16. Sesi Kejujuran (2)

Julie membuka matanya perlahan. Kepalanya masih terasa berat dan pusing. Samar-samar ia melihat Lily sedang mondar-mandir di dalam kamarnya, memindahkan barang-barangnya dari tempatnya.

“Butuh waktu setahun untuk membersihkan kamarmu, Julie,” kata Lily ketika menyadari gadis itu telah terbangun dari tidurnya. “Dan kenapa kau masih menyimpan potongan donat di bawah meja? Itu menjijikkan.”

Julie berkerut saat menyadari ada selembar fever patch yang menempel di dahinya.

“Mom,” kata Julie. “Apa yang kau lakukan?”

“Membersihkan kamarmu. Memangnya apa lagi?” tukas Lily. “Kau tahu? Aku ingin menari hula-hula di depanmu. Tapi aku harus membersihkan rongsokan ini terlebih dahulu. Sudah berapa lama aku menyuruhmu merapikan lemarimu, Julie? Sekarang kecoa-kecoa sudah berkembang biak dan membangun sebuah negara di sana.”

Lily menceracau tanpa henti.

“Dan kau tahu? Ponselmu bergetar terus,” kata Lily. “Aku mencoba mengangkatnya sekali, setelah itu dia meminta nomor PIN padaku. Kau harus berhenti mencurigai aku, Julie.”

Julie mengambil ponselnya. Lima puluh lima panggilan tidak terjawab. Satu dari Cathy. Dua dari Cassandra. Tiga dari Lucy. Lima dari Kayla. Dan harusnya Julie tidak terkejut dengan kenyataan ini. Empat puluh empat–dari Jessie. Dan sebelas pesan masuk dari teman-temannya. Semuanya menanyakan di mana keberadaan Julie.

Ada satu lagi pesan dari nomor tidak dikenal. Julie tidak pernah menyimpan nomor ini sebelumnya, tapi entah kenapa terasa familiar. Napas Julie terhenti saat mengetahui siapa yang mengirimkannya.

Aku sangat khawatir padamu.
Apakah kau baik-baik saja?

Richard.

Jantung Julie berdegup kencang. Tangannya menggigil dan tanpa sengaja ia melepas ponsel itu dari tangannya.

“Jadi, katakan padaku,” kata Lily. “Siapa anak laki-laki itu?”

Julie mengernyit.

“Apa?”

Lily tersenyum miring. “Yang membuatmu sakit.”

Julie merasa pertanyaan ibunya sangat konyol, ia tidak tertarik untuk menjawab.

“Ayolah,” kata Lily. Ia tergelak. “Kau tidak pernah sakit, Julie. Terakhir kali kau sakit, dan itu delapan tahun yang lalu–” Lily memanggil kembali memori masa lalunya, “–saat kau berumur tujuh tahun.”

Lily melipat baju terakhir yang tergantung di tangannya dan memasukkannya ke dalam drawer.

“Siapa namanya?”

Julie terdiam sebentar. Tapi bayangan anak laki-laki itu terus-menerus membuatnya gelisah. Entah kenapa, kini ia tidak dapat menahannya lagi.

“Richard,” katanya pelan.

Julie menyingkirkan ponselnya dari jangkauannya. Ia meletakkannya di belakang bantal.

“Richard?” tanya Lily.

Lily mengambil koran sekolah dan memperlihatkan halaman yang berisikan foto seorang anak laki-laki di sana, yang tadi dilihatnya saat merapikan tempat tidur Julie.

“Maksudmu, anak laki-laki tampan ini?” kata Lily.

Wajah Lily tiba-tiba merekah. Ia membentuk senyuman yang lebar. Ia memperhatikan foto itu dengan lekat-lekat, seolah-olah matanya tak dapat lepas dari setiap detail wajah yang mempesona itu.

“Mom, aku tak ingin membicarakannya,” kata Julie. Ia memalingkan wajahnya.

“Dari dulu seleramu selalu bagus, Julie,” kata Lily sambil mengangguk, tidak menghiraukan perkataan Julie. “Sangat tampan, benar-benar sangat tampan. Anak ini–Richard Soulwind? Apa kau menyukainya?”

Julie menjawab cepat. “Tidak.”

Lily tersenyum menggoda.

“Ayolah.”

“Kau tidak mendengarku, Mom?” jawab Julie. “Aku tidak ingin membicarakannya lagi. Jadi, berhentilah menggangguku.”

“Kau suka padanya.”

“Tidak.”

“Suka.”

“Tidak.”

“Iya.”

“Mom,” protes Julie. “Kau membuat kepalaku semakin sakit.”

Lily mengangkat tangan tanda menyerah.

“Baiklah, baiklah,” kata Lily akhirnya. “Kalau kau tak mau cerita, tidak apa-apa. Sekarang aku akan ke bawah, menyiapkan makan siang, dan membawakan obat untukmu. Apakah kau ingin kubawakan sesuatu?”

“Tidak,” kata Julie.

Lily meletakkan koran sekolah itu di atas ranjang, bersiap-siap pergi. Julie memperhatikan ibunya dengan seksama. Ia merasakan ada yang aneh dengan keberadaan ibunya. Ia tiba-tiba menyadari sesuatu. “Mom? Bukankah hari ini kau harus bertemu dengan klienmu?”

Lily tidak langsung menjawab.

“Hah?” tanya Lily, pura-pura tolol. Ia lalu terkikik. “Oh ya. Benar.”

Julie benar-benar bingung karena Lily menutup pintu kamarnya begitu saja dan menghilang tanpa penjelasan. Sekarang ia sendirian di dalam kamar. Julie memutuskan untuk mengambil kembali ponselnya dan memperhatikan lagi pesan dari Richard. Pesan itu dikirimkan kemarin pukul tujuh malam, ketika ia sudah tertidur.

Ia membayangkan suara Richard yang merdu mengucapkan kalimat itu padanya dengan wajahnya yang khawatir.

“Apa yang kupikirkan?” gumam Julie. Ia tidak mengerti. Dadanya sangat sakit.

Ia melihat koran sekolah di samping tempat tidurnya. Ia melihat puisi Richard yang terpampang di halaman paling atas. Ia teringat lagi dengan gagasan bodohnya tadi malam. Gagasan yang sangat bodoh.

Tidak mungkin.

“Bodoh,” umpat Julie. Ia berguling-guling untuk mengenyahkan gagasan itu dari pikirannya, sesegera mungkin.

Ia mulai berpikir apakah ia memang menyukai Richard. Tapi ia tak mengerti apakah rasanya memang seperti ini. Richard selalu membuat organ-organ tubuhnya berbuat hal-hal aneh yang tidak ia inginkan, dan anak laki-laki itu selalu membuatnya ingin melarikan diri. Ia ingin sekali menjauh dari anak laki-laki itu. Tapi ada sesuatu di dalam dirinya yang mengatakan bahwa itu tidak benar.

Sesuatu yang asing.

Sekelebat bayangan Richard mengenakan baju Hawaii biru mengusik benak Julie lagi. Wajahnya sangat tampan seperti malaikat, dan mata birunya bersinar cemerlang. Ia tersenyum dengan bibirnya yang manis seperti gulali, dan suara tawanya yang merdu terdengar meneduhkan. Entah mengapa, sekarang ia ingin sekali mendengar suara itu lagi.

Ia benar-benar pusing.

Terdengar bunyi berderak-derak dari gagang pintu yang bergetar karena Lily berusaha membuka pintu dengan sikunya. Dua tangannya sedang sibuk mengangkat baki yang berisikan semangkuk sup dan segelas air putih yang dibawanya secara hati-hati dan penuh keseimbangan, sementara itu sikunya dengan lihai memainkan peranan barunya yang signifikan. Ia lalu berjingkat pelan dan mendorong pintu itu dengan punggungnya saat pintu itu mulai terbuka.

“Makanan datang!” kata Lily dengan antusias.

Julie mencoba bangkit dari tidurnya dan bersandar di papan ranjang dalam posisi setengah duduk. Lily mulai menyuapinya seperti bayi, dan Julie menyambut dengan lemah. Ia sesungguhnya tidak berselera makan sama sekali, tapi ia justru melahap suapan sup dari ibunya dengan sangat cepat.

“Kelaparan ya, hah?” kata Lily sambil terkikih. Ia melanjutkan suapan itu dengan wajah senang. “Tentu saja. Kau kan belum makan apa-apa sejak pagi. Dan lagi, kau makan malam terlalu cepat kemarin, ya kan Julie? Apa yang kau makan di kedai Steak~Stack–ngomong-ngomong?”

Julie menjawab tanpa semangat. “Kentang goreng.”

Mata Lily terbelalak.

“Kentang goreng??” jerit Lily, seolah-olah seluruh dunia akan runtuh menimpa kepalanya. “Badanmu sudah kering kerontang seperti gurun pasir, Julie! Tidakkah kau lihat itu!? Dan kau benar-benar kurang asupan gizi sekarang. Orang-orang akan berpikir kau adalah tongkat yang bisa berjalan.”

Julie selalu berpikir kalau Lily benar-benar mirip dengan Cathy saat ia berteriak dramatis, tapi kali ini ia merasakan perasaan yang berbeda saat ibunya tiba-tiba memandangnya dengan lembut dan menyentuh tangannya.

“Kau adalah orang yang paling penting dalam hidupku, Julie,” kata Lily dengan suara yang nyaris terdengar. “Dan kau tak pernah menyadarinya.”

Lily terdiam sejenak.

“Wajar saja kalau kau jadi sakit sekarang dan menyusahkanku–“

Lily berdehem nakal. “–kalau bukan karena Richard.”

“Mom!”

Julie langsung menyesali kenapa ia mengatakan soal Richard pada ibunya. Itu adalah keputusan yang sangat bodoh. Normalnya, ia tidak akan pernah mengatakan apa pun pada ibunya. Apalagi soal Richard. Ia bahkan tidak pernah mengatakannya pada siapa pun. Demamnya hari ini malah membuatnya semakin tidak cerdas.

“Mom,” gumam Julie, mencoba mengungkit lagi topik yang tadi ingin diketahuinya. “Bagaimana dengan meeting-mu? Kau tidak membatalkannya karena aku, kan?”

Julie ingat benar kalau ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh ibunya. Lily sudah mempersiapkan ini sejak jauh-jauh hari sebelumnya. Mereka bahkan telah mempersiapkan jadwal piket hari ini untuk Julie menggantikan tugas Lily di rumah. Julie tidak ingin percaya kalau ia membatalkan semuanya begitu saja.

Lily mengangkat bahunya.

“Apa yang bisa kulakukan?” kata Lily, mencoba menambahkan pernyataan itu dengan nada humor. “Aku sudah menelepon Mr.Thompson untuk menegosiasikan pertemuan pengganti, tapi sepertinya ia tidak begitu senang. Kurasa aku harus mengikhlaskannya saja. Masih banyak ikan di laut, kan?”

Wanita itu tersenyum, tapi siapa pun bisa melihat semburat kekecewaan di balik wajahnya. Bahkan Julie mampu mengenali gurat kesedihan yang sangat jarang ia lihat dari ibunya.

“Pertemuan ini adalah salah satu mimpiku,” kata Lily. “Tapi kalau Tuhan mengatakan belum saatnya, berarti memang belum saatnya. Yah, anggap saja ini bukan hari keberuntunganku.”

Wanita itu membereskan peralatan makan yang sudah selesai dan mengambil obat dari bakinya.

Julie merasa tidak enak. “Mom, aku minta maaf. Seandainya saja aku tidak sakit hari ini, aku–“

“JULIE–” potong Lily. “Sudah berakhir. Tidak perlu dibahas lagi. Dan yang terpenting–” Lily tersenyum menuntut. “–kau harus bertanggung jawab sekarang. Ceritakan padaku tentang Richard.”

“Kau seharusnya tetap pergi ke meeting itu, Mom. Aku bisa mengurus diriku sendiri,” kata Julie.

Lily tertawa. “Jangan bercanda.”

Ia mencoba menyuapi Julie dengan sebutir paracetamol, meskipun mulut gadis itu malah sibuk dengan argumentasi-argumentasi konyol yang akan membuatnya menyesal dengan keputusannya hari ini. Gadis itu baru terdiam saat Lily memaksanya menelan obat.

“Aku belajar dari pengalamanku, Julie,” kata Lily kemudian. Ia teringat dengan kepergian janin pertamanya, alasan utama kenapa ia tak bisa meninggalkan Julie hari ini. “Ada hal-hal yang harus mendapat perhatian lebih dibandingkan dengan hal-hal lainnya. Hidup ini tidak selalu mudah, kau tahu? Itulah sebabnya kau harus menceritakan padaku soal Richard.”

“Mom,” protes Julie.

Lily tertawa kecil, menatap tidak percaya.

“Julie–setelah pengorbananku hari ini, kau masih ingin merahasiakannya dariku?” kata Lily. “Serius? Kau tidak kasihan padaku?”

Julie mendesah panjang. Ia harus memikirkan masak-masak keputusannya kali ini. Hanya saja, pikirannya terlalu kalut untuk dapat berpikir dengan jernih. Dan ibunya saat ini mungkin hanya satu-satunya orang yang dapat ia percaya. Ia tidak punya pilihan lain.

“Baiklah,” kata Julie. “Hanya saja–kumohon jangan beritahukan siapa-siapa. Jangan pernah! Kau harus berjanji, Mom.”

Lily mengangguk mantap, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia tidak akan senang kalau kata-katanya nanti malah membuat gadis ini berubah pikiran.

Julie menarik napas panjang. Sangat panjang.

“Anak laki-laki ini–Richard–adalah temanku di sekolah. Aku tak pernah sekelas dengannya,” kata Julie. ” Tidak sekali pun.”

“Kami hampir tak pernah bertemu sampai pertengahan semester. Aku bahkan selalu menghindarinya. Tapi semua orang membicarakannya, Mom. Semua gadis. Dia seperti magnet bagi para gadis di sekolah,” kata Julie. “Teman-temanku selalu membicarakannya. Sepanjang waktu. Setiap hari. Kapan pun. Di mana pun. Sampai-sampai aku mau muntah setiap kali aku mendengar namanya.”

Julie mengulum senyumnya dengan jenaka, mengingat betapa konyolnya kejadian itu. Matanya menerawang jauh. Rasanya seperti sudah terjadi sangat jauh di masa lalu.

“Dan kemudian, datanglah kesempatan itu. Aku dipaksa ketua klub koran sekolahku untuk mewawancarainya, dan akhirnya kami berkenalan,” ungkapnya. “Aku tak pernah bisa mengerti kenapa sejak dulu setiap kali berada di sekitarnya, aku tidak pernah merasa nyaman. Lututku selalu mencair, dan napasku tercekat, seolah-olah ia akan menghisap darahku seperti drakula. Aku tak tahu kenapa, tapi buatku, dia seperti Anak Laki-Laki dari Neraka. Orang yang kupikir tidak ingin aku temui sampai kapan pun dalam hidupku.”

Ia menegaskan itu seolah-olah hal yang sangat penting.

“Tapi sejak pertemuan wawancara itu, aku akhirnya tahu, Richard adalah anak laki-laki yang baik dan menyenangkan. Tidak seburuk yang kukira,” kata Julie. Ia tersenyum. “Kami akhirnya berteman untuk beberapa lama. Dia bahkan membantuku mengerjakan tugas Kelas Prancis.”

Lily mengangkat alisnya. Cerita ini terdengar sangat menarik.

“Richard ini, seperti apakah orangnya?” tanya Lily penasaran.

“Dia tampan. Dia sangat sopan dan cerdas. Dia selalu berkata lembut kapan pun ia mengeluarkan suara,” ungkapnya. “Ia sangat jarang berbicara, Mom. Tapi kau tidak akan melupakan suaranya yang merdu dan ramah. Dia bahkan berhasil membuatku menyukai bahasa Prancis.” Julie tiba-tiba menyadari ucapannya yang terdengar ganjil saat ibunya mendelik. “Yeah, yeah. HANYA JIKA dia yang mengucapkannya. Mom, kau tahu kalau aku sangat membenci kelas Prancis.”

Lily tertawa. “Lalu, apa yang terjadi?”

“Karena suatu kesalahpahaman, puisi yang ia buatkan untukku–aku sempat memintanya secara iseng saat wawancara–malah tercetak di koran sekolah dan membuat teman-temanku marah.” Julie mendesah. “Itu adalah awal dari segalanya.”

“Puisi?” tanya Lily.

“Ya, sebuah puisi. Hanya puisi biasa, Mom. Aku memintanya saat wawancara karena kudengar ia sangat piawai dalam merangkai kata-kata. Aku hanya penasaran saja. Dan memang sangat bagus,” kata Julie. “Tapi orang-orang akan menganggapnya lain. Itulah sebabnya aku merobeknya. Aku tidak ingin siapa pun melihatnya. Dan dia melihatku merobeknya. Kurasa dia tersinggung atau marah. Hubungan kami memburuk sejak saat itu.”

“Kenapa kau merobeknya, Julie?” tanya Lily, menggugah perhatian Julie.

“Aku tak tahu,” keluh Julie. “Aku hanya tak ingin siapa pun melihatnya. Mereka akan salah paham. Apalagi Cathy.”

“Cathy?” tanya Lily, mencoba mengingat-ingat. “Oh. Gadis Latin yang sangat cantik itu, kan?”

Julie mengangguk.

“Cathy sangat menyukai Richard. Dia pasti sangat marah jika mengetahui Richard membuatkan puisi untukku. Dan dia memang marah,” kata Julie. “Perlu waktu yang lama untuk berbaikan dengannya. Setidaknya–kalau saja Richard tidak memintanya menjadi pacarnya, akan lebih sulit bagiku untuk membuatnya percaya lagi padaku.”

“Richard apa?” tanya Lily setengah bingung.

“Richard sekarang berpacaran dengan Cathy, Mom,” kata Julie. “Dan hubungan kami mulai membaik lagi. Aku dan Cathy. Aku dan Richard. Semua sudah kembali seperti semula,” kata Julie. “Bahkan Richard membantuku lagi mengerjakan tugas Prancis kemarin sore. Cerpen Prancis.”

“Jadi, apa masalahnya?”

“Entahlah. Aku tak tahu.”

Julie sejujurnya memang tidak mengerti apa yang menjadi masalah dalam hidupnya saat ini. Hanya saja, entah kenapa ia merasa sangat sedih. Ia ingin memperbaiki keadaan yang bahkan ia tidak mengerti sama sekali. Ia benar-benar bingung.

“Aku tak pernah menceritakan ini pada siapa pun. Aku selalu merahasiakan pertemuanku dengan Richard dari teman-temanku,” kata Julie. “Aku tidak ingin mereka berpikir yang tidak-tidak. Mereka benar-benar menggila-gilai Richard. Sementara itu, mereka tahu kalau aku tidak pernah peduli pada anak laki-laki itu. Mereka akan membenciku jika mengetahui bahwa aku menemui Richard beberapa kali. Cathy akan membenciku.”

“Jadi, apa kau menyukainya?” tanya Lily.

“Tidak, aku–” potong Julie cepat. Ia terhenti sejenak. Ia mendesah panjang. “Tidak.”

Lily mengambil koran sekolah yang tergeletak di sampingnya. Ia mengamati wajah Richard sekali lagi, mencoba membayangkan seperti apakah wajah anak laki-laki itu dalam bentuk 3-dimensi. Wajah itu tidak membosankan untuk dipandang, seolah-olah menyita seluruh waktu mengagumi keindahannya.

Lily baru menyadari kalau ada sebuah puisi di halaman yang sama, di pojok kanan bawah. Melihat judul tulisan dan sub judul di bawahnya, sangat jelas bahwa ini adalah puisi yang dimaksudkan oleh Julie tadi.

“Puisi ini sangat manis,” kata Lily. “Dan anak ini sangat rupawan. Kalau aku jadi kau, aku pasti jatuh cinta padanya.” Lily mengamati puisi itu sekali lagi dan berteriak, “July! Julie. The summer of love. Kalau aku tidak mendengar ceritamu, aku pasti berpikir kalau dia menyukaimu, Julie. Puisi ini indah sekali.”

Julie tahu persis kalau kenyataannya adalah sebaliknya. Richard menyukai Cathy. Richard selalu menyukai Cathy. Dan tak ada yang salah dengan hal ini.

Tidak ada.

“Dia memang jenius. Dia juga membuatnya untuk Cathy Pierre, Mom. Gadis tercantik, sahabatku–“

Bibir Julie bergetar.

“–dan dia sangat mencintai gadis itu. Kekasihnya.”

“Kau cemburu?” tanya Lily. Ia menatap Julie dalam-dalam. “Akuilah Julie. Kau juga menyukainya, kan?”

Julie menggeleng lemah. “Tidak. Aku hanya–” Napasnya tersengal. Tanpa disadarinya, air matanya telah menggenang membasahi pipinya. “Kepalaku sakit, Mom. Demam.”

“Oh, Sayang,” kata Lily. Ia memeluk Julie dengan erat. Tubuh Julie sangat panas dan lemah, ia bisa merasakan air mata Julie mengalir di bahunya.

Ini pertama kalinya ia melihat Julie menangis, setelah bertahun-tahun lamanya ia tidak pernah merasakan kesedihan dari wajah gadis kecilnya itu.

“Sekarang, maukah kau mengakui padaku kalau kau juga menyukainya?” pinta Lily. Ia membelai rambut Julie dengan lembut. “Kau menyukainya, Julie.”

Julie tak bisa menahan matanya yang semakin panas.

“Katakan,” tukas Lily.

Julie hanya terdiam, namun ia merasakan pedih yang menyengat di dadanya.

“Katakan, Julie!”

“Aku–menyukainya.” Bibirnya terasa kelu.

“Lihat? Betapa mudahnya mengakui perasaanmu?” kata Lily. “Kau tidak akan bisa menghilangkannya jika kau terus-menerus menyangkalnya. Kenapa kau begitu sulit mengakui kalau kau mencintai dia?”

Napas Julie sesak hanya karena memikirkan hal itu. “Kenapa ini terasa menyakitkan? Aku tak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya,” kata Julie. “Aku tidak ingin merasakannya lagi, Mom.”

Lily terkikih. “Tidak sesederhana itu.”

“Apa yang harus kulakukan?” tanya Julie.

“Katakan yang sebenarnya pada teman-temanmu. Katakan yang sebenarnya pada Richard. Katakan kalau kau menyukainya,” kata Lily. “Memulainya dengan mengatakan kebenaran akan memberikanmu petunjuk bagaimana cara menyelesaikan masalah ini. Jangan sembunyikan lagi perasaanmu.”

Julie tercengang. Baginya, itu sama sekali bukan pilihan.

“Aku tak bisa,” tukas Julie. “Aku tak bisa melakukannya, Mom. Aku bisa kehilangan teman-temanku.”

Lily berkata dengan sabar.

“Aku tahu ini tak mudah. Tapi, kejujuran adalah hal yang tepat untuk dilakukan, sweetheart. Dan menunda masalah bukan jawabanmu. Kau tetap harus menghadapinya–cepat atau lambat,” kata Lily sekali lagi, berusaha meyakinkan putrinya. “Jika mereka memang teman-temanmu, mereka tidak akan pergi meninggalkanmu. Percayalah itu, Sayang.”

Julie hanya menunduk. Ia menggigit bibirnya dan berpikir panjang.

“Aku tak bisa. Ini akan menyakiti Cathy,” kata Julie. “Maafkan aku, Mom. Aku tak bisa.”

Lily tersenyum. Anak ini benar-benar persis seperti ayahnya–rapuh, mengalah, dan selalu mementingkan orang lain. Julie mungkin mendapatkan sifat cuek dan sembrono itu darinya, tapi jiwa tulus yang selalu rela berkorban demi teman-temannya adalah sesuatu yang ia warisi dari Ethan Light.

Lily sempat terpikir untuk mempengaruhi Julie sekali lagi, namun ia akhirnya mengurungkan niatnya. Gadis itu tampaknya cukup keras dengan pendiriannya untuk tidak mengatakan apa pun pada teman-temannya.

“Baiklah, jika menurutmu itu lebih baik,” kata Lily. “Lalu apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan bisa menerima kenyataan bahwa Richard sekarang bersama dengan Cathy dan mencintai gadis itu? Apa kau akan berkorban untuknya?”

Julie mengangguk. “Ya.”

Lily tersenyum. Meskipun ia meyakini kalau menjadi asertif dan menyelesaikan masalah dengan kejujuran adalah solusi yang lebih baik, ia menghormati pilihan putrinya itu. Biar bagaimana pun, solidaritas yang tinggi dan kebaikan hati Ethan adalah sesuatu yang ia kagumi dari dirinya sejak dulu.

Ia memeluk putrinya dengan hangat, membelai punggungnya dengan lembut. “Apa kau sudah merasa baikan?”

Julie mengangguk lagi. Wajahnya sudah terlihat lebih segar daripada sebelumnya, walaupun masih tampak lemah. “Terima kasih, Mom,” katanya. “Aku sayang padamu.”

Lily tersenyum dan memberikan sebuah kecupan di kening Julie.

“Aku akan ke bawah membawa baki ini dan membiarkanmu beristirahat dengan tenang,” kata Lily sambil membawa baki yang terasa cukup ringan. “Kau tahu? Ada cucian yang menunggu kasih sayangku di bawah.”

Lily tertawa kecil. Ia tahu pasti, ia tidak menyesali keputusannya hari ini. Kedekatannya dengan putrinya adalah hadiah yang jauh lebih berharga dibandingkan kenaikan karier apa pun.

Ia memutar gagang pintu dan setengah terhenti saat Julie memanggilnya. “Mom, bolehkah aku bertanya sesuatu?”

Lily mengangguk, mendengarkan dengan seksama.

“Apakah ketika aku sakit, aku akan selalu melihatmu seperti ini?” tanya Julie polos. Kening Lily berkerut. “Normal, baik hati–dan penuh kasih sayang seperti ibu-ibu lainnya?”

Lily tersedak. Pertanyaan itu membuat Lily terdengar seperti seorang maniak yang tidak waras yang selalu membuat keonaran dengannya. Melihat Julie mengucapkan kalimat itu dengan tubuhnya yang lemah dan wajahnya yang lugu, ia memilih untuk menjawabnya sambil tertawa.

“Ya,” kata Lily. “Aku akan jadi normal seperti ibu-ibu lainnya.”

Julie tersenyum.

“Tapi jika kau berpikir untuk sering-sering sakit, aku perlu memberitahumu kalau aku senang mengetahui hari ini kalau ternyata aku perlu membelikan bra ukuran baru untukmu. Survei lapangan. Kau tahu apa maksudku?” tambah Lily. Ia menyeringai cengengesan.

Matanya mengedip genit. “Cup B.”

Julie terperanjat. Ia tahu apa artinya itu.

“MOM!!!”

16. Sesi Kejujuran

mommy-girl-brunette1

Kurang lebih sudah sebulan lamanya, Julie tidak pernah lagi terlambat ke sekolah. Rekor terbaru itu baru terpecahkan sejak Lily terakhir kali dulu mengantarkannya ke sekolah dasar. Seingat Lily, Julie bahkan hampir tidak pernah melewatkan sebulan pun dalam hidupnya tanpa pengalaman terlambat ke sekolah. Seperti kebutuhan hidup sehari-hari, anak itu melakukannya minimal tiga kali dalam sebulan. Malah pernah juga dua minggu berturut-turut. Bahkan 2o hari dalam sebulan.

Beberapa kali.

Kecerobohan dan keterlambatan adalah sifat buruknya yang sama sekali tidak membuatnya bangga, dan ia selalu heran kenapa anak gadis semata wayangnya itu tidak mewarisi sifat ayahnya saja. Lily padahal sudah sangat senang dan berharap kalau ini adalah pertanda yang sangat bagus akan perubahan sifat Julie ke arah yang lebih baik, sebagaimana yang pernah dialaminya dulu.

Atau setidaknya ia pikir begitu.

Tapi pagi ini, gadis itu justru mengulangi lagi kebiasaan buruknya itu. Lagi dan lagi. Dan sialnya, justru di saat yang benar-benar genting, di mana Lily seharusnya sedang sibuk mempersiapkan persiapan meeting penting dengan calon kliennya siang ini.

Calon klien besar.

Dan ini benar-benar bukan saat yang tepat.

“JULIE!”

Lily melihat jam dinding, ini sudah jam 9 kurang 5.

Lily telah memanggil nama gadis itu berkali-kali, tapi tetap tidak ada jawaban. Ia tidak bisa menahan kesabaran lebih lama lagi. Guru yoganya berkata kalau kekuatan kesabaran adalah hal yang sangat penting dalam pengendalian emosi, tapi peraturan itu tidak ada gunanya jika harus berhadapan dengan putrinya. Biar bagaimana pun, ia tetap harus turun tangan, memaksa gadis itu untuk bangun dan berangkat ke sekolah, meskipun harus terlambat sekalipun.

Lily naik ke kamar atas, menghampiri gadis itu, dan melihatnya tertidur pulas seperti bayi. Ia memanggil nama gadis itu sekali lagi, tanpa reaksi apa-apa.

Anak itu masih tidak bergeming sama sekali.

“Hey.”

Lily mendesah. Ia terpaksa menggunakan cara andalannya yang sudah lama tidak digunakannya. Ia menarik tangan Julie dan bersiap-siap akan menindih anak itu dengan tubuhnya. Ia sangat terkejut.

Tangan gadis itu sangat panas.

“Julie?”

Lily menarik tangan Julie dan membalikkan tubuhnya. Matanya masih terpejam, bibirnya pucat. Lily meletakkan telapak tangannya di leher gadis itu, merasakan panas membara dari kulitnya yang memerah.

Ini bukan sesuatu yang diharapkannya hari ini.

“Julie,” kata Lily, menghela napas.

Lily menatap wajah gadisnya yang terkulai lemah, setengah meringkuk seperti menahan dingin. Rambutnya berantakan, kaki dan tangannya menindih buku-buku dan kertas-kertas koran yang masih berserakan di atas tempat tidurnya. Napasnya berat dan tidak beraturan.

“Ternyata kau benar-benar sakit,” kata Lily, bergumam pelan. “Sudah kuduga ada yang aneh denganmu kemarin.”

Lily berpikir sejenak. Ia sangat menyadari kalau ini akan menempatkannya pada posisi yang tidak menguntungkan dalam kariernya. Ia kemudian mengambil telepon genggam yang bergetar di saku celananya.

“Halo, Mr. Thompson,” kata Lily sopan. “Maaf, sepertinya saya harus membatalkan pertemuan kita hari ini.”

Lily berusaha menjelaskan dengan hati-hati. Ini adalah salah satu calon klien terbesar sepanjang karier hidupnya, yang mungkin tidak akan datang lagi. Tidak dalam beberapa tahun ke depan. Dan ia tahu, ia akan melewatkan kesempatan ini begitu saja.

“Saya mengerti, saya sungguh-sungguh minta maaf,” kata Lily. “Kalau Anda ada waktu lain–“

Lily tak sempat menyelesaikan kalimatnya. Suara di seberang telepon sana sudah buru-buru mematikan sambungan telekomunikasi di antara mereka.

Lily terdiam sebentar, menggigit bibirnya.

Lily tak bisa bilang kalau ia tidak merasa kecewa–ia telah membuang kesempatan emas yang mungkin hanya akan datang sekali seumur hidupnya. Ia telah bekerja keras untuk ini, terutama karena sebelumnya ia juga pernah melakukan beberapa kesalahan yang harus ia tebus dalam waktu dekat. Tapi ia menyadari kalau tidak ada lagi yang bisa ia lakukan. Lily memutuskan untuk melupakannya sesaat.

Ia mematikan ponselnya.

Lily merapikan buku-buku yang berserakan di atas tempat tidur Julie dan meletakkannya ke atas meja belajar. Ia kemudian mengambil helaian-helaian kertas koran yang tadi terhimpit di bawah pinggang Julie, memperhatikan isi koran itu sebentar. Lily pun membenarkan posisi tidur Julie dan menutupi tubuhnya yang kurus dengan selimut. Ia hampir tersandung tas punggung yang berada di lantai, tapi buru-buru ia letakkan di atas meja.

Lily melihat jam weker di atas meja, yang terus-menerus berdering tadi pagi. Jam sembilan lewat sepuluh. Ia membelai dahi Julie dengan lembut, merasakan panas yang menyengat di ujung kulitnya. Ia menatap wajah putrinya yang manis, dan mengecup pipinya beberapa kali.

Lily tiba-tiba menyadari kalau ia tidak pernah melakukan hal ini sejak waktu yang sangat lama. Julie tidak pernah mengizinkannya menyentuh kulitnya, bibirnya, atau bermain-main dengan pipinya. Gadis itu pasti akan mengamuk dan meronta, atau ia hanya bisa melakukannya saat mereka berdua sedang bergulat.

Lily membelai rambut Julie sekali lagi. Gadis itu terlihat sangat cantik dalam tidurnya.

“Kau tahu, Sayang? Tinggal kau dan aku saja hari ini,” kata Lily, mendekatkan wajahnya dengan perlahan. Ia tersenyum penuh arti.

“Dan kau pasti tidak akan menyukainya.”

***

15. Ancaman (5)

Julie tidak mengerti kenapa dadanya terasa sakit sekali. Sepanjang jalan menuju rumahnya tadi, kepalanya terasa sangat berat, dan matanya berair. Sesampai di rumah, ia langsung menghambur menuju kamar tidurnya, dan berbaring di atas ranjangnya yang nyaman.

“JULIE–,” teriak Lily dari lantai bawah. “KAU MAU MAKAN MALAM APA?”

“Mom,” desah Julie.

Ia pun bangkit dari ranjang, berjalan menuju pintu kamarnya. Ia hampir tergelincir saat menginjak alas kaki lantai di kamarnya sendiri, karena tadi pagi ia menumpahkan segelas air di sana dan lupa mengeringkannya.

“JUUULI–.”

“Mom,” jawab Julie mendongkol. Kepalanya bertambah sakit sekarang. “Aku sudah makan ta–“

“JUUL–“

“AAKUUU SUUUDAAH MAKAAN TAAAAAADIIIIIIIIIIIII TIDAAK MAKAAAN LAAAAGIIIIIII,” jerit gadis itu pada akhirnya. Ia mendongakkan kepalanya dari balik pintu kamarnya agar suaranya terdengar lebih jelas. Julie terkejut saat melihat Lily di depan mukanya.

“Di mana?”

Lily ternyata telah berdiri mantap di tengah-tengah tangga menuju kamar Julie, berkacak pinggang.

“Uh. Kedai Steak~Stack,” jawab Julie dengan nada normal. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, terlihat tidak bersemangat. “Dan sekarang aku mau mengerjakan tugas Prancisku. Oke, Mom? Aku butuh konsentrasi tinggi kali ini.”

Lily tercenung. “Tugas Prancis?”

Julie menatap datar.

“Iya. CERPEN. Dan aku mau mati,” kata Julie depresi.

Lily tertawa keras.

“Baiklah. Selamat belajar kalau begitu,” kata Lily. “Jangan lupa kalau besok giliranmu untuk mencuci baju. Aku akan sangat sibuk besok, jadi kalau kau tidak mencuci baju, aku tinggal potong uang jajanmu untuk beli baju baru untuk kita bertiga.”

Julie melenguh mengiyakan.

“Oh ya. Satu lagi,” kata Lily, saat ia hampir menuruni tangga. “Mukamu pucat, Julie. Kau sakit?”

Julie memutar bola matanya.

“Iya. Sakit jiwa,” kata Julie dengan datar. “Oke, Mom? Ada lagi?”

Lily tertawa. “Tidak. Itu saja.”

Julie menutup pintunya. Ia berjalan kembali menuju ranjangnya, lalu menyeret tas sekolahnya. Ia membuka tas itu, mengeluarkan isinya satu per satu, termasuk buku catatan yang ia kerjakan tadi bersama dengan Richard.

Ia membuka-buka isinya. Matanya berkunang-kunang melihat tulisan berbahasa Prancis karangannya sendiri. Kepalanya tambah sakit membayangkan masih ada satu halaman cerpen lagi yang harus diselesaikannya.

Ia menghela napas.

Tugas itu seharusnya bisa selesai hari ini dan hidupnya seharusnya sudah tentram sekarang. Ia tidak tahu bagaimana nanti ia bisa menyelesaikan cerpen Prancisnya tanpa kehadiran Richard, tapi ia sedang tidak ingin memikirkan anak laki-laki itu sekarang.

Julie membongkar isi tasnya lagi untuk mencari hal-hal lain yang lebih menarik.

Ia melihat map plastik merah yang tadi siang dikembalikan Jerry padanya. Ia segera meraih map itu dan mengeluarkan tumpukan kertas artikel yang ditulisnya, yang tidak jadi dimasukkan ke dalam proposal proyek Majalah Sekolah.

Salah satunya, sangat menarik sebenarnya. Tulisan Julie yang berjudul “Kenapa Seragam Nimberland Berwarna Merah Tua Kotak-Kotak Hitam?”

Julie berencana akan membuat versi pendek dari artikel ini, untuk bahan tulisan koran sekolah dua minggu ke depan.

Selanjutnya adalah tulisannya tentang orang-orang berprestasi di Nimberland. Tulisan ini sudah pernah dibuat oleh redaksi Majalah Sekolah yang dikelola oleh guru-guru, namun majalah itu belum memasukkan daftar nama baru, misalnya seperti kemenangan Tim A dan Tim B di kota Heinswell. Julie menulis tentang Lucy, yang waktu itu ia kirim via e-mail, tapi Jerry justru mengembalikan artikelnya tentang Clara Snyder.

Julie melihat ada satu koran sekolah yang terselip di dalam mapnya, kemungkinan koran sekolah edisi minggu lalu namun Julie tak tahu kenapa Jerry meletakkannya di situ. Julie mengambil koran itu dan menyadari kalau itu adalah edisi koran sekolah yang memuat artikel wawancara kemenangan catur Richard yang pernah ditulisnya dulu.

Koran yang sempat menjadi sumber malapetaka baginya selama beberapa minggu.

Ia pun memeriksa halaman itu untuk memastikan apakah koran ini adalah versi asli, atau justru versi revisi yang telah dicetak ulang oleh Jerry tanpa puisi Richard di dalamnya. Ia membuka halaman koran itu dengan tangan gemetar.

Julie menahan napasnya.

Puisi itu ada di sana.

By the name of July, the summer of love

Ini pertama kalinya, sejak terakhir kali Julie melihat kalimat itu di kafetaria beberapa bulan yang lalu. Dan beberapa hari sebelumnya, saat Richard menuliskannya tepat di sampingnya.

Julie melihat ke bagian atas.

Wajah Richard bertengger manis di bagian atas koran itu. Keindahan yang sama yang mengusik ujung matanya setiap kali ia menjumpai anak laki-laki itu, walaupun ia tidak pernah mau melihat ke arah sana. Lesung pipitnya yang melekuk dan bibir tipisnya yang seperti gulali.

Matanya yang teduh itu sedang memandangnya.

as flowers bloomed, danced with flying fluff

deliciated on the beauty, who would rise in might

as the rich art loved light in the middle of the night

Julie terdiam mematung.

Ia membaca tulisan itu sekali lagi.

as the rich art

“Rich-art?” gumamnya.

–loved light

“Light?”

as the rich art loved light in the middle of the night

“Richard–,” gumamnya pelan. “–menyukai Light.”

Julie merasakan sesak lagi di dadanya, kali ini benar-benar sakit. Matanya yang berair dan air matanya meleleh menyakitkan.

“Bodoh, apa yang kupikirkan?” kata Julie sambil mengusap air matanya.

Ia tertidur untuk menghilangkan sakit di kepalanya.

15. Ancaman (4)

“Jadi, apa yang terjadi pada Anne Matilda yang pergi membeli telur?” tanya Richard.

Mereka terlalu asyik mengobrol hal-hal yang sangat tidak penting, sampai-sampai Julie lupa kalau cerpen yang sudah mereka terjemahkan baru sampai pada bagian Anne Matilda yang masih memilih telur di keranjang telur di pasar.

Tugasnya masih belum selesai.

“Dia tidak jadi membeli telur,” jawab Julie ringan. “Ia membeli barang yang lain. Saat ibunya mengetahui tidak ada telur di plastik belanjaannya, ia dimarahi ibunya.”

Richard mengernyitkan keningnya.

“Kenapa?”

Julie menyengir lebar seperti koala.

“Kau masih ingat kata-katanya ibu Anne waktu memberikan uang padanya di rumah?” kata Julie. Ia menutup bukunya cepat-cepat, berpura-pura menguji ingatan Richard akan tulisannya tadi. “Belikan selusin telur. Jika harganya kurang dari lima dolar–?”

“–belikan sekotak susu,” sambung Richard mantap.

“Tepat.” Julie menyengir. “Nah, Richard. Tebak apa yang dibeli Anne kecil?”

Richard terdiam sebentar. Ia menahan senyumnya. “Hanya sekotak susu.”

Mereka berdua tertawa.

“Seharusnya Anne kecil membeli selusin telur dan sekotak susu, namun pada akhirnya ia hanya membeli sekotak susu saja,” jelas Richard. “Permainan kata. Pintar.”

Julie mengangguk senang.

“Harga telurnya empat dolar,” kata Julie sambil menyengir. “Kalau harganya kurang dari lima dolar, kata ibunya tolong belikan sekotak susu, kan? Sesuai permintaan ibunya, Anne kecil membeli sekotak susu.”

Richard tersenyum.

“Menurutmu, apakah Anne melakukan kesalahan?” tanya Julie.

Anak laki-laki itu menggeleng.

“Tidak. Kurasa Anne adalah anak yang cukup cerdas di usianya. Hanya saja, ibunya perlu memberikan instruksi yang lebih jelas padanya.”

Julie bergidik kesal.

“Nah. Kalau begitu,” timpal Julie tidak terima. “Kenapa ibuku memarahiku?”

Richard terlihat kebingungan. “Ibumu?”

Julie terdiam sebentar. Ini seharusnya cerita tentang Anne Matilda, Si Gadis Kecil yang Periang. Bukan curhat tentang kehidupannya sehari-hari. “Eh, maksudnya–ibunya.”

“Apakah ini kisah nyata?” kata Richard. Ia tersenyum. “Kau dan ibumu.”

Julie nyengir cengengesan. Organ-organ tubuhnya mulai membuatnya terlihat tolol.

“Nguik, ar, yeah,” gumamnya.

Julie tak tahu kalimat apa lagi yang dikeluarkannya, karena entah kenapa setelah itu ia mendengar Richard terpingkal-pingkal. Ia hanya ingat monyet-monyet Jumanji sedang bergelantungan di syaraf-syaraf otaknya, menghilangkan semua kewarasannya.

“Kau lucu, Julie,” kata Richard, berusaha keras menahan tawanya.

Bibirnya yang melekuk itu terlihat sangat menawan saat anak laki-laki itu menarik garis bibirnya hingga ke pipinya yang putih dan bercahaya. Matanya yang biru berkilau seperti permata yang bertengger di wajahnya yang tampan, seperti ukiran indah yang sempurna dari Tuhan.

Senyuman itu adalah yang paling manis yang pernah dilihat Julie.

“Uh,” gumam Julie.

Julie menggeser pantatnya. Kursi ini terasa gatal, sempit, dan panas. Ia lalu mengambil kentang goreng terakhir yang ada di atas piring dan memasukkannya ke mulutnya.

“Julie. Apa kau mau memesan lagi?” tanya Richard.

“Eh, tidak,” kata Julie kikuk. Ia sama sekali lupa kalau tadi ia sempat ingin memesan sirloin steak di awal perjumpaan mereka.

Ia membolak-balik buku catatannya. Cerpen yang sudah dikerjakannya baru selesai satu lembar.

“Apa menurutmu aku bisa melakukannya, Richard?” tanya Julie tidak yakin. “Ini baru satu lembar. Kalau ceritanya sudah selesai dan ternyata kurang dari tiga lembar, apa yang harus kulakukan?”

Richard memperhatikan ke belakang, seperti mencari sesuatu, namun tidak menemukannya. Ia terdiam sebentar. Ia terlihat ragu-ragu, namun akhirnya memutuskan untuk tidak mengabaikannya.

“Kau bisa menambah panjang tulisan di bagian deskripsinya, Julie,” kata Richard kemudian. “Misalnya, menambah detail dengan warna mata, warna rambut, atau bentuk rambutnya. Kira-kira seperti apa bentuk rambut Anne?”

Julie berpikir sejenak. “Lurus panjang.”

“Warna rambutnya?” tanya Richard.

“Umm. Coklat,” gumam Julie.

“Dan matanya?”

“Biru indah. Seperti matamu.”

Julie tidak mengerti kenapa ia mengucapkan itu. Ia memutar bola matanya, menyadari betapa konyolnya kalimat yang ia ucapkan barusan.

Richard terbatuk salah tingkah.

“Yah, kira-kira seperti itu,” kata Richard sambil mengeraskan wajahnya. Ia berusaha untuk bersikap senormal mungkin, meskipun ucapan Julie barusan membuatnya sangat geer. “Jadi, apa kau ingin meneruskannya lagi, Julie?”

Julie mengangguk. “Iya.”

Julie mengambil penanya lagi dan menggigit ujung penanya dengan bibir. Ia tidak dapat berkonsentrasi, entah kenapa. Ia melirik ke arah Richard, yang ternyata sedang memandang ke arah belakang, seperti mencari sesuatu.

“Kenapa kau selalu melihat ke belakang?” tanya Julie.

Richard memandangi Julie sambil mengerutkan keningnya. Ia tidak berkata apa-apa selama beberapa saat, namun beberapa waktu berikutnya kembali melihat ke belakang. Tak lama kemudian ia memutar tubuhnya.

“Kau ingat gadis pelayan yang kemarin sore bertengkar dengan Cathy, Julie?” tanya Richard. Ia masih melihat sekeliling. “Gadis itu tidak ada di sini hari ini.”

Julie berdehem karena tenggorokannya kering dan gatal. Ia lalu menyeruput jus cranberry-nya yang tersisa tinggal sedikit, lalu meluruskan punggungnya. Julie memainkan cuping hidungnya dengan kedua telunjuknya dengan sungguh-sungguh, seolah-olah hal itu adalah hal paling penting yang perlu dilakukannya di dunia ini.

“Mungkin dia berhenti,” celotehnya sambil kumur-kumur.

“Berhenti?”

Saat Richard menatapnya, Julie tak dapat menggerakkan mulutnya. Rahangnya mengeras seperti batu, dan lidahnya menghilang. Ia lagi-lagi tak mengerti kenapa tubuhnya selalu berperilaku tidak normal, tapi setidaknya lebih baik seperti ini daripada ia mulai mengucapkan kalimat-kalimat yang aneh.

“Kemarin Cathy terlihat sangat marah,” kata Richard. “Aku tidak menyangka kalau pertengkarannya dengan gadis pelayan itu benar-benar mengganggu pikirannya. Sejak kejadian sore itu, suasana hatinya terus memburuk. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku sangat bingung.”

Richard bertanya apakah pelayan itu benar-benar telah menyakiti hati Cathy, atau apakah mereka berdua pernah saling bertemu di tempat lain. Richard berharap ia dapat melakukan sesuatu, tapi ia juga bertanya dengan sopan apakah ini ada hubungannya dengan siklus bulanan Cathy.

Julie baru ingat kalau dia mau membicarakan tentang Emma pada Richard.

“Kurasa karena Emma,” kata Julie.

“Emma?” tanya Richard.

Dan akhirnya mereka membicarakan tentang Emma. Julie menceritakan sejak pertama kali mereka bertemu dengan Emma, bagaimana gadis itu dan gengnya mengancam Cathy karena mendekati Jake, bagaimana ancaman itu menghilang ketika Emma pindah ke luar negeri, dan sekarang ancaman itu kembali menghantui Cathy dan teman-temannya setelah mereka mengetahui kalau Emma telah pulang lagi ke Nimberland.

Jawaban dari Richard cukup mengejutkan.

“Aku sudah tahu dari Kayla,” kata Richard.

“Apa?” kata Julie sambil melotot.

Persis dugaan Julie, ternyata Kayla sudah melakukannya. Satu-satunya alasan kenapa Julie akhirnya bersedia mengobrol dengan Richard hari ini adalah karena Jessie tidak henti-hentinya merengek memohon padanya, memastikan kalau di dunia ini hanya Julie seorang yang mampu berbicara pada Richard.

Rasanya ia ingin mencincang gadis itu dan membuat steak daging Jessie.

“Dan–” kata Julie, berusaha untuk terlihat normal. “Apa saja yang sudah Kayla katakan?”

“Tidak banyak, hanya sepintas. Itulah sebabnya aku lebih mengira kalau Cathy berubah karena gadis pelayan itu–bukan karena Emma. Itu lebih masuk akal dan lebih jelas terlihat,” kata Richard. “Apalagi Cathy tidak pernah menceritakan tentang Emma sama sekali. Aku mungkin tidak tahu jika kau dan Kayla tidak menceritakannya padaku.”

Julie mengangguk setuju.

Yeah,” gumam Julie. “Dia memang tidak pernah mau membahas Emma. Aku juga tidak tahu kenapa.”

Richard terlihat khawatir.

“Emma Huygen memiliki reputasi yang sangat baik di sekolah. Ia gadis yang sangat cerdas dan sangat dihormati,” kata Richard. “Aku memang pernah mendengar desas-desus tentang perlakuannya yang buruk pada junior-junior perempuan. Tapi tak ada satupun dari tuduhan itu yang benar-benar terbukti. Jika apa yang kau dan Kayla katakan itu memang benar, berarti ia bisa menyembunyikannya dengan sangat baik.”

“Di sisi lain, Cathy memiliki sisi emosional yang kurang terkontrol. Jika Emma Huygen dan teman-temannya memang mengganggunya dan kalaupun Cathy bersedia menceritakannya, masih ada kemungkinan para guru tidak akan mempercayainya dan lebih memilih mempercayai Emma, murid kesayangan mereka.”

Richard menatap Julie dengan lembut.

“Aku akan mencoba mencari cara untuk melindunginya,” kata Richard sambil tersenyum. “Jangan khawatir.”

Suara Richard yang merdu membuat Julie merasakan ketulusan yang terpancar dari kata-katanya yang menenangkan. Matanya yang biru itu tidak lagi menghujam jantungnya, mata itu sangat meneduhkan.

“Kau sangat mencintainya, ya Richard?” kata Julie.

Richard memandang Julie sesaat. Ia menahan napasnya, membuang mukanya.

“Iya,” kata Richard pelan.

Julie biasanya tak pernah mau ikut campur. Namun ada sesuatu yang terjadi hari ini yang membuatnya ingin menyampaikannya pada Richard. Ia juga tak tahu apa.

“Apa yang kau sukai darinya?” kata Julie.

Richard terlihat bingung. Ia sama sekali tidak menyangka akan ditanya hal seperti ini. Ia mencoba membayangkan hal-hal baik dari Cathy yang menarik perhatiannya.

“Dia sangat ceria,” kata Richard. “Penuh dengan drama. Tapi kukira justru di situlah daya tariknya. Ia masih kekanak-kanakan, namun keceriaannya menyatukan semua orang.”

“Kau benar,” kata Julie. “Ke-telenovela-annya menyatukan semua orang, untuk mencakar mukanya.”

Mereka tertawa.

“Di luar dari apa yang disadarinya, gadis itu sebenarnya memiliki kualitas yang sangat baik dalam memilih pertemanan. Aku bisa melihatnya dari bagaimana ia memilih kalian sebagai teman-temannya,” kata Richard. “Ia saat ini mungkin masih belum bisa bersikap dewasa, tapi aku yakin ia adalah gadis yang berhati baik.”

Julie terdiam sebentar.

“Dan Cathy juga sangat cantik, kan?” kata Julie.

Richard mengangguk.

“Ya. Dia sangat cantik.”

“Kalian sangat serasi,” kata Julie.

Julie ingat betapa pertama kali ia bertemu dengan Cathy, ia merasa amat yakin kalau gadis cantik itu akan berjodoh dengan Richard yang amat tampan. Mereka berdua seperti seorang putri dan pangeran di negeri dongeng yang saling menyayangi dan sudah selayaknya hidup bahagia selama-lamanya.

Selama berbulan-bulan Cathy menghabiskan waktunya di kafetaria untuk membicarakan tentang Richard. Menatap wajahnya yang bersinar setiap ada kesempatan. Selalu berharap semoga ada keajaiban yang datang dan Sang Pangeran yang ditunggu itu akan menghampiri hidupnya, mengisi hari-harinya, Sang Malaikat Pelindungnya.

Dan harapannya itu sekarang menjadi kenyataan.

“Dia menyukaimu, dan.. kau–” Bibir Julie bergetar.

“–menyukainya.”

Julie merasakan perasaan yang tidak nyaman itu lagi. Dadanya sakit.

“Ia selalu bersemangat tiap kali menceritakan tentang hari-harinya bersama denganmu. Ia selalu dapat melihat senyummu yang indah, suaramu, dia sangat—”

Tubuhnya selama ini sudah terlalu sering berbuat aneh, tapi kali ini keanehan yang terjadi lebih buruk dari biasanya. Matanya perih dan kepalanya sangat sakit. Dadanya juga terasa sangat sakit, seperti ditekan-tekan. Napasnya pendek dan sangat sesak. Ia tidak mengerti kenapa.

“Menyukaimu.”

Sekarang perutnya terasa sakit dan kepalanya semakin pusing. Matanya perih dan panas. Jantungnya berdetak tidak karuan. Ia sesak napas. Ia tidak mengerti. Ini benar-benar aneh.

“Aku akan melakukan apapun untuk menolongnya, Julie,” kata Richard sambil menatap lembut. “Aku berjanji.”

Entah kenapa, Julie tidak ingin melihat wajah itu lebih lama lagi.

“Kau tahu? Aku,” kata Julie tiba-tiba. “Aku harus pulang sekarang.”

“Kenapa?” Richard tercenung.

“Karena—umm, ah, begini,” ceracau Julie tidak jelas. Tubuhnya bergerak sendiri di luar kemauannya. “Aku sakit perut. Perutku sangat mulas, sangat, sangat, sangat mulas. Kupikir aku akan buang air besar di celana. Ini dia, aduh, aduh, sudah di ujung celana.”

Julie menggeliat seperti cacing.

“Kau ingin aku antar?” kata Richard panik.

Julie menggeleng cepat. Ia hampir saja terjatuh karena kakinya masih tersangkut kaki meja saat ia ingin berjalan keluar.

“JULIE!”

Richard menangkap tangan Julie sebelum gadis itu terjatuh. Tangan Richard yang dingin membuat Julie menggigil. Ia semakin salah tingkah.

“Biarkan aku mengantarmu, Julie,” pinta Richard.

“Tidak, tidak!” potong Julie. “Richard, dengar. Aku sebentar lagi akan kentut dashyat. Dan mungkin akan berak di celana. Dan rumahku dekat. Dan aku akan berlari dari sini ke rumah. Mudah-mudahan tidak ada yang tercecer di jalanan.”

Ia bergerak kikuk dan mengeluarkan beberapa dolar uang dari sakunya, meletakkannya di meja. Ia memasukkan segala alat tulisnya ke dalam tas, dan ia pun berlari terbirit-birit meninggalkan Richard yang masih kebingungan.

***

15. Ancaman (3)

Julie harus datang tiga puluh menit lebih cepat, dan berlari sekencang rusa, karena ia benar-benar lupa satu hal.

Pelayan Steak~Stack yang bertengkar dengan Cathy kemarin hampir saja mengenalinya! Dan entah kebodohan apa yang merasuki otaknya tadi siang, ia justru memilih tempat itu lagi sebagai tempat pertemuan mereka. Ia tidak bisa membayangkan apa jadinya kalau gadis pelayan itu melihatnya berdua lagi dengan Richard di sana.

“Apa yang kupikirkan?” gerutunya, merasa kesal dengan kebodohannya sendiri.

Julie bergegas ke bagian belakang kedai tempat kebanyakan para pelayan berkumpul. Tanpa perencanaan sama sekali, ia langsung menemui siapa pun pelayan yang ada di depannya satu persatu, dan menanyakan pada mereka apakah gadis pelayan itu masih ada di sana.

Setidaknya, ia harus memanfaatkan kewarasannya yang masih tersisa, sebelum anggota-anggota tubuhnya yang tidak bisa diandalkan itu memulai aksi-aksi lain yang tidak diharapkan.

Untung saja ia bisa menyadarinya, sebelum terlambat.

“Ah, Sarah? Dia sudah berhenti,” kata seorang wanita yang agak tua. Wanita itu memperkenalkan dirinya sebagai Mrs.Marie, kepala pelayan yang merangkap sebagai kepala koki di dapur restoran.

“Sungguh kebetulan kemarin adalah hari terakhir ia bekerja di sini. Kau ada perlu apa dengannya, Nak?”

Julie mendesah luar biasa lega, sampai-sampai ia yakin suara napasnya itu terdengar jauh sampai ke komplek tetangga.

“Oh–tidak, Mrs.Marie. Tidak ada apa-apa,” kata Julie sambil menyengir. “Terima kasih banyak.”

Dalam sekejap, suasana di kedai itu terasa berbeda, sunyi dan familiar. Kehadiran seorang anak laki-laki yang berkulit pualam di pintu depan langsung menarik perhatian semua orang, saat ia membuka pintu dan melangkahkan kakinya ke lantai dengan gerakannya yang anggun dan berkelas. Anak laki-laki itu menoleh sekeliling, lalu berjalan perlahan menelusuri ruangan yang penuh dengan meja-meja beraneka bentuk itu.

Mrs.Marie melihat kulit putihnya yang bersih dan aura tampannya yang bercahaya. Wanita tua itu ternyata mengenali Richard.

“Lihat! Itu anak tampan yang kemarin,” kata Mrs.Marie, menunjuk ke arah Richard. Julie menoleh, tidak siap. “Tampan, bukan? Dia baru beberapa kali datang ke sini. Tapi sama sekali tak sulit mengingat wajahnya. Dan kau tahu, Nak? Restoran ini selalu ramai setiap kali anak laki-laki itu datang.”

Wanita itu tersipu-sipu.

“Sarah sangat suka dengan anak laki-laki itu. Dia bilang anak itu sangat sopan dan tampan! Dia tak henti-hentinya membicarakan tentang anak laki-laki itu kemarin,” lanjutnya. “Tapi gadis sombong yang bersama dengannya kemarin benar-benar kasar! Pacarnya, eh?”

Mrs.Marie mengelap tangannya yang basah dan mengusap-usap wajahnya dengan nada bersemangat.

“Anak laki-laki itu dulu juga pernah datang ke sini dengan gadis yang lain–gadis yang satu lagi. Kata Sarah, gadis yang satu lagi itu jauh lebih baik dan ramah. Entah berapa kali ia mengatakannya,” kata Mrs.Marie. “Ah! Sarah pasti senang sekali kalau tahu anak laki-laki itu datang ke sini lagi! Aku harus memberitahunya nanti.”

Richard melihat Julie. Ia tersenyum sambil melambaikan tangan, lalu berjalan ke arahnya. Julie tiba-tiba panik, membuka tangannya cepat-cepat, memberikan sinyal padanya untuk tidak mendekat, sebelum anak laki-laki itu menjadi lebih dekat lagi dan mendengar pembicaraan mereka.

Mrs.Marie mengerutkan kening.

“Eh?” gumam Mrs.Marie heran. Ia menatap Julie lama, dengan wajah curiga. Matanya lalu bermain nakal. “Aaah. Aku tahu sekarang. Jangan-jangan kau gadis satunya lagi itu. Aku benar, kan?”

Julie tertawa masam. Ini bukan saatnya untuk ketahuan. “Eh, tidak. Aku–“

“Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Kau gadis yang baik,” lanjut Mrs.Marie. Ia tersenyum menggoda. “Dan kau tahu? Kau sangat manis.”

Hidung Julie kembang-kempis karena mendengar pujian ini. Dan wajahnya akan memerah seperti tomat.

“Ehm. Begini, Mrs.Marie,” kata Julie tegar, berusaha menormalkan kewarasannya. “Sebenarnya hari ini aku harus mengerjakan PR-ku. Dan seperti yang Anda bilang tadi, semua gadis di sekolahku suka padanya. Aku tidak bisa meminta bantuan padanya untuk mengajarkanku tanpa membuat teman-temanku menjadi gila. Kalau teman-temanku tahu, mereka bisa membunuhku.”

Julie melebarkan senyuman malaikatnya.

“Bisakah Anda membantuku merahasiakan ini?” kata Julie, dengan sedikit efek mata berbinar, seperti mata lugu si kucing Puss di film Shrek 2. “Kumohon?”

Wanita itu mengangguk santai dan tersenyum penuh arti.

“Baiklah.”

Julie bergegas menghampiri Richard, yang masih berdiri di samping kursi sambil menungguinya.

“Hai,” kata Richard. “Julie.”

Richard terlihat tampan dengan baju sekolahnya yang bermotif kotak-kotak maroon dan tas punggung hitam yang ia gantung di bahu kanannya. Tapi Julie tetap lebih suka saat anak laki-laki itu memakai baju Hawaii biru yang dibelikan Cathy untuknya.

“Hai,” kata Julie. “Kau tidak duduk?”

Ia merasakan sedikit keinginan di kakinya untuk mundur dan melarikan diri dari tempat itu. Tapi otak warasnya kembali bekerja dengan normal dan memerintahkan anggota-anggota tubuhnya untuk berperilaku wajar.

“Setelah kau, Julie,” kata Richard sopan. “Silakan duduk.”

Julie menyeret kursinya dan meletakkan pantatnya di atas kursi itu. Lututnya menabrak kaki meja. Ia mengaduh. Tiba-tiba ia teringat kalau di pertemuan pertamanya dengan Richard dulu di tempat ini, ia sempat kesulitan dengan meja dan kursi di kedai Steak~Stack. Mejanya sangat sempit, yang ternyata hanya ada di meja-meja di bagian belakang. Sekarang ia malah duduk di meja itu lagi.

Ia merasa benar-benar bodoh.

“Umm, Richard,” kata Julie, mengernyitkan hidungnya. “Bagaimana kalau kita pindah saja ke ruangan ber-AC yang kemarin? Aku lupa kalau di sini mejanya sempit.”

Richard menggeleng.

“Aku sudah melihatnya tadi, Julie,” kata Richard sambil menoleh. “Di sana sedang ramai.”

Julie melenguh karena tidak punya pilihan lain. Ia akhirnya terpaksa menjejalkan pantatnya di kursi yang sempit ini, dan berusaha sebisa mungkin mencari posisi yang lebih nyaman, meskipun posenya sekarang jadi meliuk-liuk aneh seperti cacing kepanasan.

Seandainya saja ia memilih Perky’s House tadi.

“Kau mau pesan apa, Julie?” tanya Richard. Julie terkesiap, karena meskipun lututnya sakit, tanpa sadar ia tengah menikmati suasana nostalgia yang terjadi waktu itu.

“Sama denganmu,” kata Julie. “Jus cranberry, kan?”

Julie terkikih dan Richard menyambutnya dengan sebuah senyuman manis. Lesung pipit di kedua pipinya memilin simpul seperti gulali.

Richard lalu bangkit dan menghampiri meja pemesanan yang terletak tak jauh di belakang mereka. Julie melirik sekilas, Mrs.Marie dan beberapa pelayan lain terlihat sedang melayani anak laki-laki itu dengan wajah antusias. Mereka tampak sangat senang.

Saat Richard kembali ke meja mereka, Julie sedang asyik merogoh sakunya, karena tadi sepulang sekolah Christie sempat mengembalikan beberapa dolar uangnya yang ia pinjam untuk membeli merchant Twilight dari si Nyentrik Gogly. Ada empat lembar uang 5 dolar dan beberapa penny di sakunya. Tampaknya masih cukup untuk membeli seporsi sirloin steak.

Mata Julie tertuju pada satu titik yang baru saja diingatnya. Richard ternyata juga menatap hal yang sama. Anak laki-laki itu mengambil inisiatif lebih dahulu. Ia mengulurkan tangannya dan meraih setoples cheese stick yang menjadi kesukaannya.

Cheese stick?” kata Richard, menawarkan. Ia membuka tutup toples itu dan menyodorkannya ke Julie.

Julie pura-pura tidak tertarik. Ia menatap gengsi, setelah itu ia langsung menyambar toples itu dengan membabi buta. Kemarin, ia hanya bisa memakan dua batang saja, dan itu rasanya menyakitkan. Ia segera mengembalikan toples itu lagi ke Richard, setelah mengambil segenggam penuh cheese stick sebagai bentuk balas dendam.

“Julie, aku ingin bertanya sesuatu,” kata Richard. Wajahnya terlihat serius. “Apa Jerry tahu kalau kau ada di sini bersamaku?”

Julie menatap Richard heran.

“Tentu saja tidak,” kata Julie sambil tertawa. “Kenapa juga aku harus memberitahunya?”

Richard tersenyum miring. “Barangkali.”

Sebenarnya, salah satu alasan kenapa Julie bisa membuat janji dengan Richard sore ini adalah karena tidak ada kegiatan di klub koran sekolah mereka sore itu. Itulah sebabnya, Julie tidak perlu meminta izin Jerry seperti kemarin, dan tentu saja–ia tidak mungkin melakukannya. Pertemuannya dengan Richard hari ini adalah pertemuan rahasia, di mana tidak seorang pun yang seharusnya boleh tahu.

Apalagi Jerry.

Richard mengambil sebatang cheese stick dan mengunyahnya pelan. Ia masih ingin menanyakan satu hal lagi, yang sejak kemarin mengganggu pikirannya.

“Bagaimana hubunganmu dengannya?” tanya Richard, ragu-ragu. “Apa dia masih marah padamu?”

Julie melihat Richard dengan pandangan heran.

Pertanyaan semacam ini sebenarnya adalah pertanyaan yang selalu sulit ia jawab. Julie tidak pernah tahu soal perasaan manusia, sebaik Kayla dalam memahami orang-orang. Jessie bahkan menganggap kalau Julie adalah hasil kawin silang antara ‘Tin Man’–si manusia kaleng yang tidak bisa punya perasaan, dan ikan dori. Ia benar-benar bodoh, atau ia memang benar-benar bodoh.

Ia mengangkat pundaknya.

“Tadi siang Jerry masih berbicara padaku, tapi ia tidak menggubris artikel yang kukirimkan tadi malam,” sambung Julie. “Dan hari ini juga tidak ada kegiatan tambahan. Kata Emily, itu karena proyek Majalah Sekolah yang sedang digarapnya itu akhirnya dibatalkan. Itulah sebabnya, aku bebas tugas hari ini.”

Jerry siang itu memang tidak terlihat seriang biasanya, tapi Julie sulit menentukan apakah anak laki-laki itu sedang marah atau tidak. Anak laki-laki itu terlihat kesal, tapi masih ia sempat menceramahi Julie soal pentingnya masa depan. Kuping Julie saja masih panas dan gatal gara-gara mendengarkan ceramah Jerry yang panjang tadi siang.

“Kalau dipikir-pikir, Jerry memang tidak terlalu ramah hari ini,” kata Julie, mengingat kalau Jerry terus-terusan cemberut di ruangannya siang itu. “Tapi kurasa semuanya akan baik-baik saja nanti. Ya. Semuanya akan kembali seperti semula–kuharap begitu.”

Beberapa anggota klub merasa cukup senang karena mereka bisa terbebas dari tugas-tugas tambahan selama seminggu ini–tulisan-tulisan dari artikel proposal proyek yang gagal itu cukup banyak, sehingga mereka tak perlu menulis artikel lagi untuk koran sekolah edisi minggu depan. Tapi Julie merasa sedikit bersalah saat Jerry mengembalikan beberapa hard copy tulisannya yang tidak terpakai. Seandainya ia bisa mengerjakan artikel-artikel itu lebih cepat kemarin, mereka mungkin masih bisa mengusahakannya.

Entah kenapa, Julie merasa tidak enak hati.

Julie bertanya pada Richard, apakah sebaiknya ia tetap menemani Jerry di ruang klub koran sekolah, meskipun anak laki-laki itu sedang tidak ingin diganggu akhir-akhir ini. Jessie bilang sebaiknya dibiarkan saja seperti itu, tapi Cassandra malah menyarankannya untuk sering-sering ke sana.

“Entahlah,” kata Richard. Ia terdiam sejenak, menahan diri untuk tidak membahas lebih jauh soal itu.

Richard memalingkan mukanya sebentar, menarik napas, dan mengganti topik.

“Bagaimana dengan kelas Prancismu? Kudengar M.Wandolf sangat senang dengan kemajuanmu,” kata Richard sambil tersenyum.

Julie tertegun.

“Oh. Pafek, pafek–” kata Julie, sambil nyengir. Kata-kata itu benar-benar menggelikan untuknya. “Kupikir sebentar lagi aku akan mengajar bimbel kelas Prancis atau semacamnya.”

Richard tertawa.

“Aku senang saat M.Wandolf bilang bahasa Prancismu mengalami kemajuan yang pesat,” kata Richard puas. “Setidaknya latihan yang kita lakukan waktu itu ada gunanya.”

Julie mengangguk. Trik yang Richard ajarkan benar-benar membuatnya tertolong dalam tugas Prancis apa pun. Dan suara Richard yang merdu membantunya melenyapkan ketakutannya pada bahasa yang mengerikan itu. Untuk pertama kalinya, Bahasa Prancis, ternyata bisa tidak berdengung seperti suara alien yang berkomunikasi dengan NASA.

Tapi tidak berarti semua yang dikatakan M.Wandolf itu benar. Entah bagaimanapun caranya, Julie masih merasa Bahasa Prancis adalah pelajaran tersulit di dunia, ia masih bingung dengan grammar-grammarnya. Semuanya serba membingungkan! Itulah sebabnya ia benar-benar butuh bantuan untuk menyelesaikan tugas ini.

Richard menahan senyumnya dari tadi. Julie menyadari ada yang aneh dari sikap ganjilnya barusan.

“Kenapa senyum-senyum?”

Richard gelagapan, salah tingkah. “Tidak apa-apa.”

Julie mendelik.

“Caramu mengucapkannya sangat–unik,” kata Richard, memilih kata yang baik. Ia masih mengulum senyumnya. “Ya. Unik.”

Julie memotong realistis.

“Maksudmu—aneh?”

Mereka tertawa.

Yeah, yeah. Aku tahu, aku tahu,” kata Julie. “Tidak perlu menghibur hatiku.”

Mereka berdua sekarang sudah terlihat lebih rileks daripada sebelumnya. Julie pun tidak lagi merasakan hawa dingin kaku yang tadi mengikat di kakinya. Entah kenapa, kesopanan yang khas dari anak laki-laki itu selalu membuat Julie terpancing untuk mengeluarkan kalimat-kalimat aneh yang tidak wajar.

Kebiasaan Richard yang selalu berlaku sopan sebenarnya adalah kebalikan dari apa yang Jessie biasanya lakukan padanya. Julie cukup terkesan dengan cara anak laki-laki ini berkata lembut dan sopan untuk sesuatu yang biasanya ia dengar dengan ledekan dan tertawaan dari teman-temannya. Jessie bahkan tak sungkan-sungkan mengatakannya Sapi Cadel.

Parfait,” kata Richard. “Cobalah sekali lagi.”

Julie terlihat bingung.

Parfait,” kata Richard.

“Pafek.”

Parfait.”

“Pafek.”

Par—” kata Richard perlahan. Julie mengikutinya pelan-pelan. “—fait.”

Parfait,” kata Julie.

“Bagus,” kata Richard senang. “Bon.”

Julie biasanya akan mendesah frustrasi tiap kali melakukan ini, tapi kali ini ia tidak merasakan tekanan buruk yang mengecilkan volume otaknya menjadi seukuran kuman. Richard terdengar seperti M.Wandolf, namun dengan suara yang lebih merdu, dan wajah yang lebih tampan.

“Kau murid yang pintar,” kata Richard.

Julie tertawa keras mendengar kata-kata barusan. “Jangan bercanda, Richard. Aku lebih bodoh dari ikan dori.”

Sekarang mengingat-ingat kenyataan tentang kemampuan intelektualnya yang menyedihkan, Julie merasa ingin komplain dengan seluruh tugas Prancis aneh yang diberikan padanya.

“Richard. Ini tidak masuk akal. Benar-benar tidak masuk akal,” kata Julie. “Kenapa M.Wandolf menugaskan cerpen padaku? KENAPA?”

Julie menghela napas seperti unta. Ia tahu kalau mengeluhkan tugasnya berkali-kali tidak akan membuat keadaan berubah. Ia hanya berharap semoga begitu. Dilihat dari logika manapun, sangat tidak masuk akal jika seorang guru Prancis memerintahkan murid yang sangat bodoh seperti dirinya, mengerjakan sebuah tugas yang sangat sulit, yang bahkan tidak pernah dikerjakan oleh siapapun.

Seharusnya M.Wandolf menugaskan tugas ini pada murid-murid yang lebih pintar.

Richard tersenyum.

“Trik psikologi, Julie,” kata Richard. “Dengan memberikanmu tugas yang sangat susah, alam bawah sadarmu akan mulai terbiasa dengan tingkat kesulitan itu dan mulai menganggap kalau tugas-tugas yang lain menjadi lebih mudah.”

Julie tercengang.

“Maksudnya?”

“Tugas yang sulit akan membuatmu merasa terbiasa dengan tugas yang lebih mudah. M.Wandolf sengaja memberikanmu tugas yang sulit, sehingga kau akan menganggap tugas-tugas yang normal yang biasanya ia berikan di kelas terlihat lebih mudah.”

Richard meneruskan penjelasannya dengan gaya yang menarik. Matanya terlihat sangat hidup dan kharismatik, dengan pembawaan yang cerdas dan bertenaga. Sesuatu yang tidak pernah Julie lihat dari Richard sebelumnya.

“Alam bawah sadarmu akan mulai terbiasa dengan tingkat kesulitan yang sulit, sehingga tidak merasa terbebani lagi dengan tugas yang lebih mudah,” kata Richard. “Sekarang aku bertanya padamu. Apakah kau ingin diberikan tugas yang lebih normal?”

“Ya,” kata Julie. “Tentu saja, Richard. Itu hal yang paling kuinginkan dalam hidupku.”

Richard tersenyum.

“Nah. Jadi kau menginginkan tugas Prancis normal, Julie? Aku berani bertaruh, padahal dulu kau bahkan sangat tidak ingin tugas Prancis APA PUN,” kata Richard. “Benar, kan?”

Julie tertawa geli. Tebakan ini sangat benar dan tepat.

“Aku menyukai cara guru itu mengajar,” kata Richard. “Ia tahu benar bagaimana cara memanfaatkan trik psikologi untuk memotivasi murid-muridnya belajar.”

Julie tidak menyadarinya, tapi setelah diingat-ingat kembali, ia memang berusaha lebih keras sejak di Nimberland, karena alasan yang tidak bisa ia jelaskan. Mungkin Richard memang benar.

“Dan–menurutmu kenapa aku tetap melakukan tugas-tugas yang sulit itu?” tanya Julie. “Aku tak mengerti.”

Richard tersenyum.

“Afirmasi positif, Julie,” kata Richard. “Tidak hanya memberikanmu tugas sulit, tapi M.Wandolf juga membuatmu percaya kalau ia sangat percaya padamu. Ia percaya penuh pada kemampuanmu, sehingga kau akan merasa sangat bersalah ketika kau membuatnya kecewa. Ia akan membuatmu merasa kalau kau mampu, sehingga kau berusaha membuktikan kalau kau memang layak dipercaya. Sangat pintar, kupikir.”

“Wow,” kata Julie. Trik afirmasi dan trik-trik psikologi lainnya tiba-tiba menarik perhatiannya. “Jadi maksudmu, selama ini aku sudah dimanipulasi?”

Richard tersenyum.

“Ya,” kata Richard. “—dan tidak.”

Julie menatap Richard kebingungan.

“Trik afirmasi sangat tergantung pada kepribadian orang yang dituju. Kau adalah pribadi yang baik, Julie. Lugu. Kau selalu ingin menyenangkan orang lain, dan sangat sulit untuk berkata ‘tidak’, oleh karena itu memanipulasi pikiranmu sama sekali tidak susah.”

“Apa?” kata Julie, setengah tertawa. “Jadi, kau juga bisa memanipulasi pikiranku?”

Richard tersenyum geli.

“Tidak, Julie. Aku tidak bisa,” kata Richard. “Aku–“

Richard terdiam sesaat. Ia hampir saja akan mengatakan betapa terbaliknya kondisi itu antara ia dan Julie, tapi ia langsung menyadari kalau itu bukan keputusan yang bijaksana. Ia menarik napasnya. Ia segera membuka topik lain.

“Jadi, kau ingin menulis apa?” kata Richard.

“Cerpen,” kata Julie tanpa hasrat sama sekali. “Dalam bahasa Prancis. AAAAHH—”

Richard tersenyum. “Iya. Maksudku, Julie, apakah kau sudah memikirkan sesuatu untuk ditulis? Misalnya, jalan cerita untuk cerpen ini? Dalam bahasa Inggris saja, nanti aku akan membantumu menerjemahkannya.”

“Umm, apa ya?” gumam Julie. “Mungkin aku akan menulis cerpen tentang Jessie.”

“Jessie?” tanya Richard.

“Ya!” sahut Julie bersemangat. Tiba-tiba ia mendapatkan ide yang sangat bagus. “Jadi, ceritanya begini.”

Richard mendengarkan dengan seksama.

“Jessie adalah keturunan siluman ular berkepala naga,” kata Julie perlahan. “Ia tak pernah tahu asal-usulnya. Jessie tersesat di hutan. Di hutan itu, ia bertemu dengan kakek angkat Nick Si Manusia Lumba-Lumba, seekor monyet berkaki lima, berkepala sepuluh, berjari sebelas, bermata lim—”

Richard berusaha menahan tawanya.

“Apa?” tanya Julie, memasang tampang serius. “Aku serius, tahu.”

“Baiklah, maafkan aku,” kata Richard sungguh-sungguh. “Silakan teruskan.”

Julie menghela napasnya lagi, mencoba mengingat kembali jalan cerita yang tadi dipikirkannya.

“Kakek angkat monyet Nick bilang, ‘Tunggu dulu Nak Jessie.’ Jessie pun berbalik dan memperhatikannya dengan seksama. Suara kakek monyet itu sangat parau. ‘Kau adalah keturunan dari Yang Maha Agung Dewi SnaSna dan Dewa KeyKe. Dewa dari segala dewa Kobra.’ Jessie berkata, ‘Tidak! Aku tak percaya,’ dan kakek monyet Nick pun berkata, ‘Baiklah, untuk memulihkan ingatanmu itu, hai Jessie Yang Dimuliakan, kau akan kuberikan selembar—maksudku lima lembar bulu hidung Nick yang menjulur-julur. Dan kau akan—”

Richard tertawa lepas. Ia tidak bisa menahannya lagi.

Julie menatap Richard sekilas. Anak laki-laki itu biasanya tak pernah banyak bicara saat mereka bersama-sama dengan The Lady Bitches di kafetaria. Tapi kali ini, ia bisa mendengar tawanya yang renyah. Entah kenapa, napasnya sekarang terasa sesak dan begitu sulit.

“Ahngk—”

Julie tidak sempat menyelesaikan ceracaunya. Napasnya kaku.

“Ya?” kata Richard.

Julie tersenyum salah tingkah. “Apa?”

Julie menelan ludahnya, tak tahu apa yang dia pikirkan beberapa detik tadi. Perasaan yang aneh dan sesak itu muncul lagi. Namun entah kenapa kali ini ia menikmatinya. Ada sesuatu yang membuatnya merasa sangat nyaman.

“Imajinasimu sangat tinggi, Julie,” kata Richard. “Kau baru saja mengarangnya?”

Julie menyengir. “Yeah. Begitulah.”

“Melebih dari apa yang kau percayai, sebenarnya kau lebih berbakat daripada yang kau kira, Julie,” kata Richard. “Kau hanya harus percaya pada dirimu sendiri.”

Julie tersanjung. Hidungnya kembang kempis karena geer.

“Apakah kau sedang mencoba memanipulasi pikiranku, Richard?” kata Julie. “Kalau iya, selamat. Aku sudah geer sekarang.”

Richard tertawa.

“Baiklah, kita mulai sekarang. Berapa banyak tulisan yang harus kau buat?” tanya Richard.

“Dua atau tiga halaman.”

“Tidak banyak, kukira delapan halaman,” kata Richard ringan. Julie mendelik, menatapnya melotot seperti burung kakatua. “Cukup membuat sebuah cerita sederhana akan membantumu menyelesaikan tugas ini, Julie. Kisah Jessie Si Manusia Ular kurasa terlalu sulit. Kau bisa membuat yang lebih sederhana lagi?”

Julie berpikir panjang. Padahal ia sudah yakin akan membuat cerita pendek dengan Jessie dan Nick sebagai tokoh utamanya, tapi Richard benar. Berhubung ini tugas Prancis—yang menjadikan tugas ini seratus kali lebih susah daripada seharusnya—Jessie juga bisa ngamuk-ngamuk kalau mendengar cerita ini di depan kelas.

“Bayangkan saja seperti membuat sebuah cerita anak-anak. Cerita yang sederhana,” kata Richard. “Cerita yang sederhana seperti Serigala dan Tiga Anak Babi, atau yang lebih sederhana lagi—Teletubbies kecil yang sedang belajar menyapu lantai.”

Julie tertawa. “Kau serius?”

Richard mengangkat pundaknya sambil tersenyum. “Terserah padamu, Julie. Ini kan ceritamu.”

Julie merenung sebentar. Ia menarik secarik kertas, mencoret-coret sesuatu, lalu memindahkannya ke buku catatan yang lebih besar.

Anne Matilda adalah seorang gadis kecil yang riang dan senang bekerja. Matanya bulat, bulu matanya lentik dan panjang. Anne baru berumur delapan tahun, namun ia sangat lincah bergerak ke sana ke mari. Anne kecil sangat senang mengerjakan sesuatu yang diperintahkan ibunya.

Suatu ketika, ibunya menyuruh Anne untuk membelikan selusin telur. Anne kecil pun segera bergegas. Ia bersiap-siap untuk berangkat. Anne menggunakan sepatu bot merahnya yang mengkilat dan topi bundar kesayangannya yang dibelikan ayahnya dari kota. Ia terlihat sangat cantik, seperti bidadari kecil yang turun dari surga.

Ibunya memberikan uang sepuluh dolar dan berkata, “Anne, ini adalah uang sepuluh dolar untukmu. Tolong belikan selusin telur. Jika harganya kurang dari lima dolar, maka belikan sekotak susu.”

Anne pun menerima uang itu dengan gembira.

Anne telah tiba di pasar. Ia

Julie berhenti menulis. Ia melihat Richard kini duduk di sampingnya.

“Kenapa berhenti, Julie?” tanya Richard.

Julie terdiam.

Wajah anak laki-laki itu terlihat sangat dekat. Matanya yang biru—sangat biru—terlihat indah seperti kilauan air di tengah samudera.

“Tidak.”

Julie menghela napasnya tidak beraturan. Jantungnya berdegup kencang. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi padanya saat ini.

Mrs.Marie datang menghampiri mereka dan membawa sebuah baki yang berisi dua jus cranberry dan sepiring kentang goreng.

“Halo Nak,” kata wanita itu dengan bersemangat. “Maaf menunggu lama. Ini pesanannya.”

Richard terlihat bingung.

“Maaf. Aku tidak memesan kentang goreng, Nyonya,” kata Richard. “Aku hanya memesan dua gelas jus cranberry.”

“Memang tidak. Ini bonus untukmu, anak tampan,” kata wanita itu sambil tersenyum. Mrs.Marie menurunkan gelas-gelas cranberry itu dan sepiring kentang goreng dari bakinya.

“Dan untuk gadis manis ini.”

Mrs.Marie mengedipkan matanya ke arah Julie. Julie menyeringai salah tingkah, merasa kepalanya meletus tiap kali wanita itu mengatakannya. Richard mengucapkan terima kasih dengan sopan dan mempersilakan Julie untuk makan. Wanita itu kini meninggalkan mereka berdua sambil tersenyum senang.

“Kau mengenalnya, Julie?” tanya Richard. “Aku melihatmu dengannya tadi di belakang. Tadi kalian membicarakan apa?”

“Oh, tidak,” kata Julie. “Hanya mengobrol saja. Ehm, jadi… Bisa kita lanjutkan dengan peerku?”

“Tentu,” kata Richard.

Julie menggenggam lagi penanya dan meraih buku catatan yang tadi sempat disingkirkannya saat Mrs.Marie menaruh minuman di atas meja.

“Bagaimana kalau kita langsung menerjemahkan tiga paragraf yang baru saja kutulis ini, Richard?” kata Julie. “Aku sangat penasaran. Nanti aku bisa mengarang lagi kelanjutannya.”

Richard tersenyum.

“Baiklah.”

***

15. Ancaman (2)

Julie menggaruk-garuk kepalanya.

Julie tak mengerti kenapa ia sekarang jadi harus berbicara pada Richard tentang Emma, alih-alih teman-temannya yang lain. Apalagi mereka semua sekelas dengan Richard, yang menjadikan gagasan itu lebih baik, karena Julie tak pernah sekelas dengan anak laki-laki itu sama sekali, dan nyaris tak pernah bertemu dengannya, kecuali pada saat jam makan siang dan jika The Lady Bitches, Nick, dan Richard pergi ke suatu tempat bersama-sama.

Selama ini, Julie juga nyaris tak pernah mengucapkan sepatah kata pun pada Richard, kecuali cengiran-cengiran yang tidak penting. Itu pun hanya supaya tidak kelihatan mencurigakan, karena sebagian besar waktunya dihabiskan untuk membuang mukanya dari anak laki-laki itu, dan menemukan hal-hal menarik di sekelilingnya yang bisa mengalihkan perhatiannya dari mata birunya yang menyilaukan.

Ya, mata birunya benar-benar menyilaukan.

Dan sekarang Julie ingat satu hal—bagaimana mungkin ia bisa menemui Richard tanpa ketahuan Cathy?

Julie mendengus bingung. Pertemuannya dengan Richard di Evergreen tiga hari yang lalu memang telah membuat suasana ganjil yang pernah terjadi di antara mereka menjadi berubah dan mencair, tapi itu tidak berarti itu menjadikan segalanya menjadi lebih mudah. Ia tidak pernah bisa mengerti kenapa ia selalu merasa kesulitan tiap kali berdekatan dengan Richard. Julie pun kemudian teringat kalau ia dulu pernah menjuluki anak laki-laki itu dengan dua julukan mutakhir yang tidak bisa dilupakannya—Anak Laki-Laki dari Neraka—dan Lampu Petromaks Perenggut Cahaya Kehidupan, yang mana kalau dipikir-pikir lagi sekarang, ternyata ada benarnya.

Ia tertawa geli.

Wajahnya yang manis dan menggemaskan memang sama sekali tidak cocok dengan gambaran itu. Tapi Julie tidak bisa menemukan julukan lain yang lebih tepat untuk Richard. Dari dulu sampai sekarang—dia terlalu drakula.

Julie menerawang jauh ke arah rerimbunan Zinnia yang silih berganti dari jendela ruang-ruang kelas yang ia lewati. Kepalanya kini sibuk berpikir, tapi bukan untuk alasan yang sama, karena sekarang ia bahkan tidak tahu sedang memikirkan apa. Ia menarik napas panjang dan melepaskannya perlahan-lahan, seperti yang diajarkan ibunya dari ilmu yang beliau dapatkan dari kelas Yoga. Teknik seperti ini sesungguhnya tidak pernah berhasil untuk Julie, ia selalu yakin kalau rasanya sama saja seperti bernapas dengan hidung seperti biasa. Bahkan ketika ia mencoba melakukannya dengan penghayatan, ia tak bisa memikirkan hal lain selain membayangkan bulu-bulu hidung Nick yang bergetar saat anak laki-laki itu bernapas dengan hidungnya yang menjijikkan.

Ia mau muntah.

Yah. Setidaknya dia sudah mencoba.

Julie mencoba mengumpulkan konsentrasinya lagi. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya dari kemarin, dan terus-menerus membuatnya resah sejak tadi pagi. Tapi ia tak tahu apa. Ia benar-benar tak tahu apa. Mungkin karena tugas cerpen Prancis yang diinstruksikan M.Wandolf, seperti yang Jessie bilang. Tapi Julie merasa tidak cukup yakin. Ia bahkan tak akan ingat soal tugas Prancis, kalau tidak diingatkan Jessie tadi.

Rasanya seperti diingatkan akan dosa-dosa di neraka.

Julie tiba-tiba melihat sinar putih terang di ujung matanya. Richard ada di depan sana, dengan mata birunya yang menyilaukan, sedang berjalan ke arahnya. Entah mengapa, Julie merasakan tekanan aura yang maha dashyat yang mencekik lehernya. Lututnya mencair dan napasnya membeku. Seperti sudah terlatih berbulan-bulan sebelumnya, Julie memutar tubuhnya secepat kilat dan berbalik ke arah berlawanan.

Julie berjalan kaku, seperti mumi.

Julie baru saja akan menarik napas lega, sampai akhirnya ia menemukan seorang laki-laki tua gendut berkepala setengah botak yang sangat familiar di depan sana, tak jauh dari dari tempatnya berada. Laki-laki itu mengenakan jas coklat belel kesayangannya, vest bermotif bunga-bunga yang selalu diprotes Cassandra, dan laki-laki itu memegang sebuah buku yang menjadi buku favoritnya.

Kamus Bahasa Prancis.

Julie menyeringai kaget dan berhenti mendadak. M.Wandolf! Ia berbalik lagi secara spontan. Ia menemukan Richard tepat di hadapannya.

Anak laki-laki itu tersenyum. “Hai.”

Tubuh Julie sudah bergoyang-goyang tidak karuan, seperti boneka anjing di dasbor mobil. Tenggorokannya penuh dengan lendir-lendir hijau berbusa, dan balita paramecium sedang membuat pesta prom di sana. “Ak-hai.”

Mademoiselle!” teriak laki-laki gendut yang ada di belakang Julie.

Entah kenapa, rasanya seperti dulu saat ia hendak meminjam buku PR Aljabar Lucy, dan saat ia pertama kali masuk ke kelas Prancis Richard dan menyerahkan tugas kelompoknya dengan Jessie di sana—Richard Soulwind dan M.Wandolf sama sekali bukan kombinasi yang diharapkannya hari ini.

“Halo,” kata Julie pasrah. “Monsieur.”

Julie setengah melenguh seperti sapi. Ia luar biasa berharap M.Wandolf tidak mendengarnya.

“Bagaimana dengan cerpenmu?” kata laki-laki tua itu bersemangat. “Pouvez-vous le faire? Apakah kau sudah mengerjakannya?” M.Wandolf menjawab pertanyaannya sendiri. “Aku yakin sudah! Kau sangat pintar.”

Richard bergumam heran.

“Cerpen?”

Oui,” jawab M.Wandolf cepat. “Sebuah cerpen dalam bahasa Prancis, yang sangat parfait, parfait—sempurna, seperti Mlle.Light, yang parfait, parfait.”

M.Wandolf memainkan jari-jemarinya, mengatup-atupkannya dengan lentik. Laki-laki itu terlihat sumringah.

“Apa kau tahu? Mlle.Light kita ini, benar-benar luar biasa sekarang! Kemajuannya benar-benar mencengangkan. Dia bisa membuat esai. Dia bisa membuat contoh percakapan. Dia bisa membuat puisi. Dia bisa mengerjakan apa pun yang aku perintahkan,” kata laki-laki itu pada Richard, melambaikan tangannya dengan semangat. “Dan semuanya—parfait! Tidak ada satu pun yang menjiplak. Kemajuannya sangat memuaskan. Dia sudah jauh lebih baik daripada saat kita pertama kali mengenalnya.”

Richard memandang Julie sambil tersenyum.

“Ya,” kata Richard. “Dia memang hebat, Monsieur.”

Julie meremas tangannya sendiri dan mencengkram perutnya. Ini benar-benar sangat ganjil. Ia tak tahu mana yang lebih membuatnya salah tingkah—M.Wandolf memujinya di depan Richard, atau Richard memujinya di depan M.Wandolf.

“Umm, tapi aku—”

M.Wandolf memotong dengan sangat cepat. “Dan tugas berikutnya, Cerpen Dalam Bahasa Prancis.”

Julie melenguh panjang. Padahal baru saja ia hendak meminta tugas gila itu dibatalkan. Biar bagaimana pun, membuat CERPEN adalah sesuatu yang terlalu banyak untuk dituntut darinya. Bahkan, tidak ada seorang pun dari teman-teman sekelasnya yang pernah diminta untuk membuat tugas sesulit itu. Dan Julie yakin, tidak ada yang mampu membuatnya.

“Anda tidak pernah menyuruh yang lain membuat cerpen, M.Wandolf. Kenapa harus aku?” kata Julie, bernada tidak setuju. “Aku tak bisa membuatnya. Ini terlalu sulit. Anda harus membatalkannya.”

M.Wandolf menggeleng.

Non, non,” kata M.Wandolf. “Kau bisa melakukannya, Mademoisellle. Kita sudah membahasnya kemarin. Kau memiliki kemampuan menulis yang hebat, dan yang perlu kita lakukan adalah melatihnya dan melatihnya terus-menerus. Memberikanmu sebuah tantangan yang sangat sulit adalah ide brilianku. Ini tantanganmu yang terakhir. Kalau kau berhasil melakukannya, kau LULUS KELAS PRANCIS.”

Kata lulus kelas Prancis memang sangat menggoda, tapi Julie tak bisa mengenyahkan pikirannya dari kata terkutuk yang lain—cerpen. Bahkan kemarin ia tak bisa mendengar kalimat apa pun lagi setelah kata itu. Telinganya keburu berdenging begitu mendengar M.Wandolf mengucapkan kata cerpen.

Bagaimana mungkin ia bisa membuat cerpen?

“Dalam bahasa Inggris, boleh?” kata Julie, tampak membuka peluang untuk bernegosiasi. Menulis cerpen saja sudah merupakan sebuah tugas yang sangat sulit, apalagi kalau harus membuatnya dalam bahasa Prancis. Setidaknya, hukuman ini akan terasa jauh lebih ringan jika ia bisa menulisnya dalam bahasa lain yang lebih masuk akal.

Ia membuka senyuman yang selebar-lebarnya, berharap semoga senyuman malaikatnya kali ini berfungsi dengan baik. “Boleh, ya?”

M.Wandolf menggeleng tegas. “Non. Kita sudah membahasnya kemarin, Mademoiselle. Dalam bahasa Prancis—FRANÇAIS. Aku tahu kau bisa melakukannya. Kau murid yang pintar. Aku percaya padamu. Aku tahu, kau tidak akan mengecewakanku lagi, seperti waktu itu.”

M.Wandolf melirik penuh arti. Ia pasti sedang membahas soal kesalahan Julie menjiplak esainya Jessie beberapa minggu yang lalu. Kejadian ini memang benar-benar memalukan untuknya. Dan M.Wandolf cukup cerdik untuk bisa memanfaatkan rasa bersalah Julie untuk membuatnya mengerjakan tugas-tugas lain dengan sungguh-sungguh.

Yeah—baiklah,” kata Julie lemas.

M.Wandolf menyeringai senang. “Bon.”

Ia berangsur-angsur meninggalkan gadis itu sambil tersenyum puas. Ia memindahkan tubuhnya yang gemuk dengan gesit, tak butuh waktu lama sampai akhirnya sosoknya yang gempal itu benar-benar menghilang. Setelah itu, Julie langsung menghela napas panjang dan mendesah berat, berusaha menghilangkan perasaan kebas dan dingin yang menjalar di sekujur tubuhnya.

“Jadi,” kata Richard suatu ketika. “Cerpen Prancis, ya?”

Julie menoleh dan matanya bertemu dengan mata biru Richard yang menusuk hingga ke tulang-tulang. Anak laki-laki itu tersenyum.

Julie hampir saja lupa kalau ada Richard di sana.

“Umm, yeah—” kata Julie terbata-bata. Ia mengangkat bahunya dengan wajah tak berdaya. “Aku sudah tak bisa mengelaknya lagi. Ini kutukan dari Jessie. Kupikir, dengan melupakannya, tugas itu bisa menghilang begitu saja.”

Beberapa waktu yang lalu, Jessie sengaja menciptakan mantera penangkal, sebuah kutukan yang bernama, ‘Aku Akan Mengingatkanmu, Sayang’, saat Julie berencana membuat jampi-jampi ampuh bernama, ‘Sengaja Lupa Akan Membuat Tugasku Menghilang’—untuk dirinya sendiri. Itu adalah sebuah mantera jampi-jampi yang diciptakan Julie di awal bulan kemarin, karena secara ajaib ia ternyata berhasil mengelak dari tugas kelompok Sejarah Dunia saat ia lupa mengerjakannya, tanpa perlu dihukum karena entah kenapa tugas itu menghilang begitu saja.

Dan sejak Jessie menciptakan mantera kutukan balasan itu, keberuntungan Julie langsung menyusut secara drastis. Karena kutukan ini, Julie tak lagi bisa menghindar dari kewajiban-kewajibannya—terutama jika Jessie yang mengingatkannya.

Entah kenapa, tugas-tugas yang diingatkan oleh Jessie, selalu tidak pernah bisa berhasil digagalkan.

“Aku bisa membantumu, Julie,” kata Richard. “Kalau kau mau.”

“Tidak.”

Julie membalas pertanyaan itu dengan secepat kilat. Julie tidak bisa membayangkan jika ia harus menghabiskan waktu lebih lama lagi dengan anak laki-laki ini.

Richard tersenyum lemah. “Baiklah.”

Julie berbalik dan berjalan cepat menjauhi Richard. Untuk alasan yang tidak bisa dijelaskannya, ia menginginkan untuk segera menyingkir dari tempat ini dan menikmati hidupnya yang lebih tenang dan menyenangkan. Lagipula, pertemuannya dengan Richard kali ini hanya akan mengundang masalah. Biasanya selalu seperti itu. Dan Cathy pasti akan marah kalau tahu Julie berduaan lagi dengan pacarnya.

Julie terdiam.

Tiba-tiba Julie teringat sesuatu yang sangat penting. Janjinya pada Jessie.

Emma Huygen. Cathy.

Beberapa menit yang lalu, ia padahal sempat merasa sangat kebingungan memikirkan caranya membuat pertemuan rahasia dengan Richard, mengingat ia sama sekali jarang bertemu dan tidak pernah sekelas dengan anak laki-laki tersebut. Dan sekarang, ketika kesempatan itu datang, ia justru membuang-buangnya begitu saja.

Julie mendesah. Ia merasa benar-benar bodoh.

Ia menghentikan langkahnya, memutar balik badannya, dan setengah berlari menghampiri Richard yang sudah agak jauh, dengan wajahnya yang masam.

“Eh—Richard,” panggil Julie tergesa-gesa, memanggil anak laki-laki itu. Ia menggigit bibirnya ragu-ragu. “Tunggu.”

Richard menoleh.

“Ya?”

Julie menelan ludahnya. Rasanya ada monster iguana yang sedang melolong di kepalanya, meraung seperti suara mobil ambulans. Ia menghela napas. “Baiklah. Aku mau.”

Richard menahan senyumnya. Hatinya sangat senang.

“Kau yakin?” tanya Richard. “Aku tak akan memaksamu, Julie, kalau kau memang ingin mengerjakannya sendiri.”

Julie butuh waktu sepuluh detik untuk termangu.

“Ya,” katanya mantap. Ia akhirnya telah memutuskan untuk membiarkan semuanya terjadi apa adanya. Sudah kepalang basah. “Kau sungguh-sungguh bisa? Maksudku—ehm, aku ingin mengerjakannya sore ini, sepulang sekolah, kalau kau tidak punya kesibukan lain.”

Richard mengangguk. “Kurasa bisa, Julie.”

Ia melihat jam tangannya sebentar, berusaha mengingat-ingat kembali apa yang harus ia lakukan. “Kegiatanku sore ini kosong. Aku bisa menemanimu sampai selesai. Di mana kau ingin mengerjakannya?”

Julie berusaha memikirkan tempat lain selain Steak~Stack dan Perky’s House. Beberapa waktu yang lalu, ia pernah mengajak Nick ke rumahnya untuk berlatih aransemen lagu yang Nick buat untuk ujian praktek Kelas Musik, dan ibunya meledeknya habis-habisan. Lily bahkan tak percaya kalau Nick adalah pacarnya Jessie dan wanita itu membuatkan Nick sebuah kudapan sore dari panekuk yang berbentuk hati—lengkap dengan sirup strawberry merah menyala—sebagai lambang cinta untuk mereka berdua. Apapun alasannya, membawa teman laki-laki ke rumahnya adalah ide yang buruk.

“Steak~Stack,” kata Julie spontan.

Richard mengangguk paham. Ia teringat kembali akan pertemuannya dengan Julie waktu itu, tersenyum dengan wajah menggoda. “Jam 4, jangan pakai baju sekolah?”

Pertanyaan itu benar-benar memancing, Julie tidak bisa menahannya lagi. “Tidak. Kau harus pakai baju Hawaii,” kata Julie sekonyong-konyong. “Baju Hawaii biru, lengkap dengan celana putih, dan sepatu rumbai-rumbai.”

Richard tampak kaget. “Apa?”

Julie tertawa lepas.

“Hanya bercanda,” kata Julie. Entah kenapa, ia sekarang merasa lebih rileks dan santai. Ekspresi kaget anak laki-laki itu tadi tampak sangat lucu. “Tentu saja boleh pakai baju sekolah. Aku tahu kau tidak akan sempat pulang ke rumah. Rumahmu jauh, kan?”

Jalan Red Orchid, nomor 5A. Julie masih ingat menggambar anggrek itu di buku catatannya.

Richard berusaha menahan sipu yang memerah di wajahnya. Di satu sisi, ia merasa sangat lega. Biar bagaimana pun, ia tidak bisa menolak jika Julie benar-benar meminta hal yang memalukan itu padanya.

“Baiklah.”

“Satu lagi,” kata Julie diam-diam. Julie ingin memastikan satu hal, sebelum mereka pergi meninggalkan tempat itu, karena hal ini benar-benar sangat penting, menyangkut hidup dan matinya Julie setelah hari itu.

“Jangan beritahu siapa-siapa.”