka.

“Emma,” bisik Jessie. “Ada Emma.”

Julie menjulurkan kepalanya karena dengan posisi seperti itu ia tidak bisa melihat Emma sama sekali. Jessie menarik kerah bajunya, untuk mencegahnya menjulurkan kepalanya lebih banyak.

“Jangan sampai kelihatan, Bodoh!”

Julie akhirnya berusaha hanya mengintip, tapi ia tak bisa melihat apapun selain matanya yang kelilipan ujung tembok. Ia menjulurkan kepalanya lebih jauh lagi, dan ia melihat seorang gadis cantik yang sangat kharismatik, dikelilingi oleh beberapa gadis muda yang tampak sangat memujanya.

Napas Julie tercekat sesaat di tenggorokan, saat mata hijau Emma yang tajam itu tiba-tiba menatapnya.

Gadis itu tersenyum sinis.

“Mengerikan.” Julie menarik kepalanya dengan cepat. “Gadis itu seperti Medusa.”

Jessie mengangguk. Ia sudah mempelajari situasi ini dan mempercayai intuisi yang dimilikinya kalau mereka tidak bisa tinggal diam begitu saja. “Dan kau ingin membiarkan teman kita Cathy berpotensi untuk diganggu oleh gadis mengerikan seperti itu? Ayolah, Julie.”

Penjelasan itu memang terdengar masuk akal, tapi biar bagaimana pun Julie merasa ini luar biasa aneh. Seharusnya ada cara yang lebih masuk akal lagi daripada memaksanya berbicara pada Richard.

Dan kenapa dia yang harus mengatakannya?

“Kenapa kau pikir ini—”

Jessie tak membiarkan apapun yang melintas di pikiran Julie. “Bukankah kau menginginkan yang terbaik untuk Cathy? Menurutmu, teman seperti apa kita ini? Bagaimana mungkin kau tega membiarkan Cathy, sahabat kita, diganggu oleh Emma dan kawan-kawannya? Sungguh, Julie? Inikah arti persahabatan untukmu?”

Julie mendelik.

“Bukan begitu. Aku hanya—”

“JULIE.”

Jessie menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Julie menghela napas panjang, mengangkat tangannya pasrah.

“Baiklah, baiklah,” kata Julie. “Oke.”

***

14. Perayaan (3)

Julie dan teman-temannya telah sampai di kedai Steak~Stack sejak dua menit yang lalu, bahkan telah mengambil tempat duduk masing-masing, namun mereka sekarang harus berada di sana tanpa kehadiran Lucy, sang pentraktir. Saat Julie tiba di depan aula utama tempat mereka semua berkumpul, Cassandra memberikan kabar kalau Lucy tidak bisa hadir lebih cepat karena sepulang sekolah tadi tiba-tiba ia mendapat panggilan dadakan.

Mrs.Tamara Lautner—kepala sekolah Nimber—sore itu ternyata memanggil Lucy dan beberapa anak tim akademis lainnya untuk memberikan ucapan selamat dan sebagainya. Lucy berjanji untuk menyusul mereka sesegera mungkin, dan ia menitipkan pesan pada Cassandra agar mereka dapat langsung memesan makan tanpa harus menungguinya lagi. Julie—sebagai orang yang hampir tidak pernah-pernahnya datang terlalu cepat ketika mereka berkumpul—secara terang-terangan mengungkapkan kekecewaannya yang telah berusaha keras dengan sekuat tenaga untuk datang tepat waktu, dengan mengorbankan jiwa dan raganya. Padahal, kalau saja tidak ada Richard, barangkali ia masih terperangkap dengan Jerry di ruangan klub sekolah sekarang, mengerjakan revisi artikel milik Jacqueline.

Jessie tak mengerti kenapa Julie memilih tempat duduk yang jauh sekali dari tempat duduknya, tapi ia bersyukur karena minimal hari ini ia bisa makan steak idamannya dengan tenang, tanpa harus bersitegang tidak penting dengan Julie Si Alien Keturunan Sapi.

“Jadi, aku sudah boleh memesan?” kata Jessie penuh gairah. Cassandra mengangguk dan memanggil seorang gadis pelayan yang sedang berdiri beberapa kaki dari mereka bertujuh.

Julie sedang asyik sendiri bernostalgia dengan suasana bangku-bangku di kedai Steak~Stack, terutama kursi-kursi yang bersumpel di bagian pojok belakang, ternyata benar-benar sempit. Sebaliknya, furnitur-furnitur di ruangan ber-AC ini justru tertata lebih baik dan terasa lebih luas, seperti yang dikatakan Richard tadi siang.

Kedai Steak~Stack selalu terkenal dengan desain interiornya yang unik, yang berjejer tidak beraturan seperti balok-balok merah dan hitam berbentuk tidak jelas yang disusun sembarangan, namun tetap terlihat artistik. Kelebihan utamanya adalah pada beberapa titik, selalu ada  tumpukan balok-balok tidak jelas itu, terutama di bagian paling belakang restoran. Sempitnya sisa ruang di meja bagian belakang bisa jadi yang menyebabkan kursi-kursi di sana pun dipaksa berjejel-jejel sempit seperti ikan tuna di dalam makanan kaleng.

Cemilan khas Steak~Stack, yaitu original cheesestick yang selalu terhidang di atas meja, bahkan sebelum memesan makanan, tapi Julie tidak pernah tahu kalau rasanya benar-benar dashyat, sampai akhirnya ia dan Richard dulu memutuskan untuk mencoba makanan itu setelah wawancara kemenangan catur mereka selesai. Tanpa pikir panjang lagi, Julie langsung meraih toples kaca yang terpampang di hadapannya, untuk merasakan kembali kenikmatan dari surga dunia itu.

Tangan Julie dan Richard hampir saja bertemu, karena di saat yang bersamaan, anak laki-laki itu juga mengulurkan tangannya untuk mengambil cheesestick enak yang menjadi kesukaannya.

“Eh,” kata Julie tiba-tiba. Ia langsung menarik tangannya.

Richard tersenyum. Ia membuka tutup toples itu dan berkata, “Cheesestick ini sangat enak. Kalian harus mencobanya. Kau mau, Julie?”

Julie menyeringai salah tingkah. “Eh. Iya.”

Julie dengan sungkan mengambil dua batang cheesestick—hanya dua—dan mengunyahnya pelan-pelan. Richard menawarkannya pada yang lain dan mereka mengambil cheesestick itu sambil berebutan. Cathy menjadi yang paling rakus, meraup makanan itu dalam jumlah super banyak, yang sangat mudah dilakukan karena ia duduk di posisi yang paling dekat dengan Richard.

“Kapankah kalian semua akan menjadi dewasa?” kata Julie sok bijak, menirukan gaya Jerry. Ia berdecak tragis, padahal di dalam hatinya ia juga ingin mengambil cheesestick lagi.

Seorang gadis pelayan muda menghampiri meja mereka, membawa sebuah notepad dan pena. Ia terlihat ragu-ragu pada awalnya, namun ia tak dapat melepaskan pandangannya dari wajah Richard.

“Um, eh. Iya,” kata pelayan itu. “Ada yang bisa dibantu?”

Cathy menyimak situasi mencurigakan itu dan tidak bisa terlihat senang.

“Tentu saja kami ingin memesan. Menurutmu kami di sini mau apa? Senam lantai?” kata Cathy tajam. Ia merangkul Richard dengan angkuh. “Dan kenapa kau melihat ke pacarku seperti itu, hah? Iri?”

Kayla mencoba menenangkan, “Cath.”

Wajah gadis pelayan itu terlihat masam.

“Tidak,” kata gadis itu ketus. “Memangnya salah jika aku menikmati ketampanannya? Kupikir, dia juga tidak mempermasalahkannya.”

Cathy terlihat semakin kesal.

“Lagipula, aku tak tahu kalau ternyata kau pacarnya. Dulu ia ke sini dengan gadis yang lain. Dan tahu tidak? Gadis itu jauh lebih ramah daripada kamu.”

Julie tercekat.

“Gadis lain?” kata Cathy kaget.

Julie langsung menunduk, pura-pura memperhatikan benda-benda yang berlawanan arah, dan menutup mukanya pelan-pelan. Ini sangat gawat.

“Ya,” jawab gadis itu. “Dan dia lebih baik darimu. Aku sih berharap dia saja yang jadi pacarnya, daripada kamu.”

Cathy langsung naik darah. Ia mengumpat tidak jelas dan berusaha bangkit dari bangkunya untuk melabrak gadis itu, tapi tangannya langsung ditarik oleh Richard dan Kayla. “Kau—”

Gadis pelayan itu meletakkan notepad dan penanya di atas meja. Ia sangat tahu kalau ia akan dipecat karena kelakuannya ini, tapi ia lebih puas begini. “Ini, pesanan kalian tulis saja sendiri. Nanti taruh di meja pemesanan.”

Ia langsung berlari terbirit-birit.

Nick dan Jessie tertawa geli. Sementara yang lainnya terlihat bingung dan satu orang di antara mereka merah dan mendidih seperti air panas di atas kompor.

“Siapa gadis itu?” tanya Cathy geram pada Richard. “Siapa? Gadis yang bersamamu waktu itu?”

Richard merenung sebentar dan melirik ke arah Julie. Julie langsung memberikan aba-aba ‘jangan’ dengan kedua alisnya.

“Sepupuku, Janice,” kata Richard tenang. “Anak pamanku, adiknya Mom. Aku ke sini dengan Mom dan Janice beberapa bulan yang lalu. Janice yang memperkenalkan tempat ini kepada Mom.”

Richard terlihat sangat meyakinkan. Anak laki-laki itu benar-benar pandai berakting.

“Tuh, kan. Jangan marah-marah terus, Cath,” kata Cassandra. “Ternyata hanya sepupunya Richard, kan? Makanya, kau jangan marah-marah terus.”

Cathy menekuk wajahnya sedemikian rupa, sehingga ia terlihat sangat jelek. “Tapi, pelayan itu benar-benar kurang ajar. Aku bisa saja menampar mukanya yang menjijikkan itu, saking kesalnya. Kalau saja kau—,” katanya sambil menunjuk Richard. “—dan kau, Kay, tidak menahan tanganku tadi.”

“Kau harus belajar cara mengontrol emosimu, Cath,” kata Kayla perlahan. “Kau harus bisa mengontrol emosimu. Aku sangat khawatir. Kalau begini terus, bukan tidak mungkin hal yang buruk akan terjadi padamu suatu saat nanti.”

“Misalnya,” sambung Nick, sambil melirik ke arah Julie. “Richard meninggalkanmu dan—pacaran dengan Janice.”

Nick tertawa sendirian, tapi yang lain hanya memandang Cathy dengan was-was. Dulu, topik ini memang topik gurauan yang menyenangkan. Tapi gadis-gadis itu tahu kalau bagi Cathy sekarang, isu itu sama sekali tidak lucu. Gadis itu bisa menerkam siapa saja yang diisukan mendekati Richard, bahkan hanya sekedar menyebutkan namanya saja.

“Richard tidak akan pacaran dengan siapapun, kecuali aku,” kata Cathy. Ia menoleh ke arah Richard, meminta kepastian. “Ya kan, Sayang?”

Richard tersenyum lemah.

“Ya,” jawab Richard.

“Mengerikan,” kata Nick. “Tidakkah kau merasa kau mengikat Richard terlalu kuat, Cath? Aku saja ketakutan melihat sikapmu yang posesif itu. Kalian, gadis-gadis, harus memberi kami, anak laki-laki, keleluasaan. Kami juga ingin punya privasi sendiri. Bahkan dalam urusan pertemanan sekalipun.”

“Bukan urusanmu, Nick,” hardik Cathy. “Lagipula, aku adalah aku. Kalian harus menerima aku apa adanya. Bukankah itu gunanya teman? Dan asal tahu saja, ya, Richard dan aku sudah ditakdirkan untuk bersama. Dan kalau ada wanita lain yang berani-bera—”

“Cath,” kata Kayla. “Kupikir Nick ada benarnya juga.”

Cathy mendumel.

“Kenapa kau malah membelanya?” kata Cath dengan dramatis. “Padahal jelas-jelas aku adalah korban di sini. Cintaku dan harga diriku dipertaruhkan di sini. Tidakkah kalian pikir—”

“Baiklah, baiklah,” kata Julie panjang, membubarkan perdebatan mereka yang tidak ada habis-habisnya. Ia berusaha menjangkau notepad dan pena yang tergeletak sangat jauh dari tempat duduknya. “Bagaimana kalau kita mulai memesan saja? Perutku sudah lapar.”

Sirloin steak,” sontak Jessie. “Julie! Kumohon, sirloin steak!”

Jessie hampir saja menyambar tangannya dengan ganas, kalau saja mereka tidak duduk berjauhan. Julie berterima kasih pada Tuhan atas keputusannya duduk jauh-jauh dari Jessie hari ini. Dan pada Kayla. Sepertinya mulai hari-hari ke depan, ia akan mulai mempertimbangkan untuk lebih sering duduk berjauhan dari gadis itu.

“Oke. Kalo begitu, bagaimana kalau kita pesan sirloin steak untuk semuanya? Sangat direkomendasikan—yeah, oleh Jessie,” kata Julie. Ia sendiri tak tahu bagaimana rasanya, ia dulu hanya memesan sosis goreng. “Delapan sirloin steak, dan minumannya silakan pilih sendiri.”

Kayla mengkerut.

“Julie. Sirloin steak itu harganya sangat mahal,” tegas Kayla. “Yang lain saja.”

Julie mengamati papan harga yang tergantung di dinding sebelah mereka. Angka yang terpampang memang cukup fantastis. Pada kenyataannya, tidak ada harga steak yang lebih murah lagi daripada itu.

“Baiklah. Lalu, kau mau aku menulis apa? Sosis?” kata Julie.

“Kay! Kita ke sini untuk makan steak—bukan SOSIS,” protes Jessie. “Ayolah. Kumohoon. Tadi Lucy juga sudah mengiyakan. Ya, kan?”

Jessie merengek putus asa. Ia memperlihatkan kedua matanya yang berbinar-binar dan penuh rasa iba. “Nanti kalau ternyata uangnya kurang, biar aku tambah sendiri saja. Ya??”

“Aku tidak bisa—ini harusnya keputusan Lucy. Seandainya saja dia ada di sini,” kata Kayla sambil mendesah.

Kayla mengangkat topik ini lagi. Julie paling suka kalau mengungkit-ungkit hal ini. Ini membuatnya menjadi merasa sangat disiplin.

Yeah. Di mana anak itu?” kata Julie, pura-pura sebal. Ia tampak protes, padahal dalam hatinya senang sekali. “Tadi, dia memintaku datang jam empat KURANG sepuluh, dan sekarang dia malah tidak ada di sini.”

Cassandra mengutak-atik ponselnya, membaca pesan singkat yang baru dikirimkan oleh Lucy. “Sepuluh menit lagi. Lucy sedang di jalan.”

Julie memberikan notepad dan pena pada gadis-gadis lainnya dan melihat toples kaca yang telah kosong menganga tepat di hadapannya. Ia menggigit bibirnya.

“Ngomong-ngomong,” kata Richard. Anak laki-laki itu biasanya tidak banyak bicara, tapi ia terus-menerus mempertanyakan hal ini sejak mereka berangkat dari sekolah. “Kenapa hanya aku yang memakai baju bebas? Kalian semua masih memakai seragam sekolah. Bahkan Nick juga.”

“Karena kau terlihat luar biasa tampan,” kata Cathy. “Itulah sebabnya kenapa.”

Richard memang terlihat sangat tampan. Julie sendiri sangat menyukai Richard dengan penampilannya yang segar dan menyenangkan. Benar-benar enak dilihat. Tapi kaus Hawaii biru terang itu memang terlihat sangat kontras dengan seragam sekolah mereka semua. Wajar saja kalau gadis pelayan di restoran itu tidak henti-hentinya memandangnya dan mengamuk saat Cathy memarahinya.

“Cath, kita semua terlihat kumal di sini,” kata Cassandra.

“Itulah intinya,” kata Cathy.

Mereka tertawa.

Kadang-kadang terasa aneh bagi Julie dan kawan-kawannya yang lain, tentang logika Cathy yang satu ini. Ia ingin pacarnya terlihat sangat tampan dan memamerkannya ke mana-mana, tapi ia juga sangat marah kalau gadis-gadis lain di sekelilingnya memandang pacarnya yang tampan terlalu lama.

Nick dan Jessie pun sepakat kalau Cathy seharusnya membuat Richard terlihat kusam dan menyeramkan—alih-alih terlihat semakin tampan, kalau ia sebegitu tidak inginnya Richard dilihat oleh semua orang. Hanya Cathy yang tidak berpendapat demikian. Ia masih ingin memamerkan pacarnya.

“Bajumu yang kubeli di Ava hari Sabtu yang lalu terbawa olehku. Aku sengaja membawanya hari ini untuk memberikannya padamu dan ternyata Lucy mengajak kita makan-makan. Jadi—”

“—jadi, kenapa tidak? Kau pakai saja sekalian,” sambung Cathy, setelah menarik satu helaan napas pendek.

Pipi Richard yang memerah seperti tomat. Wajahnya yang imut menggemaskan tampak tak berdaya di samping Cathy yang ngotot dan memaksa.

“Jangan tanya-tanya lagi, Richard. Ini terakhir kalinya aku mengulang kalimatku ini,” kata Cathy.

“Tapi,” kata Richard sekali lagi. Ia menunduk kalem seperti kucing. “Ini.. Baju ke..,” suaranya semakin melemah. “Pantai.”

Tawa mereka meledak lagi.

Gadis-gadis itu cukup memahami betapa Richard menderita karena ia terlihat berbeda sendiri daripada yang lainnya, tapi mereka sebenarnya juga berterimakasih dengan ide Cathy yang brilian. Atmosfir geng mereka di kedai Steak~Stack sore itu benar-benar sejuk dan biru menyegarkan. Richard benar-benar enak dilihat.

Nick merasa cemburu dengan perhatian yang berlebih itu.

“Oke. Jessie. Besok tolong bawakan juga baju Hawaii untukku,” kata Nick. “Aku juga ingin terlihat tampan.” Nick tiba-tiba teringat sesuatu. “Eh, ya. Ngomong-ngomong—di mana bajuku?? Kau tidak membelikan sesuatu untukku?”

Jessie sudah menantikan pertanyaan ini sejak lama. Ia hampir saja mengira Nick sama sekali tidak akan pernah menyadarinya. Anak laki-laki ini cukup lambat berkembang.

“Tidak,” kata Jessie. “Untuk apa?”

“JESS,” ringkik Nick merana. “Aku juga butuh baju.”

Jessie melanjutkan menulis pesanannya di atas kertas catatan. “Kau sudah memakai baju.”

“Aku ingin memakai baju Hawaii,” kata Nick lagi.

“Beli sendiri,” tukas Jessie.

Nick menurunkan kedua bahunya kecewa.

Cassandra terkekeh melihat tingkah laku kedua pasangan ini. Ia tahu kalau Jessie sebenarnya telah membeli dua stel baju untuk Nick, termasuk sebuah kemeja indian voile keren yang ia bantu pilihkan di Ava waktu itu. Semua orang di kelompok mereka telah mendapatkan jatah mereka masing-masing—bahkan baju Hawaii yang sama. Ia tak mengerti kenapa Jessie masih merahasiakannya.

Cassandra baru saja akan menghibur hati Nick soal baju Hawaii-nya yang disembunyikan oleh Jessie, tapi kata-katanya tidak sempat diucapkan karena seorang gadis berambut pirang lurus berponi segera menghampiri mereka dari kejauhan dengan langkah yang tergesa-gesa.

“LUCY—,” kata Kayla. “Akhirnya kau datang juga.”

Lucy tampak begitu kelelahan. Ia merapikan kacamatanya yang berantakan dan mencoba mengatur napasnya yang masih tersengal-sengal sehabis berlari.

“Teman-teman, aku membawa berita buruk,” kata Lucy. Wajahnya menyiratkan kengerian yang luar biasa, seolah-olah baru saja melihat hantu di tengah-tengah kuburan.

Lucy menarik napasnya. Gadis-gadis itu memperhatikan dengan serius.

“Emma!” kata Lucy. “Dia sudah kembali.”

14. Perayaan (2)

Julie sekarang duduk di meja redaksi favoritnya, bertopang dagu, memikirkan kata-kata yang akan diucapkannya pada Jerry. Lima belas menit sudah ia berada di ruangan ini, tapi tak sepatah kata pun yang berhasil diucapkannya. Ia malah sibuk bermain Solitaire di salah satu komputer klub koran sekolah.

“Menurutmu, bagian mana yang perlu diperbaiki dari tulisan Jacqueline?” tanya Jerry, sambil membolak-balik beberapa halaman folio yang terpampang di hadapannya. “Aku sejujurnya tak terlalu menyukainya, tapi kita tak bisa mengambil resiko dan menghilangkan tulisan ini dari bahan majalah sekolah. Kau tahu kan? Keith Lozer hanya datang sekali ke Eastcult. Kita tak mungkin bisa melakukan wawancara lagi.”

“Ya?” sahut Julie linglung. Bagian tersulit dari hidupnya hari ini adalah meyakinkan Jerry untuk membiarkannya pergi di saat anak laki-laki itu mengalami defisit tenaga kerja serius di klub mereka. “Benarkah?”

Jerry mendesah panjang. “Cuci mukamu sana.”

Julie menyengir.

Anak-anak klub mulai banyak yang mengeluhkan metode kerja Jerry yang terlalu workaholic dan ambisius—beberapa mulai sering bolos karena mengeluhkan terlalu banyak pekerjaan dan tugas-tugas sekolah yang terbengkalai. Julie bisa jadi tak terlalu mempermasalahkan karena ia masih punya Lucy yang mengajarinya sepanjang waktu, tapi anak-anak lain mungkin tak seberuntung itu. Hari ini saja hanya ada empat orang yang hadir di ruangan klub mereka.

Jerry, Julie, Lana. Dan Timmy.

“Tunggu apa lagi?” tanya Jerry. “Cepat cuci mukamu dan bantu aku merevisi tulisan ini. Huft. Banyak hal yang harus kita lakukan. Matikan game bodoh itu.”

Jerry terlihat desperate dan wajahnya kusut seperti kain kumal. Julie merasa semakin sulit untuk melarikan diri. Tapi biar bagaimanapun, ini harus dicoba. Ia sudah berjanji pada Lucy.

“Umm, Jerry,” kata Julie berusaha terlihat serius. “Ada sesuatu yang ingin kubicarakan.”

“Apa itu? Oh. Jangan sekarang, Julie,” kata Jerry singkat. Ia menyodorkan kertas-kertas yang dari tadi dipegangnya. “Ini, tolong periksa tulisan ini. Aku harap kau bisa mengubahnya menjadi lebih baik. Huft. Seharusnya aku menyuruhmu saja meliput wawancara itu.”

Julie menggaruk-garuk kepalanya.

“Ng—tapi,” gumam Julie sambil menerima kertas itu ragu-ragu. “Tim akademis. Ehm. Klub A dan klub B. Mereka menang kemarin. Kau tahu, kan? Dan—ehm, hari ini Lucy mengajakku untuk makan-ma—”

“Tepat sekali!” sahut Jerry. “Itu berita yang sedang panas sekarang. Ah! Lucy. Dia kan temanmu, yah? Dia yang ada di tim—tim B?”

Julie menggangguk.

“Kau sudah kenal dia kan, tentunya? Kalau begitu, tolong tuliskan profil kehidupannya sekarang juga, ya. Sangat penting,” kata Jerry tanpa ekspresi. “Aku tunggu.”

Julie sempat mengira kalau Jerry pada akhirnya memberikan kode-kode tanda mengerti bahwa ia dan teman-temannya akan merayakan kemenangan itu. Tapi ternyata itu hanyalah harapan palsu. Pernyataannya barusan malah membuat anak laki-laki itu memberikannya tugas tambahan.

Julie menjadi sangat gemas.

“Kau tidak dengar penjelasanku barusan, ya?” kata Julie, sedikit jengkel. Ia mulai mendapatkan keberaniannya untuk mengutarakan apa yang tadi ada di pikirannya. “Sore ini  kami merayakan kemenangannya Lucy. Itulah sebabnya aku ingin bilang padamu, aku tidak bisa ikut kegiatan klub hari ini. Aku harus pergi.”

Jerry mendelik ke arah Julie.

“Apa?” cetusnya sambil melotot. Ia setengah tertawa. “Tidak bisa. Kau tahu kan proposal ini akan kuajukan hari Kamis besok? Kita bahkan belum punya separuh bahan yang diperlukan. Dan anak-anak yang lain—ahh, kemana mereka saat dibutuhkan? Benar-benar payah.”

Julie sudah pernah mendengar curhatan ini dari anak-anak klub sebelumnya. Mungkin ini saatnya Julie menyampaikan hal ini ke Jerry secara langsung.

“Tidakkah kau merasa tugas-tugas yang kau berikan ke anak-anak klub terlalu berat? Ayolah. Jerry. Kita ini masih anak sekolahan,” kata Julie. “Dengan tugas-tugas sekolah dan PR-PR yang sangat banyak? Kau bisa membunuh kami semua.”

Jerry tak menunggu waktu terlalu lama untuk menjawab pertanyaan tersebut. Sepertinya ia sudah cukup sering mendengar pernyataan itu dari orang-orang lain sebelumnya. Ia malah menjawabnya dengan keyakinan kuat.

“Justru! Pola pikir seperti itulah yang harus diubah. Justru karena kita masih muda, kita harus mengembangkan bakat ini seluas-luasnya,” kata Jerry. “Apalagi dengan fasilitas yang senyaman yang diberikan oleh sekolah kita. Sampai kapan kau mau menyia-nyiakan waktu, Julie? Pikirkanlah itu baik-baik.”

Entah kenapa percakapan ini malah mengarah ke ceramah panjang favorit Jerry yang selalu membuatnya kesal. Julie sebenarnya sangat malas untuk berdebat lagi, tapi kebutuhan kali ini memaksanya untuk harus mengusahakan yang terbaik.

Demi Lucy.

“Aku tidak menyia-nyiakan waktu, Bodoh,” kata Julie. “Hanya makan-makan. Ini acara perayaan kemenangannya Lucy. Hanya sebentar.”

Jerry menggeleng tegas.

“Aku tak setuju dengan acara makan-makan. Traktiran. Perayaan. Atau semacamnya. Itu terlalu membuang-buang waktu,” kata Jerry. “Dan membuang-buang uang. Lebih baik kita melakukan hal lain yang lebih produktif.”

Yeah. Kau mungkin tak setuju. Tapi aku setuju,” kata Julie. Ia melipat tangannya di depan dada dan berusaha untuk terlihat semakin kesal. “Dan Lucy temanku. Aku tak mungkin melewatkan hari bahagia Lucy.”

Julie sekarang mematikan komputer yang ada di mejanya dan bersiap-siap untuk pergi. Ia berusaha menunjukkan wajah yang marah dan mengancam, menirukan gaya Cathy Pierre saat sedang merajuk, agar anak laki-laki itu dapat memahami betapa pentingnya acara perayaan kali ini untuknya. Ia sebenarnya tak sering melakukan akting ini, tapi Jerry benar-benar keras kepala.

“Julie?” kata Jerry.

Julie berencana tidak menjawab panggilan itu. Ia sudah cukup sering melihat Cathy mengabaikan semua panggilan orang-orang yang membuatnya kesal, dan sepertinya cara itu cukup berhasil. Julie sama sekali tidak tahu kalau cara itu sama sekali tidak ampuh, jika ia yang mempraktekkannya.

Wajah kaku dan dinginnya malah terlihat konyol dan menggelikan.

“Julie?” panggil Jerry sekali lagi, seperti sedang mengetes hipotesanya. Ia mengelus-elus dagunya penuh arti sambil tersenyum. “Baiklah.”

Julie memasang telinganya baik-baik.

“Begitu proposal majalah sekolah versi klub koran sekolah ini selesai,” kata Jerry perlahan, tersenyum santai, dengan gaya mengancam. “Aku akan memasukkan nama-nama kontributor-kontributor terbaik di klub koran sekolah di halaman pertama. Bayangkan? Namamu dibaca oleh semua orang di dunia sebagai salah satu kontributor majalah pendidikan Nimberland yang sangat terkenal. Siapa yang bisa berharap pencapaian yang lebih baik lagi?”

Jerry mengangkat kedua tangannya dan bersandar pada telapak tangannya di belakang kepala. Ia melipat sebelah kakinya ke atas, menaikkannya di atas kaki yang lain, dan menghirup udara sore itu dengan santai.

“Tadinya aku mempertimbangkan  memasukkan namamu, Julie,” kata Jerry. Ia berpura-pura terlihat bimbang dengan gaya yang sangat mengesankan. “Tapi mungkin sebaiknya aku pikir-pikir dulu.”

Julie terhenyak.

Pertahanannya runtuh.

“Aaaaah, ayolaaah! Jerry—” rengek Julie. Pernyataan Jerry barusan benar-benar membuatnya berpikir panjang akan kesempatan yang menggiurkan itu. “Aku akan melakukan apapun yang kau mau. Merevisi tulisan Jacqueline? Membuat profil Lucy? Baiklah. Aku akan menulis semuanya dan mengirimkannya ke e-mailmu nanti malam. Kumohoon. Kali ini saja.”

Ia merengek seperti bayi.

“Aku ingin kedua artikel itu selesai sore ini,” kata Jerry. “Dengan atau tanpa acara perayaan dengan teman-temanmu itu. Kalau kau mau, selesaikan itu terlebih dahulu, baru kau boleh pergi.”

“Ap—aku tidak bisa,” kata Julie.

“Julie?? Kau tahu aku kekurangan tenaga di sini!” protes Jerry.

Julie menghela napas. “Kami akan pergi ke Steak~Stack jam 4, dan aku sudah berjanji untuk datang 10 menit sebelumnya. Aku tak bisa menulis secepat itu.”

Julie berusaha menjelaskan.

“Dan aku bukan robot, Jerry. Aku hanya manusia biasa. Kalau kau membutuhkannya dalam waktu cepat, kau harusnya suruh Timmy. Atau Lana. Atau anak-anak lainnya yang tidak hadir hari ini. Aku tak bisa.”

Jerry menoleh ke arah Lana yang sedang menguping pembicaraan mereka dari pojok depan. Gadis itu berpura-pura tak mendengar. Ia terlihat sangat sibuk dan memperhatikan komputernya dengan sangat serius, seolah memberikan sinyal keras kalau ia tak ingin dihadiahkan dengan tambahan tugas apapun lagi.

Nonsense. Kau tahu itu tak mungkin,” kata Jerry. “Kita kekurangan waktu dan tenaga, dan mereka yang tidak hadir sekarang tidak bisa diandalkan untuk tugas yang akan kuberikan. Jadi apa penawaran terbaikmu?”

Julie mengernyitkan dahinya. “Mengizinkanku pergi kali ini supaya aku tidak marah padamu?”

Jerry tertawa keras.

“Oke, oke,” kata Jerry.“Aku sangat takut kalau kau marah.”

Nada suaranya mungkin terdengar sarkartis, tapi sebenarnya ia cukup khawatir. Jerry tak tahu apakah gadis itu hanya mengancam atau sungguhan, tapi ia tak ingin mengambil resiko. Ia menatap Julie lekat-lekat.

“Baiklah—dengan satu syarat,” kata Jerry akhirnya. Ia sangat berharap kalau Julie akan menuruti kemauannya kali ini dan mengutamakan prinsip profesionalisme seperti dirinya. Tapi setiap kali berurusan dengan teman-temannya, gadis itu memang sulit untuk diajak kompromi.

Ia menghela napas. Julie bersorak kegirangan.

“Tidak peduli bagaimana pun caranya, aku ingin kedua artikel itu sudah ada di mejaku sebelum pukul 6 sore,” kata Jerry. “Tercetak.”

“Ha?” kata Julie bingung. Ia tergelak. “Kau pasti bercanda.”

Jerry menggeleng.

Julie tahu, Jerry memang lebih suka mengoreksi bahan-bahan tulisan anak-anak klub dalam bentuk hard copy atau kertas tercetak—katanya lebih mudah baginya untuk memproyeksikan kesesuaian tulisan itu dengan bentuk jadi di dalam imajinasi pikirannya. Julie selalu komplain—dan Jerry tak pernah mendengarkan—tapi kali ini kondisinya benar-benar lain. Ia tak mungkin mengumpulkannya sebelum jam 6.

“Kau gila? Bagaimana mungkin aku melakukannya?” protes Julie frustasi. “Kenapa tidak lewat e-mail?”

“Aku tak suka membaca draft dalam bentuk e-mail. Kau kan tahu itu,” kata Jerry. “Aku akan menunggumu di ruangan ini sampai kau selesai dengan urusanmu dan kembali lagi ke sini untuk mengumpulkan artikel itu. Jam 6 sore.”

“Tapi aku kan bukan jin—.”

Julie tak sempat menyelesaikan kalimatnya, saat Timmy menghambur dari pintu depan seperti orang gila. “Julie! Ada Richard datang mencarimu.”

Julie memandang Timmy dengan sangsi saat ia menyebutkan nama anak laki-laki itu. Ia tertawa. Anak itu tidak mungkin datang ke sini.

Julie terdiam saat anak laki-laki itu memasuki ruangan mereka.

“RICHARD!!”

Julie tak tahu kenapa Lana harus menyebutkan nama anak laki-laki itu sambil menjerit. Lana dan Timmy—dan semua gadis di klub mereka sebenarnya—memang bagian dari anggota penggemar Sang Pangeran Tampan Bercahaya Richard Soulwind, bahkan mereka punya julukan sendiri untuk Richard. Twinkle Prince—Pangeran Kelap-Kelip. Sangat konyol.

Julie langsung mengubah pendapatnya begitu melihat cahaya putih gemerlap yang masuk ke dalam ruangan itu dan berjalan semakin mendekat ke arah mereka.

Richard terlihat tampan dengan baju Hawaii biru bermotif bunga hibiscus dan celana pendek putih yang membuat kulit putihnya terlihat semakin bersinar. Mata birunya benar-benar mencolok. Richard biasanya tak pernah mengenakan pakaian semacam itu, anak laki-laki itu lebih suka memakai kaus T-shirt polos, bergambar sedikit, atau bergaris-garis sederhana, namun kali ini penampilannya benar-benar berbeda.

Julie sekarang mengerti mengapa Lana sampai terkaget-kaget seperti orang kesetanan, karena dengan penampilan seperti itu, Richard terlihat benar-benar berkilau dan tampan, seperti seorang aktor Hollywood yang sedang liburan di Pantai Waikiki. Apalagi karena ia berada di ruangan klub koran sekolah, ruangan paling butut di gedung sekolah mereka, yang sangat kontras dengan warna kulitnya.

Richard merendahkan suaranya dan berkata dengan sopan.

“Maaf aku mengganggu kalian semua,” kata Richard. Suaranya benar-benar merdu dan enak didengar. “Aku ke sini ingin menjemput Julie.”

Jerry mengernyit.

“Julie sedang sibuk,”  katanya ketus. “Dia tidak ada waktu untuk melayanimu.”

“Sebenarnya ada,” kata Julie cepat-cepat. “Kami sudah membicarakannya sejak tadi siang. Itulah sebabnya aku meminta izin padamu sore ini. Ayolah Jerry, kali ini saja.”

Timmy menatap Julie pangling, seolah tidak percaya. “Kau akan kencan dengan Richard?? Kukira Richard pacaran dengan Cathy.”

“Tidak,” bantah Julie secepat kilat. “Tidak kencan. Sudah kubilang kan dari tadi, aku dan teman-temanku akan merayakan kemenangan Lucy. Dan—kenapa kau di sini, Richard? Aku tak ingat pernah minta tolong padamu untuk menjemputku.”

“Memang tidak,” kata Richard. Ia tersenyum lembut. “Aku hanya kebetulan lewat saja. Berhubung sekarang sudah jam empat kurang lima belas, kukira tidak ada salahnya jika sekalian menjemputmu, Julie. Cathy cukup sensitif soal keterlambatanmu, akhir-akhir ini.”

Julie mendongak ke arah jam dinding. Memang sudah jam 4 kurang lima belas, persis seperti yang dikatakan Richard. Julie tak tahu logika apa yang terlintas di pikiran anak laki-laki itu, tapi kedatangannya benar-benar tidak diharapkan. Tidak hanya memperburuk situasi, seumur hidupnya selama ini, ia sama sekali tidak pernah berharap akan dijemput Richard atau apapun. Bahkan jika Cathy sampai harus memarahinya, bisa-bisa Cathy lebih marah karena Richard menjemput Julie daripada karena ia datang terlambat.

Jerry mengulangi kata-katanya sekali lagi.

“Kalau kau pergi sekarang, aku takkan memasukkan namamu sebagai kontributor proposal majalah sekolah sama sekali. Tak peduli betapa banyak pun peranmu di sana,” kata Jerry. “Pikirkan baik-baik.”

Julie terlihat gelisah.

“Proposal?” tanya Richard. Julie menyengir sedikit. Ia tak tahu harus berbuat apa dalam situasi sulit ini. Walaupun Jerry sudah menawarkan syarat lain, hasil negosiasi itu sama sekali tidak menguntungkan.

Richard tiba-tiba mengubah ekspresinya menjadi lebih serius.

“Aku tak ingin ikut campur, Julie,” kata Richard perlahan, sambil menganalisa dengan hati-hati. “Tapi jika itu memang hakmu, namamu pasti akan ada di sana. Kukira dia hanya menggertak saja.” Richard menatap Jerry dengan tajam. “Lagipula, kalau ternyata masih berbentuk proposal, kukira tak ada gunanya mempertaruhkan harapan sahabat-sahabatmu demi sesuatu yang belum pasti.”

Jerry meringis. Ia memandang Richard dengan pandangan jijik. Intensitas ketegangan di antara mereka berdua meningkat lagi. Kehadiran anak laki-laki itu di ruangan ini saja sudah cukup membuatnya tidak senang, apalagi sekarang anak laki-laki itu mulai berlagak sok pahlawan.

“Fantastis,” erangnya. Ia mengangkat tangannya dengan marah. “Hebat. Sekarang kau sudah punya malaikat pelindung rupanya. Pergilah. Jika itu memang maumu, pergilah. Aku tak akan melarangmu lagi. Cukup tahu saja, seberapa jauh profesionalisme-mu terhadap pekerjaan ini. Aku tak akan mengganggumu lagi. Pergi.”

Anak laki-laki itu melambaikan tangannya dengan acuh tak acuh. Ia kini sibuk mencoret-coret naskah proposal majalah sekolah seolah-olah tumpukan kertas yang ada di atas mejanya itu kini lebih menarik dari apapun yang ada di ruangannya saat ini.

Julie semakin bimbang. Meskipun telah memberikan izin, raut wajah Jerry sama sekali tidak bersahabat.

“Apa yang harus kulakukan?” gumamnya pada Lana dan Timmy. Mereka menggeleng serba salah.

“Jam 8,” kata Julie pada akhirnya. “Aku akan mengirimkan e-mail ke tempatmu jam 8.” Ia sekarang bangkit dari kursinya terburu-buru dan tak henti-hentinya memandang Jerry dengan seringai terlebar yang pernah dimilikinya. “Maafkan aku, aku harus pergi. Daaagh!”

Julie mengendap-endap dengan cekatan dan mengajak Richard pergi secepat-cepatnya. Ia takut kena sembur Jerry, oleh karena itu sebaiknya ia kabur dari tempat itu sebelum Jerry mengubah pikirannya. Jerry sendiri tak lagi memperhatikan. Ia benar-benar kesal dan memilih untuk tidak menghiraukan mereka berdua lagi.

“HAAH!” seru Julie setelah mereka menjauh beberapa kaki dari ruangan klub itu. Paru-parunya mengembang dan mengempis tidak beraturan, berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya. “Rasanya seperti baru keluar dari sarang naga.”

Richard bertanya dengan penasaran, “Kenapa Jerry bersikap seperti itu padamu?”

“Aku tak tahu,” kata Julie. Ia mengangkat pundaknya. “Tapi sebelum kau datang tadi, dia masih baik-baik saja.”

“Anak itu—” kata Richard sambil menerawang. “—terlalu obsesif.”

Julie tidak bisa menampik kenyataan itu. Semua orang membicarakannya. Tapi ia juga mencoba memahami situasi yang dihadapi oleh Jerry. Anak laki-laki itu sangat menyukai dunia tulis-menulis, sangat berdedikasi dengan apa yang dilakukannya, memiliki mimpi yang besar dan panjang, dan ia merasa—sendirian.

“Aku tak bisa menyalahkannya,” kata Julie. Ia merasa benar-benar kasihan. “Sejujurnya aku ingin membantu Jerry sebisaku, tapi situasinya sedang tidak mendukung sama sekali. Kau tahu, kami sedang kekurangan orang, mempunyai proyek yang besar di depan, dan aku di sini malah pergi bersenang-se—”

“Julie,” kata Richard. Ia menatap Julie lekat-lekat, seolah tak ingin melepaskannya. “Apapun alasannya, kau harus memiliki kehidupan yang seimbang. Tidak dengan cara seperti ini.” Richard melanjutkan kata-katanya dengan cemas. “Jerry terlalu obsesif. Dia bisa menyakitimu.”

Richard memperlambat langkahnya, Julie pun merasakan gigil yang tidak biasa di jantungnya. Ada sesuatu yang berbeda saat Richard mengucapkan itu dan memandang Julie dengan mata yang teduh seperti air laut. Julie menyeringai salah tingkah, merasa seperti ada balon luar angkasa yang meletus di perutnya.

Julie dan Richard menuruni tangga menuju lantai kedua dengan langkah yang seirama dan itu rasanya sangat ganjil bagi Julie. Ini pertama kalinya ia dan anak laki-laki itu berjalan beriringan. Biasanya Richard selalu ditemani Cathy.

“Kenapa, Julie?” tanya Richard.

“Um. Tidak.”

Julie berdehem.

“Oke, sebenarnya ada yang mengganggu pikiranku dari tadi,” ceracau Julie tak jelas. Otaknya sudah tidak sinkron lagi dengan organ-organ apapun di seluruh anggota tubuhnya. “Bajumu—baru, ya?”

Richard terperangah. Ia tertawa.

“Ini?” tanya Richard sambil menunjukkan bajunya ragu-ragu. “Ini baju dari Cathy yang mereka beli di Ava kemarin. Dia memaksaku untuk memakainya sore ini.”

Julie mengangguk sambil tertawa. “Sangat—aloha.”

“Jelek, ya?” tanya Richard, . Ia sebenarnya ia tidak begitu nyaman berkeliaran dengan pakaian semencolok itu dari tadi. Apalagi saat mereka masih berada di sekolah. “Aku sangat malu memakainya. Tapi Cathy bersikeras memaksa.”

“Tidak, tidak. Kau sangat—” kata Julie. Ia menahan napasnya sebentar, mempertimbangkan apakah ia benar-benar akan mengucapkan kata itu. “Yah. Kinclong.”

Mereka tertawa.

“Kau sangat lucu,” kata Richard sambil menahan senyumnya.

“Julie!” teriak Kayla dari kejauhan. Ia berlari dari arah koridor menuju ke tangga yang sedang mereka turuni. Julie dan Richard menoleh dan berhenti sejenak, melihat ke arah Kayla yang terkesiap saat melihat anak laki-laki yang menggunakan baju Hawaii berwarna biru mencolok. “Dan—Richard. Eh, sedang apa kalian?”

“Menurutmu?” tanya Julie retoris.

Richard tersenyum. “Turun ke bawah. Mau ikut dengan kami?”

“Ehmm, um. Iya. Boleh,” gumam Kayla salah tingkah. “Ngomong-ngomong.. Kau sangat tampan dengan baju itu, Richard. Cassandra pintar memilih, ya.”

“Benarkah?” tanya Richard. Ia melirik ke arah Julie, yang pura-pura tidak melihat. “Julie bilang aku sangat kinclong.”

Kayla menatap Julie dengan alis berkerut.

“Dalam arti yang bagus. Dalam arti yang bagus,” kata Julie, meralat cepat-cepat. “Ayolah. Masa yang begitu saja mau dianggap serius? Eh, ya. Kay—” Julie menahan tubuh Kayla, sebelum gadis itu menapaki anak tangga berikutnya. “Berhubung  kau ada di sini, nanti kalau Cathy tanya, bilang saja kau dan Richard baru saja berpapasan dengan aku di tangga ini, ya?”

Kayla terlihat keheranan.

“Memangnya kenapa?” tanya Kayla. “Dan aku baru mau menanyakannya. Memangnya kalian dari mana?”

Richard baru akan menjawab, namun Julie langsung menyambar pertanyaan itu secepat kilat. “Aku dan Richard hanya berpapasan di depan ruangan klub koran sekolah. Kami kebetulan bertemu. Aah—kau tahu kan Cathy? Dia bisa ngamuk kalau tahu aku jalan hanya berdua dengan pacarnya.”

Kayla mengangguk paham. Ia tak perlu diingatkan lagi betapa protesnya Cathy saat Kayla menyuruh Richard keluar dari Ava Shopping Avenue dan menunggui Julie kemarin. Kalau saja Richard tak kegerahan dan terlihat benar-benar menderita di balik siku ibu-ibu muda yang berebutan pakaian renang, Cathy pasti tak pernah mengizinkannya pergi.

“Baiklah,” kata Kayla. “Dengan satu syarat.”

“Apa?”

Kayla tersenyum penuh arti.

“Nanti di kedai Steak~Stack, kau dan Jessie harus duduk berjauhan,” kata Kayla, dengan menegaskan. “Aku tak mau tempat itu jadi rusuh karena kalian.”

14. Perayaan

Lucy baru saja menyampaikan berita gembira tentang kemenangannya di kota Heinswell. Kedua tim utusan Nimbersland—tim A dan tim B—memenangkan peringkat pertama dan peringkat kedua dalam kompetisi antar sekolah tersebut.

“Serius?” Gadis-gadis itu bersorak kegirangan.

“SUPER KEREN!!” teriak Cathy, dengan kesenangan meledak-ledak. “Sudah kubilang, kan? Kau pasti akan memenangkan pertandingan itu! Kenapa kau tak percaya padaku!?”

Lucy tersenyum malu.

“Tidak, aku tidak menang, kok. Hanya peringkat kedua,” kata Lucy sambil menahan senyum. “Hanya selisih sedikit.”

Lucy menceritakan detil panjang tentang kompetisi yang berlangsung waktu itu. Setelah babak penyisihan yang cukup alot, kedua tim utusan Nimberland memimpin pertandingan, jauh meninggalkan saingan-saingannya yang tidak begitu menonjol. Selama babak final, tim A dan tim B Nimberland selalu memimpin skor, terus-menerus berkejaran seperti pebalap F1 di arena balap, meninggalkan lawan-lawannya. Karena penampilan sekolah mereka yang begitu memukau, siapa pun di sana sangat yakin kalau salah satu dari kedua tim sekolah Nimberland pasti akan merebut gelar juara satu, hanya saja tak seorang pun dari mereka yang dapat menebak yang mana dari kedua tim itu yang akhirnya akan berhasil memenangkannya.

Lucy mengakhiri ceritanya dengan ekspresi yang sedikit pahit, namun ia masih terlihat sangat bangga. Dia dan timnya memang hanya mendapat peringkat kedua, namun selisih skornya sangat tipis dengan tim A—hanya selisih 25 poin dari skor 2150 yang diperoleh tim A. Benar-benar tipis. Kalau saja Dean Heinsenberg tidak salah menjawab satu pertanyaan terakhir yang ambisius di akhir putaran final, tim B mereka pasti sudah menjadi pemenang mutlak dalam kompetisi itu.

“Wow. Sedikit lagi peringkat satu!” teriak Cathy putus asa. Ia mengerang dengan seluruh tenaga dalamnya, sampai-sampai seluruh bagian meja makan mereka bergetar karena hentakan yang keras dari kedua tangannya. “Dan si Heinsenberg sialan—apa yang diperbuat anak bodoh itu? Harusnya kalian juara satu! Harusnya kalian yang menang!”

Cathy menarik rambutnya sendiri.

“AAHHH—”

Ekspresi Cathy yang berlebih-lebihan telah membuat cerita Lucy menjadi terdengar lebih seru daripada film Star Trek yang mereka tonton kemarin. Gadis itu mampu membuat suasana di sekitarnya menjadi terlalu dramatis dan seru—seperti telenovela, meskipun itu membuatnya terlihat seperti orang gila yang kesurupan.

Gadis-gadis itu tertawa.

“Selamat ya, Sayang,” kata Kayla bangga. “Kurasa itu adalah sebuah pencapaian yang sangat hebat darimu. Guru-guru kita pasti sangat bangga padamu. Kami semua merasa sangat bangga memilikimu.”

“Walaupun bukan juara pertama—memang belum, hanya masalah waktu, kan?—tapi penampilanmu sangat hebat! Cool, Lucy!” kata Jessie, mengacungkan kedua jempolnya. “Kau memang teman kami yang paling pintar!”

“Apalagi, kalau kudengar dari cerita Mrs.Salander,” kata Cassandra. “Ia bisa menjawab seluruh pertanyaan kelas sepuluh jauh lebih banyak daripada Jennifer. Mrs.Salander waktu itu tak henti-hentinya berulang kali memuji Lucy.”

Gadis-gadis itu memandang takjub.

‘Anak itu benar-benar mengesankan. Benar-benar mengesankan,’ ” kata Cassandra lagi, menirukan suara Mrs.Salander yang bernada rendah dan serak-serak basah. “Entah sudah berapa kali wanita itu mengulang-ulang kalimat yang sama. Sepertinya dia benar-benar terkagum dengan kemampuanmu. Aku yakin, guru-guru tidak akan memandangmu sebelah mata lagi sekarang.”

Lucy menyembunyikan wajahnya yang tersenyum di balik gelas soda yang bermulut besar. Hadiah yang didapatkannya dari perlombaan itu memang tidak seberapa—apalagi setelah dibagi tiga dengan Dean dan Roscha. Meskipun demikian, baginya justru pengakuan dari orang-orang sekelilingnya atas hasil kerja kerasnya selama inilah hal yang paling berarti untuknya sekarang. Sangat berarti untuk menambah kepercayaan dirinya. Pujian yang tak henti-henti dari teman-temannya itu membuatnya sangat tersanjung.

Julie ikut menimpali percakapan.

“Nah, Lucy. Tidak percuma kan aku meminta bantuanmu mengerjakan PR-PR-ku setiap hari?” kata Julie sambil mengedipkan matanya. “Sedikit banyak aku sudah berkontribusi terhadap peningkatan kecerdasanmu, Lucy. Gila. Bahkan aku mengorbankan kecerdasanku sendiri.”

Gadis itu tertawa. “Bagaimana, Jess?” Julie memandang Jessie penuh arti. “Kau mau kuajari juga—supaya kau tambah pintar?”

Jessie terlihat kesal dan ingin melempar sepatunya ke arah Julie, seandainya saja hari itu ia tidak mengenakan sepatu kets yang bertali banyak.

“Ya. Terima kasih ya, Julie,” kata Lucy sambil tersenyum. “Terima kasih juga ya, teman-teman. Dukungan kalian benar-benar sangat berarti buatku. Kalian memang teman-teman terbaik. Aku sayang pada kalian.”

Kayla memberikan pelukan terlebih dahulu, disusul dengan gadis-gadis lainnya. Lucy balas memeluk teman-temannya dengan dekapan yang sangat erat. Keenam gadis itu sekarang saling menempel satu sama lain, membentuk sebuah formasi pejal melingkar seperti sekumpulan skydiver yang saling berpelukan setelah terjun dari kokpit pesawat. Nick berusaha sekuat tenaga menitikkan air mata.

“Oh! Ladies! Sangat mengharukan,” kata Nick, membuka tangannya. “Aku ingin berpelukan juga.”

Jessie mendorong muka Nick ke belakang, sehingga anak itu terjungkal. Ia merasa harus mencegah pacarnya yang gila itu sebelum anak laki-laki itu bergerak semakin mendekat ke arah mereka.

“Nick—kenapa kau harus meniru semua yang kami lakukan?” kata Jessie. “Hah?”

Nick merapikan rambutnya yang kusut sambil bersungut-sungut. “Pelit.”

Richard tersenyum. Ia menopang dagunya dan menyaksikan pemandangan itu dengan santai. Sedikit banyak ia sudah mulai terbiasa dengan perilaku teman-teman barunya ini, meskipun pada awal-awal kebersamaan mereka, ia lebih sering mengernyit kebingungan. Gadis-gadis itu pun melepas pelukan mereka dan kembali duduk dengan tenang di kursi masing-masing.

“Baiklah. Aku ingin mengajak kalian makan di suatu tempat sore ini. Aku traktir,” kata Lucy. “Di mana saja. Terserah kalian. Aku ingin kita merayakannya bersama-sama.”

Gadis-gadis itu bersorak.

“Sore ini?” kata Julie lemah. “Tapi aku harus ikut kegiatan klub koran sekolah.”

“Julie! Klub koran sekolah lagi?”

Pernyataan Julie barusan sepertinya merusak kesenangan semua orang. Mulut Jessie bahkan ternganga dan napasnya terbakar kaget. “Kau bercanda kan, Julie? ”

Tidak seperti yang lainnya, kegiatan Julie di klub ekstra kurikulernya ini hampir tidak mengenal waktu. Kadang-kadang ia bisa menghabiskan waktu setiap sore sepulang sekolah di ruangan klubnya, kadang-kadang di sela-sela jam pergantian kelas, atau di sela-sela jam makan siang.

Tidak wajib, memang. Tapi Jerry lebih suka kalau anggota-anggota klubnya lebih sering menghabiskan waktu mereka untuk bekerja dan berkumpul di ruangan klub. Julie sendiri sebetulnya tak keberatan dengan aturan ini. Sejauh ini, ia cukup senang berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki kesukaan dan hobi yang sama dengannya.

“Kupikir sepanjang hidupmu sudah kau habiskan di ruangan terkutuk itu,” kata Jessie. “Hari Jumat, Kamis, Rabu, Selasa, Senin, dan hari-hari sebelumnya kemarin, kau selalu saja mendekam seperti keong di sana. Apa Jerry benar-benar membuatmu sebegitu mencintainya?”

Cassandra tertawa. Sebagai pencetus dan pendukung setia teori hubungan gelap terselubung Julie dan Jerry di klub koran sekolah, gadis itu tidak bisa mengelak dari kesempatan emas ini untuk menggoda Julie. “Yah. Kurasa Julie memang sangat, SANGAT—mencintainya.”

Gadis-gadis itu tertawa.

“Aku serius,” kata Julie. “Jerry bilang, minggu ini—”

“JEEE—RRY,” goda yang lain.

Julie menggerung dan meraung seperti serigala yang frustasi.

“Sudah, sudah,” kata Kayla sambil tertawa. “Kasihan Julie, kan? Maksudku, hmpph, bukannya mau meledekmu, Julie. Tapi gurauan mereka ada benarnya juga. Tidakkah kau terlalu sering menghabiskan waktu di sana? Aku saja berlatih di klub paduan suara hanya satu atau dua kali seminggu. Paling banyak tiga. Itu pun hanya sesekali.”

Yeah,” kata Jessie.

“Apa yang aneh?” tanya Julie. “Klub koran sekolah memang selalu sibuk. Kalian juga melakukan hal yang sama denganku.”

“Tidak, tidak,” kata Nick lagi. “Aku dan Jessie hanya berenang dua kali seminggu. Itu sudah peraturan sekolah.”

Cathy menggeleng.

“Aku pun tidak,” kata Cathy. Ia melihat Cassandra yang juga menggeleng. “Kurasa Cassandra juga. Klub Drama membosankan. Kami saja sering bolos.”

Cathy pernah bercerita tentang betapa bosannya dengan kegiatan di klub Drama yang diikutinya dengan Cassandra, terutama karena Mr.Bean—julukan yang diberikannya pada pelatih klub Drama mereka—memiliki gaya akting yang sangat kuno. Entah berapa kali ia menyebutkannya, Cathy selalu bilang kalau ia merasa terlahir sebagai generasi perfilman tahun 1910-an.

“Mereka seharusnya mencari pelatih baru yang kompeten, alih-alih menggaji kakek-kakek tua pikun itu.”

“Sudah kubilang,” kata Julie. “Seharusnya kau tidak keluar dari klub cheerleaders, kan? Setidaknya kau punya kegiatan lain yang lebih asyik daripada klub Drama.”

Sebelumnya, Cathy memang pernah mengikuti klub cheerleaders di awal tahun ajaran mereka. Di klub itulah ia pertama kali mengenal Emma Huygen, Gina Sanders, Libra Huston, dan teman-teman Emma yang lainnya. Emma memang sudah lama tidak bergabung di klub cheerleaders sejak mengikuti kompetisi akademis sekolah, namun pengaruhnya di klub itu masih sangat kuat. Siapa pun yang ada di klub itu akan mengikuti gaya berpakaiannya, cara bicaranya, model rambutnya, barang-barang yang dibelinya—pokoknya apapun yang berkaitan dengan Emma, sang bintang sekolah.

Cathy memang bukan penggemar Emma sejak awal. Dan sejak Emma dan gengnya melabrak dan mengganggunya karena telah mendekati Jake Williams, Cathy akhirnya tidak pernah menampakkan dirinya lagi di klub itu.

“Tidak,” tukas Cathy sambil mendesis. “Sampai kiamat pun tidak.”

Cathy bersedekap dan membuang mukanya dengan raut wajah kesal. Pembicaraan barusan pun membuatnya mulai berpikir ulang tentang ketidaksukaannya dengan klub Drama. Buatnya, lebih baik mengikuti akting kadaluarsa ala Mr.Bean daripada harus kembali ke klub angkuh yang berisi gadis-gadis manja dan memuakkan itu lagi. Setidaknya, Mr.Bean tidak menghardik orang dengan kata-kata makian.

“Kenapa Cathy keluar dari klub cheerleaders?” tanya Richard.

“Itu karena Emma—”

Cathy terlihat tidak senang.

“—karena aku bosan,” potong Cathy. “Titik.”

Richard memandang kosong selama beberapa saat. “Oh.”

Cathy memperingatkan gerak-gerik mengancam ke Julie, Kayla, Jessie, Lucy, dan Cassandra, untuk mencegat mereka membahas hal ini lebih jauh di depan pacarnya.

“Bagaimana denganmu, Richard?” tanya Kayla, menghirup napas. “Kegiatanmu di klub Catur hampir tidak pernah ada beritanya.”

“Klub Catur sangat fleksibel,” kata Richard. “Malah kadang-kadang hampir tidak ada yang bermain, jika tidak kupaksa.” Anak laki-laki itu tersenyum. “Kupikir, tidak ada perbedaan yang berarti jika aku tidak hadir hari ini. Aku bisa meliburkan diri meskipun tanpa pemberitahuan.”

“Meliburka—maksudmu bolos??” tanya Nick dengan nada skeptis. “Jangan berpura-pura menjadi anak baik, Richard.”

Richard tergelak. “Ya. Bolos.”

Rasanya sangat aneh ketika Richard mengatakannya. Bolos. Julie mencoba membayangkan kenakalan apa lagi yang mungkin akan dilakukan anak laki-laki itu suatu saat nanti, tapi wajah lugunya yang tidak berdosa benar-benar tidak sesuai dengan profil itu.

“Ng,” gumam Julie.

Julie memperhatikan anak laki-laki itu sekali lagi, diam-diam. Lekukan wajahnya disemuti keteduhan yang menenangkan. Ia seperti malaikat. Dilihat dari logika manapun, wajah anak laki-laki itu sama sekali tidak cocok disandingkan dengan titel Anak Nakal yang Suka Membolos. Atau Ketua-Preman-Sekolah-Yang-Suka-Membangkang.

Ia terkikih.

“Kenapa, Julie?” tanya Kayla.

“Tidak kenapa-napa,” kata Julie, mencari kesibukan. Di situasi seperti ini, sangat baik baginya untuk mempertahankan kewarasannya, sebelum organ-organ tubuhnya yang tidak pernah bisa dipercaya itu mulai bertindak yang macam-macam.

Julie menahan napasnya.

Gadis-gadis itu sekarang bergemuruh mendiskusikan tentang keputusan mereka berikutnya. Hampir setiap orang di kelompok mereka hari ini tampaknya bisa mengusahakan diri untuk datang sore itu, untuk merayakan kemenangan Lucy. Bahkan Cathy dan Cassandra berencana bolos lagi untuk dua pertemuan berikutnya di klub Drama.

“Dari kita berdelapan, cuma Julie kan yang tidak bisa datang? Kalo begitu gampang,” kata Jessie. Ia menggosok-gosok hidungnya sambil berkata ringan, “Kita tinggalkan saja Julie di sini. Tidak penting-penting amat sih.”

Julie menarik jambang Jessie, gadis itu berteriak histeris.

“Jangan,” kata Lucy pelan, terdengar bimbang.  Ia menunduk gelisah dan mendesah cukup panjang. “Apa sebaiknya kubatalkan saja, ya? Aku tidak ingin tidak ada Julie di perayaan kemenanganku ini. Mungkin lain hari saja.”

Julie terhenyak. Ia tidak ingin acara itu dibatalkan. Terlebih lagi, ia tidak ingin menjadi perusak suasana. Biar bagaimanapun, kegembiraan bersama dengan teman-temannya adalah prioritasnya sepanjang waktu.

“Tidak, tidak. Jangan dibatalkan,” kata Julie. Ia mengangkat tangannya, mengayunkannya perlahan-lahan, mencoba meyakinkan Lucy. “Aku akan melakukan segala cara untuk melarikan diri dari kegiatan klub hari ini. Jangan khawatir. Aku bisa melobi Jerry.”

Julie sendiri sebenarnya tidak yakin dengan ucapannya itu. Bukan karena ia sudah berhutang budi terlalu banyak pada Jerry—toh anak laki-laki itu juga selalu meminta ganti rugi yang menyusahkan—tapi Jerry akhir-akhir ini memang sedang berambisi besar untuk mengambil alih proyek Majalah Sekolah.

“Kau yakin?” tanya Lucy ragu-ragu. Julie mengangguk. “Baiklah,” kata Lucy sambil menepuk kedua tangannya dengan semangat. “Kalau begitu, kita akan makan di mana? Ada ide?”

Seperti anjing yang sangat bersemangat menyambut tuannya yang baru saja pulang ke rumah, Jessie tanpa ragu-ragu menyambut dengan wajah sumringah. “Bagaimana kalau kita makan di Steak~Stack?”

Julie menelan ludah.

Nama itu terdengar sangat familiar.

“Jess!” protes Kayla dengan tatapan tidak setuju.  Ia menggelengkan kepalanya dan berkata, “Tidak, tidak. Kita cari tempat lain yang lebih murah saja. Kau ingin merampok Lucy, ya? Tidak. Tidak.Tidak.”

Kayla mengucapkan kata ‘tidak’ sangat banyak, seolah-olah itu adalah hal yang paling berdosa yang akan mereka lakukan dan akan berakhir di penjara Guantanamo di Kuba. Wajah Jessie langsung berubah suntuk. “Aah, ayolah,” rengek Jessie. “Aku sedang ingin makan steak.”

Mata Kayla membelalak.

“Apalagi steak,” protes Kayla. Ia berkacak pinggang dengan kening berkerut berlipat-lipat. “Kau tahu kan harga makanan di sana mahal-mahal? Kita bisa membuat Lucy bangkrut.”

Julie kini melirik ke arah Richard. Anak laki-laki itu ternyata juga sedang memandangnya sambil tersenyum simpul. Tampaknya mereka berdua sama-sama menyadari tempat yang dimaksud Jessie barusan. Julie menyengir sedikit, merasakan ada alien yang sedang mengaduk perutnya.

“Aku setuju,” tambah Julie tiba-tiba. Entah kenapa, ia ingin menggagalkan pertemuan mereka di tempat itu. Ia sendiri tak punya alasan yang masuk akal. “Aku tak yakin kita berdelapan akan muat duduk di sana. Tempat duduknya benar-benar—uhm.”

Julie berdehem. Ia mencoba memanggil kembali semua memorinya tentang tempat itu. Apa pun yang bisa menggagalkan rencana itu. “—sempit. Kursi di sana sempit-sempit.”

Julie ingat sekarang.

Julie pernah bersentuhan kulit dengan Richard di sana. Pertama kalinya. Itu terjadi saat ia melakukan wawancara liputan kemenangan turnamen catur di pertemuan pertama mereka, dan itu rasanya mengerikan. Sangat mengerikan—ia tidak ingin mengingatnya. Ia akan menggigil kedinginan jika mengingatnya.

Tata letak furnitur di sana juga aneh, serba tumpang tindih dan berdesak-desakan. Dan lagi, kursi-kursi Steak~Stack menurutnya terlalu sempit untuk ras manusia—mungkin lebih cocok untuk kurcaci.

Alam bawah sadarnya telah mem-blacklist kedai Steak~Stack secara otomatis dari sel-sel otaknya.

Richard melihat Julie sebentar.

“Aku pernah ke sana dengan ibuku,” kata Richard. Ia mengatakannya dengan tenang, seolah-olah merasa yakin akan apa yang diucapkannya. “Makanannya sangat enak.”

Pernyataan Richard barusan cukup membuat Julie bingung. Pasalnya, ia dan Richard jelas-jelas pernah menghabiskan waktu di sana berdua, tapi ia tak menyinggung hal itu sama sekali. Ia tak tahu apakah Richard hanya sedang berusaha menjaga rahasia—mungkin untuk menjaga perasaan Cathy; padahal cerita tentang wawancara liputan itu juga toh sudah bukan rahasia umum lagi di antara geng mereka—atau justru karena Richard dan ibunya memang pernah pergi ke tempat itu sebelumnya.

“Ruangan ber-AC di bagian samping sebenarnya cukup luas,” kata Richard, menjawab keterangan yang disampaikan Julie tadi. “Meja-meja yang kecil di bagian belakang memang cukup sempit, tapi meja-meja yang ada di ruangan ber-AC di kedai itu sebenarnya cukup luas dan nyaman. Jika beberapa meja digabungkan, kurasa masih cukup besar untuk 8-10 orang.”

Benar juga.

Penyebab kenapa ingatannya sangat buruk tentang kursi-kursi di kedai Steak~Stack adalah karena Julie hanya memilih kursi-kursi yang letaknya terselubung di bagian paling belakang. Posisi duduknya sangat strategis untuk kabur kapan saja di mana saja, tanpa ketahuan orang-orang di pintu depan, namun layout-nya tidak lebih nyaman daripada kursi dan meja lainnya yang ada di depan—atau di samping.

Julie sempat curiga, jangan-jangan kursi dan meja di situ sebenarnya adalah properti-properti restoran yang kebetulan jumlahnya kelebihan dan ternyata akhirnya diputuskan untuk digeletakkan begitu saja.

“Tapi kan itu—” kata Julie. Suaranya semakin mengecil. “—mahal?”

Lucy mengibaskan tangannya. Berbeda dari keyakinan teman-temannya, menurutnya menghabiskan uang beberapa dolar untuk berterimakasih pada orang-orang yang sangat berarti baginya benar-benar bukan sesuatu yang harus diperhitungkan.

“Tidak masalah,” kata Lucy. “Kalau kalian mau, di sana juga boleh. Hanya sekali-sekali kan, tidak apa-apa.”

Gadis-gadis itu terbelalak. Jessie melompat senang. “Serius??”

Lucy mengangguk.

“Sepulang sekolah, kita langsung berangkat ke sana, ya,” kata Lucy. “Kita berkumpul di depan aula utama. Setelah itu, langsung berjalan kaki ke sana. Jaraknya dekat, kan? Kalau tidak salah, dekat dengan rumah Julie.”

“Jangan sepulang sekolah,” sergah Julie. “Jam 4 saja, ya? Aku harus menyelesaikan urusanku dengan Jerry terlebih dahulu. Kalian berkumpul duluan saja, nanti aku menyusul.”

Cathy memicingkan mata.

“Apa? Menyusul?” tanya Cathy skeptis. “Sampai kiamat pun tidak akan terjadi. Aku tidak percaya padamu. Lebih tepatnya, aku tidak percaya kalau kau akan menyusul tepat waktu. Bisa-bisa, kami semua bisa berkarat menungguimu.”

“Tidak, tidak. Aku tidak akan telat deh,” kata Julie. “Jam 4. Di depan ruangan aula utama. Janji.”

Gadis-gadis itu memandang Julie dengan kening berkerut.

“OKE-OKE,” kata Julie lagi. Ia mendengus. “Jam 4—KURANG LIMA, di depan ruangan aula utama. Tidak akan telat. Janji.”

Gadis-gadis itu masih memandangnya dengan dingin, seperti anjing laut yang menatap mayat-mayat ikan dengan dingin, sebelum menghamburnya dengan penuh nafsu. Julie mengerang.

“KURANG SEPULUH,” ralat Julie sekali lagi.

Lucy mengangguk dan mereka tertawa.

“Oke,” kata Lucy. Suaranya terdengar bersamaan dengan suara bel penanda berakhirnya jam makan siang. “Sampai ketemu nanti, ya.”

***

13. Hari yang Ditunggu (3)

Julie berjalan terburu-buru menyusuri jalan lebar melingkar Circle Green yang menjadi salah satu daya tarik menarik bagi pengunjung jantung kota Eastcult. Awalnya Julie sempat menggerutu karena seandainya saja Taman Kota Evergreen tidak ditutup siang ini—karena ada persiapan untuk kampanye walikota nanti malam dan banyak petugas kampanye yang berkeliaran di mana-mana, ia pasti bisa mengambil jalan pintas yang lebih cepat tanpa harus mengitari pinggiran taman yang lebih panjang.

Julie tak tahu jam berapa sekarang. Tapi ia sangat tahu kalau ia datang terlambat. Lagi. Ia bahkan hampir lupa kalau hari ini mereka berjanji untuk menonton film, kalau saja tidak diingatkan oleh Kayla jam setengah dua tadi.

Cathy pasti ngamuk.

Julie sudah tiba di depan bioskop sekarang. Ia berdiri dengan punggung terbungkuk, kedua tangan memegang lututnya, dan mengatur napasnya yang terengah-engah. Ia kemudian merogoh ponsel yang ada di saku celananya, dan menurut jam digital yang ada di ponselnya itu, sudah pukul dua lewat lima belas sekarang. Julie melihat sekeliling.

Tidak ada seorang pun di sana.

“Ayo, angkatlah,” desah Julie sambil menempelkan ponselnya ke telinga. Ia mencoba menghubungi Kayla, Cathy, dan Cassandra, tapi tak seorang pun dari gadis-gadis itu yang mengangkat telepon mereka. Ponsel Jessie malah mati sama sekali.

Julie menggaruk kepalanya kebingungan.

Julie akhirnya memutuskan untuk berjalan sendiri menuju Ava Shopping Avenue yang letaknya hanya seperdelapan mil di arah utara, menyusul teman-temannya yang mungkin sudah ada di sana. Sambil melangkah sembrono, Julie memutar tubuhnya dan kepalanya beberapa kali untuk melihat-lihat pemandangan, seperti yang biasanya ia lakukan. Circle Green terlihat sangat ramai dengan orang-orang yang berjalan kaki, menikmati liburan akhir pekan mereka.

Julie terhenyak saat ia melihat seorang anak laki-laki bermata biru dan bersinar terang di balik kerumunan, tengah memandangnya dengan terkejut. Anak laki-laki itu berjalan menghampiri Julie dan membuat kaki Julie berderak seperti batu-batu tebing retak.

“Julie.”

Richard menghentikan langkahnya sebelum ia menjadi benar-benar dekat dengan Julie. Anak laki-laki itu menunduk sebentar, seperti sedang mengumpulkan kata-kata, untuk memecah keheningan yang janggal di antara mereka.

“Di mana yang lain?” kata Julie suatu ketika.

Anak laki-laki itu menampilkan senyuman yang kikuk, namun ukiran bibirnya yang indah itu tetap terlihat begitu manis dan menggoda. Julie menahan napasnya. Bola matanya melintir ke kiri dan ke kanan, mencari objek-objek lain untuk mengalihkan perhatiannya.

“Mereka sudah di Ava,” kata Richard, menahan napasnya saat ia memutuskan untuk memandang wajah gadis di hadapannya. “Tempat itu benar-benar ramai, penuh dengan ibu-ibu muda dan gadis-gadis yang berburu diskon. Sangat padat. Aku saja kesulitan bernapas di sana. Kayla menyuruhku keluar dan menunggumu saja di sini.”

Julie menelan ludahnya.

“Oh, begitu,” gumam Julie tidak jelas.

Julie teringat dengan hawa aneh yang ia rasakan dulu ketika pertama kali mengenal Richard. Lututnya mencair. Tulang-tulangnya menggigil kedinginan. Hawa mengerikan itu terulang lagi.

“Umm, ng,” gumam Julie sekali lagi. Otaknya berpikir cepat untuk mencari alasan agar bisa menghindar dari anak laki-laki itu sejauh-jauhnya. “Aku harus pergi sekarang. Aku belum beli tiket bioskop. Dagh.”

Julie tersenyum masam. Ia berjalan mundur satu langkah, namun sebelum gadis itu sempat membalikkan tubuhnya untuk membelakangi Richard, anak laki-laki itu bergerak maju untuk mencegahnya.

“Tunggu sebentar, Julie,” kata Richard.

Ia merogoh sakunya, mengambil selembar tiket bioskop. “Kami sudah membelikannya tadi.” Richard mengulurkan tangannya, menyerahkan tiket itu pada Julie. “Ini punyamu.”

Julie merasa partikel-partikel kulitnya bermutasi menjadi hijau dan berkulit belalang seperti alien dari Planet Zoird. Tangannya berubah bentuk menjadi tangkai kait bersisik kaku saat ia menerima tiket itu dari Richard.

Julie tertawa kecil, dengan napas yang tertahan. “Oh. Ya. Trims.”

“Aku sudah memesan kursi di kafe sebelah. Di bagian outdoor,” kata Richard. “Sebaiknya kita menunggu di sana saja. ”

Julie mengikuti Richard dengan patuh, tanpa mengucapkan sepatah katapun. Richard pun berjalan begitu saja, memandang Julie sebentar saat mereka tiba di kafe yang diceritakan Richard, dan mempersilakan duduk dengan datar. Pertemuannya hari ini dengan anak laki-laki ini, tanpa kehadiran gadis-gadis The Lady Bitches yang lain, benar-benar sunyi dan canggung.

Sejak insiden puisi yang terjadi waktu itu, Richard tak pernah lagi bicara padanya—atau lebih tepatnya, Julie tak pernah berani untuk mengatakan apa pun pada Richard—bahkan untuk menyampaikan permohonan maaf atas kesalahannya yang dulu.

Julie tak tahu apakah Richard sudah memaafkannya—atau malahan anak laki-laki itu mungkin justru tak pernah memikirkannya sama sekali—tapi ia masih merasa ada yang aneh dengan hubungan mereka berdua akhir-akhir ini.

Benar-benar ganjil. Perasaan aneh yang tidak menyenangkan yang dirasakannya tiap kali bersama dengan Richard. Dan perasaan itu bergejolak lagi sekarang, menjadi dingin dan sesak.

Tidak ada siapa pun yang menengahi pembicaraan di antara mereka saat ini. Tidak ada The Lady Bitches yang berisik, tidak ada Cathy yang bergelayut di lengan Richard. Mereka terdiam selama beberapa puluh detik, saling membuang pandangan ke arah yang berbeda.

“Kau ingin memesan sesuatu?” kata Richard tiba-tiba.

Julie tersenyum kikuk. “Ya.”

Richard memanggil seorang pelayan laki-laki yang berada tidak jauh dari mereka. Pelayan itu terlihat sibuk mencatat pesanan dari meja yang satunya lagi—meja nomor tujuh, dan memberikan isyarat dengan telunjuknya sebelum akhirnya menghampiri meja mereka.

“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” kata pelayan itu.

Richard memandang Julie. “Julie?”

“Um, yeah. Ng,” gumam Julie. Ia melihat daftar menu yang diberikan pelayan itu. Matanya sempat terpaku pada satu menu yang familiar, tapi ia langsung mengubah pikirannya. “Orange squash. Satu.”

Richard mendesah. Ia tersenyum pahit.

“Jus kiwi,” kata Richard. “Satu.”

Pelayan itu mengundurkan dirinya dengan sopan setelah mencatat pesanan mereka. Saat melihat pelayan itu pergi, Julie memikirkan hal yang tadi sempat mengusik benaknya. Ia  mengucapkannya tanpa sadar. “Kau tidak memesan jus cranberry?”

Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya.

Richard tersenyum kecil.

“Tidak,” kata Richard. “Kau juga?”

Julie menggigit bibirnya, merasa terintimidasi dengan ketololannya sendiri.

Orange squash,” kata Julie datar.

Mereka berdua terdiam lagi.

Julie kembali mengamati meja nomor tujuh yang tadi sempat menarik perhatiannya. Seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun tengah merengek pada ibunya. Anak laki-laki itu pun menangis keras saat ibunya memaksa memasukkan brokoli ke dalam mulutnya dan mengunci tangannya, sementara itu ayahnya memegangi kedua kakinya yang memberontak ke sana ke mari.

Pemandangan ini mengingatkan Julie pada masa kecilnya yang mirip sekali seperti yang baru saja dilihatnya. Bedanya, ibunya mengikat tangan Julie dengan tali pramuka, dan mengikatnya kakinya di kursi. Sedangkan ayahnya yang baik hati hanya bisa menatap iba, tak berdaya, dan tak mampu berbuat apa-apa, entah karena ngeri atau mengagumi keperkasaan istrinya sendiri.

Kadang-kadang Julie merasa seperti sedang dianiaya, berbagai macam percobaan siksaan dan sabotase makanan sering diterapkan ibunya padanya. Itulah sebabnya mengapa ia merasa sangat senang kalau bisa melakukan sesuatu untuk membalaskan dendam pada ibunya yang suka berbuat semena-mena.

“Kau tahu? Tadi malam aku mempraktekkan apel ulat seperti yang kau sarankan, dan ibuku berteriak sepert—”

Julie menghentikan napasnya.

Julie memandang mata biru Richard dengan kaku. Kepalanya berisi penuh dengan atom hidrogen dan bersiap-siap untuk mengembang, atau mungkin bereaksi fusi dengan matahari. Ia merasa amat tolol. Situasi ini membuatnya merasa ingin mencelupkan kepalanya ke gunung berapi.

“Seperti apa?” tanya Richard.

Julie menjawab asal-asalan. “Komodo.”

Richard mengulum senyumnya sedemikian rupa. Wajah dan telinganya memerah. Ia berusaha mengalihkan pandangan, tapi ia tidak tahan untuk mencuri pandang ke arah Julie. Ternyata gadis itu juga menatapnya, dengan bentuk wajah yang sangat aneh, dan akhirnya menyeringai seperti kuda.

Mereka berdua tertawa.

Mereka saling berpandangan dengan akrab, seolah-olah kembali lagi pada masa-masa lampau, ketika Richard masih meminum jus cranberry dan sedang mengajarinya cara membuat esai bahasa Prancis. Wajah Richard yang terlihat gembira telah membuatnya melupakan rasa asingnya pada anak laki-laki itu.

Mereka berdua telah melupakan masalah mereka.

“Ibuku memberiku makan kecoa mati,” kata Julie, tampak jijik dan geli. Ia tak tahu apa yang membuatnya merasa perlu untuk menceritakan hal ini, terlebih lagi pada anak laki-laki yang tadi sempat membuatnya kedinginan.

“Oh, ya?” kata Richard.

“Ya. Kecoa sungguhan. Mati. Di atas piring. Dia menyembunyikannya di bawah selada,” kata Julie. “Untung aku sudah menyelipkan apel laknat itu di atas meja.”

Julie tergelak.

“Aku benar-benar tak kuat menahan tawa saat ibuku mengunyah apel itu dan dia bilang ada cacing yang menggelitik bibirnya,” kata Julie lagi, menahan tawanya. Ia tak bisa menahan apa pun yang dilakukan oleh organ-organ tubuhnya kemudian. “Serius. Bagaimana kau bisa sampai pada ide hebat itu?”

Richard menunduk malu.

“Aku tak tahu,” kata Richard perlahan, menyunggingkan senyuman malu-malu di bibirnya yang melekuk menggemaskan. “Hanya ide yang sederhana. Kupikir itu ide yang bagus.”

Julie mengangguk senang.

“Ya, memang,” kata Julie sambil terkikih. “Aku saja hampir ti—”

Seorang pelayan yang membawa baki berisi dua gelas minuman datang menghampiri mereka dan memotong pembicaraan.

“Selamat siang,” kata pelayan itu sambil menurunkan dua gelas yang berisi orange squash dan jus kiwi. “Ini pesanannya. Ada lagi yang bisa saya bantu?”

Richard bertanya pada Julie, gadis itu menggeleng pelan. Ia kemudian tersenyum ramah pada pelayan laki-laki itu. “Tidak, terima kasih banyak.”

Julie menyeruput orange squash-nya. Ia mengamati Richard yang sedang sibuk membuang beberapa semut yang terapung di jus kiwinya, yang membuat Julie tak sadar kalau ia sendiri sudah menelan sekitar tiga atau empat ekor.

“Julie,” kata Richard. “Punyamu juga ada semutnya.”

Julie melongo. Ia mengaduk-aduk setengah gelas orange quash yang masih tersisa, dan tidak menemukan seekor semut pun di sana.

“Tampaknya mereka sudah di perutku semua,” kata Julie.

Richard tersenyum. Pipinya bersemu merah dan membuat wajahnya yang seputih pualam itu terlihat seperti es serut Hawaii yang manis dan menyegarkan.

Mereka saling bertatapan lagi.

Julie merasakan ada sensasi yang aneh di jantungnya. Sensasi itu sangat nyaman dan menyenangkan. Sejuk—dan menggigil kaku dalam waktu yang bersamaan.

Ia tak bisa bernapas.

Ponsel Richard berdering, membuyarkan konsentrasi mereka. Richard mengangkat telepon itu, mengangguk beberapa kali, sementara Julie menghabiskan orange squash-nya yang masih tersisa.

“Mereka sudah berjalan menuju bioskop sekarang,” kata Richard setelah menutup teleponnya. Ia menyeruput jus kiwinya, namun tidak menghabiskannya. Ia memanggil pelayan untuk meminta tagihan.

Julie baru saja akan mengambil dompetnya ketika Richard melambaikan tangannya untuk mencegahnya melakukan hal itu.

“Kali ini giliranku, kan?” kata Richard lembut. “Aku yang bayar.”

Julie menggigit bibirnya untuk menyembunyikan senyumnya yang sulit ditahan. Tiba-tiba ia teringat dengan pertemuan mereka di Perky’s House, saat Richard berkata kalau ia akan mentraktir Julie suatu saat nanti. Ternyata Richard masih mengingatnya. Entah mengapa, ia merasa senang.

Mereka berjalan keluar dan bertemu dengan The Lady Bitches tak jauh dari tempat mereka berada. Gadis-gadis itu menenteng plastik-plastik besar di kedua tangan mereka, Cassandra terlihat kepayahan dengan kantong kertas berukuran raksasa yang terpaksa harus dipeluknya di depan dada.

“Julie!” kata Jessie. “Kemana saja kau!? Sapi!”

Julie menyeringai seperti kuda.

“Sudah kubilang kan. Jangan terlambat, Bodoh!” kata Cathy. “Kau ini benar-benar membuatku emosi. Untung filmnya belum dimulai.” Ia melihat Richard dan berkata dengan manja. “Sayang, tolong bawakan belanjaanku, ya?”

Julie melihat Richard menghampiri Cathy dan membawakan satu kantong plastik di tangan kirinya, sementara tangan kanannya dirangkul Cathy dengan mesra. Ia tersenyum getir.

“Yaah—yang penting aku tidak telat nonton bioskop kan? Cassandra pasti sudah membeli pakaian untukku,“ kata Julie sambil membantu Cassandra mengangkat kantong kertas raksasa yang sedang dipeluknya. Cassandra tersenyum penuh arti.

“Kalau aku tidak meneleponmu tadi, kau pasti lebih terlambat dari ini kan?” kata Kayla. “Kau benar-benar harus mengubah kebiasaanmu, Julie.”

Julie memeriksa isi kantong itu dengan penasaran.

“Santailah, Kay,” kata Julie. “Lagipula, kurasa sekarang masih jam tiga kurang lima belas—atau semacamnya. Masih lama, kan? ”

Richard mengangkat tangan kirinya yang berisi barang belanjaan untuk melihat jam tangan. Napasnya langsung membeku.

“Sekarang jam tiga—kurang lima,” kata Richard. “Lima menit lagi.”

“APA!?” teriak gadis-gadis itu.

Mereka berenam berlari ke bioskop seperti orang gila.

13. Hari yang Ditunggu (2)

“Kau—apa?” tanya Cassandra menahan tawa.

“Ya,” kata Julie santai, lalu tertawa cekikikan. “Aku mengolesi toilet seat itu dengan balsem mentol rasa paprika.”

Gadis-gadis itu tertawa.

Julie telah lama menantikan datangnya hari ini dan ia hampir saja kehabisan ide untuk melancarkan niat isengnya ini. Ia tidak jadi menerapkan tipuan saus tomat di kue strawberry, karena ibunya sedang dalam mood yang buruk—biasanya ia tak mau memakan apapun yang berhubungan dengan strawberry.

Sampai akhirnya dua hari lalu Jerry datang menawarkan bantuan. Selain lelucon keran westafel, Jerry juga memberikan ide untuk menambahkannya dengan poster kecoa—ia dan Jerry mengerjakannya posternya selama seharian kemarin. Sementara itu, Kayla datang dengan balsem Arabnya di detik-detik terakhir.

“Jadi, kau menghabiskan balsem pemberianku hanya untuk mengerjai ibumu?’ ungkap Kayla sedikit kesal. “Dan kuberitahu lagi ya Julie, itu bukan balsem paprika. Itu terbuat dari rempah-rempah. Dan sebagian besar bahannya diimpor dari Asia Tenggara.”

“Terbuat dari apa?” tanya Julie. “Baunya aneh.”

Lucy menjawab, “Commiphora gileandensis, mungkin dicampur dengan pala dan minyak eucalyptus, atau daun mint seperti yang Julie bilang, cera alba, dan mungkin ada senyawa stearic aci—”

“Lucy, Lucy,” potong Cathy. “Cukup, cukup. Kepalaku sakit.”

“Jadi,” kata Jessie dengan nada tidak puas. “Kau membuat trik kali ini untuk mengerjai ibumu tanpa merasa perlu berkonsultasi lagi pada kami ya, Julie? Sangat soliter sekali.”

Julie terlihat tidak senang.

“Tidak, tentu saja. Aku sudah berkonsultasi padamu, Bodoh. Dan apa yang kau katakan waktu itu? Kau bilang, ‘Pura-pura menjadi orang waras saja, Julie. Mengikat diri di pohon. Atau mengembik seharian seperti kambing. Ibumu pasti shock.’ Heh—Kau pikir aku orang gila?” tukas Julie. “Lagipula, soal tipuan balsem itu sudah kuceritakan pada Lucy. Dan trik-trik lainnya pun baru mulai jelas saat aku mempraktekkannya seharian kemarin dengan Jerry. Aku berlatih sedikit cara mengikat keran dan dia membantuku mencetak kertas poster kecoa menjijikkan itu.”

Julie bergidik ngeri. “Kalian tahu kan aku benci kecoa? Aku benci mengakuinya, tapi Jerry bilang ini ide yang bagus. Ia bilang aku harus mempraktekkannya. Melawan rasa takutku. Setidaknya pengalaman ini melatih mentalku untuk melihat gambar kecoa.”

Julie mendadak sesak napas dan di saat yang bersamaan menjulurkan lidahnya seperti mau muntah. “Ratusan kecoa Madagaskar.”

Gadis-gadis itu terlihat sangat tertarik.

“Oh. Jerry lagi rupanya,” goda Cassandra.

Gadis-gadis itu mulai berkicau ribut seperti burung Kakapo di musim kawin. Cathy berteriak histeris dan berakting konyol meniru gerakan gadis opera yang jatuh cinta pada Romeo di atas panggung pertunjukan. Sementara itu, Jessie dan Nick mengeluarkan lenguhan aneh bersahut-sahutan seperti suara kera.

“Aku mengerti,” kata Kayla sambil mengangguk nakal. “Jadi, sudah seberapa dekat hubunganmu dengan anak laki-laki itu?”

Julie mengerang. “Gals.

Julie tak mengerti kenapa gadis-gadis ini—dan Nick yang Sinting—malah berfokus pada topik yang sama sekali tidak berhubungan dengan topik yang sedang dibicarakannya. Mereka seharusnya penasaran dengan bagaimana Julie akhirnya berhasil menempelkan poster kecoa itu di meja dapur rumahnya tanpa menjadi pingsan sebelum menyelesaikan misinya, atau bagaimana cara Julie mengikat karet gelang di keran westafel kamar mandi. Itu adalah misi yang membutuhkan kejeniusan.

Yeah. Yeah. Aku bingung menanggapi kalian,” kata Julie. Ia memutar-mutar jari telunjuknya di depan pelipis, seperti sedang mengisyaratkan sesuatu. Mereka tertawa semakin keras dan membuat Julie semakin kebingungan. Kadang-kadang ia merasa salah pilih pergaulan. Teman-temannya yang sama-sama sakit jiwa ini bisa membuatnya semakin sinting.

Tiba-tiba ia mendapatkan ide yang bagus.

“Lihat, ini sampel kertas posternya,” kata Julie sambil mengambil sepotong kertas bergambar kecoa yang sengaja ia siapkan tadi pagi untuk ditunjukkan ke teman-temannya. Ia meletakkannya tepat di depan muka Cathy. Gadis itu memekik ketakutan.

“JULIE!”

“Bagaimana? Keren kan?” kata Julie sambil tertawa. “Kalian seharusnya memuji kehebatanku. Aku sangat jenius dalam segala hal.”

Gadis-gadis itu terperangah saat Julie mengumumkan tentang kejeniusannya. Jessie—yang paling tidak terima jika kejeniusan dikaitkan dengan Julie—menunjukkan dengan wajahnya ekspresi yang paling tertekan yang pernah ada.

“Ngomong-ngomong soal jenius,” kata Nick. “Kau seharusnya tanya ke Richard, Julie. Kurasa maestro catur yang jenius ini pasti punya ide yang lebih gemilang daripada idenya Jerry. Bukan begitu, Richard?”

Richard terkejut saat namanya disebut. Ia tersenyum masam. “Tidak juga.”

Julie melihat ke arah Richard. Ia merasakan ada sesuatu pada kulit putihnya yang bercahaya itu yang bisa membuatnya resah dan tenang dalam waktu yang bersamaan. Napasnya menderu tidak jelas.

Cathy terlihat antusias. “Ayolah, Sayang. Tunjukkan kejeniusanmu di depan mereka. Aku yakin kau lebih hebat daripada pacarnya Julie.”

Julie mendumel.

“Heey! Dia bukan paca—”

“Seekor ulat,” kata Richard. “Seekor ulat di dalam apel. Kau bisa memasukkannya dengan cara mengebor lubang di bagian bawah apel. Letakkan apel kembali dengan posisi lubang yang berada di bawah. Ibumu tidak akan tahu ada ulat yang sudah dibubuhkan sebelumnya di dalam sana.”

Mereka terkesiap. “WOW.”

“Kau memang hebat, Kawan!” puji Nick sambil menjulur-julurkan bulu hidungnya dengan bangga. “Begitu sederhana dan sangat mudah. Sial. Kenapa aku tidak sempat memikirkannya, ya?”

Julie tak bisa memungkiri kalau itu ide yang cukup bagus. Tapi entah kenapa ia tak dapat menunjukkan respeknya. Ia malah menjawab skeptis. “Terlalu sederhana.”

“Kau bisa meniup balon dan meletakkannya di atas piring, bekukan di lemari es, lalu menghiasnya dengan whipped cream dan chocolate chips, cherry, atau topping lainnya, seperti sebuah kue ulang tahun,” kata Richard lagi. “Saat ibumu mencoba memotongnya dengan pisau, kue itu akan meledak dan whipped cream akan memenuhi seluruh wajahnya.”

Gadis-gadis itu terlihat girang. “Ada lagi? Ada lagi?”

“Kau bisa memasukkan kalajengking plastik ke dalam balon kue itu. Atau bangkai kalajengking sungguhan.”

Gadis-gadis itu berteriak histeris.

“Richard!!”

Nick dan Julie terkikih mendengar perkataan Richard yang benar-benar menggelikan, sementara gadis-gadis yang lain masih membayangkan kue balon kalajengking itu di benak mereka dengan bulu kuduk yang merinding.

“Yah. Tidak buruk juga,” seloroh Julie, tapi pandangannya berputar ke sana ke mari menghindari wajah Richard.

Richard tersenyum sedikit.

“Oh ya, ngomong-ngomong,” kata Nick sambil memandang gadis-gadis The Lady Bitches dengan penasaran. “Aku tahu Julie memang orang yang aneh, tapi aku tak tahu kalau dia ternyata sejahil ini. Selama ini dia terlihat seperti anak yang baik-baik, tidak pernah berbuat iseng pada siapapun. Apa kalian juga pernah dikerjai Julie?”

Jessie tergelak. “Tidak, tidak. Hanya ibunya.”

“Ya, hanya ibunya saja,” kata Kayla. “Julie selalu menjahili ibunya. Mereka berdua sudah seperti kucing dan anjing. Tapi Julie sangat setia pada kawan-kawannya. Dia akan melakukan apa pun untuk membuat sahabat-sahabatnya senang.”

Cathy membelalakkan matanya berlebih-lebihan.

“Kata siapa?” protes Cathy. “Kau lupa kalau Julie dan Jessie sialan itu pernah memasukkan saus tomat dan saus mayonaise ke fruit parfait-ku!?”

Julie menyengir seperti kuda.

“Jessie yang melakukannya,” kata Julie. Jessie memutar bola matanya tidak percaya. “Aku hanya mengikutinya saja.”

“Wah! Mengajak ribut lagi dia,” kata Jessie, nyaris menggeram. Suara dan alisnya serta-merta terangkat. Jessie dan Julie siap-siap berkelahi, kalau tidak segera dilerai Nick yang hampir terkena cakaran Jessie yang tidak tepat sasaran.

“Eh, sudah-sudah!”

Cathy merangkul Richard dan tampak tak tertarik.

“Aku bosan melihat kalian bertengkar. Kalau mau berkelahi, jangan di sini. Di meja ini ada tamu kehormatanku,” kata Cathy. Ia membenamkan kepalanya di bahu Richard dengan manja. Gadis-gadis yang lain bergemuruh dengan tatapan iri dan sebal. “Oh ya, sebelum aku lupa. Aku ingin mengajak kalian menonton premiere film ‘Star Trek’ Sabtu ini. Aktornya ganteng banget!”

Cathy menahan senyumnya.

“Tetap saja tidak bisa mengalahkan gantengnya Richard. Tapi aku senang saja bisa pamer.” Gadis itu tertawa puas. “Bagaimana, bisa kan?”

Gadis-gadis itu mengangguk semangat. Film ini sudah mereka bicarakan sejak berminggu-minggu yang lalu, dan Julie sangat tidak sabar untuk menyaksikan aksi heroik yang terbaru dari Kapten Kirk dan Si Pintar Spock yang selalu diwarnai dengan petualangan-petualangan seru.

Nick menggeleng.

“Sabtu ini?” kata Nick. “Aku ada janji dengan adik perempuanku.”

Julie mengernyit. “Kau punya adik?”

“Tentu saja aku punya,” jawab Nick sambil mendengus. “Memangnya kau tak lihat aura seorang kakak yang hangat dan kebapakan di dalam wajahku yang tampan ini?”

Julie langsung sesak napas.

“Aku juga tak bisa,” kata Lucy. Ia tampak merasa sedikit bersalah dan lagi-lagi melakukan ekspresi favoritnya, memandangi  lantai. “Aku harus berlatih untuk kompetisi tim antar SMA di kota Heinswell hari Minggu besok. Kalian ingat, kan?”

Gadis-gadis itu mengeluh. “Yaah, Lucy.”

“Kupikir kau sudah terlalu banyak belajar, Lucy,” kata Cathy. “Bersenang-senanglah sedikit. Lagipula, kau masih bisa belajar nanti malam, besok pagi, atau besok malam, kan? Ayolah.”

Gadis-gadis yang lain ikut menimpali. “Ya, ya. Benar.”

Lucy hanya menggeleng.

“Oh, ya! Besok juga ada diskon besar-besaran di Ava Shopping Avenue. Kemarin aku lihat iklannya,” kata Cassandra. “Kita bisa sekalian mampir ke sana sebelum filmnya dimulai. Aku akan memilihkan blazer yang bagus untuk kalian.”

Gadis-gadis itu terlihat amat senang.

“Bagaimana, Lucy?”

Lucy hanya menunduk dan menjawab lemah. “Tidak. Maaf aku tidak bisa,” kata Lucy. “Aku harus belajar lebih giat, karena posisiku sebagai anggota tim kompetisi perwakilan Nimber tidak terlalu kuat. Selama ini, aku hanya tergabung di tim B, kalian ingat, kan?”

Julie ingat. Lucy pernah menceritakannya beberapa minggu yang lalu. Gadis itu pernah bercerita kalau ia terpilih menjadi salah satu kandidat perwakilan sekolah dalam kompetisi akademis, dan ia terlihat sangat gembira. Setelah mengikuti beberapa kali seleksi, akhirnya ternyata Lucy hanya dipercaya untuk menjadi bagian dari tim B, tim cadangan. Lucy merasa sangat sedih karena ia tidak bisa mengalahkan saingannya, Jennifer Montag, yang kemudian terpilih sebagai perwakilan dari kelas sepuluh di tim A.

“Aku ingin menunjukkan ke guru-guru pembimbing kalau aku layak dipilih,” kata Lucy. “Maafkan aku. Kuharap kalian mengerti.”

Gadis-gadis itu mengangguk. “Iya, Lucy. Tidak apa-apa, kok,” kata Kayla sambil tersenyum. Ia meremas tangan Lucy dengan lembut. “Aku sejujurnya sangat berharap kami bisa ikut menghadiri kompetisi itu. Tapi kota Heinswell sangat jauh. Dan guru pembimbing lomba tampaknya lebih suka untuk menghemat biaya akomodasi. Meskipun begitu, kau tahu doa dan dukungan kami akan selalu menyertaimu, Sayang.”

Lucy tersenyum dan memeluk Kayla dengan hangat.

Nick melenguh. “Oooh. Bagaimana denganku? Tidak adakah yang merindukanku? Aku harus mengantarkan Michelle ke Festival Sains di sekolahnya, menjadi tukang angkat-angkat barang-barang, memikul proyek gunung berapi buatan, dan peralatan sains teman-teman sekelompoknya yang banyaknya bukan main itu, sementara kalian bersenang-senang di bioskop.”

“Kau ajak saja Jessie,” kata Julie sambil meringkik.

“Tidak, tidak,” tukas Jessie, mengibas-ibaskan tangannya. “Aku sudah pernah bertemu dengan teman-temannya Michelle. Mereka gila.” Ia menunjukkan ekspresi masam dan frustrasi yang meyakinkan. “Michelle sih tidak apa—anak itu manis dan menggemaskan. Tapi, Si Gendut Judith dan temannya Hellen yang kurus kering dan keriting gimbal itu—mereka tak henti-hentinya menjambak-jambak kuncir rambutku.”

Mereka tertawa.

“Kau tahu Nick punya adik?” tanya Julie.

“Ya,” jawab Jessie. “Memangnya aku belum cerita? Seingatku aku sudah pernah menceritakannya pada kalian.”

Julie menggeleng.

“Oh, ya. Waktu itu memang tidak ada kau, Julie. Hanya ada aku, Kayla, dan Cassandra,” kata Jessie, sambil melihat ke langit-langit seperti berusaha mengingat. “Kalau tidak salah, kau sedang pacaran dengan Jerry.”

Mereka tertawa lagi sampai sakit perut.

Julie melihat Jessie dengan kesal, merasa ingin menjambak rambutnya. Kalau hari Sabtu besok Jessie memang tak jadi ikut menemani Nick mengantar adiknya ke sekolah, ia bersedia menggantikan Judith dan Hellen menjambak kuncirnya yang panjang itu.

Cathy menepuk tangannya. “Jadi bagaimana? Selain Lucy dan Nick, kalian semua bisa, kan?” Gadis itu lalu memandang pacarnya dengan tatapan manja. “Kau juga bisa kan, Sayang?”

Richard mengangguk sambil tersenyum.

“Baiklah,” kata Cathy. “Kita berkumpul jam setengah dua siang di depan bioskop Evergreen. Kalau tidak salah, filmnya mulai jam tiga. Kita bisa berbelanja sebentar.”

“Oh iya, satu lagi. Julie,” kata Cathy perlahan-lahan.

Julie terhenyak. “Apa?”

“Jangan. Telat.”

“Tidak,” kata Julie sambil tergelak. “Aku tidak mungkin tel—”

“Titik.” Cathy mendesis.

***

13. Hari yang Ditunggu

Lily mengusap kedua bola matanya.

Lily baru teringat kalau hari ini hari ulang tahunnya. Ia segera berlari ke kamar mandi dan melihat wajahnya di cermin.

“Baguslah,” kata Lily sambil mendesah lega. “Tidak ada apa-apa.”

Sejak Lily mengerjai Julie di hari ulang tahunnya yang ke-10 dengan memberikan kue berbentuk ovarium yang sedang tersenyum dengan tulisan “Congrats on Your Menstruation” sebagai hadiah menstruasi pertamanya—yang bahkan belum terjadi, sampai Julie berusia 14 tahun—kelakuan  anak perempuan itu berubah menjadi sangat mencurigakan.

Tahun lalu, gadis itu telah memasukkan obat tidur ke salah satu makanannya dan mencoret-coret wajahnya dengan spidol permanen sepanjang malam. Dua tahun lalu, gadis itu melumuri ranjang tidurnya dengan Green Kool Aid sehingga keesokan harinya ia terbangun dengan tubuh berlumuran bubuk hijau seperti Hulk. Tiga tahun lalu, gadis itu menukar isi shampoo Head & Shoulder milik Lily dengan campuran mayonaise dan susu kental manis. Empat tahun lalu, gadis itu meletakkan sebuah meja kayu berkaki empat tepat di atas tubuh Lily yang sedang tertidur di atas ranjang, dan menyemprotkan air untuk membangunkannya, sehingga ia terbangun dengan kepala yang benjol.

Lily tidak tahu lagi apa lagi yang akan dilakukannya tahun ini. Yang jelas, ia harus benar-benar waspada, karena anak gadis itu benar-benar berbahaya dan tidak bisa dipercaya. Entah kenapa, kali ini Lily merasa yakin kalau anak itu akan melakukan sesuatu lagi terhadap wajahnya, rambutnya, kepalanya, atau apapun itu yang berhubungan dengan permukaan tubuhnya.

Lily membuka keran air di wastafel untuk mencuci mukanya.

“AAAKHH!!” teriak Lily saat air di keran itu muncrat ke wajahnya. “JULIEEEE!!”

“Kenapa, Sayang?” kata Ethan.

Lily mendengar suara suaminya yang menggema di dalam kamar. Ia mengumpat kesal dan berusaha menyingkirkan rembesan air yang menempel di rambutnya yang basah. Gadis itu telah mengikat lubang keran di wastafel itu dengan karet gelang dan mengarahkan lubangnya ke arah muka.

“Keran ini sudah disabotase,” gerutu Lily sambil mengelap mukanya dengan handuk kecil yang menggantung di kamar mandi. “Apa lagi yang telah dia lakukan, Ethan? Kau tahu apa yang direncanakan Julie, kan?”

Ethan hanya tertawa pelan dan mengatakan kalau ia tidak tahu apa-apa. Lily berjalan keluar dari kamar mandi untuk melihat ekspresi suaminya yang terlihat tidak meyakinkan itu sambil memicingkan kedua mata. Ethan hanya tersenyum geli, ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Meskipun demikian, dari nada suaranya Lily tahu kalau laki-laki itu telah berkomplot dengan Julie.

“Aku tidak akan memaafkan anak itu kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk dalam hidupku hari ini,” kata Lily. “Aku tahu kau telah bersekongkol dengannya, Ethan. Tapi karena kau mencintaiku, kau akan memberitahukan padaku kejahatan apa lagi yang akan dilakukannya hari ini.”

Lily mendekat ke ranjang menghampiri Ethan yang baru bangkit dari posisi tidurnya dan ia mencoba menggoda suaminya dengan nada yang sedikit merayu.

“Kau tahu aku tidak bisa melakukannya,” kata Ethan. Ia membelai rambut Lily dan mengecup bibirnya dengan lembut. “Aku sudah berjanji pada Julie. Maafkan aku. Selamat ulang tahun, Sayang.”

Lily menghela napas panjang dan beranjak dari tempat tidurnya menuju ke dapur yang berada di bagian belakang rumah. Ia melihat dapurnya dipenuhi dengan kecoa-kecoa Madagaskar. Lily berteriak seperti orang kesetanan.

“Apa!? Apa yang terjadi dengan—dapurku!?!”

Lily menepuk kepalanya dengan mulut yang separuh ternganga.

Lily sekarang berusaha menarik dan menghembuskan napasnya dan menormalkan detak jantungnya yang berpacu seperti kuda. Ketika kewarasannya kembali, ia langsung berlari membabi buta ke arah ruang keluarga untuk menyelamatkan diri dari serbuan kecoa-kecoa itu. Lusinan kecoa Madagaskar—ya, Madagaskar, yang hitam, besar dan menggelikan—menyerbu dapurnya.

Ini adalah lelucon terburuk.

Setelah merenung selama beberapa menit di tempat persembunyiannya, ia segera menyadari keganjilan yang sedang terjadi. Ini benar-benar aneh. Julie seharusnya takut dengan kecoa. Bagaimana mungkin ia menyebarkan lusinan kecoa di dapur, sementara ia sendiri takut dengan hewan-hewan berkaki enam menggelikan itu?

Lily memutuskan untuk kembali ke dapur dengan langkah berani. Ia berjalan  mendekat ke arah kecoa-kecoa itu.

Kecoa-kecoa itu tidak bergerak. Kecoa-kecoa itu hanyalah lembaran kertas poster bergambar kecoa yang ditempel di meja dan kabinet, yang mirip sekali dengan kecoa sungguhan. Seperti yang Lily duga, ini pasti lelucon bodoh yang sengaja dipasang Julie untuk mengganggunya hari ini. Ia mencabut kertas poster itu dengan serampangan dan membawanya ke tangga menuju ke kamar atas.

“JULIE LIGHT!”

Lily membuka pintu kamar anak itu dan melihat isi di dalamnya. Tidak ada siapa-siapa. Ia memeriksa setiap inci sudut ruangan kamar tidur itu sambil memanggil nama anak itu berkali-kali. Di bawah selimut, di bawah ranjang, di kamar mandi, bahkan di balik tirai yang sangat sempit.

Tidak ada siapa-siapa.

Selama beberapa menit ia mencari gadis itu, gadis itu tak ditemukan di mana pun. Lily meringis kesal. Ia tidak tahu di mana anak itu berada dan ia sama sekali tidak tertarik untuk bermain petak umpet dengan anak nakal itu di situasi seperti ini. Ia pun memutuskan untuk kembali ke dapur dan menuruni tangga. Anak itu pasti cepat atau lambat akan menghampirinya di ruang makan untuk mengambil sarapan.

Lily tersentak saat melihat Julie sedang asyik duduk di atas kursi meja makan sambil mengoles rotinya. Gadis itu terlihat santai dan melirik ke arahnya sebentar sambil cengengesan. Ia tak tahu bagaimana anak itu bisa ada di sana tanpa sepengetahuannya. Seingatnya sebelum naik ke lantai atas tadi, tidak ada siapa-siapa di sana.

“Halo, Mom,” kata Julie lugu.

Lily memandang Julie dengan skeptis.

“Wajahmu terlihat segar,” kata Julie. Ia memakannya rotinya dengan santai. “Apa kau sudah melihat kado ulang tahun dariku?”

“Maksudmu, ini?” umpat Lily sambil menunjukkan robekan kertas-kertas poster bergambar kecoa yang tadi menempel di meja dan kabinet dapur.

Julie tertawa.

“Ternyata sudah,” kata Julie dengan nada biasa. “Bagaimana? Bagus, kan?”

Lily menggulung lengan bajunya dan mengepalkan tangannya di depan dada. “Apa lagi yang akan kau lakukan untuk mengerjaiku hari ini?”

Julie terbatuk-batuk saat mengunyah rotinya yang terakhir.

“Tidak, tidak. Itu saja,” kata Julie sambil menyeringai mencurigakan. “Selamat ulang tahun, Mom!”

Julie meraup segenggam blueberry dan mencium pipi ibunya. Sebelum gadis itu sempat mengambil tasnya dan meninggalkan rumah itu, Lily mencengkram kerah belakang bajunya, sehingga anak itu tidak  bisa bergerak.

“Mom,” protes Julie. “Lepaskan aku. Aku mau berangkat ke sekolah.”

Lily melihat jam dinding yang berada di dinding dapur. Jam itu menunjukkan pukul 6 lewat 25 menit. Ini terlalu pagi, pikirnya. Julie bahkan hampir tidak pernah berhasil bangun sendiri setiap pagi, bahkan dengan bantuan jam weker sekalipun, kecuali kalau ada maksud-maksud tertentu.

Mencurigakan.

“Kau tidak pernah berangkat sepagi ini,” kata Lily penuh curiga. “Oke, cuma sekali—dan itu juga aku tak pernah tahu kenapa.”

Lily teringat kalau beberapa waktu yang lalu, Julie sebenarnya pernah bangun pagi sendiri dan berangkat pagi-pagi buta ke sekolah, tanpa ia pernah tahu alasannya. Anak itu tak pernah mau mengatakan alasannya. Itu masih jadi misteri besar dalam hidupnya sampai sekarang.

“Apa lagi yang kau sembunyikan dariku, Nona?”

Julie mengerang seperti bayi rusa.

“Ayolah, Mom. Mau sampai kapan kau akan curiga terus padaku seperti ini?” keluh Julie penuh ratapan. “Aku harus berangkat sekolah pagi ini. Mr.Bouncer akan menghukumku kalau aku hari ini datang terlambat lagi. Bukankah kau sendiri yang selalu ingin aku bangun pagi dan datang ke sekolah tepat waktu?”

Lily menatap gadis itu dengan tajam. Gadis itu menyeringai cengengesan. Dalam hatinya ia sangat yakin bahwa ia tidak bisa mempercayai anak ini. Tapi kalau ia melarangnya pergi ke sekolah sekarang, bisa jadi besok pagi anak itu malah akan sengaja bermalas-malasan pergi ke sekolah dan menjadikan tindakannya hari ini sebagai sebuah alasan.

“Oke. Pergilah,” kata Lily. “Tapi ingat—kalau kau berbuat sesuatu lagi hari ini, aku akan meracuni makan malammu dengan kecoa sungguhan.”

Lily melepaskan cengkramannya. Gadis itu langsung menyambar tasnya. Ia berjalan dengan hati-hati menuju rak sepatu untuk mengambil sepatu sekolahnya, sambil mengawasi gerak-gerik Lily dengan waspada. Setelah selesai memasang tali sepatunya, anak itu berlari seperti orang gila.

“Daagh, Moom!”

Lily mengawasi gerak-geriknya hingga sosok gadis itu menghilang di balik pintu. Tidak ada hal lain yang terjadi. Lily mendesah lega. Kalau tahun ini kejahilan Julie ternyata hanya sebatas siraman air keran yang disabotase dan lelucon poster kecoa bodoh seperti ini saja, menurut Lily kemampuan gadis itu masih tidak ada apa-apanya.

Mungkin anak itu akan beraksi lagi nanti malam.

Lily berjalan kembali menuju ke kamarnya. Ia meremas dengan gemas robekan-robekan kertas poster yang masih berada di genggamannya dan melemparnya dengan enggan ke dalam tempat sampah di dalam kamarnya.

Tembakannya meleset.

“Ethan, kau belum memberikan kado untukku, kan?” kata Lily dengan malas. “Tolong masukkan sampah itu ke dalam tempat sampah, ya? Anakmu itu benar-benar minta aku kerjai nanti malam. Lelucon poster kecoa? Hah—tidak lucu. Aku bisa membuat lelucon yang lebih hebat lagi daripada itu.”

Lily membuka pintu kamar mandi dan menutupnya kembali. “Lihat saja nanti.”

Lily hampir saja akan memutar keran jebakan itu lagi, kalau saja ia tidak langsung teringat dengan jebakan yang dipasang Julie saat air keran tadi itu menyemprot mukanya. Ia menjadi semakin kesal.

Rasanya ia ingin menggilling anak itu dengan penggilingan cabe.

Sejak mengikuti kelas Yoga di Perkampungan India dua hari yang lalu, Lily telah menyadari kalau temperamennya semakin memburuk dan ia sedang berusaha keras untuk mengatasinya. Tekanan dalam pekerjaannya akhir-akhir ini memang membuatnya sangat pusing—client-nya sangat rewel dan tidak bisa diajak kompromi, ditambah lagi dengan kelakuan anak gadisnya yang menjadi-jadi itulah yang membuatnya semakin stress. Ia pikir manajemen emosinya harus dapat dikelola dengan lebih baik. Pembalasan dengan amarah sama sekali tidak menyelesaikan masalah.

Ia menarik napasnya perlahan-lahan.

Ia kini sibuk memikirkan masakan dashyat seperti apa yang akan ia siapkan untuk Julie nanti malam. Selama beberapa detik ia sempat berpikir untuk tidak usah mengizinkan gadis itu menikmati makan malam—tapi ia sadar kalau itu sama sekali tidak keren.

Lebih baik kalau ia membubuhkan kecoa sungguhan.

Lily membuka tutup toilet seat dan duduk di atasnya sambil merenung. Yoga gurunya mengatakan kalau mengendalikan napas adalah cara yang terbaik untuk mengendalikan pergerakan pikir, terlebih lagi—mengatur emosi. Ia pun menarik dan menghembuskan napasnya lagi dengan perlahan-lahan.

Lily merasakan ada sensasi yang aneh dan lengket yang terasa menempel di kedua pahanya. Ia segera berdiri dan memperhatikan kalau ada bau mint yang pedas dari toilet seat yang tadi didudukinya. Bau itu menyebar dengan cepat. Pantatnya mulai terasa pedas.

Lily panik. Ia segera meraih tisu untuk membersihkan gel yang menempel di pantatnya yang terasa sangat pedas, tapi tidak berhasil. Pantatnya semakin pedih dan panas seperti terbakar. Ia menyalakan keran wastafel tanpa sadar. Tiba-tiba keran itu mengamuk, penutup kerannya terlepas dan memuntahkan semprotan air dalam jumlah besar.

Lily menjerit.

“JULIEEEEEEEEEEEEEEE!!!!!!!!!!!”

***