17. Yang Sebenarnya (3)

Kayla sedang bersandar di balik dinding di dekat tangga.

“Maaf mengganggu waktumu, Richard,” katanya. “Ada yang perlu kubicarakan.”

Tak mudah mendapatkan waktu untuk berbicara berdua saja dengan anak laki-laki itu. Tidak hanya karena ada Cathy yang selalu berada di sisinya setiap saat, tapi juga karena sosok misteriusnya yang membuatnya terasa sulit. Kayla cukup beruntung karena siang itu presentasi tugas kelompok Aljabar mereka selesai dengan cepat, sehingga ia dapat melakukan pertemuan ini sebelum jam sekolah usai.

“Ada apa?” tanya anak laki-laki itu.

Kayla melihat sekeliling, memperhatikan dengan hati-hati, memastikan kembali tidak ada seorang pun yang mendengar pembicaraan mereka. Ia menatap wajah Richard dengan tenang.

“Ini sangat penting. Lebih dari apapun di dunia ini yang kuanggap penting. Kuharap kau mengatakan yang sebenarnya,” kata Kayla. Rasa sukanya pada Sang Pangeran itu selama ini telah menumpulkan kemampuannya, kemampuan observasi yang selalu ia andalkan. Tapi hasil pengamatannya akan peristiwa yang terjadi tadi siang tidak diragukan lagi.

Ia mengucapkannya dengan sangat jelas. “Apa kau menyukai Julie?”

Richard terdiam membatu.

Ekspresinya membeku. Otot wajahnya mengeras dan ia menahan napas cukup lama. Tidak sulit bagi Kayla untuk menerjemahkan arti dari keterdiaman anak laki-laki itu atas pertanyaannya barusan. Pembicaraan ini jelas-jelas membuatnya tidak nyaman.

“Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?” tanya Richard.

“Sikapmu padanya yang membuatku berpikir demikian,” jawab Kayla. “Selama ini aku tidak pernah memperhatikan dengan baik, tapi tadi siang aku akhirnya menyadarinya. Caramu memandang Julie berbeda dengan caramu memandang kami semua. Bahkan pada Cathy. Kau bukan menyukai Cathy, Richard. Kau menyukai Julie.”

Pernyataan Kayla benar-benar tajam dan cepat, seolah-olah langsung menghujam jantungnya. Richard tidak langsung menjawab. Ia menarik napasnya dalam-dalam dan lebih berhati-hati memikirkan kata-kata berikutnya yang akan diucapkannya.

“Jawabannya—tidak,” kata Richard tegas. “Apakah sudah cukup?”

Kayla membalas cepat. “Kurasa Julie juga menyukaimu.”

Richard bergidik. Kalimat itu menyeludukkan hawa dingin yang membuatnya merinding. Sekujur kulitnya menggelenyar saat Kayla mengucapkan kalimat itu. Kalimat yang sangat ingin didengarnya. Namun ia tahu, itu terdengar tidak masuk akal.

“Tidak mungkin,” katanya sambil tertawa miris, seperti sedang menertawakan dirinya sendiri. “Mengapa kau membicarakan ini?”

Kayla menjawab dalam.

“Karena aku ingin tahu yang sebenarnya.”

Kayla menatap Richard dengan segenap kesungguhan hatinya, berusaha sekuat mungkin meruntuhkan dinding yang selama ini dibangun oleh anak laki-laki itu. Dinding yang membuatnya tak tersentuh. Ia seperti seorang aktor yang memainkan sebuah permainan karakter yang tidak dapat Kayla lihat selama ini. Anak laki-laki itu–dia dan Julie–benar-benar sangat baik dan cekatan dalam menyamarkan perasaan mereka yang sebenarnya di depan mereka semua.

Richard belum berbicara apa-apa lagi, namun Kayla telah menangkap maksudnya.

“Kalau begitu,” tanya Kayla. “Apa aku keliru?”

Richard tersenyum lemah.

“Sudah kukatakan,” katanya. “Aku tidak menyukainya.”

Kayla menghembuskan napasnya, menyandarkan tubuhnya dengan santai di dinding yang terdekat.

“Kau tidak bisa berbohong padaku, Richard. Bukankah gadis-gadis itu selalu mengatakan kalau aku adalah pengamat yang baik? Aku tahu kau menyukai Julie,” katanya. “Sekarang maukah kau berterusterang padaku? Kenapa kau–memacari Cathy? Bukan Julie?”

“Aku tidak menyukai Julie,” jawab anak laki-laki itu sekali lagi.

Kayla mengamati ekspresi Richard yang tidak berubah. Wajahnya terlihat keras dan sangat sulit dibaca. Kayla berdehem. Anak laki-laki itu benar-benar keras kepala. Kayla kemudian mengeluarkan sejurus pancingan.

“Tidakkah kau ingin tahu apa yang Julie pikirkan tentangmu?” tanyanya penuh selidik. Ia tak melepas intaiannya, namun menyiapkan jangkar yang cukup besar. Richard masih diam saja, tapi Kayla tahu anak laki-laki itu sedang memasang kupingnya dengan lebar-lebar.

“Aku rasa, dia mulai menyukaimu. Maksudku–benar-benar menyukaimu. Hanya saja ia sedang menyembunyikannya. Sama seperti yang kau lakukan sekarang,” kata Kayla, tersenyum penuh arti. “Tidakkah kau ingin tahu?”

Richard menghela napas. Napasnya terasa lebih berat dan jantungnya berdegup kencang. Ia mulai kesulitan mengontrol dirinya sendiri. “Jangan bercanda.”

Kayla tersenyum puas.

“Aku tidak bercanda,” katanya. “Dan aku akan menyampaikan hasil pengamatanku tentang perasaan Julie padamu, jika kau bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaanku dengan terus-terang.”

Richard memandang Kayla dengan penuh kecurigaan. Tawaran itu benar-benar menggoda. Ia ingin sekali tahu apa yang Julie pikirkan tentangnya. Tapi ia tak benar-benar yakin apakah ia bisa mempercayai Kayla.

Richard akhirnya mengangguk. “Baiklah,” katanya pelan. “Apa yang ingin kau tanyakan?”

Kayla tadinya akan mengulangi pertanyaannya yang pertama, tapi sekarang ia menyadari ada hal lain yang lebih menarik perhatiannya. Sebuah pertanyaan baru.

“Apa yang kau sukai dari Julie?”

“Aku tidak–” Richard hampir menyangkal. Ia menghentikan ucapannya secepat kilat dan memberikan waktu untuk dirinya sendiri untuk berpikir masak-masak.

“Dia gadis yang menyenangkan–“

Richard mengucapkan kata-katanya dengan nada standar. Sikap tubuhnya terlalu formal. Kayla masih menunggu penjelasan yang lebih lanjut dari anak laki-laki itu, tapi ia tidak mengatakan apa-apa lagi setelah mengucapkan, “–itu saja.”

Kayla menghela napasnya. Anak laki-laki ini benar-benar menyusahkan.

“Richard, kau membuat ini menjadi sulit,” desah Kayla, kehilangan kesabaran. “Berhentilah berpura-pura dan aku akan memberitahukanmu semua tentang Julie. Kita tidak punya banyak waktu, kau tahu?” Ia menggertak. “Atau kalau memang ini maumu, kita akan menghentikan pembicaraan ini dan anggap saja tawaranku tadi tidak pernah ada. Aku akan kembali ke kelas sekarang.”

Kayla bersiap-siap meninggalkan tempat itu. Ia sudah dua langkah berpindah dari tempatnya berdiri, saat Richard menarik tangannya. “Tidak. Tunggu!”

Richard dengan sopan meminta Kayla untuk tetap tinggal. Ia berpikir selama beberapa saat, terpaku pada konflik internal di dalam dirinya. Ia mencoba mempertimbangkan hal ini sekali lagi, namun ia menyadari kalau menyembunyikan hal ini sekarang bukan keputusan yang cerdas. Gadis itu terlalu pandai.

“Aku memang menyukai Julie,” kata Richard, akhirnya.

Kayla tidak bisa memungkiri kalau ia sedang berusaha susah payah menahan senyumnya. Julie adalah salah satu sahabat terbaiknya sejak mereka bersekolah di Springbutter, dan daya tarik feromon Julie yang ajaib itu sudah dikenalnya sejak bertahun-tahun. Dan di hadapannya sekarang, seorang pangeran yang mereka semua gila-gilai, menyatakan cintanya terhadap Julie.

Julie benar-benar telah mengalahkan mereka semua.

“Ia selalu punya seribu cara untuk membuat orang-orang menyukainya, bahkan tanpa ia menyadarinya. Aku tidak mengerti bagaimana dia melakukannya, seolah-olah ia memiliki feromon yang mengelilinginya,” kata Richard tanpa ragu-ragu. “Gadis itu selalu berbuat hal-hal konyol yang tidak kuduga-duga. Aku tak pernah bisa menebak kapan dia marah, kesal, sedih, senang. Tidak bisa menerka apa yang ada di pikirannya, karena di saat yang sama dia membuatku terkejut dengan tingkah lakunya yang unik.”

Richard tersenyum.

“Dia seperti sebuah kotak kejutan yang menyenangkan.”

“Kau yakin? Itu karena dia sangat bodoh,” kata Kayla menahan tawa. Richard menggunakan istilah yang sama dengannya. “Tapi aku setuju denganmu. Dia memang memiliki feromon yang kuat. Bahkan, feromon itu pun menarik perhatianmu.”

“Apa kau pikir dia menyukaiku?” tanya Richard ragu-ragu.

Kayla mengangguk. “Ya. Tidak salah lagi.”

Kayla merasa yakin dengan hasil pengamatannya, sebagaimana ia yakin dengan instingnya tentang perasaan Richard terhadap Julie. Richard tersenyum miring, hatinya menggelembung seperti balon udara yang akan terbang.

“Tapi mengapa ia selalu menghindariku? Rasanya seolah-olah ia membenci kehadiranku,” kata Richard putus asa, mencoba menurunkan harapannya sendiri. “Dia selalu menjauhiku setiap kali aku ingin mendekatinya. Sejak dulu. Aku tidak mengerti kenapa. Kupikir dia membenciku.”

“Karena dia menyukaimu, Richard,” jawab Kayla.

Kayla pun juga pernah menanyakan pertanyaan yang sama. Dulu. Ia memang sempat heran dengan sikap Julie yang selalu antipati terhadap Richard setiap kali The Lady Witches membicarakannya di kafetaria. Tapi entah kenapa ia justru selalu melupakan gagasan bahwa Julie menyukai anak laki-laki itu. Mungkin karena kenyataan bahwa The Unbeatable itu tidak pernah menyukai anak laki-laki manapun dalam hidupnya. Dan mungkin karena Julie memang selalu bersikap konyol sepanjang hidupnya.

Terlebih lagi karena Julie selalu mengatakan wajah Richard standar dan membosankan. Julie mengatakan kalau wajah Richard seperti lampu petromaks. Kayla dan teman-temannya akhirnya malah sibuk menanggapi pernyataan skeptisnya yang mengesalkan itu dengan tindakan anarkis mereka sehari-hari, ketimbang menyadari arti di balik sikap Julie yang sebenarnya.

“Julie tidak pernah menghindari anak laki-laki sedemikian rupa seperti dia menghindarimu, Richard. Dan itu sangat aneh. Seharusnya aku menyadarinya dari dulu,” lanjut Kayla. “Ia tak pernah jatuh cinta sebelumnya. Dan dengan sifat cuek dan kebodohannya itu, aku tahu dia tak akan mengakuinya sampai kapan pun. Dia bahkan mungkin belum menyadarinya.”

Atau mungkin sudah, pikir Kayla. Ia merasakan ada perbedaan yang aneh yang terjadi pada Julie hari ini. Pasti ada sesuatu yang terjadi padanya kemarin.

“Kau pun sama saja. Kau malahan berpacaran dengan Cathy. Kalian ini, benar-benar bodoh,” gerutu Kayla. Kayla melanjutkan pertanyaan berikutnya dengan tegas, “Kenapa kau berpacaran dengan Cathy?”

Richard termangu. Pertanyaan itu begitu sulit dijawab, bahkan ketika Nick menanyakannya. Ia sama sekali tak tahu jawabannya.

“Aku tak tahu,” kata Richard.

Richard menyadari kalau ia saat ini terdengar seperti seorang pecundang yang payah. Ia tidak bisa memberikan pembelaan terhadap dirinya sendiri. Pada kenyataannya, ia memang seorang pengecut. Ia terlalu takut untuk mendapatkan penolakan dari orang yang sangat disukainya.

“Mungkin kau benar,” kata Richard, menyesali kebodohannya. “Seharusnya dulu aku lebih berani mengungkapkan perasaanku pada Julie, bukan pada Cathy.”

Pernyataan Richard barusan mengubah suasana percakapan mereka.

“Apa maksudmu?” kata Kayla marah.

Ekspresi Kayla pun berubah. Tadinya gadis itu berharap Richard memberikan penjelasan yang logis atau semacamnya, alih-alih sebuah jawaban yang tidak menunjukkan kedewasaannya. Itu bukan jawaban yang ingin ia dengar.

“Kenapa kau berpacaran dengan Cathy sejak awal? Kau ingin membuat Julie cemburu?” Kayla mencecar. “Jadi selama ini kau sengaja menjadikan Cathy sebagai batu loncatanmu?”

Gadis itu sekarang tidak lagi terlihat ramah. Ia kecewa karena Richard memberikan jawaban yang terlalu kekanak-kanakan. Ia berubah menjadi seorang sahabat yang protektif dan terlihat sangat gusar.

“Bukan begitu,” kata Richard. “Aku tidak–“

“Keterlaluan. Kau hanya memikirkan dirimu sendiri saja. Kau tahu apa akibat perbuatanmu ini, Richard?” kata Kayla tidak sabar. “Kau akan menyakiti perasaan kedua sahabatku. Ya. Kau akan menyakiti mereka. Kau sedang menyakiti Cathy dengan kepura-puraanmu, kau juga menyakiti Julie karena sikap palsumu, kau tahu? Itukah yang kau mau?”

Richard terkejut.

“Tidak! Aku–aku hanya,” katanya terbata-bata. “Aku tidak tahu apa yang kulakukan. Aku memang bodoh, Kay. Tapi aku tak berniat menyakiti siapapun. Percayalah!”

Kayla menatap anak laki-laki yang kini berada di hadapannya. Ia tidak pernah sekalipun membayangkan akan melihatnya dalam situasi seperti ini, Richard benar-benar terlihat berbeda. Kali ini, untuk pertama kalinya, Kayla akhirnya mampu memandang Richard sebagai seorang anak laki-laki biasa, teman biasa yang berbuat kesalahan dan sedang terpuruk karena masalah cinta.

“Maafkan aku.” Richard menunduk lemah.

Anak laki-laki itu kini menyembunyikan ekspresinya yang terpukul dengan wajah yang berpaling. Ada secercah nada pedih yang menyelimuti kata-katanya, dalam suara rendahnya yang selembut beledu.

“Aku tahu tindakanku ini sangat bodoh dan irasional. Entah kenapa, setiap kali berurusan dengan Julie, aku selalu kehilangan akal sehatku. Harusnya aku tahu, harapanku akan cinta Julie hanya menyakiti perasaanku. Kupikir jika aku memilih Cathy, aku dapat melupakan Julie dan menjadi lebih gembira.”

“Bodoh,” sasar Kayla. “Benar-benar bodoh.”

Mereka berdua terdiam dalam keheningan.

Richard terlalu lama memandang kejauhan untuk menyesali apa yang telah ia katakan, sementara itu Kayla sedang berdiam diri untuk merenungkan cara yang terbaik untuk menyelesaikan masalah ini. Mereka berdua tidak saling berbicara ataupun berpandangan.

Keheningan yang ganjil itu pecah saat bel pulang sekolah berbunyi, hampir bersamaan dengan sebuah suara yang familiar yang menimpali mereka dari arah tangga. Suara Cathy.

“Richard? Kayla?” tanya Cathy, memandang curiga. “Apa yang sedang kalian lakukan di sini?”

Mereka berdua terperanjat.

Cathy datang di saat yang benar-benar tidak tepat. Kayla belum memutuskan apa yang akan ia lakukan terhadap fakta yang baru saja ia ketahui itu, sedangkan Richard sangat ingin keluar dari situasi yang tidak menguntungkan ini dan pergi menyendiri. Cathy menaiki anak tangga, dengan cepat menghampiri mereka, tanpa mengetahui apa-apa.

“Apa yang sedang kalian lakukan, Sayang?” tanya Cathy sekali lagi, sambil bergelayut. “Kalian tidak diam-diam berselingkuh di belakangku, kan?”

Kayla menatap Richard dengan pandangan tajam. Ia sudah memutuskan jawabannya.

“Kau harus mengatakannya sekarang, Richard,” kata Kayla tegas. “Kau harus mengatakan yang sebenarnya pada Cathy. Ini saatnya mengakhirinya.”

Gagasan itu terdengar mustahil.

“Apa?” kata Richard. “Tidak.”

Cathy melihat mereka berdua dengan keheranan. “Mengatakan apa?”

“Tidak. Aku ingin bersama Cathy sekarang,” kata Richard. “Aku sudah memutuskannya, Kayla. Aku ingin bersama Cathy.”

“Dan menurutmu aku percaya padamu?” cecar Kayla. Ia tahu persis bahwa kenyatannya tidak demikian. “Aku tidak ingin kau menyakitinya lebih lama lagi. Ini harus diakhiri sekarang, sebelum benar-benar terlambat. Kau harus mengatakan yang sebenarnya pada Cathy. Sekarang juga.”

“Mengatakan apa?” tanya Cathy penasaran.

“Richard?” kata Kayla.

Richard memilih bergeming. Ia tidak mengeluarkan satu patah kata pun. Ini bukan bagian dari rencananya. Ia menyesali keputusannya mengatakan hal ini pada Kayla. Kayla tidak mengerti. Ini hanya memperburuk keadaan. Seharusnya ia memang tidak menceritakannya pada siapa-siapa.

“Katakan yang sebenarnya, Richard. Kau harus bertanggungjawab,” kata Kayla. “Kau ingin menyembunyikan ini sampai berapa lama lagi? Pahamilah, semakin lama kebohongan dirahasiakan, maka konsekuensinya akan semakin besar. Lebih baik jika diakhiri sekarang.”

Richard tetap merasa tidak sependapat dengan gagasan tersebut.

“Baiklah, kalau kau tidak mau mengatakannya, biar aku yang mengatakannya,” kata Kayla kemudian. “Jangan panik, Cath. Kau harus berjanji untuk belajar menyikapi ini dengan kepala dingin, atau aku tidak akan memberitahukanmu.”

Cathy mengangguk. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

“Richard baru saja mengatakan padaku bahwa ia menyukai Julie.”

“Apa?” Cathy membelalak.

“Richard menyukai Julie sejak lama dan ia merahasiakannya darimu. Ia telah merahasiakannya dari kita semua,” kata Kayla dengan lugas. “Aku tahu ini hal yang menyakitkan untukmu, tapi aku ingin kau mengetahuinya, Cath. Aku ingin kalian menyelesaikan masalah ini dengan baik-baik.”

Cathy memandang tak percaya. Darahnya mendidih dan dadanya terasa sangat panas. Amarah yang tidak terbendung membakar mulutnya. “Benarkah itu, Richard?”

Richard masih tidak menjawab. Ia membuang muka dan rahangnya terasa kaku, tak bisa digerakkan.

“Richard!” hardik Cathy. Suaranya terdengar mengerikan.

“Cathy–” kata Kayla mencoba menenangkan.

Tenggorokan Richard tercekat. Ini benar-benar situasi yang sangat sulit untuknya. Rahangnya sulit digerakkan. Sangat sulit. Ekspresinya keras dan pahit, tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya nanti.

“RICHARD!!!”

“Ya,” kata Richard sangat pelan. “Itu benar.”

Mata Cathy berkaca-kaca. Ia menggelengkan kepalanya tidak percaya dan melepaskan rangkulannya dari lengan Richard.

“Sudah kuduga, sudah kuduga. Kau dan gadis itu–,” kata Cathy penuh emosi, dan perlahan air matanya menetes membasahi wajahnya yang sangat marah. “Kenapa? Kenapa kau melakukan ini padaku? Kenapa dia? KENAPA JULIE!!”

Cathy berteriak seperti kerasukan. “JULIE!”

Ia berlari dengan cepat menuju keramaian. Sosoknya mulai menghilang di tengah kerumunan siswa yang mulai memadati setiap koridor. Kayla menyesal karena tidak mengestimasi reaksi ini. Ia tahu ke mana perginya gadis itu. Dan perasaannya tidak enak.

“Sial! Richard, kita harus berlari mengejarnya!” kata Kayla pada Richard. “Sekarang!”

***

17. Yang Sebenarnya (2)

Sekarang mereka bertujuh telah berada di kafetaria–minus Lucy, yang beberapa menit lalu dipanggil ke ruangan Mrs.Salander. Mereka tak henti-hentinya memandangi Julie, seolah-olah gadis itu memiliki tiga insang di kepalanya.

“Kenapa kalian memandangiku terus?” kata Julie. “Aku hanya tidak masuk sehari dan kalian sudah begitu merindukanku.”

Nick memain-mainkan bulu hidungnya dengan santai.

Yeah, pada kenyataannya mereka memang merindukanmu, Julie. Mereka tak henti-hentinya menanyakan keadaanmu di kafetaria kemarin. Kau hilang tanpa kabar,” kata Nick. “Akui saja Jessie. Kau merindukan Julie, kan? Kau sangat pendiam kemarin, sampai-sampai kupikir kau kehilangan pita suaramu.”

Nick melirik ke arah Richard dengan senyum penuh arti.

Nonsense,” kata Jessie. “Tidak mungkin aku merindukan Sapi Bodoh itu. Lagipula, aku sama sekali tidak pendiam kemarin. Kau tahu sendiri kita membicarakan soal walrus dan kemiripannya dengan Julie.”

Julie melongo. “Apa.”

Jessie menjulurkan giginya seperti walrus dan menunjuk-nunjuk ke arah Julie. Nick memberikan efek suara.

“Tapi memang benar, Julie. Kafetaria ini terasa sepi tanpamu,” kata Kayla sambil tertawa. “Aku rindu melihat pertengkaran kalian berdua, walaupun kadang-kadang kalian bisa benar-benar–” Tiba-tiba meja mereka bergetar karena Julie dan Jessie sedang beradu cakar seperti kucing jalanan. “–menyebalkan. HEI!”

Kayla langsung menyesali ucapannya barusan. Kelakuan mereka berdua benar-benar membuatnya kehabisan kesabaran.

“Jerry mencarimu kemarin,” kata Cassandra. “Katanya dia sangat rindu padamu.”

Gadis-gadis itu bersiul-siul kesenangan. Keriuhan mereka benar-benar membuat kesal. Julie merasa asap lokomotif keluar dari ubun-ubunnya.

“Tidak mungkin. Dia kan sedang marah padaku,” timpal Julie. “Lagipula, kenapa kalian harus membahas soal Jerry terus-menerus? Aku benar-benar bosan sampai-sampai telingaku penuh dengan sarang laba-laba.”

Kebiasaan The Lady Witches membicarakan Jerry akhir-akhir ini sudah hampir sama menyebalkannya seperti saat mereka terus-menerus membicarakan Richard dulu. Sejak Cathy jadian dengan Richard, mereka tidak pernah lagi membicarakan Richard dengan nada histeris. Mereka mulai mengalihkan perhatian mereka pada hubungan Julie dan Jerry.

“Aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Jerry, oke? Harus berapa kali kukatakan pada kalian,” kata Julie. “Kumohon kali ini saja, mengertilah. Aku sangat menginginkan kehidupan yang normal di Nimberland. Damai dan tentram. Oke?”

Julie mengalihkan pandangannya ke Richard. Anak laki-laki itu sedang menatapnya juga dengan matanya yang biru dan lembut, wajahnya terlihat pucat dan khawatir. Julie tersenyum padanya. Pipi Richard merona, terlihat lega.

“Jadi, apakah ada anak laki-laki lain yang kau sukai, Julie?” tanya Kayla tiba-tiba, memperhatikan perilaku mereka diam-diam.

Julie menggeliat.

“Tidak.” Ia meralat ucapannya kembali. “Oh, baiklah. Ada. Mr.Bouncer.”

“Mr.Bouncer merindukanm–“

Julie buru-buru memotong. “Jadi, ada berita apa kemarin? Apakah aku ketinggalan sesuatu?”

“Tidak. Hanya lagu bodoh Cathy,” jawab Nick. “Dia memaksa semua orang menyanyikannya. Masalahnya, lagu itu ia persembahkan hanya untuk Richard, dan aku juga dipaksa menyanyikan lagu yang sama. Bisakah kau melihat betapa konyolnya hal itu?”

“Lagu apa?” tanya Julie.

Semua orang menatap Kayla, mengetahui bahwa hanya Kayla satu-satunya yang kemarin mampu menyanyikan lagu itu dengan indah dan benar. Sebagai anggota klub Paduan Suara sekolah, kemampuannya yang satu itu memang sangat diandalkan.

“Oh, baiklah,” keluh Kayla. “They Long To Be–Close To You. The Carpenters. Pernahkah kau mendengarnya?”

Why do birds suddenly appear

Everytime you are near

Just like me, they long to be

Close to you

 

Why do stars fall down from the sky

Everytime you walk by

Just like me, they long to be

Close to you

Julie terkesiap. Lagu itu benar-benar menggambarkan Richard dengan sangat baik. Sekarang gadis-gadis itu bernyanyi bersama.

On the day that you were born

The angels got together

And decided to create a dream come true

So, they sprinkled moon dust in your hair of gold

And star-light in your eyes of blue

 

That is why all the girls in town follow you all around.

Just like me, they long to be close to you…

Just like me, they long to be close to you…

Suara yang lain terdengar sangat menyakitkan telinga–terutama suara Jessie yang cempreng–segera setelah mereka memutuskan untuk menyusul nyanyian Kayla. Apalagi suara Nick yang muncul di akhir-akhir, yang terdengar seperti lolongan orang gila. Julie hampir saja menutup kupingnya.

Tapi lagu ini, entah kenapa membuat Julie melakukan sesuatu yang tak pernah ingin ia lakukan dulu. Ia menatap wajah Richard, mengagumi wajahnya yang rupawan.

Menikmati ketampanannya.

Ia menyadari betapa menyenangkan dan meneduhkannya sinar matanya yang indah, dan lekukan bibirnya yang sempurna. Julie tersenyum. Cathy sangat beruntung bisa mendapatkan hatinya. Benar-benar beruntung.

“Lagu yang bagus,” kata Julie. “Dari mana kau mendapatkannya, Cath?”

Cathy merengut. Gadis berambut coklat itu tak terlihat bersemangat seperti biasanya. Wajahnya ditekuk, dan ia menopang dagunya dengan sebelah tangan, menandakan kalau ia sedang merasa kesal.

“Sepupuku,” katanya malas, tak menunjukkan minat sama sekali.

Julie keheranan. Ia juga baru menyadari kalau Cathy belum mengucapkan sepatah katapun dari tadi. Biasanya gadis itu selalu paling heboh di meja kafetaria mereka.

Ia melirik sekelilingnya untuk meminta petunjuk tentang apa yang sedang terjadi. Kayla berinisiatif menjelaskan, “Dia sedang ngambek.”

“Oh,” gumam Julie. “Kenapa?”

“Karena kemarin saat ia menyanyikan lagu itu, Richard tidak terlihat bersemangat,” jawab Cassandra. “Ia kesal dan tidak mau bicara apa-apa lagi.”

“Dan tampaknya masih bersambung sampai sekarang,” lanjut Jessie.

Julie melihat ke arah Cathy yang masih menopang dagunya dengan sebelah tangan, dan Richard yang tampak kuyu seperti balita kurang gizi. Ia tertawa sebentar, lalu menatap Richard dengan gaya memerintah.

“Kau harus melakukan sesuatu,” kata Julie pada Richard, yang terlihat kaget dan pipinya bersemu merah.

Dan biasanya anak laki-laki itu selalu memilih untuk hanya berdiam saja dan mengamati percakapan mereka. Tapi kali ini, sepotong kalimat yang memancing dari Julie barusan telah membuatnya lebih bersemangat untuk mengeluarkan suara.

“Apa?” tanya Richard perlahan.

Julie menyengir. “Kau harus ikut menyanyi.”

Richard terperangah. “Aku?”

Sebagai orang yang dipersembahkan lagu, Richard memang tidak ikut menyanyi saat gadis-gadis itu menyanyi untuknya. Mereka menyanyikan lagu itu dan ia hanya mendengarkan–sudah lebih dari cukup baginya.

“Aku–aku tak bisa,” Richard terlihat bimbang. Ia melirik Nick yang sedang menahan tawa. “Aku–“

“Ayolah,” kata Julie memberi semangat.

Richard terlihat salah tingkah. Julie memberi perintah sekali lagi, disusul dengan suara keriuhan gadis-gadis The Lady Witches lainnya yang sangat menyukai ide Julie. Cathy mulai terlihat antusias.

Richard mendesah panjang. Sama seperti Nick, ia pun tak suka menyanyi. Tapi ia tidak bisa menolak saat Julie yang meminta padanya.

Richard bernyanyi perlahan, “why do birds suddenly appear, everytime you are near?”

Mereka terdiam.

Suaranya seperti piano. Lembut dan merdu. “Just like me, they long to be–“ Ia memandang Julie. “–close to you.”

Richard berhenti menyanyi. Ia terlihat kebingungan karena orang-orang di sekelilingnya malah terdiam mematung.

Rasanya sudah sangat lama sekali sejak terakhir mereka menghabiskan waktu di kafetaria untuk mengagumi pesona Richard seperti sekarang ini. Gadis-gadis itu tidak bergerak sama sekali, menghabiskan waktu mereka dalam lamunan, bahkan seekor lalat pun tak mampu membuyarkan konsentrasi mereka. Tiga puluh detik kemudian, gadis-gadis The Lady Witches mendapatkan kesadaran mereka kembali.

“WOW!”

Tak perlu tingkat kecerdasan seperti Albert Einstein untuk mengetahui bahwa mereka benar-benar tersihir oleh suara Richard yang merdu. Bahkan Julie pun sangat menyukainya. Gadis itu berkali-kali menahan senyum tanpa menyadarinya.

“Aku tak tahu kalau kau juga pandai bernyanyi,” kata Jessie dengan dramatis, yang membuat Nick merasa jengkel. “Benar-benar bagus!”

“Kau seharusnya masuk klub Paduan Suara saja, Richard,” kata Cassandra. “Suaramu merdu sekali. Bahkan lebih bagus daripada Thayton.”

“Aku setuju,” kata Kayla. “Suaramu sangat bagus. Aku bisa merekomendasikanmu untuk masuk ke tim lomba Paduan Suara, Richard. Kalau kau tertarik.”

Richard menundukkan kepalanya dengan malu, menyadari betapa konyolnya hal yang baru saja ia lakukan di depan teman-temannya.

“Tidak,” kata Cathy sekonyong-konyong. “Tidak akan kuizinkan.”

Gadis-gadis itu menatap Cathy bingung.

“Suara Richard memang bagus, tapi suara itu hanya milikku. Tidak akan kuizinkan siapapun mendengarnya,” kata Cathy dengan sikap dingin. “Dia akan menyanyi hanya untukku saja. TITIK.”

Gadis-gadis itu mencibir dan menjulurkan lidah.

“Pelit,” kata Jessie.

Cathy tak menggubris ucapan Jessie. Ia merangkul Richard dengan erat, seolah-olah telah lupa dengan kemarahannya tadi.

“Bukannya tadi kau menyia-nyiakan pacarmu, Cath?” kata Cassandra. Ia menyebutkannya dengan cepat, karena malu tapi mau, menahan merah di pipinya. “Kalau kau tidak mau–Richard buat aku saja!”

Gadis-gadis itu ramai menimpali.

“Tidak! Buat aku saja!”

Mereka tertawa.

Cathy bergelayut manja di sisi Richard. Mood-nya sudah berubah. “Tidak akan pernah.”

Tidak butuh lama sampai akhirnya suasana di kafetaria itu normal kembali. Cathy kembali menjadi gadis yang ceria dan membuat heboh meja mereka dengan berita-berita terbarunya yang tidak penting. Cassandra mulai berani menyatakan pendapatnya tentang Richard yang semakin tampan. Nick dan Jessie berdebat soal siapa yang paling tampan antara dirinya dengan Richard.

Sementara itu, Kayla masih diam-diam memperhatikan perilaku Julie yang terlihat mencurigakan. Kadang-kadang ia pun memperhatikan perilaku Richard yang aneh.

Ternyata ada sesuatu yang luput dari perhatiannya selama ini.

***

17. Yang Sebenarnya

Julie telah masuk sekolah hari ini. Pengalamannya sakit selama sehari kemarin membuat semua orang bertanya apa yang terjadi padanya. Julie tak pernah absen sebelumnya dari sekolah, kecuali karena alasan terlambat dan tidak diizinkan masuk oleh satpam penjaga sekolah.

Bahkan Jessie pun kini bertanya-tanya.

“Kau sakit?” tanya Jessie dengan nada sarkastis. “Kau sakit apa, Julie? Kau tidak pernah sakit seumur hidupmu.”

Julie mengangkat pundaknya dengan santai.

“Cacar monyet.”

Jessie mendelik. Ia mencubit lengan Julie dengan cubitan memutar. Julie berteriak kesakitan. Sementara itu, Kayla hanya tertawa sambil melipat kedua tangannya.

“Kau tidak pernah bisa diajak serius,” omel Jessie. “Sapi.”

“Kami ke rumahmu kemarin untuk menjenguk—Jessie, Nick, Cathy, Richard, Lucy, Cassandra, dan aku,” kata Kayla, memotong pertengkaran itu dengan cuek. “Tapi kau sedang tertidur, Julie. Apakah Mrs. Light menyampaikan pesan bingkisan dari kami?”

Julie mengangguk. Kemarin malam, ia benar-benar dibuat takjub saat Lily membangunkannya untuk makan malam dan menyodorkan buah-buahan itu sebagai pencuci mulut.

“Ya,” kata Julie. “Sepaket bingkisan buah-buahan, kan? Dan semuanya dari keluarga berry. Strawberry. Cranberry. Blackberry. Blueberry. Raspberry. Di mana kalian membelinya, ngomong-ngomong?”

“The Villager’s. Milik saudara jauh Nick di Ernest,” kata Jessie sekonyong-konyong. Ia terlihat antusias. “Bagaimana dengan coklatnya?”

“Coklat?

“Iya, coklat—” kata Jessie. “Aku yakin kau pasti langsung jadi sembuh gara-gara makan coklat itu.”

Kening Kayla berkerut mendengar pernyataan Jessie barusan.

“Aku tak percaya kau tetap memasukkan coklat itu, Jess!” protes Kayla. “Kupikir kemarin sudah jelas saat Lucy menjelaskan dampak-dampak negatifnya padamu. Terutama kalau penyakit Julie ternyata berhubungan dengan kadar insulinnya yang—”

“Kay! Ayolah,” protes Jessie. “Coklat adalah makanan dari surga yang bersifat menyembuhkan—”

Gals,” potong Julie kebingungan. “Serius, coklat apa?”

Jessie tersenyum merekah.

“Aku memasukkan sebatang coklat Cadbury Dairy Milk Black Forest ke dalam bingkisan buah-buahan itu,” kata Jessie sambil menyeringai puas. “Lucy berkali-kali melarangku, tapi aku berhasil menyelipkannya di bawah rangkaian strawberry dan blackberry yang hitam. Sudahkah kau memakannya?”

Kayla menatap Jessie dengan sorot mengkritik, mengetahui kalau gadis bebal itu ternyata masih berusaha menyelundupkan coklat itu ke rumah Julie tanpa sepengetahuan mereka kemarin. Jessie menyaput poninya santai, pura-pura tidak terjadi apa-apa.

Julie merenung sejenak. Ekspresi Julie berubah masam. Ia baru ingat sekarang. Lily adalah penggemar coklat Cadbury. Ibunya menggila-gilai coklat itu melebihi cintanya pada Hans Solo dan Captain Kirk yang selalu diidolakannya.

“Jess,” kata Julie murung. “Itu coklat kesukaan Mom.”

Kedua gadis itu tertawa terbahak-bahak. Mereka menyadari kalau coklat itu ternyata telah disensor oleh pihak ketiga yang lebih menyukainya, Mrs Light. Dan biasanya Mrs.Light sangat suka merahasiakan pencurian-pencurian kecilnya itu dari Julie. Coklat itu tidak akan bertahan lama.

Kayla yang paling senang mendengar kabar itu.

“Selamat,” kata Kayla sambil tertawa. “Kurasa ini hari baikmu. Sudah kubilang kan, sebaiknya kau memang tidak makan coklat kalau sedang sakit.” Ia melirik Jessie penuh arti. “Ngomong-ngomong, kau sebenarnya sakit apa, Julie? Aku tidak pernah melihatmu sakit sebelumnya.”

Kayla mengulangi pertanyaan Jessie sebelumnya, tapi Julie tak tertarik untuk benar-benar menjawab. Ia hanya menjawab asal-asalan. “Rabies.”

Jessie mencubit lengan Julie lagi dengan kesal. Julie berteriak kesakitan. “Kenapa denganmu? Lihat tanganku biru-biru semua, karena ulahmu.”

Tak seberapa jauh dari mereka, kira-kira 100 kaki di sebelah utara, Julie melihat Richard sedang berjalan bersama dengan Nick ke arah toilet laki-laki. Perasaan yang berbeda Julie rasakan kali ini, perasaan getir dan hangat yang merangkak bersamaan di dalam dadanya membuatnya menahan napas selama beberapa detik.

Julie tiba-tiba terpikir sesuatu yang sangat penting.

“Aku ingin bertanya sesuatu padamu,” kata Julie pada Jessie dengan nada menyelidik. “Kenapa kau bilang kalau tidak seorang pun dari kalian yang mampu bicara pada Richard tentang Emma, dan akhirnya kau memaksa-maksaku untuk melakukannya?”

Ia teringat betapa ia ingin mencincang Jessie kemarin. Jessie hanya terkikih salah tingkah.

“Masa? Aku bilang begitu?” kata Jessie, pura-pura lugu. Ia melambatkan suaranya dengan ragu-ragu. “Mungkin karena—umm, tidak ada yang bisa melakukannya?”

“Kayla sudah melakukannya sebelum aku. Persis seperti yang sudah kukatakan padamu waktu itu, Bodoh? Kau tidak membutuhkan aku untuk berbicara pada Richard,” kata Julie. “Kau benar-benar membuat kepalaku meletus!”

“Kayla? Kayla melakukannya?” tanya Jessie. “Tapi kata Nick, kau orang yang paling tepat untuk melakukan hal ini.”

“Yeah, Kayla sudah melakukannya, dan kau membuat aku terlihat seperti orang bodoh,” kata Julie uring-uringan.

“Aku tak tahu kalau Kayla bisa melakukannya. Kalau aku sendiri tak bisa bicara langsung pada Richard, aku terlalu grogi. Kupikir gadis-gadis The Lady Witches yang lainnya juga sama sepert—”

“Apa??” kata Julie geram. “Jadi, kau bahkan belum berkonsultasi pada Kayla?”

Jessie menutup kupingnya yang membengkak.

Mendengar namanya disebut-sebut, Kayla menjadi penasaran.

“Halo? Kalian bicara seolah-olah tidak ada aku di sebelah kalian berdua,” tukas Kayla. “Kalian sedang membicarakan apa sebenarnya? Richard? Julie, kau berbicara dengan Richard?”

Julie memutar bola matanya seperti zombie.

Kayla menantang curiga. “Kalian menyimpan rahasia tanpaku, ya?”

Julie melayangkan pandangan panik pada Jessie, tapi ternyata itu sudah terlambat.

“Aku meminta tolong pada Julie untuk memberitahu Richard soal Emma,” ujar Jessie membuka mulut. “Soalnya aku cukup khawatir dengan Cathy dan aku rasa gadis itu menyembunyikan sesuatu dari kita semua.”

“Kenapa Julie?” tanya Kayla sambil tertawa.

Julie menanggapi dengan cepat. “Tepat! Aku juga menanyakan pertanyaan yang sama. Kenapa aku??” Julie meringis. “Dan mengetahui bahwa Kayla ternyata telah memberitahu Richard sebelum aku, membuatku merasa sangat kesal padamu.”

“Soalnya Nick yang—” kata Jessie sepotong, tiba-tiba terpikir hal lain yang lebih menarik. “Kau sudah memberitahu Richard, Kay? Kau bilang apa padanya?”

Kayla mengangkat wajahnya.

“Tidak banyak,” kata Kayla. “Saat kita pulang dari kedai Steak~Stack hari Senin kemarin, aku menghampirinya sebentar. Tidak sampai dua menit. Aku hanya bilang padanya untuk lebih memperhatikan Cathy karena kurasa Cathy sangat sensitif pada isu tentang Emma.”

Julie menyadari kalau Richard juga mengatakan hal yang sama padanya dua hari yang lalu. Richard bilang kalau ia dan Kayla hanya berbicara sebentar tentang Emma. Itu berarti memang hanya Julie-lah satu-satunya yang sempat menceritakan pada Richard tentang perihal Emma dengan penjelasan yang lebih mendetail. Dan keputusan Jessie meminta tolong padanya tidak sepenuhnya salah, kalau dipikir-pikir lagi.

“Bagaimana denganmu Julie? Apa kau juga sudah berbicara dengan Richard?” tanya Kayla.

Julie mengangguk.

Yeah,” jawab Julie. “Aku mengatakan soal Cathy dan Mark, soal Cathy dan Jake Williams, soal Cathy yang dilabrak oleh gengnya Emma, soal geng Emma yang tiba-tiba menghilang. Semua yang kau minta tolong padaku, Jess.” Ia menggaruk-garuk kepalanya. “Richard bilang kalau ia akan mencari cara untuk—”

Julie menahan napasnya. “—melindungi Cathy.”

Julie sekarang mengerti kenapa tubuhnya sering bereaksi aneh setiap kali membicarakan soal Richard.

Ia merasakan jari-jemarinya gemetar, tapi ia sudah belajar untuk menguasai perasaannya sendiri. Ia sudah menerima kenyataan bahwa ia menyukai Richard. Ia tidak akan memungkirinya lagi. Tapi demi sahabatnya, ia akan berusaha untuk menghilangkan perasaan itu.

Sementara itu, Kayla merasakan ada sesuatu yang aneh. “Bagaimana caranya kau bisa berbicara pada Richard sebanyak itu, Julie? Kau pernah membuat pertemuan dengannya?” tanya Kayla. “Seingatku, kau dan Richard jarang berbicara. Apa kalian membuat pertemuan rahasia?”

Kayla memicingkan matanya dengan cermat. Mata elangnya mulai mendeteksi sesuatu yang asing yang sedang terjadi saat itu. Entah kenapa, firasatnya mengatakan kalau ada sesuatu yang ganjil di antara mereka berdua. Ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat.

“Ti—tidak, um,” kata Julie terbata-bata. Ini sangat gawat.

“Tidak,” kata Julie.

Kayla masih menatapnya dengan pandangan yang tajam, seolah tak ingin melewatkan sedetik pun yang berharga dari pengamatannya akan tindak-tanduk Julie. Kayla sudah lama tak melakukan ini padanya.

“Baiklah, baiklah. YA—,” kata Julie dengan suara melenguh, “—tapi itu karena Jessie yang memintaku melakukannya.”

Julie berbicara dengan sangat cepat, seolah-olah napasnya akan habis di ujung percakapan. “Aku membuat janji dengannya dua hari yang lalu, sore sepulang sekolah. Kami membicarakan soal Emma saat Richard membantuku mengerjakan tugas Prancis di Kedai Steak~Stack.”

“Apa?” kata Jessie. “Tugas Prancis? Richard membantumu mengerjakan—”

Yeah, Cerpen Prancis. Puas?” potong Julie. “Bukankah kau yang memaksaku untuk berbicara padanya apa pun caranya? Bagaimana caranya aku berbicara padanya tanpa membuat Cathy marah sementara aku tak pernah sekelas dengannya?” Julie bergumam.“Lagipula, aku memang butuh bantuan mengerjakan tugas itu.”

“Apa yang Richard katakan tentang hal ini?” tanya Kayla.

“Sudah kubilang, kan? Dia berjanji akan mencari cara untuk–” Julie menahan napas seperlima milidetik, “–melindungi Cathy. Richard belum memberitahuku bagaimana caranya. Tapi, setidaknya kita bisa cukup lega karena Richard kan pintar? Kurasa dia akan memikirkan sesuatu yang brilian atau semacamnya. Dia pasti bisa melindungi Cathy walaupun yeah, um–badannya kerempeng seperti cacing.”

Ucapan Julie barusan membuat Kayla terkikih geli. Ia sampai lupa berfokus dengan mata elangnya tadi. Sementara itu, Jessie masih berkutat dengan sesuatu hal yang mendadak mengganjal pikirannya. “Tunggu dulu.”

“Apa?”

“Tugas Prancis,” gumam Jessie. Jessie tiba-tiba mendapatkan pencerahan tentang misteri yang selama ini menghantui akal sehatnya. “Jangan-jangan selama ini, kau belajar bahasa Prancis dengan Richard!”

Jessie berteriak keras seperti angsa-angsa kelaparan. Julie terhentak kaget, lebih-lebih karena jantungnya mau copot mendengar suara cempreng Jessie yang memekakkan telinga.

“Apa?” kata Kayla.

Julie menggigit bibirnya, merasakan monyet-monyet Jumanji berkeliaran di kepalanya lagi. Ia benar-benar tidak mengerti kenapa gadis-gadis ini tiba-tiba menjadi sangat cerdas seperti ini. “Tidak, aku–“

Julie menghela napas.

“–TIDAK BELAJAR PRANCIS DENGAN RICHARD.” Lidahnya menari salsa. “Oke. Aku belajar Prancis dengan Richard. Tapi aku tidak belajar Prancis dengan Richard.”

Julie menggarisbawahi kata-katanya dengan hati-hati, “Kalian mengerti, kan?”

Kayla mengerutkan kening.

“Apa maksudmu?”

Jessie menyambar dengan tergesa-gesa.

“Sekarang aku mengerti. Pantas saja nilai-nilaimu membaik,” kata Jessie. “Aku tak percaya kau menyembunyikan hal ini. Kau belajar dengan Richard setiap hari. Kau bertemu dan tertawa dan bercanda dengannya setiap hari, kau–“

“Bukan SETIAP HARI, Bodoh,” umpat Julie. “Aku hanya bertemu dengannya tiga kali. TIGA KALI.” Julie menunjukkan dengan jari tangannya, memberi tanda dengan telunjuk, jari tengah, dan jari manis. “Pertama–saat liputan wawancara. Kedua–beberapa waktu yang lalu mengerjakan esai Prancis. Dan ketiga–kemarin. Hanya tiga kali.”

Julie menambahkan, “Dan apa maksudmu dengan muka yang jelek itu, Jess?”

“Jadi, kau sudah sering bertemu dengan Richard,” kata Kayla, yang langsung dikoreksi oleh Julie dengan wajah gemas dan tiga jarinya, “–baiklah. Seperti katamu, tiga kali. Tapi, kenapa kau merahasiakan hal ini dari kami semua?”

Julie sudah menduga kalau ini akan menjadi hal yang besar bagi The Lady Witches tentang pertemuannya dengan Richard. Ini sangat menjemukan.

“Apa yang kau harapkan, Kay? Aku bahkan hanya bertemu dengannya tiga kali saja sudah menjadi hal yang kalian besar-besarkan,” gerutu Julie. “Apa lagi kalau Cathy sampai tahu? Ayolah, aku tahu kalian. Kalian akan membuatnya seperti film Armageddon.”

Julie langsung memanfaatkan kelihaiannya mengganti topik, jurus melarikan diri yang selalu jadi andalannya.

“Pembicaraan ini bahkan tidak penting sama sekali, kalau dipikir-pikir, kan?” kata Julie sambil menyengir seperti kuda. “Bukankah tadi kita sedang membicarakan Cathy?”

Julie merangkul kedua gadis itu dengan memaksa.

“Ingat, jangan sampai Cathy tahu soal pertemuanku dengan Richard.”

***

16. Sesi Kejujuran (2)

Julie membuka matanya perlahan. Kepalanya masih terasa berat dan pusing. Samar-samar ia melihat Lily sedang mondar-mandir di dalam kamarnya, memindahkan barang-barangnya dari tempatnya.

“Butuh waktu setahun untuk membersihkan kamarmu, Julie,” kata Lily ketika menyadari gadis itu telah terbangun dari tidurnya. “Dan kenapa kau masih menyimpan potongan donat di bawah meja? Itu menjijikkan.”

Julie berkerut saat menyadari ada selembar fever patch yang menempel di dahinya.

“Mom,” kata Julie. “Apa yang kau lakukan?”

“Membersihkan kamarmu. Memangnya apa lagi?” tukas Lily. “Kau tahu? Aku ingin menari hula-hula di depanmu. Tapi aku harus membersihkan rongsokan ini terlebih dahulu. Sudah berapa lama aku menyuruhmu merapikan lemarimu, Julie? Sekarang kecoa-kecoa sudah berkembang biak dan membangun sebuah negara di sana.”

Lily menceracau tanpa henti.

“Dan kau tahu? Ponselmu bergetar terus,” kata Lily. “Aku mencoba mengangkatnya sekali, setelah itu dia meminta nomor PIN padaku. Kau harus berhenti mencurigai aku, Julie.”

Julie mengambil ponselnya. Lima puluh lima panggilan tidak terjawab. Satu dari Cathy. Dua dari Cassandra. Tiga dari Lucy. Lima dari Kayla. Dan harusnya Julie tidak terkejut dengan kenyataan ini. Empat puluh empat–dari Jessie. Dan sebelas pesan masuk dari teman-temannya. Semuanya menanyakan di mana keberadaan Julie.

Ada satu lagi pesan dari nomor tidak dikenal. Julie tidak pernah menyimpan nomor ini sebelumnya, tapi entah kenapa terasa familiar. Napas Julie terhenti saat mengetahui siapa yang mengirimkannya.

Aku sangat khawatir padamu.
Apakah kau baik-baik saja?

Richard.

Jantung Julie berdegup kencang. Tangannya menggigil dan tanpa sengaja ia melepas ponsel itu dari tangannya.

“Jadi, katakan padaku,” kata Lily. “Siapa anak laki-laki itu?”

Julie mengernyit.

“Apa?”

Lily tersenyum miring. “Yang membuatmu sakit.”

Julie merasa pertanyaan ibunya sangat konyol, ia tidak tertarik untuk menjawab.

“Ayolah,” kata Lily. Ia tergelak. “Kau tidak pernah sakit, Julie. Terakhir kali kau sakit, dan itu delapan tahun yang lalu–” Lily memanggil kembali memori masa lalunya, “–saat kau berumur tujuh tahun.”

Lily melipat baju terakhir yang tergantung di tangannya dan memasukkannya ke dalam drawer.

“Siapa namanya?”

Julie terdiam sebentar. Tapi bayangan anak laki-laki itu terus-menerus membuatnya gelisah. Entah kenapa, kini ia tidak dapat menahannya lagi.

“Richard,” katanya pelan.

Julie menyingkirkan ponselnya dari jangkauannya. Ia meletakkannya di belakang bantal.

“Richard?” tanya Lily.

Lily mengambil koran sekolah dan memperlihatkan halaman yang berisikan foto seorang anak laki-laki di sana, yang tadi dilihatnya saat merapikan tempat tidur Julie.

“Maksudmu, anak laki-laki tampan ini?” kata Lily.

Wajah Lily tiba-tiba merekah. Ia membentuk senyuman yang lebar. Ia memperhatikan foto itu dengan lekat-lekat, seolah-olah matanya tak dapat lepas dari setiap detail wajah yang mempesona itu.

“Mom, aku tak ingin membicarakannya,” kata Julie. Ia memalingkan wajahnya.

“Dari dulu seleramu selalu bagus, Julie,” kata Lily sambil mengangguk, tidak menghiraukan perkataan Julie. “Sangat tampan, benar-benar sangat tampan. Anak ini–Richard Soulwind? Apa kau menyukainya?”

Julie menjawab cepat. “Tidak.”

Lily tersenyum menggoda.

“Ayolah.”

“Kau tidak mendengarku, Mom?” jawab Julie. “Aku tidak ingin membicarakannya lagi. Jadi, berhentilah menggangguku.”

“Kau suka padanya.”

“Tidak.”

“Suka.”

“Tidak.”

“Iya.”

“Mom,” protes Julie. “Kau membuat kepalaku semakin sakit.”

Lily mengangkat tangan tanda menyerah.

“Baiklah, baiklah,” kata Lily akhirnya. “Kalau kau tak mau cerita, tidak apa-apa. Sekarang aku akan ke bawah, menyiapkan makan siang, dan membawakan obat untukmu. Apakah kau ingin kubawakan sesuatu?”

“Tidak,” kata Julie.

Lily meletakkan koran sekolah itu di atas ranjang, bersiap-siap pergi. Julie memperhatikan ibunya dengan seksama. Ia merasakan ada yang aneh dengan keberadaan ibunya. Ia tiba-tiba menyadari sesuatu. “Mom? Bukankah hari ini kau harus bertemu dengan klienmu?”

Lily tidak langsung menjawab.

“Hah?” tanya Lily, pura-pura tolol. Ia lalu terkikik. “Oh ya. Benar.”

Julie benar-benar bingung karena Lily menutup pintu kamarnya begitu saja dan menghilang tanpa penjelasan. Sekarang ia sendirian di dalam kamar. Julie memutuskan untuk mengambil kembali ponselnya dan memperhatikan lagi pesan dari Richard. Pesan itu dikirimkan kemarin pukul tujuh malam, ketika ia sudah tertidur.

Ia membayangkan suara Richard yang merdu mengucapkan kalimat itu padanya dengan wajahnya yang khawatir.

“Apa yang kupikirkan?” gumam Julie. Ia tidak mengerti. Dadanya sangat sakit.

Ia melihat koran sekolah di samping tempat tidurnya. Ia melihat puisi Richard yang terpampang di halaman paling atas. Ia teringat lagi dengan gagasan bodohnya tadi malam. Gagasan yang sangat bodoh.

Tidak mungkin.

“Bodoh,” umpat Julie. Ia berguling-guling untuk mengenyahkan gagasan itu dari pikirannya, sesegera mungkin.

Ia mulai berpikir apakah ia memang menyukai Richard. Tapi ia tak mengerti apakah rasanya memang seperti ini. Richard selalu membuat organ-organ tubuhnya berbuat hal-hal aneh yang tidak ia inginkan, dan anak laki-laki itu selalu membuatnya ingin melarikan diri. Ia ingin sekali menjauh dari anak laki-laki itu. Tapi ada sesuatu di dalam dirinya yang mengatakan bahwa itu tidak benar.

Sesuatu yang asing.

Sekelebat bayangan Richard mengenakan baju Hawaii biru mengusik benak Julie lagi. Wajahnya sangat tampan seperti malaikat, dan mata birunya bersinar cemerlang. Ia tersenyum dengan bibirnya yang manis seperti gulali, dan suara tawanya yang merdu terdengar meneduhkan. Entah mengapa, sekarang ia ingin sekali mendengar suara itu lagi.

Ia benar-benar pusing.

Terdengar bunyi berderak-derak dari gagang pintu yang bergetar karena Lily berusaha membuka pintu dengan sikunya. Dua tangannya sedang sibuk mengangkat baki yang berisikan semangkuk sup dan segelas air putih yang dibawanya secara hati-hati dan penuh keseimbangan, sementara itu sikunya dengan lihai memainkan peranan barunya yang signifikan. Ia lalu berjingkat pelan dan mendorong pintu itu dengan punggungnya saat pintu itu mulai terbuka.

“Makanan datang!” kata Lily dengan antusias.

Julie mencoba bangkit dari tidurnya dan bersandar di papan ranjang dalam posisi setengah duduk. Lily mulai menyuapinya seperti bayi, dan Julie menyambut dengan lemah. Ia sesungguhnya tidak berselera makan sama sekali, tapi ia justru melahap suapan sup dari ibunya dengan sangat cepat.

“Kelaparan ya, hah?” kata Lily sambil terkikih. Ia melanjutkan suapan itu dengan wajah senang. “Tentu saja. Kau kan belum makan apa-apa sejak pagi. Dan lagi, kau makan malam terlalu cepat kemarin, ya kan Julie? Apa yang kau makan di kedai Steak~Stack–ngomong-ngomong?”

Julie menjawab tanpa semangat. “Kentang goreng.”

Mata Lily terbelalak.

“Kentang goreng??” jerit Lily, seolah-olah seluruh dunia akan runtuh menimpa kepalanya. “Badanmu sudah kering kerontang seperti gurun pasir, Julie! Tidakkah kau lihat itu!? Dan kau benar-benar kurang asupan gizi sekarang. Orang-orang akan berpikir kau adalah tongkat yang bisa berjalan.”

Julie selalu berpikir kalau Lily benar-benar mirip dengan Cathy saat ia berteriak dramatis, tapi kali ini ia merasakan perasaan yang berbeda saat ibunya tiba-tiba memandangnya dengan lembut dan menyentuh tangannya.

“Kau adalah orang yang paling penting dalam hidupku, Julie,” kata Lily dengan suara yang nyaris terdengar. “Dan kau tak pernah menyadarinya.”

Lily terdiam sejenak.

“Wajar saja kalau kau jadi sakit sekarang dan menyusahkanku–“

Lily berdehem nakal. “–kalau bukan karena Richard.”

“Mom!”

Julie langsung menyesali kenapa ia mengatakan soal Richard pada ibunya. Itu adalah keputusan yang sangat bodoh. Normalnya, ia tidak akan pernah mengatakan apa pun pada ibunya. Apalagi soal Richard. Ia bahkan tidak pernah mengatakannya pada siapa pun. Demamnya hari ini malah membuatnya semakin tidak cerdas.

“Mom,” gumam Julie, mencoba mengungkit lagi topik yang tadi ingin diketahuinya. “Bagaimana dengan meeting-mu? Kau tidak membatalkannya karena aku, kan?”

Julie ingat benar kalau ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh ibunya. Lily sudah mempersiapkan ini sejak jauh-jauh hari sebelumnya. Mereka bahkan telah mempersiapkan jadwal piket hari ini untuk Julie menggantikan tugas Lily di rumah. Julie tidak ingin percaya kalau ia membatalkan semuanya begitu saja.

Lily mengangkat bahunya.

“Apa yang bisa kulakukan?” kata Lily, mencoba menambahkan pernyataan itu dengan nada humor. “Aku sudah menelepon Mr.Thompson untuk menegosiasikan pertemuan pengganti, tapi sepertinya ia tidak begitu senang. Kurasa aku harus mengikhlaskannya saja. Masih banyak ikan di laut, kan?”

Wanita itu tersenyum, tapi siapa pun bisa melihat semburat kekecewaan di balik wajahnya. Bahkan Julie mampu mengenali gurat kesedihan yang sangat jarang ia lihat dari ibunya.

“Pertemuan ini adalah salah satu mimpiku,” kata Lily. “Tapi kalau Tuhan mengatakan belum saatnya, berarti memang belum saatnya. Yah, anggap saja ini bukan hari keberuntunganku.”

Wanita itu membereskan peralatan makan yang sudah selesai dan mengambil obat dari bakinya.

Julie merasa tidak enak. “Mom, aku minta maaf. Seandainya saja aku tidak sakit hari ini, aku–“

“JULIE–” potong Lily. “Sudah berakhir. Tidak perlu dibahas lagi. Dan yang terpenting–” Lily tersenyum menuntut. “–kau harus bertanggung jawab sekarang. Ceritakan padaku tentang Richard.”

“Kau seharusnya tetap pergi ke meeting itu, Mom. Aku bisa mengurus diriku sendiri,” kata Julie.

Lily tertawa. “Jangan bercanda.”

Ia mencoba menyuapi Julie dengan sebutir paracetamol, meskipun mulut gadis itu malah sibuk dengan argumentasi-argumentasi konyol yang akan membuatnya menyesal dengan keputusannya hari ini. Gadis itu baru terdiam saat Lily memaksanya menelan obat.

“Aku belajar dari pengalamanku, Julie,” kata Lily kemudian. Ia teringat dengan kepergian janin pertamanya, alasan utama kenapa ia tak bisa meninggalkan Julie hari ini. “Ada hal-hal yang harus mendapat perhatian lebih dibandingkan dengan hal-hal lainnya. Hidup ini tidak selalu mudah, kau tahu? Itulah sebabnya kau harus menceritakan padaku soal Richard.”

“Mom,” protes Julie.

Lily tertawa kecil, menatap tidak percaya.

“Julie–setelah pengorbananku hari ini, kau masih ingin merahasiakannya dariku?” kata Lily. “Serius? Kau tidak kasihan padaku?”

Julie mendesah panjang. Ia harus memikirkan masak-masak keputusannya kali ini. Hanya saja, pikirannya terlalu kalut untuk dapat berpikir dengan jernih. Dan ibunya saat ini mungkin hanya satu-satunya orang yang dapat ia percaya. Ia tidak punya pilihan lain.

“Baiklah,” kata Julie. “Hanya saja–kumohon jangan beritahukan siapa-siapa. Jangan pernah! Kau harus berjanji, Mom.”

Lily mengangguk mantap, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia tidak akan senang kalau kata-katanya nanti malah membuat gadis ini berubah pikiran.

Julie menarik napas panjang. Sangat panjang.

“Anak laki-laki ini–Richard–adalah temanku di sekolah. Aku tak pernah sekelas dengannya,” kata Julie. ” Tidak sekali pun.”

“Kami hampir tak pernah bertemu sampai pertengahan semester. Aku bahkan selalu menghindarinya. Tapi semua orang membicarakannya, Mom. Semua gadis. Dia seperti magnet bagi para gadis di sekolah,” kata Julie. “Teman-temanku selalu membicarakannya. Sepanjang waktu. Setiap hari. Kapan pun. Di mana pun. Sampai-sampai aku mau muntah setiap kali aku mendengar namanya.”

Julie mengulum senyumnya dengan jenaka, mengingat betapa konyolnya kejadian itu. Matanya menerawang jauh. Rasanya seperti sudah terjadi sangat jauh di masa lalu.

“Dan kemudian, datanglah kesempatan itu. Aku dipaksa ketua klub koran sekolahku untuk mewawancarainya, dan akhirnya kami berkenalan,” ungkapnya. “Aku tak pernah bisa mengerti kenapa sejak dulu setiap kali berada di sekitarnya, aku tidak pernah merasa nyaman. Lututku selalu mencair, dan napasku tercekat, seolah-olah ia akan menghisap darahku seperti drakula. Aku tak tahu kenapa, tapi buatku, dia seperti Anak Laki-Laki dari Neraka. Orang yang kupikir tidak ingin aku temui sampai kapan pun dalam hidupku.”

Ia menegaskan itu seolah-olah hal yang sangat penting.

“Tapi sejak pertemuan wawancara itu, aku akhirnya tahu, Richard adalah anak laki-laki yang baik dan menyenangkan. Tidak seburuk yang kukira,” kata Julie. Ia tersenyum. “Kami akhirnya berteman untuk beberapa lama. Dia bahkan membantuku mengerjakan tugas Kelas Prancis.”

Lily mengangkat alisnya. Cerita ini terdengar sangat menarik.

“Richard ini, seperti apakah orangnya?” tanya Lily penasaran.

“Dia tampan. Dia sangat sopan dan cerdas. Dia selalu berkata lembut kapan pun ia mengeluarkan suara,” ungkapnya. “Ia sangat jarang berbicara, Mom. Tapi kau tidak akan melupakan suaranya yang merdu dan ramah. Dia bahkan berhasil membuatku menyukai bahasa Prancis.” Julie tiba-tiba menyadari ucapannya yang terdengar ganjil saat ibunya mendelik. “Yeah, yeah. HANYA JIKA dia yang mengucapkannya. Mom, kau tahu kalau aku sangat membenci kelas Prancis.”

Lily tertawa. “Lalu, apa yang terjadi?”

“Karena suatu kesalahpahaman, puisi yang ia buatkan untukku–aku sempat memintanya secara iseng saat wawancara–malah tercetak di koran sekolah dan membuat teman-temanku marah.” Julie mendesah. “Itu adalah awal dari segalanya.”

“Puisi?” tanya Lily.

“Ya, sebuah puisi. Hanya puisi biasa, Mom. Aku memintanya saat wawancara karena kudengar ia sangat piawai dalam merangkai kata-kata. Aku hanya penasaran saja. Dan memang sangat bagus,” kata Julie. “Tapi orang-orang akan menganggapnya lain. Itulah sebabnya aku merobeknya. Aku tidak ingin siapa pun melihatnya. Dan dia melihatku merobeknya. Kurasa dia tersinggung atau marah. Hubungan kami memburuk sejak saat itu.”

“Kenapa kau merobeknya, Julie?” tanya Lily, menggugah perhatian Julie.

“Aku tak tahu,” keluh Julie. “Aku hanya tak ingin siapa pun melihatnya. Mereka akan salah paham. Apalagi Cathy.”

“Cathy?” tanya Lily, mencoba mengingat-ingat. “Oh. Gadis Latin yang sangat cantik itu, kan?”

Julie mengangguk.

“Cathy sangat menyukai Richard. Dia pasti sangat marah jika mengetahui Richard membuatkan puisi untukku. Dan dia memang marah,” kata Julie. “Perlu waktu yang lama untuk berbaikan dengannya. Setidaknya–kalau saja Richard tidak memintanya menjadi pacarnya, akan lebih sulit bagiku untuk membuatnya percaya lagi padaku.”

“Richard apa?” tanya Lily setengah bingung.

“Richard sekarang berpacaran dengan Cathy, Mom,” kata Julie. “Dan hubungan kami mulai membaik lagi. Aku dan Cathy. Aku dan Richard. Semua sudah kembali seperti semula,” kata Julie. “Bahkan Richard membantuku lagi mengerjakan tugas Prancis kemarin sore. Cerpen Prancis.”

“Jadi, apa masalahnya?”

“Entahlah. Aku tak tahu.”

Julie sejujurnya memang tidak mengerti apa yang menjadi masalah dalam hidupnya saat ini. Hanya saja, entah kenapa ia merasa sangat sedih. Ia ingin memperbaiki keadaan yang bahkan ia tidak mengerti sama sekali. Ia benar-benar bingung.

“Aku tak pernah menceritakan ini pada siapa pun. Aku selalu merahasiakan pertemuanku dengan Richard dari teman-temanku,” kata Julie. “Aku tidak ingin mereka berpikir yang tidak-tidak. Mereka benar-benar menggila-gilai Richard. Sementara itu, mereka tahu kalau aku tidak pernah peduli pada anak laki-laki itu. Mereka akan membenciku jika mengetahui bahwa aku menemui Richard beberapa kali. Cathy akan membenciku.”

“Jadi, apa kau menyukainya?” tanya Lily.

“Tidak, aku–” potong Julie cepat. Ia terhenti sejenak. Ia mendesah panjang. “Tidak.”

Lily mengambil koran sekolah yang tergeletak di sampingnya. Ia mengamati wajah Richard sekali lagi, mencoba membayangkan seperti apakah wajah anak laki-laki itu dalam bentuk 3-dimensi. Wajah itu tidak membosankan untuk dipandang, seolah-olah menyita seluruh waktu mengagumi keindahannya.

Lily baru menyadari kalau ada sebuah puisi di halaman yang sama, di pojok kanan bawah. Melihat judul tulisan dan sub judul di bawahnya, sangat jelas bahwa ini adalah puisi yang dimaksudkan oleh Julie tadi.

“Puisi ini sangat manis,” kata Lily. “Dan anak ini sangat rupawan. Kalau aku jadi kau, aku pasti jatuh cinta padanya.” Lily mengamati puisi itu sekali lagi dan berteriak, “July! Julie. The summer of love. Kalau aku tidak mendengar ceritamu, aku pasti berpikir kalau dia menyukaimu, Julie. Puisi ini indah sekali.”

Julie tahu persis kalau kenyataannya adalah sebaliknya. Richard menyukai Cathy. Richard selalu menyukai Cathy. Dan tak ada yang salah dengan hal ini.

Tidak ada.

“Dia memang jenius. Dia juga membuatnya untuk Cathy Pierre, Mom. Gadis tercantik, sahabatku–“

Bibir Julie bergetar.

“–dan dia sangat mencintai gadis itu. Kekasihnya.”

“Kau cemburu?” tanya Lily. Ia menatap Julie dalam-dalam. “Akuilah Julie. Kau juga menyukainya, kan?”

Julie menggeleng lemah. “Tidak. Aku hanya–” Napasnya tersengal. Tanpa disadarinya, air matanya telah menggenang membasahi pipinya. “Kepalaku sakit, Mom. Demam.”

“Oh, Sayang,” kata Lily. Ia memeluk Julie dengan erat. Tubuh Julie sangat panas dan lemah, ia bisa merasakan air mata Julie mengalir di bahunya.

Ini pertama kalinya ia melihat Julie menangis, setelah bertahun-tahun lamanya ia tidak pernah merasakan kesedihan dari wajah gadis kecilnya itu.

“Sekarang, maukah kau mengakui padaku kalau kau juga menyukainya?” pinta Lily. Ia membelai rambut Julie dengan lembut. “Kau menyukainya, Julie.”

Julie tak bisa menahan matanya yang semakin panas.

“Katakan,” tukas Lily.

Julie hanya terdiam, namun ia merasakan pedih yang menyengat di dadanya.

“Katakan, Julie!”

“Aku–menyukainya.” Bibirnya terasa kelu.

“Lihat? Betapa mudahnya mengakui perasaanmu?” kata Lily. “Kau tidak akan bisa menghilangkannya jika kau terus-menerus menyangkalnya. Kenapa kau begitu sulit mengakui kalau kau mencintai dia?”

Napas Julie sesak hanya karena memikirkan hal itu. “Kenapa ini terasa menyakitkan? Aku tak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya,” kata Julie. “Aku tidak ingin merasakannya lagi, Mom.”

Lily terkikih. “Tidak sesederhana itu.”

“Apa yang harus kulakukan?” tanya Julie.

“Katakan yang sebenarnya pada teman-temanmu. Katakan yang sebenarnya pada Richard. Katakan kalau kau menyukainya,” kata Lily. “Memulainya dengan mengatakan kebenaran akan memberikanmu petunjuk bagaimana cara menyelesaikan masalah ini. Jangan sembunyikan lagi perasaanmu.”

Julie tercengang. Baginya, itu sama sekali bukan pilihan.

“Aku tak bisa,” tukas Julie. “Aku tak bisa melakukannya, Mom. Aku bisa kehilangan teman-temanku.”

Lily berkata dengan sabar.

“Aku tahu ini tak mudah. Tapi, kejujuran adalah hal yang tepat untuk dilakukan, sweetheart. Dan menunda masalah bukan jawabanmu. Kau tetap harus menghadapinya–cepat atau lambat,” kata Lily sekali lagi, berusaha meyakinkan putrinya. “Jika mereka memang teman-temanmu, mereka tidak akan pergi meninggalkanmu. Percayalah itu, Sayang.”

Julie hanya menunduk. Ia menggigit bibirnya dan berpikir panjang.

“Aku tak bisa. Ini akan menyakiti Cathy,” kata Julie. “Maafkan aku, Mom. Aku tak bisa.”

Lily tersenyum. Anak ini benar-benar persis seperti ayahnya–rapuh, mengalah, dan selalu mementingkan orang lain. Julie mungkin mendapatkan sifat cuek dan sembrono itu darinya, tapi jiwa tulus yang selalu rela berkorban demi teman-temannya adalah sesuatu yang ia warisi dari Ethan Light.

Lily sempat terpikir untuk mempengaruhi Julie sekali lagi, namun ia akhirnya mengurungkan niatnya. Gadis itu tampaknya cukup keras dengan pendiriannya untuk tidak mengatakan apa pun pada teman-temannya.

“Baiklah, jika menurutmu itu lebih baik,” kata Lily. “Lalu apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan bisa menerima kenyataan bahwa Richard sekarang bersama dengan Cathy dan mencintai gadis itu? Apa kau akan berkorban untuknya?”

Julie mengangguk. “Ya.”

Lily tersenyum. Meskipun ia meyakini kalau menjadi asertif dan menyelesaikan masalah dengan kejujuran adalah solusi yang lebih baik, ia menghormati pilihan putrinya itu. Biar bagaimana pun, solidaritas yang tinggi dan kebaikan hati Ethan adalah sesuatu yang ia kagumi dari dirinya sejak dulu.

Ia memeluk putrinya dengan hangat, membelai punggungnya dengan lembut. “Apa kau sudah merasa baikan?”

Julie mengangguk lagi. Wajahnya sudah terlihat lebih segar daripada sebelumnya, walaupun masih tampak lemah. “Terima kasih, Mom,” katanya. “Aku sayang padamu.”

Lily tersenyum dan memberikan sebuah kecupan di kening Julie.

“Aku akan ke bawah membawa baki ini dan membiarkanmu beristirahat dengan tenang,” kata Lily sambil membawa baki yang terasa cukup ringan. “Kau tahu? Ada cucian yang menunggu kasih sayangku di bawah.”

Lily tertawa kecil. Ia tahu pasti, ia tidak menyesali keputusannya hari ini. Kedekatannya dengan putrinya adalah hadiah yang jauh lebih berharga dibandingkan kenaikan karier apa pun.

Ia memutar gagang pintu dan setengah terhenti saat Julie memanggilnya. “Mom, bolehkah aku bertanya sesuatu?”

Lily mengangguk, mendengarkan dengan seksama.

“Apakah ketika aku sakit, aku akan selalu melihatmu seperti ini?” tanya Julie polos. Kening Lily berkerut. “Normal, baik hati–dan penuh kasih sayang seperti ibu-ibu lainnya?”

Lily tersedak. Pertanyaan itu membuat Lily terdengar seperti seorang maniak yang tidak waras yang selalu membuat keonaran dengannya. Melihat Julie mengucapkan kalimat itu dengan tubuhnya yang lemah dan wajahnya yang lugu, ia memilih untuk menjawabnya sambil tertawa.

“Ya,” kata Lily. “Aku akan jadi normal seperti ibu-ibu lainnya.”

Julie tersenyum.

“Tapi jika kau berpikir untuk sering-sering sakit, aku perlu memberitahumu kalau aku senang mengetahui hari ini kalau ternyata aku perlu membelikan bra ukuran baru untukmu. Survei lapangan. Kau tahu apa maksudku?” tambah Lily. Ia menyeringai cengengesan.

Matanya mengedip genit. “Cup B.”

Julie terperanjat. Ia tahu apa artinya itu.

“MOM!!!”

16. Sesi Kejujuran

mommy-girl-brunette1

Kurang lebih sudah sebulan lamanya, Julie tidak pernah lagi terlambat ke sekolah. Rekor terbaru itu baru terpecahkan sejak Lily terakhir kali dulu mengantarkannya ke sekolah dasar. Seingat Lily, Julie bahkan hampir tidak pernah melewatkan sebulan pun dalam hidupnya tanpa pengalaman terlambat ke sekolah. Seperti kebutuhan hidup sehari-hari, anak itu melakukannya minimal tiga kali dalam sebulan. Malah pernah juga dua minggu berturut-turut. Bahkan 2o hari dalam sebulan.

Beberapa kali.

Kecerobohan dan keterlambatan adalah sifat buruknya yang sama sekali tidak membuatnya bangga, dan ia selalu heran kenapa anak gadis semata wayangnya itu tidak mewarisi sifat ayahnya saja. Lily padahal sudah sangat senang dan berharap kalau ini adalah pertanda yang sangat bagus akan perubahan sifat Julie ke arah yang lebih baik, sebagaimana yang pernah dialaminya dulu.

Atau setidaknya ia pikir begitu.

Tapi pagi ini, gadis itu justru mengulangi lagi kebiasaan buruknya itu. Lagi dan lagi. Dan sialnya, justru di saat yang benar-benar genting, di mana Lily seharusnya sedang sibuk mempersiapkan persiapan meeting penting dengan calon kliennya siang ini.

Calon klien besar.

Dan ini benar-benar bukan saat yang tepat.

“JULIE!”

Lily melihat jam dinding, ini sudah jam 9 kurang 5.

Lily telah memanggil nama gadis itu berkali-kali, tapi tetap tidak ada jawaban. Ia tidak bisa menahan kesabaran lebih lama lagi. Guru yoganya berkata kalau kekuatan kesabaran adalah hal yang sangat penting dalam pengendalian emosi, tapi peraturan itu tidak ada gunanya jika harus berhadapan dengan putrinya. Biar bagaimana pun, ia tetap harus turun tangan, memaksa gadis itu untuk bangun dan berangkat ke sekolah, meskipun harus terlambat sekalipun.

Lily naik ke kamar atas, menghampiri gadis itu, dan melihatnya tertidur pulas seperti bayi. Ia memanggil nama gadis itu sekali lagi, tanpa reaksi apa-apa.

Anak itu masih tidak bergeming sama sekali.

“Hey.”

Lily mendesah. Ia terpaksa menggunakan cara andalannya yang sudah lama tidak digunakannya. Ia menarik tangan Julie dan bersiap-siap akan menindih anak itu dengan tubuhnya. Ia sangat terkejut.

Tangan gadis itu sangat panas.

“Julie?”

Lily menarik tangan Julie dan membalikkan tubuhnya. Matanya masih terpejam, bibirnya pucat. Lily meletakkan telapak tangannya di leher gadis itu, merasakan panas membara dari kulitnya yang memerah.

Ini bukan sesuatu yang diharapkannya hari ini.

“Julie,” kata Lily, menghela napas.

Lily menatap wajah gadisnya yang terkulai lemah, setengah meringkuk seperti menahan dingin. Rambutnya berantakan, kaki dan tangannya menindih buku-buku dan kertas-kertas koran yang masih berserakan di atas tempat tidurnya. Napasnya berat dan tidak beraturan.

“Ternyata kau benar-benar sakit,” kata Lily, bergumam pelan. “Sudah kuduga ada yang aneh denganmu kemarin.”

Lily berpikir sejenak. Ia sangat menyadari kalau ini akan menempatkannya pada posisi yang tidak menguntungkan dalam kariernya. Ia kemudian mengambil telepon genggam yang bergetar di saku celananya.

“Halo, Mr. Thompson,” kata Lily sopan. “Maaf, sepertinya saya harus membatalkan pertemuan kita hari ini.”

Lily berusaha menjelaskan dengan hati-hati. Ini adalah salah satu calon klien terbesar sepanjang karier hidupnya, yang mungkin tidak akan datang lagi. Tidak dalam beberapa tahun ke depan. Dan ia tahu, ia akan melewatkan kesempatan ini begitu saja.

“Saya mengerti, saya sungguh-sungguh minta maaf,” kata Lily. “Kalau Anda ada waktu lain–“

Lily tak sempat menyelesaikan kalimatnya. Suara di seberang telepon sana sudah buru-buru mematikan sambungan telekomunikasi di antara mereka.

Lily terdiam sebentar, menggigit bibirnya.

Lily tak bisa bilang kalau ia tidak merasa kecewa–ia telah membuang kesempatan emas yang mungkin hanya akan datang sekali seumur hidupnya. Ia telah bekerja keras untuk ini, terutama karena sebelumnya ia juga pernah melakukan beberapa kesalahan yang harus ia tebus dalam waktu dekat. Tapi ia menyadari kalau tidak ada lagi yang bisa ia lakukan. Lily memutuskan untuk melupakannya sesaat.

Ia mematikan ponselnya.

Lily merapikan buku-buku yang berserakan di atas tempat tidur Julie dan meletakkannya ke atas meja belajar. Ia kemudian mengambil helaian-helaian kertas koran yang tadi terhimpit di bawah pinggang Julie, memperhatikan isi koran itu sebentar. Lily pun membenarkan posisi tidur Julie dan menutupi tubuhnya yang kurus dengan selimut. Ia hampir tersandung tas punggung yang berada di lantai, tapi buru-buru ia letakkan di atas meja.

Lily melihat jam weker di atas meja, yang terus-menerus berdering tadi pagi. Jam sembilan lewat sepuluh. Ia membelai dahi Julie dengan lembut, merasakan panas yang menyengat di ujung kulitnya. Ia menatap wajah putrinya yang manis, dan mengecup pipinya beberapa kali.

Lily tiba-tiba menyadari kalau ia tidak pernah melakukan hal ini sejak waktu yang sangat lama. Julie tidak pernah mengizinkannya menyentuh kulitnya, bibirnya, atau bermain-main dengan pipinya. Gadis itu pasti akan mengamuk dan meronta, atau ia hanya bisa melakukannya saat mereka berdua sedang bergulat.

Lily membelai rambut Julie sekali lagi. Gadis itu terlihat sangat cantik dalam tidurnya.

“Kau tahu, Sayang? Tinggal kau dan aku saja hari ini,” kata Lily, mendekatkan wajahnya dengan perlahan. Ia tersenyum penuh arti.

“Dan kau pasti tidak akan menyukainya.”

***

15. Ancaman (5)

Julie tidak mengerti kenapa dadanya terasa sakit sekali. Sepanjang jalan menuju rumahnya tadi, kepalanya terasa sangat berat, dan matanya berair. Sesampai di rumah, ia langsung menghambur menuju kamar tidurnya, dan berbaring di atas ranjangnya yang nyaman.

“JULIE–,” teriak Lily dari lantai bawah. “KAU MAU MAKAN MALAM APA?”

“Mom,” desah Julie.

Ia pun bangkit dari ranjang, berjalan menuju pintu kamarnya. Ia hampir tergelincir saat menginjak alas kaki lantai di kamarnya sendiri, karena tadi pagi ia menumpahkan segelas air di sana dan lupa mengeringkannya.

“JUUULI–.”

“Mom,” jawab Julie mendongkol. Kepalanya bertambah sakit sekarang. “Aku sudah makan ta–“

“JUUL–“

“AAKUUU SUUUDAAH MAKAAN TAAAAAADIIIIIIIIIIIII TIDAAK MAKAAAN LAAAAGIIIIIII,” jerit gadis itu pada akhirnya. Ia mendongakkan kepalanya dari balik pintu kamarnya agar suaranya terdengar lebih jelas. Julie terkejut saat melihat Lily di depan mukanya.

“Di mana?”

Lily ternyata telah berdiri mantap di tengah-tengah tangga menuju kamar Julie, berkacak pinggang.

“Uh. Kedai Steak~Stack,” jawab Julie dengan nada normal. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, terlihat tidak bersemangat. “Dan sekarang aku mau mengerjakan tugas Prancisku. Oke, Mom? Aku butuh konsentrasi tinggi kali ini.”

Lily tercenung. “Tugas Prancis?”

Julie menatap datar.

“Iya. CERPEN. Dan aku mau mati,” kata Julie depresi.

Lily tertawa keras.

“Baiklah. Selamat belajar kalau begitu,” kata Lily. “Jangan lupa kalau besok giliranmu untuk mencuci baju. Aku akan sangat sibuk besok, jadi kalau kau tidak mencuci baju, aku tinggal potong uang jajanmu untuk beli baju baru untuk kita bertiga.”

Julie melenguh mengiyakan.

“Oh ya. Satu lagi,” kata Lily, saat ia hampir menuruni tangga. “Mukamu pucat, Julie. Kau sakit?”

Julie memutar bola matanya.

“Iya. Sakit jiwa,” kata Julie dengan datar. “Oke, Mom? Ada lagi?”

Lily tertawa. “Tidak. Itu saja.”

Julie menutup pintunya. Ia berjalan kembali menuju ranjangnya, lalu menyeret tas sekolahnya. Ia membuka tas itu, mengeluarkan isinya satu per satu, termasuk buku catatan yang ia kerjakan tadi bersama dengan Richard.

Ia membuka-buka isinya. Matanya berkunang-kunang melihat tulisan berbahasa Prancis karangannya sendiri. Kepalanya tambah sakit membayangkan masih ada satu halaman cerpen lagi yang harus diselesaikannya.

Ia menghela napas.

Tugas itu seharusnya bisa selesai hari ini dan hidupnya seharusnya sudah tentram sekarang. Ia tidak tahu bagaimana nanti ia bisa menyelesaikan cerpen Prancisnya tanpa kehadiran Richard, tapi ia sedang tidak ingin memikirkan anak laki-laki itu sekarang.

Julie membongkar isi tasnya lagi untuk mencari hal-hal lain yang lebih menarik.

Ia melihat map plastik merah yang tadi siang dikembalikan Jerry padanya. Ia segera meraih map itu dan mengeluarkan tumpukan kertas artikel yang ditulisnya, yang tidak jadi dimasukkan ke dalam proposal proyek Majalah Sekolah.

Salah satunya, sangat menarik sebenarnya. Tulisan Julie yang berjudul “Kenapa Seragam Nimberland Berwarna Merah Tua Kotak-Kotak Hitam?”

Julie berencana akan membuat versi pendek dari artikel ini, untuk bahan tulisan koran sekolah dua minggu ke depan.

Selanjutnya adalah tulisannya tentang orang-orang berprestasi di Nimberland. Tulisan ini sudah pernah dibuat oleh redaksi Majalah Sekolah yang dikelola oleh guru-guru, namun majalah itu belum memasukkan daftar nama baru, misalnya seperti kemenangan Tim A dan Tim B di kota Heinswell. Julie menulis tentang Lucy, yang waktu itu ia kirim via e-mail, tapi Jerry justru mengembalikan artikelnya tentang Clara Snyder.

Julie melihat ada satu koran sekolah yang terselip di dalam mapnya, kemungkinan koran sekolah edisi minggu lalu namun Julie tak tahu kenapa Jerry meletakkannya di situ. Julie mengambil koran itu dan menyadari kalau itu adalah edisi koran sekolah yang memuat artikel wawancara kemenangan catur Richard yang pernah ditulisnya dulu.

Koran yang sempat menjadi sumber malapetaka baginya selama beberapa minggu.

Ia pun memeriksa halaman itu untuk memastikan apakah koran ini adalah versi asli, atau justru versi revisi yang telah dicetak ulang oleh Jerry tanpa puisi Richard di dalamnya. Ia membuka halaman koran itu dengan tangan gemetar.

Julie menahan napasnya.

Puisi itu ada di sana.

By the name of July, the summer of love

Ini pertama kalinya, sejak terakhir kali Julie melihat kalimat itu di kafetaria beberapa bulan yang lalu. Dan beberapa hari sebelumnya, saat Richard menuliskannya tepat di sampingnya.

Julie melihat ke bagian atas.

Wajah Richard bertengger manis di bagian atas koran itu. Keindahan yang sama yang mengusik ujung matanya setiap kali ia menjumpai anak laki-laki itu, walaupun ia tidak pernah mau melihat ke arah sana. Lesung pipitnya yang melekuk dan bibir tipisnya yang seperti gulali.

Matanya yang teduh itu sedang memandangnya.

as flowers bloomed, danced with flying fluff

deliciated on the beauty, who would rise in might

as the rich art loved light in the middle of the night

Julie terdiam mematung.

Ia membaca tulisan itu sekali lagi.

as the rich art

“Rich-art?” gumamnya.

–loved light

“Light?”

as the rich art loved light in the middle of the night

“Richard–,” gumamnya pelan. “–menyukai Light.”

Julie merasakan sesak lagi di dadanya, kali ini benar-benar sakit. Matanya yang berair dan air matanya meleleh menyakitkan.

“Bodoh, apa yang kupikirkan?” kata Julie sambil mengusap air matanya.

Ia tertidur untuk menghilangkan sakit di kepalanya.